
Malam ini semakin larut, namun Luna masih tak bisa memejamkan matanya. Entah apa yang sedang mengusik hatinya sejak kemarin ia seolah takut untuk tidur.
"Sebenarnya apa sih maksud dari mimpi gue selama ini?" Tanya Luna dalam hati
Ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan dan menatap langit langit tenda yang ia tempati
"Belum tidur Na?" Tanya Melodi yang tiba tiba saja terbangun
"Nggak bisa tidur gue Mel, trus lo ngapain tiba tiba bangun?" Tanya Luna balik
"Kebelet gue, anterin dong" Kata Melodi sambil cengengesan
"Hadeeeh kebiasaan lu" Gerutu Luna
"Kalo di rumah lo gue berani Na, lah ini di hutan" Kata Melodi menjelaskan
Mereka keluar dari tenda meninggal kan Cila yang sudah terlelap dialam mimpi nya ke toilet yang lumayan jauh itu.
"Malem malem mau kemane wey?" Tanya seseorang dari arah samping mereka
"Ke toilet, nih nganterin anak orang" Jawab Luna asal sementara Dito hanya tersenyum
"Anterin ngapa" Kata Luna cengengesan
"Lah ujung ujungnya minta anterin juga" Kekeh Dito berjalan dibelakang Melodi dan Luna
"Tungguin bentar" Kata Melodi masuk ke toilet
"Buruan" Jawab Luna malas
Arah matanya mengarah ke sebelah kiri tempat dia dan Dito berdiri, seperti ada yang menariknya kesana.
"Kenapa ya kaya ada yang aneh di sebelah sana" Gumam Luna dalam hati sambil memandang tempat yang dia maksud
"Liatin apa?" Tanya Dito penasaran
"Pohon" Gumam Luna
"Kaya gak pernah liat pohon lo" Celetuk Dito
"Bukan itu maksut gue Dito" Kesal Luna
"Terus apa?" Tanya Dito sambil mengalungkan tangannya di leher Luna
"Gue ngerasa ada yang aneh aja, masa iya jam segini gue ketarik ke sana" Jelas Luna panjang lebar
"Mau kesana?" Tawar Dito pada orang yang ada di sebelahnya itu
"Ogah, gelap" Kata Luna sesegera mungkin
"Bilang aja lo takut" Ledek Dito
"Gimana kalo lo aja yang liat ke sana" Balas Luna, ia tahu jika Dito sebenar nya juga takut
"Kenapa gue yang jadi umpan" Protesnya sementara Luna hanya terkekeh
__ADS_1
"Takut juga kan Lo" Ledekan Luna berhasil membuat Dito menekuk bibirnya ke bawah
"Dih, alay lo" Celetuk Luna setelah melihat ekspresi Dito
"Bodo amat" Hal itu justru membuat Luna tertawa
Sementara itu Melodi yang mendengarkan tawa lepas Luna, hanya bisa tersenyum. Dia tahu hanya Dito yang bisa membuat Luna menjadi seperti ini, maksudnya mengeluarkan sisi terburuknya sekalipun.
"Ini ngapain sih, didepan toilet malah pacaran" Celetuk Melodi Asal
"Mel" Gumam Luna dan Dito bersamaan dengan tatapan yang sangat menusuk
"Elah, becanda kali gue" Kekeh Melodi
"Serius juga gak ada masalah gue" Jawab Dito asal
"Lo mau gue lempar ke kali sebelah lo dit?" Tanya Luna kesal
"Jangan macem macem, lo gak liat tangan gue di mana hah?" Ia baru menyadari jika tangan Dito masih di pundaknya
"Udah si, gak usah ribut" Kata Melodi menengahi
Mereka kembali berjalan kearah tenda masing masing, Luna dan Dito berada di belakang Melodi masih dengan tangannya merangkul pundak Luna
"Tangan lo berat juga Dit" Gerutu Luna sambil memainkan ponselnya
"Baru sadar lo" Kekeh Dito
"Kenapa belum tidur?" Tanya Luna penasaran
"Harusnya gue yang nanya itu kenapa lo belum tidur?" Tanya balik Dito tanpa menjawab pertanyaan Luna
"Masih takut?" Tanya Dito tho the point di angguki oleh Luna
"Trus mau sampe kapan lo gak tidur karena takut coba, emang lo gak mikirin tubuh lo sendiri Na?" Tanya Dito serius
"Maksudnya?" Tanya Luna sambil mengernyit
"Kalo lo sakit siapa yang tanggung jawab? Gue" Kata Dito gemas sambil mencubit hidung Luna
"Kalo lo mau gak masalah gue" Kata Luna asal masih fokus pada ponsel nya
Melodi sudah masuk kembali ke dalam tenda meninggalkan Luna dan Dito yang sedang asyik berdebat itu.
"Sembarangan aja tuh mulut" Protes Dito kesal
"Tapi gue serius dit, dari kemarin gue gak bisa tidur gara gara itu" Kata Luna yang kali ini benar benar menunjukkan ekspresi seriusnya ke arah Dito
"Iya gue tahu, sini duduk gue mau ngomong sama lo" Kata Dito sambil tersenyum dan menarik Luna menuju arahnya
"Gue gak pernah main main sama ucapan gue Na, lo gak akan kenapa napa selama ada gue. Sama kaya gue yang selalu percaya sama lo yang perlahan bisa terima gue, lo juga harus bisa percaya kalo gue selalu ada buat lo" jelas Dito meyakinkan
Ucapan Dito memang ada benarnya, Luna mengakui itu. Perlahan Luna memang mulai bisa membuka hatinya, namun tetap saja rasa takut itu menghantuinya.
"Percaya sama gue, sekarang tidur gue gak mau lo sakit, Gih masuk" Kata Dito pelan
__ADS_1
"Tapi gue-" Ucapan Luna terpotong karena dito sudah menyela ucapan nya
"Gak ada tapi tapian, masuk tenda sekarang" Ucap Dito tegas
"Iya iya"
Mau tak mau Luna harus segera masuk kedalam tenda sedangkan Dito kembali duduk di tempat semula bermain dengan ponselnya.
"Ternyata tuh anak bisa tegas juga ya" Gumam Luna sambil tersenyum tipis
"Kenapa Na?" Tanya Cila yang sudah terbangun saat Luna masuk sedangkan Melodi sudah nyenyak
"Itu si Mel, masuk tenda gak bilang bilang. Malah ninggalin gue lagi"
Cila hanya menganggukkan kepala atas jawaban Luna, sedangkan Luna bisa bernafas lega karna Cila tak mendengar gumamannya.
"Na" Gumam Cila pelan
"Gimana, lo udah pikirin ucapan gue waktu di Bandung waktu itu?" Tanya Cila tiba tiba
"Dalam proses Cil" Jawab Luna sambil tersenyum
"Serius Na" Kata Cila sedikit berteriak hingga membuat Luna segera membekap mulut Cila dan melihat bayangan seseorang yang tengah duduk
"Gak usah teriak teriak juga Cicil" Kesal Luna sementara Cila hanya cengengesan
"Sorry, Dito masih di depan?" Tanya Cila yang tadi mengikuti arah pandang Luna
"Noh masih anteng di depan tenda" Jawab Luna santai
"Seenggaknya lo udah coba kembali buka hati Na, gue percaya kalian itu saling membutuhkan" Kata Cila tersenyum kepada Luna
"Tapi gue gak tahu apa gue bisa Cil" Kata Luna lirih
"Luna yang gue kenal itu orangnya optimis, gak gampang pesimis gini kale" Kekeh Cila
"Insya Allah, tapi gue gak bisa janji soal itu" Kata Luna Sambil Tersenyum
"Semua butuh proses Na, udah ah gue mau tidur lagi" Luna mengangguk sebagai jawaban
Ting' ponsel Luna berbunyi
[Gue nyuruh lo tidur Na, bukan ghibah]
[Bawel lu]
[Bodo amat, demi kebaikan]
[Read]
(Luna sudah tidak melihat keberadaan Dito di tempat ia duduk tadi, mungkin dia sudah masuk ke dalam tenda)
Sementara Dito yang baru saja masuk ke dalam tenda hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Hal sederhana yang akan selalu gue lakuin buat lo adalah mengingatkan Na" kata Dito dalam hati
__ADS_1
Dia sebenarnya juga sama takutnya degan Luna, bahkan lebih takut dia daripada Luna.
"Gue lebih takut kehilangan lo, tapi gue juga gak bisa buat lo makin takut"