ETERNITY OF LOVE

ETERNITY OF LOVE
Chapter 13


__ADS_3

Saat ini mereka sedang fokus dengan tugas yang di berikan oleh guru piket, karna untuk kesekian kalinya guru pengajar mereka tidak datang ke sekolah.


"Udah 4 kali pertemuan pak Bagas gak ada, kemana tuh orang?" gumam Melodi yang baru saja membindahkan kursinya ke samping meja Luna


"Sayangnya gue gak bisa baca pikiran orang Mel" celetuk Luna yang fokus pada buku di hadapannya


"Tapi gue ngerasa aneh beneran Guys" kata Melodi melihat kearah teman teman nya


"Aneh gimana?" tanya Imam bingung


"Kalian inget kan sama cerita kak Axel waktu di kantin kemarin lusa" kata Melodi menjelaskan


"Maksud lo soal tingkah aneh pak Bagas sebelum ijin kan?" tanya Dito memastikan


"Iya" jawabnya santai


"Trus anehnya itu di mananya, gue masih bingung" tambah Luna yang sudah mencari keberadaan kotak pensilnya


"Nyari apa sih?" tanya Gavin melihat tingkah teman sebangkunya itu


"Weh kampret, kenapa kotak pensil gue bisa di sana" kesal Luna yang mendapatkan kotak pensilnya ada di meja Dito


"Eh iya lupa" kata Dito cengengesan "nyari pulpen" tambahnya lagi


"Tua aja belum, pikun di pelihara" gerutu Luna


"buruan mana, mau gue lempar sepatu lo" kesal Luna


"Sabar napa sih" gerutu Dito


Sedangkan teman temannya yang lain. nya hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Dito dan Luna barusan.


"anehnya di Mel?" tanya Luna kemba li


"gak tahu bener apa salah ya, tapi gue curiga ada yang sengaja bikin pak Bagas keluar dari sekolah ini gitu?" jelas Melodi panjang lebar


"Kenapa tiba tiba dingin" kata Luna dalam hati sambil memerhatikan sesuatu


"Kenapa?" tanya Melodi pelan


"Gak papa, gue ngerasa ada perubahan suhu aja dari tadi" jawab Luna santai


"Kalo itu dari tadi gue juga ngerasa kali Na" kata Imam menambahkan


"Lah kan lo duduk di depan jelas aja ngerasa Bambang, tuh pintu ke buka lebar" celetuk Gavin


"Lah bener kan gue?" kata Imam tanpa dosa


"Hmm" jawab mereka berlima kompak


"Untung yang modelan dia cuma satu disini, kalo banyak bisa setres gue" celetuk Dito asal


Sementara yang lain hanya tertawa mendengar celetukan Dito itu, mereka kini bukan lagi teman melainkan sahabat. Yang akan saling mengisi satu sama lain, tanpa memandang rendah salah satu dianta ramereka.


"Kelar juga" gumam Luna sambil menutup bukunya


"Tumben cepet Na?" tanya Cila


"Dari tadi gue kan ngerjain bukan Ghibah" kekeh Luna


"kok gue merasa ya" tambah Melodi


"itu emang lo baperan aja mel" jawab Luna asal


"Luna kalo ngomong ya, kadang kadang suka bener" kata Melodi


"apa lagi sama yang namanya mantan" ledek Gavin sambil tertawa


"Sorry Sorry kalo itu namanya bongkar kartu lo" protes Melodi sambil melemparkan kertas yang sudah menjadi gumpalan pada Gavin


Sedangkan Luna hanya tersenyum sambil memainkan ponselnya, membaca beberapa pesan yang masuk salah satunya adalah dari sang kakak.


[Dek, kamu yakin yang ngikutin kamu waktu itu Andri?]


[Emang kenapa kak?]


[Jadi kakak kan abis dari cafe, ke temuan sama kak Bara sama Kak Nino. Trus kakak liat si Andra sama Andri ada di sana]


[Hah, Jadi maksud kakak Andra yang ngikutin aku bukan Andri?]


[kemungkinan sih iya, atau mungkin bisa jadi dua duanya]


[Tunggu deh kak, Nana masih gak paham anggap lah itu Andra itu motifnya apa]


[cinta segitiga, apalagi menurut kamu]


[lah, kenapa jadi balas dendam sama aku bukannya dia udah ikhlasin aku sama Andri ya waktu itu]


[Iya emang, tapi apa menurut kamu setelah kamu putus sama Andri dia bakal diem aja?]


[iya sih, berarti yang selama ini telfon ke Hp ku terus itu Andra dong kak, sampe akhirnya aku ganti nonor?]


[kemungkinan dia, tapi kamu tenang aja kakak pastiin kamu sama yang lainnya aman. kakak udah janji kan sama kamu kalau bakal lindungin kamu]


[percaya deh kalo soal itu]


[Read]


Luna sedikit berpikir tentang apa yang baru saja ia baca, mencoba mencerna semuanya perlahan.


"Cil" Luna memberikan ponselnya pada Cila

__ADS_1


"Apa?" Tanya Cila bingung


"Baca aja dulu dari awal sampe akhir" kata Luna sambil memijat pelipisnya


Luna masih tak bisa mengerti apa yang dia inginkan sebenarnya, jika itu benar Andra. Cila menatap Luna penuh arti, ia paham apa yang sedang Luna pikirkan.


"Kalo itu bener, ini urusannya nyawa Na" kata Cila khawatir


"Bodo amat lah gue soal itu, mending sekarang temenin gue ke toilet" kekeh Luna


"Nana mah, giliran di ajak serius malah bercanda" gumam Cila


"Gue gak becanda Cil, gue kebelet beneran" kekeh Luna


"Udah sih buruan, malah debat di sini" celetuk Dito


"Tahu, keburu Nana ngompol" kekeh Imam


"Mulut lu Mam" gumam Luna yang baru saja meminta ijin Dimas sebagai ketua kelas


"Ikut wey" kata Melodi sedikit berteriak


"Gak usah teriak" kesal Luna


Mereka pergi ke toilet dan secara bergantian buang air kecil, lalu bersiap kembali ke dalam kelas.


"Na?" tanya Cila memecah keheningan


"Hmm?" Jawab Luna sambil mencoba mengikat rambutnya yang ikal itu di depan cermin


"Lo yakin itu Andra?" katanya ragu


"Gue gak bisa pastiin itu siapa? Tapi kalo yang di bilang Kak Faisal masuk akal Cil" kata Luna sambil melihat Cila dari cermin


"Iya sih, apa sih maunya tuh anak sama lo" kesal Cila


"Gue" ucap Luna sangat lirih


"dan lo mau?"


"jangan Gila! adiknya aja gue putusin lo malah nanya abangnya mau apa kaga" kesal Luna emosi


"iya juga, tapi kan Gak semua kakak adek sifatnya sama" kata Cila sam bil mengelus punggung luna menenang kan


"iya gue tahu, tapi kalo udan sampe bikin gue kesel kaya gini sih keterlaluan namanya Cil" kata Luna mengakhiri


"I Know, semua bakal baik baik aja. lo harus percaya sama bang Faisal" Luna mengangguk sebagai jawaban


Bersamaan dengan itu, Melodi keluar dari kamar mandi. Mereka kembali ke kelas melakukan kegiatan belajar mereka.


"Kenapa lu, balik gitu banget mukanya" tanya Gavin


"Gapapa, urusan kamar mandi gak usah di perpanjang pak" celetuk Luna


"Gak bisa gue jelasin tuh modelan apa, masa iya orang masuk kamar mandi masih di kintilin" gerutu Luna kesal


Dengan sengaja Luna mengirimkan Visual apa yang dia lihat di tolilet kepada Gavin, dia tak menceritakannya memang tadi. Jika dicerita kan tadi maka dia akan di tinggalkan oleh Cila dan Melodi.


"Anjir! Serem Na" kata Gavin kaget


"bukannya lo pengen tahu gue liat apa?" kata Luna dengan wajah Lolos nya


"Ngomong dulu baru kasih tahu" gerutu Gavin kemudian


"Apasih berdua, masalah setan aja berantem berdua" kata Dito


"Diem lu setan!" kesal Gavin


"Enak aja lu, mana ada setan ganteng kaya gue" protes Dito dengan pedenya


"Iya ganteng kalo dilihat dari ujung sedotan" ledek Gavin


Mendengar itu yang lainnya hanya tertawa puas meledek Dito, dan beberapa menit kemudian belistirahat berbunyi.


"Anjir sakit perut gue" kata Imam sambil memengang perutnya


"Udah ah, mending ke kantin sekarang" kata Luna diangguki yang lainnya


"Laper gue juga tuh" celetuk Imam


"Kenapa belakangan ini lo jadi doyan makan Mam?" tanya Luna


"Dari pada doyan yang lain" kekeh Imam kemudian


"Dih maunya, baek baek lo jatoh di tengah jalan" gerutu Luna sedangkan Imam hanya tertawa


"jangan gitu dong, kasih solusi gitu gue harus gimana?" protes Imam


"mohon maaf, kalo soal itu gue takut bos" kekeh Luna "silahkan Berjuang sendiri"


"kampret lo" kesal Imam


---+++---


"Hoam ngantuk banget masih jam 20.00 padahal" ucap Luna setelah melihat jam kecil yang ada di meja belajarnya


Sejak pulang sekolah tadi Luna sedang berusaha mati matian untuk mengerjakan tugas matematikanya, namun tak ada yang masuk dalam pikirannya sama sekali.


"Kakaaaaak bantuin Nana" ucap Luna sedikit berteriak memanggil Faisal 


Tak seperti biasanya harus berteriak teriak memanggil sang kakak hanya karena pekerjaan rumah saja, padahal matematika adalah mata pelajaran Favorite nya.

__ADS_1


"Apa sih dek, gak usah teriak teriak gitu dong" kata Faisal setelah memasuki kamar sang adik


"Bantuin" rengek Luna sambil menarik tangan sang kakak agar mendekat


"Ya Allah dek, kirain apa sampe teriak teriak gitu" kata Faisal gemas sambil mengacak rambut sang adik


"Susah tahu" jawab Luna menekuk mulut nya ke bawah


"Yaudah yuk kakak bantuin, jangan cemberut gitu" kekeh Faisal melihat tingkah gemas sang adik


Faisal menjelaskan apa yang sang adik kurang paham dengan telaten dan menemaninya hingga Luna selesai mengerjakan tugasnya.


"Gimana? Paham atau masih bingung?" tanya Faisal setelah sang adik selesai mengerjakan tugas rumahnya


"Bingung" gumam Luna santai


"Semoga aja yang kakak jelasin tadi gak cuma numpang lewat aja di telinga kamu Na" celetukan Faisal berhasil membuat Luna tertawa


"Becanda kali kak, Nana paham kok"


Hal itu membuat Faisal menekuk mulut nya ke bawah karena ulah usil adiknya itu.


"Eh iya kakak tadi di bawah ngapain Sama siapa?" tanya Luna menyadari sesuatu


"Oh itu, di bawah ada Bara sama Nino Mau ikut ke bawah?" tanya Faisal


"Gamau, mau tidur udah ngantuk" jawab Luna sambil membereskan buku bukunya di meja nya kedalam tas


"Ya udah istirahat, jangan begadang kakak keluar kalau gitu" kata Faisal tersenyum lalu mencium kening adiknya


"Night kak" kata Luna sambil terse nyum


"Night too sayangnya kakak, jangan lupa kunci pintu" jawab Faisal sambil tersenyum ke arah Luna


Bagi Luna Faisal adalah kakak yang terbaik, mereka sangat dekat bahkan orang yang baru mengenal mereka ak an menganggap mereka pacaran.


"Gila lo Is, Ninggalin sahabat sendirian lagi" protes Bara setelah melihat Faisal turun dari tangga


"Bukannya lo sering ditinggalin ya Bar" ledek Nino


"gue sleding lo" kesal Bara semen tara Faisal dan Nino hanya tertawa


Bara, Faisal, dan Nino sejak tadi bermain game di ruang tengah sebelum Luna berteriak memanggil nama sang kakak.


"Si Nana minta di bantuin ngerjain PR, sebagai kakak yang baik ya gue bantuin lah" jawab Faisal santai


"Coba tadi lo bilang gue, kan bisa gue bantuin tuh anak" gumam Nino


"Apaan, lo mah kerjaannya nyari ke sempatan mulu No" Balas Bara mele dek


"Dan jelas gua gak bakal ikhlas tahu" kesal Faisal sambil melempar bantal kearah Nino


"Kebangetan lu sal, ijinin kek" protes Nino sambil melempar kembali bantal ke arah Faisal


"kalo lo mau, saingan lo lumayan No" kekeh Faisal


"Nana udah punya cowok?" tanya Bara penasaran


"Belum, tapi ada yang suka sama Nana" jawab Faisal


"Siapa?" tanya mereka kompak


"Dito" jawab Faisal pelan


"Sahabatnya Nana" kata Bara menegaskan


"Iya, kayaknya si Nana juga suka sama dia Cuma masih sama sama gengsian aja" jawab Faisal


"Dangukeun, tong ngamimitian modeu damel anjeun" gumam Bara yang masih fokus pada gamenya


"Sejak kapan lo jago bahasa sunda Bar?" tanya Nino bingung


"Heh Bambang, orang tua Bara kan orang sunda gimana sih lo" protes Faisal pada Nino


"Lah iya, gue lupa" Kata Nino Cenge ngesan


"Pikun Lu sama sahabat sendiri" Pro tes Bara


"Udah! Gue minta lo berdua kesini bukan buat berantem ye, gue mau minta bantuan kalian" jelas Faisal


"Bantuan?" kata mereka sedikit berteriak


"Iye bantuan, tapi pelanin suara lo kalo gak mau disemprot papa"


"Maap maap" kekeh Nino


"Lu butuh bantuan apa dari kita?" tanya Bara serius 


"Kalian cari tahu soal Andra, apa pun yang lo dapetin kasih tahu ke gue" jelas Faisal pada kedua sahabatnya itu


"Ngapain lagi tuh anak?" kata Bara kesal


Faisal menceritakan semuanya pada Nino dan Bara, hingga membuat mereka kesal.


"Yang lebih parah lagi, Andri kemarin malem ke sini. Untung aja Nana Lagi kerja kelompok trus papa udah tidur, gue gak tahu bakal gimana kalau mereka bertiga ketemu" jelas Faisal panjang lebar


"Ini udah gak bener Sal, lo harus lakuin sesuatu" kata Nino menang gapi


"makanya dia minta bantuan kita No" geram Bara


"gue bakal habisin tuh anak kalo sampe bener Adra" kata Faisal yang sudah tak bisa menahan emosinya 

__ADS_1


"Sabar bro, jangan sampe lo lakuin hal kriminal cuma gara gara dia" kata Bara sambil memegang bahu Faisal


"Bara bener Bro, mungkin ini yang dia mau dari kalian Ngancurin kelu arga lo" kata Nino melihat kearah Faisal


__ADS_2