
Bel masuk baru saja berbunyi, sehingga bayak siswa dan siswi berebut masuk ke dalam kelas sebelum guru datang.
"Kenapa Feeling gue gak enak gini?" gumam Luna pelan sambil bermanin dengan ponselnya
"Gue kira cuman gue aja" kata Gavin lirih agar tak ada yang mendengar
Tak lama kemudian guru masuk kedalam kelas dan mereka memulai pembelajaran, matematika mata pelajaran yang tak banyak orang suka namun bagi Luna dan Gavin mereka sangat menyukainya.
"Oke anak anak, kalian bisa kerjakan soal soal yang ada di buku paket halaman 20" jelas Bu Irene sebagai guru
"Semuanya Bu?" tanya salah satu murid bernama Bastian
"Iya, ibu ada rapat dengan guru dan OSIS, jadi jangan ada yang keluar kelas buat keluyuran" tambah Bu Irene memperingatkan
"Baik bu" kata mereka kompak
Bu Irene segera keluar dari kelas X IPS 3 dan menuju kekantor guru untuk melakukan rapat.
"Sesuka sukanya gue sama matematika kalo 25 soal ya mikir dua kali gue, mana masih pagi pula" gerutu Luna sambil bersandar pada punggung kursi dan memejamkan matanya
Hatinya tak tenang, pikirannya masih melayang pada mimpinya beberapa hari lalu. Hal itu membuatnya ketakutan, namun selalu ia sembunyikan dari siapapun "Mending tadi Bu Irene gak usah masuk aja sekalian, gitu kan?" tebak Dito sambil tertawa pelan
"Iyalah, males gue" tambah Luna masih dengan memejamkan matanya
"Lo kira gue gak males juga apa. Pagi pagi udah disuruh mikir" tambah Gavin sambil melirik ke arah Luna
Gavin paham jika ada sesuatu yang Luna coba sembunyikan darinya dan juga yang lain.
"Terkadang masalah itu gak harus di pendem sendiri Na, seberat apapun kalo di omongin bisa bikin lega" kata Gavin yang mencoba fokus dengan buku di depannya
"Sebenernya bukan masalah yang jadi beban, tapi soal gimana cara mengutarakannya. Antara harus jujur tapi memperburuk keadaan, sama bohong tapi demi memperbaiki" balas Luna panjang lebar
Saat mereka sedang mengoceh sambil mengerjakan tugas, siswa dari kelas sebelah memanggil Luna dan Gavin untuk keluar sebentar
"Luna sama Gavin di panggil Pak Imron" ucap siswa tersebut
"Kenapa?" tanya Gavin
"Ngapain?" tanya Luna sambil membuka matanya
"Doni kena lagi di perpus" jawab nya
Tanpa menjawab Luna sambil berlalu ke luar kelas di susul Gavin di belakang nya
"Jangan ada yang nyusul ya kalau gak mau celaka" kata Luna pada teman satu kelasya
"Dit, jagain mereka berdua" kata Gavin saat berada di depan bangku Dito
"BURUAN VIN, GAK USAH GHIBAH" teriak Luna yang sudah didepan perpus. Hal itu karena perpustakaan dan kelas mereka bersebelahan
"Sabar Napa sih" gerutu Gavin sambil berjalan kearah Luna berada
Gavin dan Luna saling pandang, lalu melihat ke arah seorang siswa yang sedang kesurupan di dalam perpustakaan.
"Buat yang lainnya bisa keluar dulu dari perpus, biar gak jadi kesurupan masal di sini" kata Gavin pada beberapa siswa dan siswi yang ada di dalam perpustakaan
Di dalam perpustakaan hanya tersisa Luna, Gavin, Doni yang sedang kesurupan dan pak Imron.
"Pak Boleh saya minta tolong panggilkan Andito?" tannya Luna pada pak Imron guru agama mereka
"Bisa, tunggu sebentar saya panggil kan" kata Pak Imron sambil berlalu
"Kenapa?" tanya Gavin yang sudah mulai mendekat kearah Doni
"Energinya terlalu negatif buat gue, gak kuat" jawab Luna sambil menatap mata Doni
"Na?" gumam Dito
"Kalian berdua pegang Doni" perintah Luna
__ADS_1
"Kenapa kamu masih ganggu dia?" tanya Luna tegas
"Karna dia sudah menggangguku" katanya dengan suara serak khas orang dewasa
Dalam penglihatan Luna, Dito dan Gavin sosok yang ada di siswa bernama Doni ini seorang Bapak bapak yang berpostur tinggi besar, nyaris seperti manusia biasa. Namun saat melihat ke wajahnya, hancur dengan mata yang nyaris lepas, dan taringnya yang panjang.
"Mengganggu? Apa yang membuatmu merasa terganggu?" tanya Luna kembali
"Dia yang memanggilku" kata Doni yang masih di rasuki oleh sosok menyeramkan
"Vin" kata Luna sambil melihat ke arah Gavin dan segera di angguki olehnya
Gavin yang masih memegang tangan Doni berusaha masuk kedalam cerita masa lalu dari sosok yang akan dia usir itu, setelah beberapa menit Gavin kembali tersadar
"Dia main jailangkung di gudang beberapa hari yang lalu, begitu sosok nya pada muncul dia sama teman temennya malah ngacir" jelas Gavin panjang lebar
"Sekarang kamu keluar dari tubuh ini, kasian dia sudah lelah" kata Luna memerintahkan
"Tidak akan! Dia harus ikut dengan ku" kata sosok menyeramkan itu
"KELUAR ATAU KUPAKSA!" bentak Luna
Hal itu justru membuat Gavin dan Dito lah yang terkejut tapi tidak dengan sosok yang berada di tubuh Doni, pasalnya selama membantu orang dalam mengeluarkan sosok baru kali ini Luna sampai naik pitam.
"SAYA YAKIN BUKAN ITU NIAT KAMU SEBENARNYA, JADI KELUAR DARI TUBUH INI" bentak Luna kembali
"BAGAIMANA KAU TAHU?" Teriak Doni yang masih dirasuki itu
"Bukankah kau lebih tahu dariku?" tanya Luna sambil mendekat kearah Doni
Luna, Dito dan Gavin saling bertukar pandang lalu bersamaan dengan itu membaca Ayat kursi dan berusaha untuk mengeluarkan sosok seram itu dari tubuh Doni
"PANAS! PANAS!" Teriak Doni meronta sehingga membuat Pak Imron ikut memegangi Doni
"Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi?" tanya Luna yang masih mencengram lengan Doni dan menatap matanya tajam
Luna merasakan dadanya sesak karna mencoba untuk melawan energi yang berada di tubuh Doni "lo gak papa?" tanya Dito khawatir saat melihat Luna memegang dadanya sambil menahan sakit
"PANASS TOLONG LEPASKAN" Teriak Doni
"TIDAK AKAN! KELUAR DARI TUBUH INI SEKARANG" benatakan terakhir Luna berhasil membuat sosok itu keluar karena kepanasan, dan membuat Doni pingsan
"Are you oke guys?" tanya Axel yang berada di ambang pintu membawa tiga botol minuman
"Insya Allah, karena ada minum" Jawab Luna sambil mengatur bafasnya dan menerima botol minum tersebut "dada gue udah sakit banget nih"
"Gila, tenaganya kuat banget kak" kata Gavin sambil ngos ngosan
"Minum Dulu baru ngomong" kekeh Axel
Sementara itu Doni sudah di bawa pak Imron ke UKS Karna dia pingsan
"Ini baru permulaan Vin, gue curiga bakal ngerembet kemana mana soal ini" kata Luna yang tak kalah lelah karena ulah sosok tersebut
"Jadi maksud lo?" tanya Dito
"Gue jawab di UKS, karena ada yang mau gue sampein ke pak Imron" jelas Luna sambil berlalu
"Jadi penasaran, ikut dong" kata Axel lalu berjalan mengikuti Luna di susul Dito dan Gavin di belakangnya
"Kalian baik baik aja kan?" tanya pak Imron Khawatir
"Kami baik baik saja pak" jawab Luna
"Kak mau kepo dong? Kita kita ini gak ada kegiatan di luar sekolah gitu?" tanya Melodi
"Ada, satu minggu lagi kalian akan ada Camping" jawab Axel
__ADS_1
"Di mana kak?" tanya Luna bersemangat
"Kakak belum dapet tempatnya, masih mau nyari yang gak terlalu jauh juga"
"Nah bener tuh biar gak capek diperjalanan" kata Imam menyetujui
"Kak Faisal?" guman Luna sambil membaca isi pesan dari sang kakak
"Kenapa?" tanya Dito pelan yang duduk di sebelahnya
"Kak Faisal mau balik ke Indo beberapa hari lagi" jelas Luna tanpa melihat ke arah Dito
"Balik beneran balik apa sementara?" tanya Dito kembali
"Kayaknya beneran balik" jawab Luna
Faisal adalah kakak laki laki Luna yang berkuliah di luar negri beberapa tahun yang lalu, dan rencananya dalam beberapa waktu kedepan dia akan kembali ke Indonesia.
Melihat Luna dan Dito seru mengobrol membuat Cila penasaran lalu menanyakan pada mereka
"Ngomongin apa sih? Gak ajak ajak" tanya Cila penasaran
"Kan, jiwa keponya kumat" Ledek Gavin "tapi apa sih gue jadi kepo?" tambah nya lagi
"Lah emang pasangan satu ini agak sengklek" kata Melodi pelan
"Mereka pacaran?" tanya Axel diangguki Melodi
"Itu kak Faisal mau pulang dari luar negri" jawab Dito
"Kapan?" tanya Axel bersemangat
"beberapa hari kedepan" jawab Luna "belum pasti kapannya"
Ternyata Faisal dan Abi kakak dari Axel berkuliah di Universitas yang sama di London.
"Kirain" gumam Axel
"Balik kelas yu, bentar lagi masuk" ucap Imam pada teman temannya
"Tar nanggung bentar lagi kelar" jawab Luna sambil memakan cemilan nya
"Udah bawa aja, palingan juga jam kos bentar lagi" kata Melodi sambil membawa beberapa cemilan lagi
"Bayar dulu Mel" kekeh Luna sambil memberi kan selembar uang pada Melodi
"Eh bener! Gue lupa" katanya sambil cengengesan
"Makan gak lupa, tapi bayar lupa" ledek Imam sambil berlalu
"Namanya orang lupa gimana" kesal Melodi, hal itu justru membuat Imam tersenyum
"Lah udah ayok, masih mogok jalan lu" ledek Andito pada Luna sedangkan keempat temannya sudah berjalan duluan sedang Axel masih harus kembali ke kantor
"Iye iye bawel banget sih, lo gak tahu kalau perut gue sakit apa?" kesal Luna sambil berjalan duluan
"Mana gue tahu, kan lu gak ngomong" gumam Dito
"Makanya gue kasih tahu"
"Makanya kalo sekali makan itu jangan langsung banyak, mau di aduin ke bunda lo?" Ancam Andito pada Luna
"Jangan macem macem lu" Protes Luna
"Makanya kalo di kasih tahu tuh didenger udah buruan jalannya" kata Dito sambil menggandeng tangan Luna
"Iye iye, bawel banget kaya emak emak lu" protes Luna
Luna sebenarnya menyadari tangan Andito, entah dorongan dari mana ia tak berusaha melepaskan genggaman tangan Dito.
__ADS_1
"Lagi lagi gue harus kejebak dengan rasa nyaman di samping dia" ucap Luna dalam hati