
Sudah seminggu Zee di rawat di Rumah Sakit, karena kondisi kakinya belum begitu pulih, maka Dokter masih belum mengizinkan Zee untuk pulang.
Dengan setia Aryo selalu mendampingi Istrinya. Hampir seminggu pula Aryo tidak pernah pulang ke rumahnya, kecuali mengambil sesuatu yang di butuhkanya seperti baju kerja yang setiap hari berganti.
Zee tersenyum melihat sang Suami muncul di balik pintu. Aryo berjalan menghampiri sang Istri tengah duduk bersandar di brankarnya.
Tangan Zee terulur menyambut kedatangan suaminya, di cium punggung tangan Aryo seperti kebiasaan mereka setiap harinya.
" Abang, udah Sholat?" Zee bertanya ketika Aryo sudah duduk berhadapan ditepi brankarnya.
" Belum sayang."
" Sekarang Abang Sholat dulu, keburu waktunya habis!" Titah Zee pada suaminya sambil menunjuk jam yang tergantung di dinding ruanganya.
Setelah mengecup kening istrinya, Aryo pun segera beranjak menuju Musholla untuk menunaikan Sholat Asharnya.
Lima belas menit kemudian Aryo kembali ke ruangan istrinya di rawat.
"Gimana kondisi kamu hari ini Dek?" Tanya Aryo duduk di kursi samping brankar istrinya.
" Alhamdulillah udah jauh lebih baik Bang? Bang aku pengen pulang, kan aku udah sembuh Bang?" Zee merengek pada suaminya. Zee sudah merasa bosan harus berlama_lama di rumah sakit.
Aryo menggeleng, menggenggam tangan istrinya. " Iya nanti Dek, kalau dokter ngijinin kamu pulang, ya kita pulang?"
" Tapi Bang~..."
" Sssttt...Gak ada tapi_tapian, Abang pengen kamu itu sembuh total dulu, baru kita pulang!" Aryo mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir Istrinya, agar sang Istri tidak membantah keputusanya.
Karena di rasa kondisi Zee yang sudah mulai membaik, semenjak Dua hari yang lalu sang Mertua pun kembali ke Luar kota, sedangkan Ayah dan Ibu Zee meski tidak bisa menunggui Zee secara full di rumah sakit, tetapi setiap harinya Ayah dan Ibu Zee tetap datang ke Rumah Sakit saat Sore hari, sekalian membawakan makanan untuk Aryo, menantunya.
Begitu pula dengan Doni dan Indira, selalu datang setiap harinya, tak jarang pula Doni dan Indira menginap, jika Doni memiliki jam kosong mengajar.
" Assalamualaikum..." Seru Doni dan Indira ketika sudah diambang pintu ruangan Zee.
" Waalaikum Salam.." Jawab Aryo dan Zee bersamaan.
Indira sedikit berlari menghampiri Zee dengan wajah yang berseri_seri.
" Sayang, jangan lari_lari gitu dong?" Doni memperingatkan sang Istri sambil terus berjalan mengikuti Istrinya, namun Indira tak menghiraukanya.
Indira langsung memeluk Zee.
" Eh...eh...eh...Ada apa nih, kok tumben dateng langsung peluk_peluk?" Tanya Zee heran.
Indira melepas pelukanya, masih dengan senyum sumringahnya.
Zee mengangkat kedua alisnya, meminta jawaban pada Indira. Aryo dan Doni hanya memperhatikan dua sahabat sekaligus saudara ipar itu saling berinteraksi.
__ADS_1
" Coba tebak, gw bawa berita apa'an?" Indira memberikan teka_teki, menatap Zee dan Aryo bergantian.
Aryo hanya mengangkat bahunya sekilas tanda ia tidak mengerti.
" Kalo di lihat dari raut wajah mbak Indira sih, aku rasa Mas Doni mau nikah lagi ya?" Tebak Zee asal.
" iihh kamu itu ya, ngerusak suasana banget!" Expresi Indira seketika berubah, bibir Indira memberengut.
" Kalau itu sih, Mas Doni juga mau Zee?" Timpal Doni, tertawa ringan.
" Beb!" Indira menatap suaminya kesal.
Doni kemudian menghampiri sang Istri yang berdiri di samping brankar Zee." Ya udah dong, cepet kasih tau sama calon uncle dan aunty_nya?"
"Hah...Maksudnya?" Tanya Zee bingung, menatap Doni dan Indira. Aryo terlihat mengerutkan keningnya.
Indira merogoh sesuatu di dalam tasnya, dikeluarkanya amplop berwarna coklat, perlahan Indira membuka amplop yang ada di tangannya.
" Ini!"Indira menyodorkan sesuatu pada Zee.
Zee menerima dengan menautkan kedua alisnya, tidak mengerti apa yang di maksud Indira.
Zee kemudian melihat dan memperhatikan kertas yang ada di tanganya, lalu Zee membolak_baliknya, namun Zee masih belum juga mengerti.
" Ini apa'an sih, kaya cetakan foto hangus gini?" Tanya Zee, sambil menyerahkan benda yang ada ditanganya ke Aryo, suaminya.
" Kalian serius?" Tanya Aryo dengan wajah senangnya.
" Apa'an sih?" Tanya Zee melihat perubahan expresi suaminya.
" Yaiyalah serius, masa iya sih bo'ongan?" Sela indira tak mempedulikan Zee yang masih kebingungan.
Aryo pun langsung memeluk Doni sang Abang.
" Selamat ya Bang? Akhirnya topcer juga!" Aryo melepas pelukanya.
" Iya dong?" Jawab Doni, sambil melayangkan ciuman di kening istrinya.
" Gini ya Oneng, ini tuh hasil USG kandungan aku?" Indira mengelus_elus perutnya yang masih rata.
" Owh." Zee membulatkan mulutnya dan mengangguk paham. " Hah...!Jadi kamu hamil mbak?" Pekik Zee. Zee terkejut ketika baru menyadari penjelasan Indira.
" Eum..." Indira tersenyum senang, kembali merangkul Zee dari samping.
Wajah Zee tiba_tiba berubah menjadi sendu, dan membuat perhatian Aryo, Doni dan Indira tertuju padanya.
" Zee, kamu kenapa?" Tanya Indira pada Zee yang sudah menunduk.
__ADS_1
" Andai anakku masih di sini mbak, pasti anak kita nanti seumuran!" Ucap Zee dengan memegang perutnya. Tak terasa Zee sudah menitikan air matanya.
Aryo berjalan mendekat pada Istrinya, Indira pun beranjak berdiri, memberi ruang pada Aryo untuk menenangkan Zee.
Aryo menarik kepala Istrinya, di dekap erat di dada bidangnya.
" Udah dong Dek, jangan sedih lagi kaya gini? Nanti ada saatnya Alloh memberikan kepercayaan lagi buat kita, mungkin saat ini Alloh masih memberikan kesempatan untuk kita memperbaiki diri, agar lebih siap kedepanya." Ucap Aryo bijak. Terus menciumi puncak kepala sang Istri.
" Maafin aku ya Bang, Aku gak bisa ngejagain anak kita?" Zee terus menyesali dirinya sendiri.
" Jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri Dek, memang ini jalan terbaik yang Alloh kasih buat kita!" Ucap Aryo menangkup wajah sang Istri dengan kedua telapak tanganya.
Entah mengapa kata_kata Aryo selalu menjadi penenang buat Zee, dikala ia bersedih.
Pada dasarnya juga Aryo tidak ingin melihat istrinya berlarut_larut dalam kesediahanya. Melihat senyum Zee sudah merupakan hal paling membahagiakan buat Aryo.
" Iya Zee kamu yang sabar, lagian anak aku kan anak kamu juga?" Ujar Indira yang sudah duduk menghadap Zee di tepi brankarnya.
" Makasih ya mbak? Kalau gitu kamu bikin dedek bayi yang banyak, nanti aku minta satu." Ucap Zee yang sudah merasa tenang kembali.
" Enak aja, emang aku dikira Kucing apa? " Jawab indira pura_pura kesal.
" Oh ya udah berapa bulan Mbak?" Tanya Aryo.
" Baru jalan Sembilan minggu."Tak henti_hentinya Indira membelai perutnya.
" Cowok apa Cewek Debaynya?" Zee antusias dengan jenis kelamin calon keponakanya.
" Ya belum kelihatan Zee, nanti kalau usia kandungan udah Dua puluh minggu baru bisa di lihat jenis kelaminya." Sahut Doni yang ikut membelai perut sang Istri.
Aryo dan Zee ikut bahagia dengan kabar gembira yang di bawa oleh Doni dan Indira.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Maaf Up_nya lama dan mungkin part yang ini feel_nya kurang dapet...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen terus ya...🙏🙏🙏*