
Saat ini aku, Andito, Melodi dan Imam sedang berada di kantin untuk mengisi perut yang sudah menagih jatah sejak jam pelajaran kedua tadi.
"Guys, nginep di rumah gue yu, hari ini Mama sama Papa lagi keluar kota jadi gue dirumah sendirian" ajakku pada mereka bertiga
"Eh kebetulan Na, gue juga lagi di rumah sendirian" celetuk Melodi
"Apa sih yang nggak buat lo Na" kata Dito sambil menaik turunkan alis nya
"Biasa aja lu, gausah gitu mukanya" kesal ku pada manusia yang semakin hari semakin membuatku kesal ini
"Iya deh iya" kekehnya
"Wey main game mulu, lu mau ngikut ga mam?" tanya Melodi pada Imam yang tengah bermain game bersama Dito tersebut
"Gue mah ngikut aja" jawab Imam masih fokus pada gamenya
"Yeeeyy! Ada temen" kataku bersemangat
Jujur saja walaupun bisa melihat mereka yang tak terlihat, namun jiwa penakut ku juga ada bahkan semakin hari semakin bertumbuh kuat bukannya menghilang.
"Seneng banget Na, udah kaya dapet uang segepok aja lo" ledek Dito
"Bodo amat, lo kira gue ga takut tinggal di rumah sendirian" protesku dengan menunjukkan ekspresi murung
"Maaf mbaknya, ekspresinya bisa di kondisikan gemesh sendiri gue" gumam Imam yang baru saja melirik kearah Ku
"Iya juga sih Na, rumah lo kan gede trus lo di rumah sendiri. Kok jadi gue yang merinding" tambah Melodi padaku
"Itu mah, emang Nana aja yang penakut" kata Dito meledek
"Dih, apaan! Bukannya lo biasanya kalo Bunda dines keluar kota sering nginep di rumah" jawabku sinis
Kedua orang tua kami memang sudah lama kenal, hal itulah yang membuatku dan Dito seakan dekat.
"Gak usah ribut wey, tuh baso gak bisa abis sendiri kalo gak kalian abisin" ucap Imam menengahi
"Iya iya" jawabku dan Dito kompak sambil cemberut
Sementara Imam dan Melodi yang menyadari perubahan ekspresi kami hanya tertawa sebagai tanggapan.
Sore harinya....
Saat ini aku sedang memasak di dapur karna Mama dan Papa sejak dulu tidak pernah mempekerjakan asisten rumah tangga
Menurut mereka itu dapat membantu ku bersikap madiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Ting
ponselku berbunyi ada pesan dari Andito di sana
[Na, mau nitip sesuatu ga? Gue mampir supermarket nih]
[Beliin gue cemilan dong, lo kan tahu gue doyan ngemil]
[Siap Ndan, ada lagi?]
[Gak ada, gue mau masak dulu]
[masak yang banyak gue udah laper]
[Giliran makan aja cepet banget lu]
[Biarin]
Aku menaruh ponselku dan melanjutkan kegiatan memasak, setelah semua selesai aku mandi untuk membersihkan diri hingga terdengar suara bel rumah berbunyi memecahkan keheningan
"Iya sebentar" aku berjalan kearah pintu dan membukanya ternyata Melodi sudah berada didepan pintu rumah
__ADS_1
"Nanaaa" ucapnya dengan penuh semangat
"Biasa aja Mel, kaya gak ketemu gue berapa abad aja lo" kekehku melihat tingkah Melodi
"Gue terlalu semangat Na" kata Melodi cengengesan
Kami berjalan masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tengah menonton tv sambil menunggu yang Imam dan Dito
"Baru ngapain Na, cape banget kayak nya?" tanya Melodi penasaran
"Masak" jawabku sambil memainkan ponselku "abis mandi juga"
"Pantesan gue nyium aroma yang lumayan buat perut gue keroncongan" kekehnya
"Tukang makan lo, dasar" kataku sambil tertawa menanggapi ucapan Melodi
"Masih gak ada kabar dari Cila?" tanya ku pada Melodi
"Dari tadi gue chat ga dibales, trus gue telfon juga ga diangkat." jelasnya padaku
"Kemana sih tuh anak, gak biasanya dia ngilang kaya gini?" ucapku bingung
Hari ini Cila ijin tidak masuk sekolah namun kami tak ada yang tahu dia kemana.
"Tahu, gue juga bingung" gumamnya dengan fokus kearah televisi
Kami kembali fokus pada film hingga Dito dan Imam datang bersamaan
"Gue kira gak ada orang" kata Dito sambil memberikan titipan ku tadi
"Anggep aja kita bukan orang" celetuk Melodi
"Trus apaan dong, manekin gitu" gumam ku sambil melempar bantal padanya
"Ya bukanlah, masa cantik kaya gini di bilang manekin" protes Melodi setelah berhasil menangkap bantal yang kulempar
Obrolan kami masih terus berlanjut hingga menuju meja makan, kami makan bersama
"Akhirnya kenyang juga nih perut" ucap Dito sambil memegang perutnya
"Urusan perut lu yang paling cepet" Ledekku pada Dito
"Percayalah Na, Apapun yang lo masak gue selalu suka" kata Dito lagi
"emang lo doyan makan aja kalo itu, Mama Ai yang masak aja lo habisin" ledekku sementara dia menekuk bibirnya kebawah
"tapi gue setuju sih Na, ini enak beneran" kata Imam menyetujui
"Kita gak bohong Na, ini beneran enak" kata Melodi menyetujui ucapan kedua sahabatnya itu
"Iya iya gue tahu, abisin dulu itu makanan di mulut baru ngomong Mel" kataku sambil tertawa pelan
"Maap maap" kata Melodi
Obrolan kami masih berlanjut diruang tengah, banyak hal yang kami bicarakan dari hal yang penting hingga yang tidak penting sama sekali
"Kelakuan nya siapa nih nonton horor" jawab ku santai "untung ini malam minggu bukan malam jumat"
"Nih kampret" jawab Melody dengan melempar bantal kearahnya
"Gak usah lempar bantal" jawab Dito sambil melempar bantal kembali kearah Melodi
"Bodo amat" jawabnya
"Hidup gue kayaknya lebih horor dari pada film ini" gumamku pelan
"Ngomong ngomong soal horor, gue jadi penasaran hatu yang ada di film horor itu sama gak sih seremnya sama yang lo liat?" tanya Melodi ke arahku yang masih berada di keja makan bersama ponsel di tanganku
__ADS_1
"Lebih serem hati gue yang udah bertahun tahun kosong" celetuk Dito
"Lah kenapa lu jadi curhat?" gumam Imam
"Tahu lo" tambahku lalu berjalan duduk dian tara Melodi dan Imam sedangkan Dito lebih memilih dibawah
"Tentu saja lebih seram di Film lah Mel" jawab ku menanggapinya
"Kok gitu?" tanya Imam tak kalah penasaran nya dengan Melodi
"Mereka yang buat film kan belum tentu pernah liat hantunya, jadi mereka cuma bisa nebak aja tingkat keseremannya kan" jawabku kembali
"Kalau yang biasanya gue atau Nana liat gak sesolit kaya di film. Mereka yang kita liat kalo di ibaratin kaya hologram" tambah Dito kali ini ikut serius
"Tembus pandang?" kata Melody
"Dan gak selamanya mereka itu wujudnya serem, ada juga yang nggak. kaya manusia pada umumnya " kataku menjelaskan
"ada yang ganteng ga?" tanya Melodi tiba tiba
"emang mau lo apain, mau lo pacarin?" jawab Imam kesal
"ya enggak lah, masa iya gue pacaran sama setan" jawab Melodi
"kayaknya lebih horor kalian berantem deh" kekeh ku
(Author)
Mereka kembali melanjutkan menonton film horor hingga larut, beruntung besok hari minggu karena sekolah pasti libur.
"Lah adek gue udah pules aja" ucap Dito sambil terkekeh
"Masih nganggep adek Dit?" gumam Melodi santai
"Mau nganggep apa Mel?" katanya santai
"Pacar gitu" kekeh Imam
"Gue belum siap, gue gak mau maksa hatinya yang masih punya trauma sama mantannya yang udah meninggal" jelas Dito pelan
"Gerry maksut lo, gue kira sama Billy" kata Melodi
"kalo soal itu gue gak mau ngusik lagi, takut dia makin marah sama gue" gumam Dito
"Iya juga gue aja masih takut kalau harus bahas soal gituan sama dia" kata Melodi meyakinkan
"Untuk sekarang biarin aja gini, gue punya cara sendiri buat pertahanin dia" jawabnya santai melihat ke arah Luna yang sudah terlelap
"mau sampe kapan?" tanya Imam
"sampe dia bener bener siap" gumamnya
"Iyain aja deh biar lo seneng" kata Imam sambil tertawa
"Gitu kek sekali kali pengertian" kata Dito asal
"Dih, kenapa jadi pengen dingertiin banget lu" jawab Imam
"Bodo amat"
Dito mengangkat Luna kedalam kamar, ia tak tega jika harus membangunkan dari mimpi dan lelapnya saat tidur.
"Gue ikut" Melodi beranjak dari duduk dan mengikuti Dito ke kamar Nana
"Lah gue ditinggal gitu?" gumam Imam
"kamar lo kanan dari tempat lo duduk, ntar gue nyusul" jawab Dito tanpa menoleh ke bawah
__ADS_1
Setelah memindahkan Luna kedalam kamar Dito kembali kebawah menemui Imam dan menuju kamar tamu untuk beristirahat.