FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
46. I love her


__ADS_3

Hari itu, Arthur dan Brianna mengelilingi kota Milan. Mereka memulainya dengan perjalanan ke Piazza del Duomo.


Piazza del Duomo adalah lapangan termegah di Milan, rumah bagi katedral Gotik terbesar di kota. Mereka menikmati pemandangan di kafe, lalu mengunjungi Duomo besar dengan 135 menara dan patung yang tak terhitung jumlahnya.


Arthur juga mengajak Brianna untuk menuju ke teras atapnya agar dapat menyaksikan seluruh pemandangan kota yang menakjubkan, menggunakan lift yang mampu membawa mereka naik hingga 70 meter ke atas.


Brianna menatap pemandangan dari atas sana dengan tatapan takjub. Dia masih tak menyangka dapat menginjak tempat seperti ini. Tiba-tiba dia teringat putranya, Chico pasti senang jika ikut jalan-jalan bersamanya.


"Suatu saat, aku ingin mengajak Chico ikut dengan kita." Arthur merangkul pundak Brianna sambil mengatakan hal itu. Brianna menatapnya dengan sebuah sunggingan tipis, ucapan pria itu seakan menjawab apa yang kini tengah dia pikirkan. Apa sekarang pemikiran mereka sudah sinkron dan sejalan? Entahlah, yang jelas Arthur terdengar memahami Brianna akhir-akhir ini.


"Aku juga memikirkan hal itu," akui Brianna. "Aku ingin mengajak Chico jalan-jalan suatu saat nanti," katanya jujur.


"Yah, dan itu akan terjadi bersamaku."


Mereka berdua saling menatap dalam diam seolah sedang mendalami keseriusan masing-masing. Brianna tau Arthur tak main-main, tapi dia juga sangat mengerti bahwa dirinya sendiri pun belum bisa seserius itu pada hubungan mereka.


"Apa kau mau berbelanja?" tanya Arthur mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Yah, apa itu akan dipotong dari gajiku?" tanya Brianna serius.


Tentu saja Arthur tergelak. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam mengkilap.


"Ambilah, ini untukmu." Arthur mengulurkannya ke arah Brianna.


"Apa ini?"


"Kartu kredit." Arthur menjawab singkat.


Brianna berdecak lidah. "Tentu aku tau ini kartu kredit, Arthur. Tapi untuk apa?" tanyanya keheranan.


"Untukmu. Kau bisa membeli apapun yang kau mau dan kau sukai. Bahkan untuk Chico. Kau bisa mengambil berapapun. Anggap itu sebagai sesuatu yang layak diberikan suami kepada istrinya," jawab Arthur serius.


Brianna membuang tatapannya. Dia mencibir kecil namun Arthur malah tertawa karena tingkah Brianna itu.


"Kau tidak senang dengan pemberianku?"


"Bukan," jawab Brianna tak acuh.


"Lalu? Jangan bilang kau akan mengembalikan kartunya."


Brianna menyeringai. "Aku bodoh jika aku mengembalikannya begitu saja," paparnya.


Arthur mengendikkan bahu. "Kau benar, maka terima lah. Lalu apa lagi masalahnya?" tanyanya mengarah pada cibiran Brianna sesaat setelah dia memberi kartu tadi.

__ADS_1


"Masalahnya adalah, seharusnya kau memberikan kartu ini padaku sejak awal kita tiba di Milan. Aku bisa memesan kamar sendiri dan tidak harus pusing memikirkan harganya," kata Brianna terus terang.


Arthur nyaris tergelak dengan keterus-terangan yang Brianna lontarkan.


"Aku memang sengaja agar kita bisa menginap dalam satu kamar. Aku ingin kita semakin dekat."


Brianna sudah membuka mulutnya untuk menyuarakan protes, tapi Arthur menarik lengannya dan mengajaknya untuk segera beranjak ke tempat yang lain.


"Ayo!"


Dan Brianna menurut saat Arthur kini membawanya ke sebuah Galeri.


Galleria Vittorio Emanuele II adalah bukti gelar Milan sebagai salah satu ibukota mode dunia. Arcade menakjubkan dengan langit-langit kaca ini menghubungkan piazza Duomo dan gedung opera Teatro alla Scala, dan dipenuhi dengan kafe dan butik kelas atas, seperti Gucci, Louis Vuitton, dan Prada. Arthur membebaskan Brianna untuk membeli yang ada disana sesuai brand yang Brianna inginkan.


Arthur pikir Brianna akan membeli semua brand dengan koleksi terbaru mereka. Sayangnya Brianna hanya membeli sebuah baju dengan label Louis Vuitton saja.


"Hanya itu?" tanya Arthur.


"Ya. Inipun aku tidak tau mau mengenakannya kemana," akui Brianna.


Arthur hanya geleng-geleng kepala sebab tak percaya dengan wanita itu yang tidak memanfaatkan kartu pemberiannya untuk berfoya-foya.


Mereka juga berhenti di pemberhentian kopi sebelum menuju ke piazza, dan mencicipi cappuccino di teras tempat tersebut meski harus mengeluarkan biaya khusus ketika ingin menempati tempat itu, sebab kebanyakan orang hanya akan menikmati minuman dengan berdiri didekat bar nya saja.


Kastil ini gratis untuk dimasuki, tetapi museum mengenakan biaya sekitar €5 (atau gratis setiap hari Minggu pertama setiap bulan dan setiap Selasa pertama dan ketiga setiap bulan setelah tanggal 14). Kastil ini sekitar 800 meter barat laut dari Duomo, yang tadi mereka kunjungi pertama kali.


Mereka juga menikmati makanan khas Milan yang tersedia disana.


Perjalanan mereka berakhir ketika mereka selesai menyaksikan opera Italia, konser orkestra, atau balet klasik di gedung opera abad ke-18, Milan.


Brianna merasakan jika Arthur benar-benar menjaganya sepanjang kepergian mereka. Yang Brianna syukuri ialah Arthur juga tampak sehat dan itu berarti dia tak perlu direpotkan lagi oleh pria itu.


Mereka pulang ke hotel nyaris larut malam dan tanpa sadar tertidur di ranjang yang sama akibat kelelahan. Tidak ada yang meminta maupun terpaksa untuk melakukan hal tersebut seolah itu memanglah tempat istirahat mereka bersama-sama.


...****...


Arthur terperanjat kala mendengar suara dering telepon yang memekakkan telinga. Dia lantas mengambil benda itu dari atas nakas, tanpa berniat mengganggu Brianna yang masih tertidur lelap di pelukannya. Wajah wanita itu tampak lelah, tapi dia tetap cantik dimata Arthur. Ah, lupakan itu sejenak karena itu bisa mengganggu konsentrasinya. Dia harus melihat siapa yang meneleponnya sekarang.


Jane. Itu adalah sang Ibu. Arthur ingin menolak panggilan itu karena dia tau Jane akan banyak bertanya hal-hal yang diluar nalar. Tapi menghindari Jane bukan suatu langkah yang tepat, jadi lebih baik dia menerima panggilannya.


Arthur sempat melihat jam sekilas, yang ternyata menunjukkan pukul 2 malam. Perbedaan waktu antara Milan dan New York membuatnya harus menerima telepon dari Jane di jam ini, sebab di New York 6 jam lebih lambat dari Milan.


"Ada apa, Mom?" tanya Arthur berbisik. Bagaimanapun dia tak mau mengganggu posisi nyaman Brianna sekarang. Dia menikmati momen dimana Brianna tertidur di dada bidangnya, jadi dia tak mau mengusik itu hanya karena panggilan dari Jane.

__ADS_1


"Bagaimana pertemuanmu dengan Serena?" Meski kemarin Arthur bilang takkan menemui gadis itu, tapi akhirnya Jane mendapat kabar bahwa Serena dan Arthur jadi bertemu meski hanya sebentar.


Arthur tak terkejut dengan pertanyaan Jane. Dia memang belum mengatakan pada Jane soal pernikahan dadakannya dengan Brianna. Dia juga tak mengatakan pada ibunya terkait Chico yang adalah putranya. Jane belum tau mengenai ini. Sama seperti Brianna yang butuh waktu untuk menjelaskan pada Chico terkait siapa Arthur sebenarnya, begitupun Arthur yang butuh waktu untuk meyakinkan ibunya, mengenai hubungannya dengan Brianna, hingga menghasilkan Chico.


Jadi, selama ini apa yang Brianna pikirkan adalah salah. Jane belum mengetahui apapun soal pernikahan mereka sebab Arthur belum memberitahu ibunya.


Akan tetapi, Jane memang sempat menemui Chico untuk memberikan miniatur helikopter, demi memenuhi janjinya pada bocah itu. Tentu saat menemuinya, Jane belum tau jika Chico benar-benar cucunya sendiri.


"Aku sudah bertemu dengannya beberapa hari lalu, Mom," jawab Arthur merujuk pada pertanyaan sang Ibu mengenai Serena. Ah, satu lagi. Jane tak tau jika saat ini Arthur tengah di Milan bersama Brianna. Yang dia tau Arthur masih di Canada.


"Lalu? Bagaimana?" tanya Jane kemudian.


"Bagaimana apanya?" Arthur balik bertanya.


"Apa kalian cocok? Kau mau menikah dengan Serena, kan?"


"Tidak, Mom. Aku kan sudah menolak hal itu. Aku juga sudah bilang jika aku telah menemukan pilihanku sendiri, kan?"


"Siapa?"


"Brianna, Mom. Aku sudah mengatakannya padamu, kan?"


"Apa?" Suara keterkejutan Jane disana, membuat Arthur tersentak. Hal itu juga berpengaruh pada Brianna yang akhirnya mengerjapkan matanya dan menyadari jika Arthur tengah menerima panggilan seluler.


Ini adalah kedua kalinya Arthur menyebut nama Brianna pada sang ibu, harusnya Jane tak terkejut lagi. Tapi waktu itu, Jane pikir Arthur hanya bercanda dengan melibatkan nama Brianna. Jane mengira itu Arthur lakukan untuk menghindari perjodohannya dengan Serena.


"Arthur?" gumam Brianna dan Arthur memberikan isyarat pada wanita itu agar tidak bersuara. Brianna menurut dan memilih diam dalam posisinya.


"Kau tidak sedang main-main kan, Arthur? Kemarin kau baru saja meminta Brianna untuk menjadi asisten pribadimu. Lalu sekarang apa? Kau bilang jika dia adalah wanita pilihanmu untuk kau nikahi?"


Arthur tau Jane akan menyerbunya dengan banyak pertanyaan, tapi dia harus siap untuk hal ini sejak mengambil tindakan nekat dengan membawa Brianna ke catatan sipil waktu itu.


"Ya, Mom. Aku sudah pernah bilang sebelumnya. Kenapa Mom harus terkejut?"


"Mom pikir kau bercanda."


"I'm seriously, Mom."


"Tapi ... kenapa harus Brianna? Ada banyak wanita lain yang---"


"I love her, Mom." Arthur menyela ucapan ibunya. "Dan itu sudah sangat lama, jadi jangan halangi aku. Ini mutlak hak-ku dan aku bukan baru memilihnya, melainkan aku sudah menikahinya 3 hari yang lalu."


Ujaran Arthur itu bukan hanya mengejutkan Jane diseberang panggilan, tapi turut mengejutkan Brianna di posisinya, tubuh wanita itu sampai mematung ditempatnya hanya karena pernyataan Arthur yang mengatakan sudah sangat lama mencintainya. Lelucon macam apa ini? Apa ini hanya alibi Arthur agar Jane merestui pernikahan mereka?

__ADS_1


...To be continue......


__ADS_2