
Setelah Ren kembali menjadi dirinya sendiri, Ren melihat Elaina menggunakan lubang dimensinya, Dan Ren menjadi sangat bahagia pasalnya Elaina sedang menangis di tempat yang sunyi.
"Aku tidak mengira efeknya akan seburuk ini bagi Elaina, Tapi ya aku sama sekali tidak peduli."
"Baiklah... Waktunya untuk melihat ke sisi Aruto"
Ren memunculkan 1 dimensi lagi yang terhubung ke tempat Aruto.
"Hoh... Aruto sedang mencari Elaina dan juga dia mencari ke arah yang salah... Hah... Sungguh bodoh sekali."
Lalu kemudian Aruto melihat Er mendekati Aruto.
"Hoh... Jadi si pengganggu itu menyadari bahwa hubungan Aruto dan Elaina menjadi memburuk ya?"
Lalu Ren mulai mengamati apa yang mereka bicarakan. Lalu kemudian Er menunjukan di mana Elaina berada.
"aku sudah memprekdisikannya, Kau kira aku tidak tahu hal apa yang kau rencanakan dan juga kau pasti menyadari apa yang aku rencanakan."
Lalu kemudian Er melihat ke atas sampingnya, Dan dia menyadari bahwa seseorang telah mengawasinya Dan dia juga tahu bahwa yang mengawasi adalah Ren.
Sementara itu Er hanya tersenyum ke Ren dan Ren juga tersenyum seakan sudah saling memasatikan apa yang akan terjadi kepada Elaina dan Aruto.
"Ya... Mari kita tebak rencana siapa yang lebih matang/Mari kita tebak rencana siapa yang lebih matang" Ren dan Er mengatakan hal yang sama dengan tempat yang berbeda...
Sebenarnya Elaina bersembunyi di dalam gudang, dia sedang duduk di lantai dengan pose seperti anak - anak yang sedang menangis.
"Aaah... Aku sudah tidak tahan lagi." Menghela nafas seakan dia ingin mengakhiri semua ini.
"Aku juga telah hamil , ya aku sudah tidak mempedulikan dengan siapa yang menghamiliku! Dan yang penting orang itu tidak akan menyakiti anakku ini!" Yang di maksud orang itu adalah Ren Arata
"Aku ingin pergi sendirian bersama dengan Anakku saja, Aku sudah tidak peduli yang lain."
Seakan anak yang ada di kandungannya berbicara di dalam hatinya...
"Benar... Ibu akan selalu menjagamu dan akan selalu menyangimu"
"Ibu sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, kita akan pergi berdua."
"Ibu tidak akan mempedulikan siapapun lagi Ibu hanya akan peduli denganmu saja."
"Jika kamu laki - laki atau perempuan ibu pasti akan memberikan nama yang bagus, kamu pasti suka."
"Hm... Ayah? Ayah adalah seorang pahlawan bagi ibu..."
"Kamu mau menjadi seperti ayah? Tidak kamu harus memilih jalanmu sendiri, mungkin kau akan menjadi lebih kuat dari pada ayah."
"Oh.. Kamu ingin melindungi ibu juga? Terimakasih"
Sihir sihir yang meningkatkan segala emosi yang ada, tetapi ini juga meningkatkan kesensitifan Hati seseorang. Jadi inilah alasan kenapa Elaina merasakan bahwa anaknya sedang berbicara kepada dirinya lewat perasaan hatinya.
"Bicara dengan ibu sudah dulu ya? Sampai nanti."
Setelah puas, Elaina membuka pintu gudangnya dan tetapi tiba-tiba seseorang berada di depan pintu itu ternyata orang itu adalah...
"Eh?Aruto?" Kaget Elaina.
Elaina kemudian ingin keluar tetapi Di halangi oleh tangan Aruto.
"Tunggu!" Ucap Aruto dengan dingin.
"Minggir!" Perintah Elaina.
"Tidak!" Tolak Aruto.
"Sudah ku bilang minggir!" Perintah Elaina.
"Kau... Telah menghianatiku." Ucap Aruto.
Mendengar itu Elaina menjadi sangat terkejut. Lalu secara reflek Elaina mundur ke belakang.
"Kau telah menghianatiku dan kau telah hamil."
"Juga kau akan pergi meninggalkanku. Apa maksudnya dengan itu Elaina?"
"Hey... Elaina katakan semua itu bohong! Aku mohon!" Raut wajah memelas Aruto tergambar di wajahnya.
Sedangkan Elaina hanya menundukan Wajahnya ke bawah dengan muka suramnya.
"Itu semua benar, aku sudah hamil dan aku akan pergi meninggalkan kota ini." Ucap Elaina yang menundukan kepalanya ke bawah.
__ADS_1
"Eh?" Kaget Aruto dengan Expresi tak percaya.
"I-ini b-bohong kan?"
"Ini kenyataan Aruto." Jelas Elaina.
"A-Ahahaha... Apa-apaan ini? Ini tidak adil!"
"Benar ini memang tidak adil."
"Padahal aku sangat mencintaimu Elaina, Kenapa kau menghianatiku?"
"Aku juga mencintaimu tetapi maaf aku tidak bisa bersamamu."
"Ha-Haha... Kenapa?! Padahal kita ini saling mencintai, tapi kenapa kau harus pergi di sisiku?!"
"Aku bahkan mau menerima anak yang ada di kandunganmu. Dan kita bisa hidup bahagia! Tetapi kenapa kau harus pergi meninggalkanku?!" Marah Aruto kepada Elaina.
Elaina hanya bisa menundukan wajahnya, tetapi sebenarnya Elaina menangis.
"Kau tidak boleh berada di sisiku, Hanya itu saja yang akan ku katakan."
"Aku tidak peduli kau mau menerima anak yang ada di kandunganku atau tidak, yang terpenting aku akan pergi dari sini." Jelas Elaina
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan?! Kenapa?!"
"Sudah ku bilang aku tidak akan mengatakannya!?" Bentak Elaina dan raut wajahnya nampak marah dengan air mata menetes.
"Oh... Begitu... Aku tahu pasti gara - gara anak yang ada di kandunganmu."
"Kau tidak bisa bersamaku karena anak yang ada di kandunganmu...haha-haaha"
"Lebih baik ku singkirkan anak itu, selepas itu kau bisa bersamaku lagi!"
Elaina sangat terkejut dengan apa yang di katakan Aruto...
"A-apa yang akan kau la-lakukan?"
Aruto kemudian mengeluarkan pisau di belakang tubuhnya itu.
"Su-sudah kubilang bu-bukan? Aku akan membunuh anak itu." Ucap Aruto dengan wajah suram.
"T-tidak, ini tidak boleh!" Elaina mundur sambil memegangi perutnya, Elaina menjadi sangat ketakutan dengan hal itu
"Ja-jangan lakukan itu Aruto! Jangan la-lakukan itu!"
"Haaaa!"
Aruto berlari dan segera menusuk perut Elaina , Tetapi Elaina berhasil menghindarinya.
"Ke-kenapa kau menghindar Elaina? Ayo tolong diam... Jika aku berhasil membunuh anak yang ada di kandunganmu maka kau bisa bersamaku lagi." Cinta membutakan segalanya.
"Aruto... Tolong jangan bunuh anakku, dia sangat berharga bagiku melebihi apapun!" Ucap Elaina dengan wajah ketakutan.
"Dia lebih berharga di bandingkan denganku? Ha-haha... Aku harus membunuh anak itu!"
Aruto semakin mendekati Elaina dan sedangkan Elaina hanya bisa mundur ke belakang. Tetapi Elaina terpojok di pojokan Gudang.
"Kita akan bersama lagi Elaina... Haaaaa!" Aruto menusuk Elaina , tetapi...
Elaina menahan pisau itu dengan tangannya.
"Aku akan melindungi anakku!"
"Lepaskan tangannmu Elaina!!!"
"Tidak Akaaaaan!"
Aruto mulai menambahkan kekuatannya dan Pisau itu hampir menyentuh perut Elaina... Tetapi.
"Jangan Lukai Anakku!"
Elaina tidak sadar membalikan tusukan itu.
Jleeeb!
"Ahk!" Aruto merasakan sakit di perutnya tepatnya di bagian vitalnya.
Aruto mundur ke belakang.
__ADS_1
"Guhak!" Aruto memutahkan banyak darah dari mulutnya, Lalu kemudian Aruto jatuh tergeletak ke lantai.
Sedangkan Elaina mulai sadar bahwa dirinya telah menusuk Aruto, Dan terlihat darah di pisau yang dia pegang.
Trek!
Elaina menjatuhkan pisau itu... Dan kemudian membelakan matanya ke arah Aruto. Tetapi na'asnya Aruto tergeletak di lantai tersebut dengan darah yang mengalir keluar.
"Ti-tidaak! Tidaaak! Tidaaak!." Wajah Elaina menjadi sangat ketakutan.
Bruk.
Elaina terjatuh duduk di lantai...
" Aku membunuh Aruto,Aku membunuh orang yang aku cintai, Ha-hahaha!"
"Aruto... Ma'aafkan aku! Ma'aaf! Maaaafkan aku! *Hiks*Hiks*Hiks* Maaf!" Elaina menangisi mayat Aruto yang tergeletak tak bernyawa itu.
Rasa sedih yang tidak tertahankan karena telah membunuh orang yang di cintai.
Tetapi Elaina tidak tahu bahwa Er sedang mengawasi dari balik pintu yang sedikit terbuka.
'Cih ternyata tidak berhasil! Sepertinya aku yang akan membunuh anak itu... Tetapi aku tidak boleh membunuh Elaina. Ini pasti akan membuat sejarah menjadi lebih buruk lagi jika aku membunuh Elaina'
Lalu kemudian Er memasuki ruangan itu dan kemudian Er mendekati Elaina yang sedang menangisi mayat Aruto.
"Sepertinya Aruto tidak berhasil membunuh anakmu?" Ucap Er yang mendekat
"?" Kaget Elaina.
"Aku harus membunuh anak yang ada di kandunganmu"
"Eh?"
Er mulai ingin memegang perut Elaina ,sedangkan Elaina tidak bisa bergerak karena ketakutan.
Plak!
Secara tiba - tiba, Tangan Er di hentikan oleh orang lain.
"Hentikan sialan!Kau mengganggu rencanaku!" Dan orang itu adalah Ren.
"Ga-"
BANG!
Ren melempar Er ,akibatnya Er terpental sangat jauh hingga 20 Km.
"Sepertinya kau sangat menderita ya Elaina? Dari pada kau menangisi mayat tidak berguna ini ,lebih baik aku bakar saja mayat ini"
"" Api hitam muncul dan membakar habis mayat itu, akibatnya Elaina hanya bisa menangisi karena mayat aruto di bakat habis oleh Ren.
""
Ren kemudian berteleportasi ke tempat Er di lempar oleh Ren.
Sedangkan Er merasa tubuhnya sedikit sakit dan mulai berdiri kembali.
"Cih! Kekuatannya sangat gila! Hanya lemparan kecil saja sudah membuatku terlempar sejauh ini!" Kesal Er.
Tetapi kemudian Er melihat seseorang muncul di depan matanya secara tiba-tiba.
"!!"
Kemudian Ren segera memegang kepala Er, Tetapi Er tiba-tiba mengilang dari hadapan Ren.
"Kekuatan waktu ya?"
Ren kemudian melihat Er yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Sungguh hebat, Tidak heran kau adalah pahlawan abadi Ren Arata" Ucap Er dengan kagum.
"Oh... Kau mengetahui siapa identitasku? Kau pasti bukan orang sembarangan ya?" Sirang Ren
"Tentu saja." Bangga Er.
"Lalu siapa identitasmu yang sebenarnya?"Tanya Ren sambil menatap tajam Er.
Author:Halo... Kali ini saya update lagi, ya sambil mengganti hari-hari sebelumnya yang seharusnya update, dan juga Saya akan berusaha update lagi nanti malam jika saya mampu.
__ADS_1
Oh ya,jangan lupa Like,Vote,Komen dan Rate Bintang 5! supaya Saya makin semangat buat Updatenya.
...~Salam Dari Author Riza~...