
"Anak itu adalah anak Brianna. Dia yang melahirkannya. Aku tidak melihat riwayat bahwa Brianna pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, jadi ku pastikan jika anak itu adalah darah dagingmu, Arthur!"
Arthur memijat pelipisnya saat menerima informasi dari Harry pagi ini.
"... karena anak itu lahir tanpa ayah, saat dia dibaptis, adik Brianna yang bernama Zach Walton yang mengakui sebagai ayahnya, kebetulan Zach memang sudah menikah dan secara otomatis mereka menjadi orangtua baptis Chico untuk memudahkan urusan negara, serta segala sertifikasinya."
"Berikan aku identitas putraku, Harry!" pinta Arthur dengan suara bergetar.
"Dia lahir 22 Maret 2018, dengan nama lahir Chico Dimitri Walton."
Kepala Arthur rasanya nyeri. Membayangkan putranya harus menyandang nama belakang yang tidak serupa dengan namanya. Dia bertekad untuk mendapatkan anak itu, apapun caranya.
"Tapi ada yang harus kau ketahui juga, Arthur."
"Apa?" tanggap Arthur pada pernyataan Harry.
"Chico mengidap penyakit bawaan lahir. Dia mengalami lemah jantung dan bisa dibilang dia rutin ke rumah sakit untuk menjalani perawatan."
"Oh, God." Arthur tau penyakit itu adalah turunan dari mendiang ayahnya, Wilson.
"Ada lagi yang ingin kau ketahui, Arthur?" tanya Harry diseberang panggilan.
"Apa Brianna pernah mencoba untuk melenyapkan putraku?"
"Dari informasi yang ku dapatkan dari orang-orang yang tinggal disekitar tempat tinggalnya, Brianna selalu menyayangi Chico, bahkan saat orang-orang mengejeknya karena anak itu tidak memiliki ayah, Brianna tetap mempertahankan kandungannya."
Jantung Arthur terasa diremass kuat. Dia merasa sakit dengan hal ini karena dia sadar bahwa sumber utama kesakitan Brianna adalah dirinya sendiri.
"Thank, Harry. Aku harap kau menyimpan semua ini sebelum aku mempublikasikannya."
"Of course. Tapi, apa rencanamu setelah ini? Apa kau mau mengambil Chico dari Brianna? Jika aku boleh memberi saran maka sebaiknya jangan, setidaknya kau pikirkan juga bagaimana sulitnya dia menjaga anak yang dia lahirkan."
Arthur tak merespon ujaran dan saran yang diberikan Harry. Yang jelas, dia akan menanyakan hal ini dulu pada Brianna meski dia juga bingung akan memulainya darimana.
Arthur turun dari kamarnya, dia melihat Brianna yang sudah rapi di bawah tangga seperti tengah menunggunya.
"Selamat pagi, Tuan." Brianna menyapa Arthur ramah. Hanya berbasa-basi karena mengingat pekerjaannya.
"Jangan sok ramah, aku belum melupakan mengenai kopi asinmu semalam."
Brianna menahan gelak, namun sebisa mungkin dia bersikap acuh tak acuh.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Arthur.
Brianna segera membacakan semua kesibukan Arthur yang harus dilakukannya sepanjang hari.
"Batalkan semua janji itu," kata Arthur dengan entengnya.
"A--apa?" Brianna terkesiap dengan ucapan Arthur yang mengentengkan segala-sesuatunya. Meski jadwal yang tertulis disana bukan Brianna yang mengaturnya, melainkan Alister sebelum pria itu cuti, tapi tetap saja Brianna merasa Arthur sangat keterlaluan.
"Tuan Alister sudah membuat jadwal ini dengan susah payah. Pasti dia juga sudah me-lobby beberapa relasi untuk meeting penting yang diadakan hari ini. Jadi, apakah anda yakin mau membatalkan semua jadwalnya?" tanya Brianna dengan bahasa formal.
"Ya, batalkan saja."
"Tapi ..."
__ADS_1
"Ku tekankan disini, aku bos-nya."
Brianna memutar bola matanya. "Baiklah, kau bos-nya," katanya jengah.
"Aku mau sarapan. Tuangkan kopiku."
Brianna mengangguk.
"Jangan yang asin lagi, atau darah tinggiku akan naik dan kau akan menjadi sasarannya."
Brianna mendengkus, kemudian berjalan pelan menuju meja makan. Kopi sudah dibuatkan pelayan jadi dia memang hanya menuangkannya saja.
"Silahkan, Tuan."
"Jika semua jadwal hari ini sudah kau batalkan, aku akan pergi menemui Serena."
Brianna mengangguk. Dalam kepalanya mengira Arthur benar-benar totalitas untuk pertemuan dengan gadis yang dijodohkan oleh Jane tersebut.
"Oh, jadi dia membatalkan semua jadwal hanya karena perempuan," kata hati Brianna.
Setelah melayani keperluan sarapan Arthur, Brianna akhirnya menghubungi satu persatu orang yang terlibat janji pertemuan dengan Arthur hari ini, tentu dia menelpon untuk mengabarkan pembatalan meeting tersebut.
"Sudah selesai? Jika sudah, ikut aku menemui Serena," kata Arthur dingin pada Brianna.
Brianna sebenarnya mau protes, untuk apa dia ikut dipertemuan Arthur dengan seorang gadis. Tapi dia tak bisa menolak karena lagi-lagi dia bisa apa? Dia memang terikat pekerjaan dengan pria itu, kan?
Brianna menarik nafas panjang, sampai akhirnya dia turut menyusul langkah Arthur yang sudah memasuki mobil di pelataran rumah.
"Tidak bawa sopir?" tanya Brianna melihat Arthur mau mengemudikan mobilnya sendiri.
Brianna mau masuk ke kabin belakang tapi Arthur langsung menyergahnya.
"Aku bukan sopirmu. Duduk di depan!"
Mau tak mau, Brianna pun duduk di samping Arthur di kabin depan.
"Pakai seatbelt nya," titah Arthur dan Brianna lagi-lagi menurut meski dia sempat berdecak lidah saat Arthur yang terus saja memerintahnya.
Brianna harus sabar sebab hari masih pagi dan waktu bersama dengan Arthur masih panjang.
Arthur langsung menginjak pedal gas dengan kencang sehingga mobil itu melesat cepat di jalan raya.
"Jawab aku!" Tiba-tiba Arthur berkata disela-sela kegiatan menyetirnya.
"Apa?"
"Sejak kapan kau bekerja menjadi wanita malam?"
"Astaga, kenapa kau masih membahas hal itu!"
"Tentu aku akan membahasnya terus, sebelum aku mendapat jawaban yang jelas, maka aku akan terus membahasnya!" Arthur berujar sembari fokus mengemudikan mobilnya yang sudah melaju cepat.
"Bisa kau turunkan kecepatan mobilmu!" protes Brianna. "Aku masih ingin hidup!" paparnya.
"Makanya jawab aku! Kau hanya perlu menjawab dan kita akan tetap hidup. Jika kau membuatku marah dengan jawabanmu, maka jangan salahkan aku jika kita berdua hanya tinggal nama."
__ADS_1
"Oh my ..." Brianna mengesah panjang.
"Kau tak bisa menjawab?" Arthur menekan rem tiba-tiba karena hampir menyerempet mobil lainnya.
"Arthur, kau gila!" tukas Brianna, tapi Arthur tak mengindahkan, dia akan menginterogasi Brianna dengan cara ini. Dia kembali menginjak pedal gas ketika dirasa masalah tadi tak begitu berarti.
"Arthur! Aku masih mau hidup!"
"Ya, aku juga. Maka jawablah!"
"Aku tidak bekerja seperti yang kau kira. Malam itu aku hanya terdesak jadi aku terpaksa melakukannya."
"Jadi baru malam itu ya?"
"Yah." Brianna menutup matanya rapat-rapat saat Arthur semakin kencang mengemudikan mobilnya.
"Katakan dengan siapa saja kau pernah bersetub*h, Brianna!"
"Apa itu penting?" Brianna menjawab sambil memegang kuat-kuat pegangan mobil yang berada diatas kepalanya. Dia tampak masih memejamkan mata dengan ketakutan.
"Ya. Jawab aku!" geram Arthur.
"Tidak ada. Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun."
"Kecuali aku?"
"Y-yah, kecuali kau."
Brianna akhirnya bernafas lega setelah Arthur mulai melambatkan laju mobilnya secara perlahan-lahan.
"Aku tidak mau bekerja dengan orang gila sepertimu! Kembalikan paspor ku, biarkan aku pulang ke New York!" Brianna memukuli Arthur dengan membabi buta menggunakan tas tangan yang dibawanya. Saat itu, Arthur memang sudah menepikan mobilnya di rest area.
Arthur menerima segala perlakuan Brianna, dia tidak bergerak sedikitpun seolah pasrah dengan apa yang dilakukan wanita itu.
"Kau boleh pulang ke New York, tapi tidak sendiri, melainkan bersamaku!" Arthur merengkuh tubuh Brianna dan memeluk wanita yang masih histeris karena perbuatannya beberapa saat lalu. Arthur tau Brianna pasti ketakutan dengan caranya, tapi hanya itu satu-satunya ide yang terlintas di kepala Arthur untuk membuat Brianna jujur.
Brianna tersadar akan posisinya yang didekap Arthur, dia langsung mendorong keras dada pria itu.
"Apa maksudmu aku akan pulang ke New York bersamamu?" Dahi Brianna mengernyit, dia tak paham akan arah perkataan Arthur kali ini.
"Ya, kita kembali ke New York bersama, lalu pertemukan aku dengan Chico."
Mata Brianna terbelalak saat mendengarnya. Dia membuang tatap ke arah jalanan yang tampak padat disana.
"Apa aku harus mengemudi secara ugal-ugalan lagi agar kau jujur juga mengenai hubunganku dengan Chico?"
Lidah Brianna terasa kelu. Dia tidak pernah menyiapkan jawaban untuk hal ini, karena dia yakin Arthur tidak akan pernah memedulikan keberadaan Chico yang tidak diinginkan kehadirannya oleh pria itu.
"Jangan membahas hal-hal yang tidak ku mengerti," kata Brianna menghindar.
"Jangan berlagak bodoh. Kau tau persis apa yang ku maksud, Brianna Walton!"
"Tidak ..." Brianna menggeleng keras. "Jangan mengganggu Chico, Arthur. Kau bisa menjadikanku apapun. Aku siap jika harus menjadi budakmu, tapi jangan usik Chico dari kehidupanku!" katanya memohon.
...To be continue ......
__ADS_1