FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
38. Sebuah hadiah


__ADS_3

Glek ...


Brianna menelan ludah dengan susah payah. Tak ingin menanggapi ujaran Arthur, dia pun berusaha mengalihkan pembicaraan dengan pria itu.


"K-kau bilang akan pulang larut? Kenapa sudah kembali?"


Arthur tersenyum miring, dia melihat gelagat canggung Brianna dihadapannya.


"Kenapa? Kau mengharapkan aku pulang larut dan langsung tidur saat tiba dirumah?" Arthur memajukan wajahnya untuk mendekat pada Brianna. "Itu tidak mungkin, karena aku takkan melewatkan malam pertama kita sebagai suami istri," desisnya ditelinga sang wanita.


Brianna mundur 2 langkah, mencoba menjaga jarak dari Arthur. Dia kembali teringat pada mimpinya tadi. Tidak, tidak, ini tidak boleh dibiarkan.


"Jangan harap! Aku terpaksa menikah denganmu dan selamanya itu hanya akan diatas kertas!" Brianna mendorong pintu kamar dan langsung menutupnya keras.


Arthur tertawa nyaring, lekas dia berbalik menuju letak kamarnya sendiri. Dia senang melihat wajah kesal Brianna. Itu seperti penghiburan tersendiri baginya.


"Baiklah, kita lihat seberapa kuat tembok pertahananmu itu, istriku!" gumam Arthur sambil mengulumm senyum.


Setelah mandi, Brianna turun untuk makan malam. Dia melihat sudah ada Arthur disana. Brianna mengabaikannya seperti yang sudah-sudah. Mereka makan dalam senyap seraya menikmati makanan yang sudah tersaji.


"Kau mau kita bulan madu kemana?"


Ohok! Ohok!


Brianna tersedak makanan yang nyaris ditelannya. Ujaran Arthur kali ini benar-benar membuatnya terkejut. Dia menyorot Arthur dengan tatapan protes, tapi pria itu hanya menipiskan bibir.


"Kau tinggal katakan kemana, Milan? Paris? Aku akan menyediakan tiketnya!"


"Berhentilah membual," kata Brianna jengah, sedetik kemudian dia memutar bola matanya.


"Aku tidak membual. Kita perlu melakukan itu untuk mendapatkan chemistry sebelum bertemu dengan Chico nanti."


Apa katanya? Chemistry? Rasa-rasanya Brianna muak saat mendengarnya.


"Aku selesai." Brianna meletakkan pisau dan garpunya dengan keras, kemudian mendorong kursi makan agar dia dapat segera beranjak dari hadapan Arthur saat itu juga.


"Kalau begitu, tunggu aku dikamar, Baby." Arthur mengerlingkan matanya ke arah Brianna yang membuat Brianna jengah, dia tau pria itu hanya berniat mengoloknya saja.


Brianna berpapasan dengan Tessa di dekat tangga.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Tuan Mattews menitipkan ini padaku untuk diberikan kepada anda," ujar Tessa dengan senyum terkembang.


Oh my ... apa Tessa juga sudah tau soal pernikahan mereka? Itu sebabnya wanita itu mengganti panggilan untuknya?


"Apa ini?" Dahi Brianna mengernyit, namun tangannya terulur juga untuk menerima paperbag yang Tessa bawa.


"Aku tidak tau isinya, tapi Tuan Mattews mengatakan agar aku mengantar ini ke kamarmu, Nyonya."


"Baiklah, Thanks."


Brianna pun membawa paperbag itu ke kamarnya yang ada di kediaman Arthur. Dia masuk lalu melihat apa isi dari bungkusan itu.


Sebuah kotak dengan pita. Untuk apa Arthur memberinya kado semacam ini? Perasaan Brianna mendadak tidak enak. Sudah dia bilang kan, jika Arthur bersikap baik padanya, yang ada justru dia menjadi was-was dan curiga.


Menarik pita di kotak tersebut untuk membukanya, wajah Brianna memerah saat melihat apa isinya.


"Dasar gila!" umpat Brianna. Dia melemparkan kotak berikut isinya itu secara asal ke arah pintu.


"Apa dia benar-benar akan membuatku selayaknya istri yang sesungguhnya?"


Kepala Brianna langsung pusing hanya karena melihat sebuah lingerie yang sangat terbuka menjadi isi dari kotak hadiah itu.


"Jangan bilang jika ini adalah dia lagi yang datang ke kamarku," gerutu Brianna. Dia malas menggubris ketukan pintu tersebut. Dia malah meraih bantal dan menutup kedua telinganya dengan benda itu sambil berbaring miring.


Beberapa saat dalam posisi itu, akhirnya Brianna melepaskan bantal dari telinganya. Dia menghela nafas lega tatkala suara ketukan pintu tak lagi terdengar.


Brianna memilih ke kamar mandi untuk menyikat giginya. Setelah ini dia pasti akan sulit tidur sebab sudah menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan itu sejak sore tadi.


Brianna keluar dari kamar mandi, lalu duduk bersandar di headboard ranjang. Dia masih tak habis pikir dengan pernikahannya dan Arthur yang benar-benar terjadi.


"Ah, aku tidak siap untuk hal ini. Bagaimana jika Zach tau mengenai pernikahanku? Dia pasti akan marah," tutur Brianna bicara pada dirinya sendiri.


Brianna mencengkram kepalanya sendiri. "Ayo berpikir, Bri. Kau harus bisa keluar dari segala problem ini," tekadnya.


Brianna harus menjalankan sebuah rencana agar dia dan Chico terlepas dari jerat Arthur selamanya. Tapi sekarang dia tak punya power untuk melawan pria itu. Dia harus mencari tau apa kelemahan Arthur. Dan akan menggunakan itu untuk membuatnya tak berkutik nanti.


Karena bingung harus mengadu kemana, dan belum mendapatkan ide juga, dia memilih menelepon Cecilia di New York, mungkin wanita itu akan memiliki solusi untuk permasalahannya.


Brianna mencoba menghubungi Cecilia beberapa kali tapi panggilannya tidak dijawab.

__ADS_1


"Apa dia sudah pergi bekerja di jam ini?" tanya Brianna merujuk pada kegiatan Cecilia dimalam hari.


Brianna menghela nafasnya dalam, sampai akhirnya dia memutuskan meletakkan lagi ponselnya.


"Bri?"


Brianna mendengar lagi suara ketukan pintu, kali ini disertai oleh panggilan dari pria itu. Siapa lagi jika bukan Arthur.


"Brianna? Kau tidak kenapa-napa, kan?"


Brianna mencoba alternatif yang sama dengan menutup telinganya menggunakan bantal, berselang beberapa saat Brianna kaget karena Arthur bisa masuk ke kamarnya.


"Hei, apa yang kau lakukan!" bentak Brianna yang kesal dengan sikap Arthur. Pria itu selalu bersikap semaunya, bahkan dia tak memberikan Brianna privasi.


"UPS, sorry," kata Arthur, dia melihat paperbag, box hadiah serta lingerie yang dia pilihkan untuk Brianna berserakan di kamar itu. "Tadi Tessa memanggilmu, dia bilang kau tak bersuara. Aku takut terjadi apa-apa padamu jadi ku putuskan untuk memanggilmu dan kau juga tak menjawab, makanya aku khawatir dan terpaksa masuk dengan alternatif lain," jelasnya panjang lebar.


Pintu kamar Brianna memang bisa diakses dengan kunci biasa, itulah kunci yang Brianna gunakan, tapi juga bisa diakses dengan cara lain yaitu menggunakan sidik jari. Dan sidik jari itu hanya bisa menggunakan jari Arthur.


"Sekalipun terjadi apa-apa padaku. Apa pedulimu?" ujar Brianna acuh tak acuh. "Sekarang, keluarlah. Aku tau ini rumahmu tapi bisakah kau memberikan privasi untukku! Jangan masuk ke kamar yang ku tempati dengan seenaknya," marahnya.


Arthur menggeleng samar. Ujaran Brianna tidak membuatnya terkejut sama sekali. Dia malah maju mendekat seolah tak gentar dengan ucapan wanita itu.


"Kau tanya apa peduliku, kan? Tentu aku peduli karena kau sekarang adalah istriku!"


"Bull-shittt!" sela Brianna.


Arthur tersenyum miring, senyum yang tampak menyebalkan.


"... dan suami istri itu tidak perlu ada privasi, Brianna. Aku bisa tau apapun tentangmu dan masuk ke kamarmu kapanpun aku mau," lanjut pria itu santai.


Sepertinya Arthur benar-benar mau menanamkan ingatan Brianna mengenai hubungan mereka yang sudah berubah menjadi sepasang suami istri tapi itu membuat Brianna muak. Sangat muak.


"Keluar atau aku yang akan pergi dari rumahmu!" ancam Brianna.


Arthur tertawa sumbang. "Pergi kemana? Paspormu bahkan ada padaku."


Brianna mengangkat wajahnya. Tentu dia tak lupa dengan hal itu.


"Aku akan meminta bantuan Gerard! Dia pasti akan menolongku," batin Brianna.

__ADS_1


...To be continue ......


__ADS_2