
"Jadi siapa yang mau lo salahin Mel kan elu yang masuk kamar gue duluan padahal gue udah bilang kalau gue mau ke kamar mandi bawah" Protes Luna yang sudah berhasil merebut cemilannya kembali dari Dito
"Emang lo bilang Na?" Tanya Melodi memastikan "kok gue gak denger"
"Lo harus periksa kuping berarti" Celetuk Luna masih fokus dengan ponsel nya
Entah mereka berdua sedang memperdebatkan apa, yang jelas semula mereka sedang belajar karna hari ini kelas X IPS 3 akan ada Ulangan harian
"Vin, batu warna merah delima itu dibawa siapa ya?" Tanya Luna tiba tiba
"Kak Bara" Jawabnya singkat
"kenapa?"
"Ada isinya" Gumam Luna
"Hah? Ada isinya?" Ucap Gavin tak percaya
"Gak usah teriak dong, telinga gue sakit Bambang" Protes Luna sedangkan Gavin malah cengengesan
"Kok tahu?" Tanya Dito penasaran
"Sebelum pingsan waktu itu gue sempet liat" Jawab Luna santai
Sejak malam itu Luna dan Dito masih tetap bersikap sewajarnya, hanya tingkat perdebatannya saja sedikit berkurang.
Jika selama ini Dito melakukan hal itu hanya untuk menutupi perasaannya pada Luna, namun sekarang sepertinya dia tak perlu melakukan itu.
"Trimakasih sudah mau mengerti dan memberiku satu kesempatan berharga ini" batin Dito sambil tersenyum
Dia ingin menikmati prosesnya bersama dengan Luna, begitu juga Luna yang mulai membiarkan hatinya berjalan kemanapun dia pergi.
"Trus lo mau apain?" Tanya Gavin
"Semoga aja kak Bara tahu kalau itu ada isinya, gue pikir di elu" Jelas Luna kembali
"Negatif apa positif?"
"Nyampur" Kata Luna menjelaskan
"Bakal makin gak bener nih kalo kak Bara yang megang" Gumam Gavin
"Bukan lagi, energinya satu server sama sebelah gue" Jawab Luna menyetujui
"Kanan apa kiri Nih" Protes Imam
"Kanan lah masa iya elu" Jawab Luna
"Lah kenapa jadi gue?" Celetuk Dito
"Gak perlu gue jelasin kan?" Gumam Luna
"Ya kalo gitu mending kasih tahu aja, iya kalo kak Bara tahu kalo engga?" Usul Dito
"Bener juga, daripada endingnya ke yang lain" Tambah Gavin
__ADS_1
"Gue belum nyimpen Nomernya kak Bara di nomer yang baru btw"
"Gue ada" Jawab Imam sambil mengotak atik ponselnya
Saat bersamaan Luna seperti melihat sosok hitam tinggi melayang kearah belakang gudang, karena penasaran ia bermaksud akan mengikutinya
"Jangan diikutin, udan diem disini" Kata Dito mengingatkan
"Bodo gue kepo, ikutin bentar kebelakang gudang" Kata Luna sambil berlalu
"Ikutin dit, Ntar ilang tuh anak" ucap Gavin yang melihat kepergian Luna
"Na! susah banget nih anak kalo di kasih tahu" Protes Dito sambil menyusul Luna
Luna berjalan menuju kearah gudang belakang, mereka berdua tak menyangka jika ada halaman yang sangat luas
"Sejak kapan disini ada halaman seluas ini?" Tanya Dito bingung
"Yang lebih buat gue bingung kenapa sosok itu bawa gue ke sini?" Tambah Luna
"Jangan bilang lo mau kesana" Tebakan Dito diangguki oleh Luna
"Emang" singkat Luna
"Gak sekarang" cekal Dito "udah mau masuk entar aja waktu pulang" menarik tangan Luna kembali kekantin
"Gak usah narik dit" Protes Luna yang mau tak mau mengikutinya ke kantin
"Kalo gak ditarik jalannya beda Arah lagi" Gerutu Dito
Saat berjalan kembali kekantin Luna melihat Sebuah buku kecil tertutup papan
"Apa?" Dito menoleh kearah Luna "mau ngapain hey?"
"Tunggu bentar" Luna menatap Dito sekilas lalu berlalu untuk mengambil buku yang sempet dia liat
"Kemana sih Na" Kata Dito
"Bentar Dit" Kata Luna sambil berjalan kembali kearah Dito "gue liat sesuatu"
"Buku?" Tanya Dito bingung
"Gue liat disana tadi makanya gue bawa" Jelas Luna sambil melanjutkan perjalanan "ayo"
"Mau diapain?"
"Di baca lah mau di apain lagi" Jawab Luna
Jika dilihat dari sampulnya yang sudah sangat usang itu, maka bisa di pastikan kalau buku ini sudah lama berada di belakang gudang.
"Ngapain?" tanya Gavin
"Nyari buku" Jawab Luna dan Dito bersamaan
"Buku apa?" Tanya Gavin penasaran
__ADS_1
"Gue sih belum tahu isinya tapi semacam diary gitu" Jawab Luna menjelaskan
"Siapa yang ninggalin buku Diary di belakang gudang sampe selusuh itu?" Kata Cila menanggapi
"Aneh sih, Apa emang sengaja ditinggalin sama pemiliknya?" Tambah Melodi
"Ada yang lebih aneh dari itu" Kata Dito melihat kearah sahabatnya satu persatu
"Apa?" Tanya mereka kompak
"Kenapa di belakang gudang sekolah kita ada halaman luas" Jawab Dito menjelaskan
"Halaman Luas?" Kata mereka tak percaya
"Jangan kenceng kenceng" Ucap Luna sambil memelankan suara
"Serius?" Tanya Imam memastikan
"Yakali kita bercanda, Nana nemuin bukunya di sana" Jawab Dito meyakinkan
"Gue sebenernya masih penasaran tapi nih centong nasi pake narik gue balik" Kesal Luna
"Kan tadi udah di bilang ntar aja kalo udah pulang, kalo cuma berdua ribet kalo ada apa apa" Ucap Dito membela diri
"Iyein ajalah, cape gue berantem mulu sama lo" Gumam Luna
"Gitu kek sekali kali" Kekeh Dito
"Maunya" kekeh Melodi
"Ini udah lebih hampir 20 menit kok belum masuk juga?" Gumam Cila bing ung
"Iya juga Cil" Luna menyetujui
"Paling bentar lagi juga masuk kalo gak ya udah puas puasin aja ngemil" Jawab Dito asal
"Ngeledek aja terus" Gumam Luna sambil membaca buku diary yang baru saja dia temukan
"Baperan lu" gumam Dito sambil melirik Luna
"Tunggu dulu deh! Bukannya sosok barusan yang sempet gue liat di rumah?" Kata Luna mengingat sesuatu
"Emang lo liat di mana?" Tanya Dito seolah tak tahu. Sementara Gavin yang mendengar pertanyaan itu hanya menatap Dito penuh arti dan dijawab gelengan darinya.
Semua itu Dito lakukan agar Luna tak memikirkan hal itu terlalu jauh, ia paham jika energi Luna tidak akan mampu melawan sosok itu karna dia belum pulih benar sejak pingsan waktu itu.
"Di kamar" Jelas Luna
"Gue gak liat" Celetuk Dito
"Lo kerjaannya molor mana bisa liat pret" Jawab Luna
"Emang" Jawab Dito enteng
Luna kembali fokus pada buku yang ia pegang, namun matanya masih bisa menangkap lirikan diam diam dari Dito namun dia memilih seolah tak tahu.
__ADS_1
"Coba gue pinjem bentar bukunya, penasaran gue" Ucap Gavin tiba tiba
"Nih" Luna menyerahkan buku diary yang dia pegang dan baca pada Gavin mungkin dia bisa siapa pemilik buku tersebut.