ETERNITY OF LOVE

ETERNITY OF LOVE
Chapter 21


__ADS_3

Pukul 23.00 Luna terbangun karena tenggorokannya kering dan perutnya juga Sangat lapar, walaupun Melodi  menginap di rumah Luna tetapi dia lebih memilih tidur sendiri Alhasil dia tidur dikamar sebelah.


"Lah sejak kapan nih bocah tidur di sini?" Tanya Luna dalam hati


Saat Luna berbalik arah ternyata di sisinya ada Andito, ia kira tadi Melodi karna biasanya dia suka pindah kekamar Luna saat ia ketakutan karna mimpi buruk.


"Suka banget lo molor dikamar gue?" Kata Luna sambil tersenyum


Dia memandang Dito sekilas yang telah tertidur pulas menghadapnya itu lalu perlahan membenarkan selimut yang Dito gunakan lalu menghilang ke dapur.


Ctek!


Luna menghidupkan lampu yang berada didapur, mencari keberadaan mie instan untuk mengganjal perutnya yang tiba tiba lapar.


"Ngapain Na?" Tanya seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar


"Ngagetin aja kak" Protes Luna Melihat Faisal sudah berada di sampingnya. Sementara Faisal hanya tersenyum sambil menyeduh kopi panas


"Kakak belum tidur?" Tanya Luna yang sudah menyelesaikan membuat Mie instan


"Belum, kakak lagi nyiapin beberapa data buat pendaftaran kuliah online" Jawab Faisal membawa dua gelas ke meja makan


Tentu saja satu lagi adalah coklat panas untuk adik kesayangannya itu yang sedang menyantap mie instan.


"Kakak nyuruh Dito dikamar kamu tadi" Kata Faisal mengawali


"Kamar tamu?" Tanya Luna


"Ada Nino sama Imam, trus di kamar kakak ada Bara. Masa iya Dito sekamar Sama Melodi, bisa ada perang dunia sama Imam" Kata Faisal menjelaskan


Sementara Luna hanya mengangguk anggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kakak jadi kuliah di Sini?" Tanya Luna kembali


"Iya, sama kaya yang kakak bilang waktu itu kakak akan stay di indo" Jawab Faisal sambil mencomot mie milik Luna


"Bikin sendiri kak" Protes Luna kesal


"Dikit" Kekeh Faisal melihat kearah Luna


Setelah selesai mereka kembali kekamar masing masing, setelah adanya camping mereka diberi waktu untuk beristirahat di rumah selama dua hari.


"Dari mana?" Tanya Dito masih menutup matanya


"Dari dapur" Jawab Luna dan kembali menidurkan tubuhnya di samping Dito


"Ngapain?" Tambahnya


"Makan"

__ADS_1


"Jam segini?" Tanya Dito


"Orang laper" Protes Luna


"Iya iya" Jawab Dito Sambil tersenyum menatap punggung Luna yang tidur membelakanginya


Saat Luna mengarahkan padangannya kearah jendela ia seperti melihat sesuatu berwarna hitam lewat didepan jendela kamarnya


"Kamar gue kan di lantai dua" Gumam Luna dalam hati


"Trus yang barusan itu apa dong, tahu ah mending gue tidur" batinnya lagi sambil menutup matanya


Sebenarnya pada saat Luna melihat hal itu Dito juga melihatnya, namun dia lebih memilih diam dan berharap Luna tidak melihatnya.


"Kenapa susah banget mau tidur, gak tahu apa badan gue cape semua butuh banyak istirahat" Keluh Luna dalam hati


Perlahan Luna merasakan ada tangan yang melingkar dalam perutnya, seolah hal itu sedang ia butuhkan tak ada penolakan darinya.


"Na?" Tanya Dito tiba tiba, ia tahu jika wanita yang sedang dia peluk tersebut belum tertidur


"Hmm?" Jawab Luna dengan memejamkan matanya


"Lo udah tahu kan sebenernya siapa yang ngikutin kita selama ini?" Tanya Dito sambil membenamkan kepalanya di punggung Luna


"Udah" Jawab Luna


"Kenapa gak cerita sama gue?" Tanya Dito


"Berarti gak ada yang tahu?" Tanya Dito memastikan


"Enggak ada, kecuali kak Faisal. Kita cuma hindarin Papa sampe tahu hal ini" Jawab Luna


"Jadi yang tadi itu-" Ucapan Luna yang belum terselesaikan itu sudah dipotong oleh Dito


"Bukan, ternyata itu orang suruhannya Andra"


Jawab Dito sambil menarik Luna dalam dada bidangnya masih dalam dekapan yang perlahan sudah mulai membuat Luna nyaman


"Trus?" Tanya Luna penasaran


"Kak Fais berhasil bikin anak suru hannya Andra ngaku makanya kita jadi tahu siapa pelakunya, sekalian aja sama kakak lo dilaporin ke polisi" Jelas Dito panjang lebar


"kenapa gak Andranya selakalian di laporin?" kesal Luna


"kan gak ikut, coba kalo ikut udah gue penjarain tuh anak" jawab Dito tak kalah kesal


"Yakin Andra aja?" Tanya Luna ragu


"Kak Fais sama kak Bara sih curiga ini ada keterlibatan dari Andri dan..." Dito tidak melanjutkan ucapannya

__ADS_1


"Dan apa?" Tanya Luna bingung sedangkan Dito tak langsung menjawab dia ragu apakah harus mengatakan pada Luna


"Billy" Kata Dito Lirih


"Billy?" Tanpa menjawab lebih lan jut Dito hanya menganggukan kepala nya


"Ini masih dugaan kak Faisal sama kak Bara aja, bisa juga kan mereka gak ada sangkut pautnya" Jelas Dito panjang lebar


"Kenapa harus Billy, kenapa harus dia" Lirih Luna dalam hati


Billy Hermana pria yang pernah mengisi hati Luna beratahun tahun dan harus mengakhiri hubungan mereka hanya karena terhalang restu dari orang tua Billy.


"Apa lo setega itu bil"


Luna menarik nafasnya dalam dalam lalu mengeluarkannya perlahan, membuka matanya bersamaan dengan air mata yang sudah bersiap turun kepipi


"Ternyata gue yang terlalu bodoh masih selalu berharap sama dia" Lirih Luna


Luna tidak perduli lagi jika Dito mendengar ucapannya, saat ini yang dia rasakan adalah hatinya yang kembali sakit jika mengingat hal indah bersama dengannya.


"Jangan nyalahin diri sendiri" Ucap Dito dengan mengelus lembut tangan Luna yang ada dalam genggamannya "Ikhlasin"


"Emang gue udah iklas, tapi apa gue salah masih ngarepin hal nggak mungkin?"


Lirih Luna sambil menatap kosong kearah jendela sementara Dito hanya tersenyum dan membalikkan badan Luna


"Lo nggak salah! Nggak ada yang salah sama harapan seseorang, terkadang apa yang kita harapkan gak selamanya berjalan sesuai keinginan" Kata Dito sambil tersenyum dan menghapus sisa air mata dipipi Luna "jangan nangis lagi ya"


"Kalau lo terus terusan nyalahin diri sendiri yang sakit siapa? Lo kan?" Luna mengangguk pelan


"Mau sakit hati terus emang? Enggak kan? Lo itu bukan cewek yang lemah" Tambah Dito yang masih menatap kearah wanita yang berada di depannya itu dengan senyuman manisnya


Luna tahu pria yang berada di hadapannya ini sedang memberikan semangat baginya, namun air mata itu masih saja tak bisa berhenti mengalir dari mata nya.


"Gue gak mungkin bisa jalan kalau gue gak pernah ada tujuan" Tatapan teduh Dito berhasil membuat Luna mengeluarkan isi hatinya


Satu hal lagi kebodohannya terulang Mengharap seseorang yang telah pergi dari hatinya, namun melupakan seseorang yang selalu memberikan hatinya dengan tulus.


"Lo tetep bisa jalan, gue akan selalu jadi tongkat buat Lo. Gue akan selalu temenin lo kemanapun lo mau, gue janji gue gak akan pernah tinggalin lo sedetik pun" Dito tahu apa yang bisa membuat Luna tenang


"Janji?" Tanya Luna menatap lekat kearah Dito


"Gue gak pernah ingkar janji" Dito kembali menarik Luna dalam pelukan nya "gue janji" lanjut Dito, bahkan dia hampir saja mengeluarkan air matanya


"Mungkin sekarang saatnya gue mulai jalan lagi Dit dan mulai buka hati gue buat lo" batinnya


"Gue akan tunggu sampai kapanpun lo siap, kita lewatin semuanya bersama dan gue akan bantu lo lupain semua nya" Dito tersenyum senang dan meng elus kepala Luna lembut


Entah sejak kapan Luna membalas pe lukan Dito sangat erat, bahkan saat ini ia sudah terlelap bahkan tanpa melepas pelukan nya.

__ADS_1


"Kunci untuk melewati cobaan adalah kesabaran, Iktiar, Usaha, dan Doa. Gue udah lulus ujian itu dan hadiah terbesar yang gue dapet adalah lo" Lirih Dito dalam hati sambil meme jamkan matanya


__ADS_2