
Jam dinding boleh berhenti berputar, namun waktu masih terus berjalan.
Diruang ICU, Empat jam sudah Zee masih belum sadar dari komanya. Itu artinya tinggal Satu jam lagi waktu yang diberikan oleh Dokter untuk Zee bisa melewati masa kritisnya.
Harapan dan Doa selalu di panjatkan untuk Zee dari orang_orang yang menyayanginya. yang kini tengah menungguinya di luar ruangan.
Kedua orang tua serta Kedua orang mertuanya, tak terkecuali kedua kakak iparnya terlihat cemas akan kondisi Zee.
Hanya Aryo seorang diri yang di perbolehkan masuk untuk menemani sanga Istri. Air matanya terus mengalir dari sudut matanya, digenggamnya erat telapak tangan Zee sambil terus merapalkan doa_doa untuk sang Istri.
" Ayo bangun sayang, Jangan tidur terus? Aku gak bisa kalo gak ada kamu, terus siapa yang masangin dasi aku jika kamu seperti ini? " Racau Aryo berusaha membangunkan istrinya di sertai isak tangis dari bibirnya.
Aryo benar_benar merasa terpukul kali ini, mungkin dia bisa ikhlas jika sang calon bayi di ambil kembali oleh sang Maha Pencipta, Namun Aryo tidak akan ikhlas jika sang Istri turut diambilnya.
Waktu sudah menandakan kurang dari Tiga puluh menit lagi menuju Lima jam batas waktu yang di tentukan. Masih tidak ada tanda_tanda pergerakan dari Zee.
" Sayang Aku mohon, ayo bangun...hiks...hiks...Aku janji gak akan ngerokok di belakang kamu lagi, aku juga minta maaf kalo aku pernah jalan bareng sama mantan, aku juga janji akan selalu nurutin keinginan kamu, aku janji sayang, aku mohon buka mata kamu..." Aryo secara tidak sengaja mengungkapkan segala sesuatu yang pernah ia sembunyikan dari istrinya. Yang ada di fikiranya hanyalah Zee segera tersadar.
Wajah Aryo tertelungkup di tepi brankar sang Istri sambil terus mencium tangan pucat Zee.
" Janji?"
" Iya Aku janji sayang?" Aryo tidak menyadari ada suara seseorang di ruangan itu.
Sejenak Aryo tersadar ia mendengar suara yang begitu ia rindukan, Aryo berharap suara itu bukan hanya mimpi, perlahan ia membuka matanya dan berusaha menegakan wajahnya.
" Sayang kamu sudah sadar?" Mata aryo seketika berbinar. Zee hanya mengedipkan matanya.
Tepat Lima jam kurang Satu menit, Aryo melihat sang Istri telah membuka matanya kembali, itu artinya Zee sudah melewati masa kritisnya.
Segera Aryo memencet bel yang ada di sebelah brankar istrinya untuk memberi tahu Dokter Apabila terjadi sesuatu yang darurat pada pasien.
Tidak lama kemudian seorang Dokter datang dengan di ikuti Dua perawat di belakangnya masuk ke dalam ruangan, lalu dengan sigap Dokter itu memeriksa kembali keadaaan Zee.
Di luar ruangan tampak para keluarga semakin gusar akan kehadiran Dokter dengan langkah tergesa_gesa masuk ke dalam ruangan Zee.
Indira yang sedari tersadar dari pingsanya tidak henti_hentinya menangis di pelukan suaminya.
" Alhamdulillah Akhirnya Ibu Andara~..."
" Mbak Dok, saya masih muda!" Sela Zee mengoreksi ucapan sang Dokter dengan suara tertahan alat penyangga yang di pasangkan di lehernya. Aryo melongo, tidak menyangka meskipun dalam keadaan seperti itu istrinya masih bisa bertingkah konyol.
" Maaf, maksud saya Mbak Andara sekarang sudah melewati masa kritisnya, dan sebentar lagi sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan." Lanjut sang Dokter menjelaskan.
Setelah kepergian sang Dokter, Aryo ikut keluar bermaksud memberi kabar baik kepada keluarganya.
Semua keluarga berkerumun menghampiri Aryo yg baru saja keluar dari ruang ICU.
__ADS_1
" Gimana Ar keadaan Istri kamu?" Suara sang Ayah mewakili pertanyaan semua orang.
" Alhamdulillah Zee sudah melewati masa kritisnya Yah, setelah ini akan di pindahkan ke ruang perawatan." Ucap Aryo dengan senyumnya yang beberapa saat yang lalu sempat menghilang.
" Alhamdulillah..." Ucapan Syukur, serempak terdengar dari mulut semua keluarga, tampak raut kelegaan dari wajah mereka semua.
Aryo kembali ke dalam ruangan, menemani sang Istri sembari menunggu Zee dipindahkan ruanganya.
" Makasih sayang kamu mau bertahan untuk Abang?" Ucap Aryo, sambil mencium kening sang istri yang di perban.
" Bukan buat kamu Bang, tapi kontrak aku di dunia ini masih panjang!"
" Eh~"
" Apapun itu yang penting, Abang senang kamu sudah sadar."
" Sebenarnya aku sadar sudah dari tadi!"
" Sejak ?" Tanya Aryo was_was.
" Sejak kamu ngaku pernah merokok di belakang aku, terus mantan yang mana, yang pernah jalan sama kamu?" Meskipun suara Zee masih terdengar tertahan, namun tidak mengurangi keketusanya.
" Maafin aku sayang?" Wajah Aryo tertunduk.
" Apa si Helly mantan kamu itu?" Tebak Zee.
" Tapi intinya Abang mau kan?" Aryo mengangguk pasrah.
Aryo bisa bernafas lega, ketika beberapa perawat datang untuk memindahkan Zee.
Sial!! Bisa keceplosan gini sih mulut manis gw!"
Aryo merutuki dirinya sendiri karena mulutnya yang tidak bisa di rem.
***
Di Ruang perawatan...
Aryo memilih kamar kelas Satu untuk ruang perawatan Istrinya, kenapa bukan ruang VIP ? Bukan Aryo tidak mampu membayar, lagi_lagi jiwa Missquen Zee menolak.
Setelah berada di ruang perawatan, semua keluarga di perbolehkan untuk masuk melihat kondisi Zee.
Satu persatu keluarga memeluk Zee dari kedua orang tuanya, kedua mertuanya dan kakak iparnya, Indira. Kecuali Doni, yang sudah pasti akan di tolak oleh Zee. Jadi sebelum itu terjadi lebih baik Doni mengurungkan niatnya untuk memeluk sang Adik ipar.
Tak lama Luna, Rendra dan Erda datang untuk menjenguk Zee setelah mendapat kabar dari Indira yang memberi tahu jika Zee sudar sadar.
" ASSALAMUALAIKUM " Seru mereka bertiga muncul dari balik pintu.
__ADS_1
" WAALAIKUM SALAM " Jawab kompak dari semua orang yang ada dalam ruangan.
Luna berlari menghampiri Zee sambil menangis melihat kondisi sahabatnya yang masih terlihat memprihatinkan.
Kepala yang di perban, leher yang di beri penyangga, luka lecet dan memar di wajah dan sekujur tubuh Zee dan Satu kaki kanan yang di Gif, karena tulang kering Zee ada yang retak. Begitulah deskripsi kondisi Zee saat ini.
" Udah Lun, gak usah nangis, gw gak papa kok!" Ucap Zee melepas pelukan Luna lalu mengusap air mata Luna.
" Gak apa_apa, apanya? Kondisi lo aja kaya gini." Ujar Luna tak terima mendengar pernyataan Zee.
Belum sempat Zee menanggapi ucapan Luna, kembali dokter masuk untuk melakukan observasi pada kaki Zee.
" Bagaimana kondisi anda Mbak Andara?" Tanya seorang Dokter setelah selesai memeriksa Zee.
" Alhamdulillah Dok !" Jawaban menggantung dari mulut Zee.
" Saya salut pada anda, dengan kondisi separah ini anda kuat bertahan!"
" Terima kasih Dok, semua ini berkat doa dari semua orang yang sayang pada saya?" Ucap Zee sambil tersenyum.
" Apa yang anda rasakan pada saat anda mengalami koma tadi?" Bukan tanpa alasan sang Dokter menanyakan hal itu, sebagian orang ada yang mengalami pengalaman spiritual pada saat mengalami koma.
" Gak ngersain apa_apa sih Dok, cuma badan saya rasanya remuk semua! Tapi, pas saya koma tadi, saya melihat suami saya di kerubungi Laler Dok?" Semua orang terkejut dengan kalimat terakhir yang di ucapkan Zee. Kecuali sang ibu yang sedari tadi berdiri di samping anaknya itu. karena sang ibu tahu maksud dari Zee.
" Purel Zee?" Sang ibu mengoreksi.
" Aaaa...itu maksud saya, itulah alasan saya ingin cepat bangun dari koma, kan keenakan suami saya Dok, kalo saya gak bangun_bangun. Orang saya sehat wal afiat saja, dia berani jalan sama mantanya di belakang saya!" Jelas Zee polos, sepolos pantat bayi, menceritakan kesalahan sang suami yg beberapa jam yg lalu di bongkar Aryo sendiri.
Wajah Aryo seketika menjadi panas dan merah menahan malu. Semua orang termasuk dokter yang ada diruangan itu terlihat menahan senyum.
Doni, Renda dan Erda tanpa permisi keluar dari ruangan ingin segera terbahak bebas melihat wajah pias Aryo.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung....
Jangan lupa Like dan Komenya ya...🙏🙏🙏*
__ADS_1