
Hari ini Cuaca cukup mendung, bahkan angin juga berhembus sangat kencang membuat anak SMA MUTIARA malas untuk keluar kelas, biasanya sebelum bel masuk seperti ini kelas sepi sekali.
"Na, ngantin yu" ucap Melodi kepada Luna
"Males Mel, mending sama Cicil tuh yang dari tadi streaming drakor" jawabku sambil melirik Cila
"Nana mah gitu, die yang gak mood gue korbannya" gerutu Cila mematikan ponselnya
"bukannya dari dulu emang gitu ya?" ledek Luna sambil terkekeh
"Mau nitip gak lu berdua" tanya Melodi sebelum beranjak dari tempat duduk
"Gue nitip boleh dong?" ucap Luna kemudian
"Apa?" tanya Cila ke arah Luna
"Kantinnya lu bawa kesini kira kira bisa gak?" celetuk Luna dengan polosnya
Mendengar itu Gavin yang tak bisa menahan tawanya itu membuat seisi kelas semakin ricuh karena celetukan Luna itu
"Nana kumat" gumam Cila kesal
"Iye iye, gue nitip yang biasanya aja" kekeh Luna
"Untung temen Na, kalo bukan gue lempar Lu" dumel Melodi
"Lempar aja kalo kuat" jawab Luna santai
"Ngakak gue Njir" katanya sambil menghentikan tawanya
"Baek baek lu gak bisa berhenti ketawa" ledek Luna
"Doain yang baik baik kek, ini mah kaga" protes Gavin
"Ini anak dua kemane?" gumam Luna melihat bangku Imam dan Dito
"Lah yang ada harusnya gue yang nanya sama lo Na, si Dito kemane? Kalo Imam bentar lagi juga nongol batang hidungnya" Jawab Gavin
"Tadi sih bilangnya mau pulang dulu bentar" jawab Luna mengingat sesuatu
Mereka kembali terdiam dengan ponsel masing masing, hingga Dito dan Imam datang dengan nafas yang memburu
"Kirain mau pada bolos" kata Luna sambil menatap Dito tajam
"Eh gue gak pernah bolos ya, enak aja" protes Imam
"Lo kan tahu Na, gue udah insap" jawab Dito setelah berhasil menetralkan nafasnya
Di tengah berbincangan mereka Dimas sebagai ketua kelas masuk membawa kabar baik bagi mereka semua
"Woy sekarang jam kos, guru pada rapat buat acara kemah minggu depan" ucapannya berhasil membuat seisi kelas semakin gaduh
"Hadeeeh kenapa di saat saat seperti ini malah ada kemah" gerutu Gavin
"Bakal ribet Nih, rencana gue buat bersihin sekolah" kata Luna menyetujui
"Ya sebelum seminggu kelarin Na" Jawab Imam enteng dan diangguki oleh Dito
"Kalian kira gampang apa" protes Gavin
"Enggak" kata Dito enteng
"Lah itu tahu panjul" timpal Luna menanggapi sementara Dito hanya cengengesan
Bersamaan dengan itu Cila dan Melodi sudah berada di Antara mereka berempat, Cila menarik bangkunya kesamping meja Gavin dan Melodi kesamping Luna.
"Cuman satu Mel?" tanya Luna melihat ada cemilan kesukaannya
"Tinggal satu" jawabnya santai
Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka mengenai murid yang melakukan hal ceroboh mereka.
"Eh tapi ya Vin, lo liat ada berapa orang yang main?" tanya Luna saat teringat sesuatu
__ADS_1
"Seinget gue sih 4 atau 5 orang" kata Gavin mengingat sesuatu
"Ini bukannya gue sompral ya, tapi kenapa cuma satu yang kena? Padahal 4 atau 5 orang kan yang terlibat" Kata Imam menanggapi
"Itu yang dari kemarin jadi pikiran gue" kata Dito "cuman gue diem aja, ngeri ada yang kena lagi"
Bersamaan dengan Dito selesai mengucapkan tanggapannya, Luna dan Gavin secara bersamaan melihat sosok yang masuk ke tubuh Doni kemarin berdiri di pojok dekat pintu kelas "Anjrit" kata Gavin dan Luna kompak
"Na mulutnya gak usah bocor gitu" kata Dito mengingatkan
"Liat aja tuh di pojok deket pintu" gumam Luna sambil membuang muka kearah asal
Karena penasaran Dito menoleh ke arah yang Luna maksud tanpa aba aba, hingga membuatnya terkejut atau lebih tepatnya dia teriak "Aaaaa"
"Berisik" kata mereka kompak
"Serem Njir" celetuk Dito
"gue kata Dit" gumam Luna
Karna tak ingin membuang waktu sia sia Luna memberanikan diri melihat mata Sosok menyeramkan itu untuk mengetahui apa yang membuatnya penasaran.
"Uhuk uhukk"
Namun sayang nya energi sosok itu terlalu besar dan terlalu negatif, tubuh Luna tak mampu menahan "Kan kan, pelan pelan napa" kata Dito sambil memberikan minum pada Luna
"Jangan nekat, energinya gak main main" kata Gavin memperingatkan
"Gue lupa Vin, kemarin kita aja dapat bantuan pak Imron" gumam Luna setelah menetralkan nafasnya
"Se negatif itu buat lo?" tanya Dito
"Bisa lebih parah malahan" jawab Gavin "energi Nana itu gak bisa kena energi negatif apapun itu bentuknya" tambahnya menjelaskan
Di tengah obrolan mereka, Luna seperti mendengarkan ada seseorang yang mengajaknya bicara.
"Energimu tidak akan mampu melihat masa laluku" ucapan itu seperti berbisik di telinganya
"Apa yang ingin kau tahu tentang ku?" gema suara sosok itu sangat menusuk telinganya
"kenapa kau mencariku dan kenapa kau seperti mengincar Doni?" tanya Luna dalam hati
"Aku ingin kau membantuku, dan asal kau tahu anak laki laki itu berbahaya" ucapan itu masih menggema di telinga Luna
"Dia berbahaya? Apa yang kau maksudkan dengan berbahaya? Lalu kau meminta bantuan apa padaku?" tanya Luna penasaran masih dalam hati
"Dia punya kelebihan sama sepertimu dan kedua teman lelakimu tapi kedua orang tuanya memanfaatkan anak itu agar ikut dengannya" jelas sosok itu
"Apa yang orang tuanya lakukan?" tanya Luna dalam hati
"Ilmu hitam, orang tuanya penganut ilmu hitam dan mereka memanfaatkan anak laki laki itu untuk mencari tumbal" jelas sosok itu
"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Luna dalam hati
"Kau harus mencari media yang dia gunakan untuk memanggilku, lalu bakarlah agar aku bisa meninggalkan tempat ini sebelum aku di manfaat kan oleh mereka"
Luna sudah tidak merasakan keberadaan sosok itu di ruang kelas, sebenarnya masih ada yang ingin dia tanyakan pada sosok tersebut.
"Na, jangan ngelamun" kata Dito mengingatkan
"Nana" tambah Gavin
"Iya gue denger" jawab Luna sambil menepis semua pemikirannya jauh jauh "Jangan nanya kenapa? Dengerin cerita gue baik baik" ucap Luna seakan mengerti apa yg akan Cila tanyakan
"Belum juga nanya Na" gerutu Cila
"Lo mau cerita apa?" tanya Imam yang sudah mulai penasaran
Luna menceritakan informasi yang baru saja ia dapatkan dari sosok menyeramkan tersebut pada kelima sahabatnya itu
"Tunggu! Jadi lo dari tadi komunikasi Na?" tanya Gavin dijawab anggukan oleh Luna
"Pantesan dari tadi berat banget, ngomong gitu kalo mau komunikasi" keluh Dito masih mengunyah makanan yang ada di tangannya
__ADS_1
"Mwhweheh... Sorry" kekehnya
"Luna kan gak mau buang kesempatan" Celetuk Gavin
Walaupun Gavin tahu ada sesuatu yang sengaja tidak ia ceritakan pada mereka semua termasuk padanya.
"Kesempatan gimana?" tanya Melodi bingung
"Nih ya logikanya, tuh sosok ngapain tiba tiba muncul gitu aja. Pasti ada yang mau dia kasih tahu kan?" jelas Gavin panjang lebar
"Trus yang dia kasih tahu apa?" ta nya Cila dengan polosnya
"Hem kan" guman Imam
"Untung lu cewek gue" celetuk Gavin
"Lelet nih anak, nah yang dicerita in Nana itu tadi kan dikasih tahu Sosok nya Cil" jawab Melodi dengan gemas atas tingkah sang sahabat
"Ohhhh" jawabnya tanpa dosa
"Kenapa lo lelet di waktu yang gak pernah tepat sih" kesal Luna pada sahabatnya yang satu ini
Di tengah berbincangan mereka yang semakin seru itu tiba tiba ponsel nya kembali bergetar dan membuatnya dan yang lain terkejut, pasalnya ia menaruh ponselnya di laci meja.
"Kaget berjamaah kan kita" celetuk Dito asal
Luna segera mengambil ponselnya di laci dan mendapati panggilan suara dari seseorang bernama Andri sebagai nama.
"Lo yakin gak mau ngangkat?" tanya Gavin yang ikut membaca nama itu
"Gak ada untungnya buat gue" jawab Luna datar
"Siapa?" tanya Dito
"Andri" kata Gavin dan Luna bersamaan
"Sini biar gue yang Angkat" kata Dito sambil menarik ponsel ditangan Luna dan berjalan ke luar kelas
"belum juga dapet ijin" celetuk Luna
"Semangat amat tuh anak" celetuk Imam
"Kata yang lebih tepat adalah punya dendam apa si Dito sama Andri?" kata Gavin
"Banyak" jawab Luna dan Cila kompak
"Kompak amat" kekeh Imam kembali
"Jadi kalian putus sejak kapan?" tanya Gavin pada Luna
"Gak lama setelah lo berangkat" jawab Luna datar
"Masih dendam?" tanya Cila
"Gue gak tahu kata yang tepat buat ngungkapinnya itu apa yang jelas gue udah gak mau berurusan sama dia lagi" tambah Luna
"mungkin lebih ke kecewa" jawab Imam menanggapi
"Nana mah orang nya gak pernah dendam" gumam Melodi
"Gak pernah dendam emang dia, tapi sensian" Ledek Gavin
"Btw sepatu gue keras lo Vin, kayaknya enak nih kalo kena kepala lo" celetuk Luna sambil melirik Gavin yang duduk di sampingnya
"Eh jangan dong, Ntar kalo gue amnesia gimana?" katanya dengan ekspresi melelas di wajahnya
"Ya awoh. Mana ada di getok sepatu bisa amnesia" kekeh Imam
"Lu kira sepatu gue besi apa Bambang" tambah Luna kesal
"Udah gak usah ribut, beban hidup gue lebih berat" Celetuk Dito sambil memberikan ponsel Luna kembali
"Iye iye gue percaya banget sama lo" kata Gavin sambil tertawa
__ADS_1