
Arthur dan Brianna kembali menginjakkan kota New York. Mereka saling bergandengan untuk menguatkan satu sama lain sebab hari ini mereka akan melakukan misi masing-masing.
Arthur akan meyakinkan Jane terkait pernikahannya dengan Brianna. Sedangkan Brianna akan mengatakan pada Chico mengenai siapa Arthur sebenarnya.
"Aku akan mengantarmu sampai Apartmen," kata Arthur yang menyandarkan kepala Brianna di dada bidangnya saat mereka menaiki mobil yang menjemput kedatangan mereka.
"Tapi kau tidak usah turun dulu ya. Jangan dulu muncul didepan Chico."
"Iya, Sayang." Arthur mengecup puncak kepala Brianna dengan penuh kasih sayang dan Brianna merasakan ada getaran aneh yang seolah tersalurkan dari tindakan manis yang kerap Arthur lakukan terhadapnya.
Brianna turun dari mobil yang mengantarkannya ke kediamannya di New York, dia melambai sekilas pada Arthur yang tidak ikut turun. Kemudian Brianna menuju apartemen sang adik dimana Chico tinggal disana selama dia bekerja di luar negara.
"Chico! Momma pulang!!" seru Brianna pada sang putra dan ternyata disana hening. Brianna memang masuk kerumah tanpa disambut oleh siapapun, dia menekan password apartemen secara mandiri.
"Flo?" panggil Brianna.
Namun tak ada sahutan.
"Chico?"
Hening. Tak ada suara apapun.
"Zach? Kalian dimana?"
Brianna tak mendapati satu orangpun diantara mereka didalam Apartmen.
"Kemana mereka?" gumamnya. Brianna meraih ponsel dari tas yang dia kenakan, mencoba menghubungi nomor Zach, namun ternyata tak tersambung.
Brianna tak menyerah, dia menelepon ke ponsel Flo dan ternyata dering ponsel wanita itu justru terdengar di indera pendengaran Brianna.
Brianna berjalan pelan menuju ke arah ruang tengah, ternyata ponsel Flo berada disana, mungkin tertinggal.
"Apa yang terjadi?" batin Brianna, dia merasa tak enak hati secara mendadak.
Semenit, dua menit, tak berselang lama dari itu Brianna akhirnya mendapat panggilan dari sebuah nomor asing.
"Brianna? Kau dimana?"
"Flo? Aku di Apartmen kalian. Kalian dimana? Dimana Chico?" tanya Brianna panik.
"Bri, kami ada di Rumah Sakit."
Brianna mendadak pucat, dia takut terjadi sesuatu dengan Chico, putranya.
Brianna segera memutuskan panggilan bahkan sebelum Flo mengatakan dimana letak Rumah Sakit nya. Mereka punya Rumah Sakit langganan dan Brianna berinisiatif untuk langsung menuju kesana.
"Flo?" panggil Brianna.
Brianna tiba beberapa puluh menit kemudian. Dia menatap Flo dengan sorot ingin tau. "Apa terjadi sesuatu dengan Chico? Katakan apa yang terjadi!" tukasnya mendesak.
"Tadi telapak tangan Chico dingin dan berkeringat banyak sekali. Aku yakin ini masalah jantungnya lagi."
Brianna terduduk lesu. Jika begini, bagaimana dia harus menjelaskan pada Chico terkait keberadaan Arthur.
"Bri, aku yakin Chico bisa melewati ini lagi. Dia sedang dirawat oleh dokter yang berkompeten. Jadi, tenanglah dan banyak berdoa." Flo memeluk tubuh Brianna yang bergetar.
Zach yang baru keluar dari ruangan Chico melihat pemandangan dimana istrinya dan sang kakak sedang saling menguatkan.
"Zach? Bagaimana dengan Chico?"
"Dia harus menjalani perawatan lagi, dia kelelahan."
"Apa yang dia lakukan belakangan hari?" tanya Brianna ingin tau.
"Tidak ada. Dia melakukan aktivitas sewajarnya." Flo yang menyahut.
"Apa ada yang dipikirkan oleh Chico?" batin Brianna.
Zach tampak menelepon seseorang, yang pada akhirnya Brianna tau jika Zach mencoba menghubungi salah seorang temannya untuk meminjam uang demi pengobatan Chico.
"Zach, tidak usah ... aku mempunyai uang untuk pengobatan Chico kali ini," jawab Brianna.
"Apa kau akan mengatakan dengan jujur darimana uangmu itu?" sarkas Zach. Brianna kembali teringat saat dia tidak berterus terang pada Zach terkait pekerjaannya tempo hari dimana dia bisa mendapatkan uang pengobatan Chico dengan cepat.
__ADS_1
"Ini uangku, hasil gajiku selama pergi ke Canada dan Milan."
"Woa, benarkah?" Zach terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, sebab dia tau kepergian Brianna itu ada kaitannya dengan Arthur.
"Aku yang akan membiayai pengobatan putraku."
Dan perdebatan diantara Zach dan Brianna terhenti kala mendengar ucapan Arthur yang sudah berdiri disana.
"Kau disini?" Zach tersenyum kecut. Dia tau Arthur akan memanfaatkan momen ini untuk menyelinap memasuki kehidupan Chico.
"Ya. Tak masalah, bukan?" ujar Arthur santai, dia memasukkan tangan ke dalam saku drawstring yang dikenakannya.
"Arthur ..." Brianna menarik Arthur menjauh, dia akan bicara pada pria yang sering muncul secara tiba-tiba itu.
"Kenapa kau tidak langsung menelponku dan mengatakan soal Chico, Bri?"
"Aku baru tau dia masuk Rumah Sakit, aku bahkan tidak memegang ponselku lagi saat aku mengetahui dia ada disini," ujar Brianna sendu.
Arthur mengelus pundak Brianna. Dia tak bermaksud menyalahkan wanita itu, dia hanya ingin Brianna menganggapnya ada dan menghubunginya disaat-saat seperti ini.
"Kau tau darimana Chico masuk Rumah Sakit ini?"
"Orang-orang ku memberitahuku," jawab Arthur.
"Apa kau sudah bertemu ibumu?"
"Itu tidak penting. Lagipula apapun tanggapannya dengan pernikahan kita aku akan tetap pada pendirianku untuk mempertahankanmu," ujar Arthur mantap. "Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Chico," tandasnya.
Brianna mengangguk. Dia butuh penghiburan saat ini dan syukurnya ujaran Arthur seakan mampu menguatkannya.
"Kita akan melewati ini bersama, Bri. Kau tidak sendirian lagi. Ada aku yang turut merasakan beban yang ada dipundakmu." Arthur ingin memeluk Brianna tapi wanita itu menolaknya.
"Jangan dulu bersikap begini didepan umum, Arthur. Bagaimanapun juga aku belum memberitahu Zach tentang pernikahan kita."
"Baiklah, aku mengerti."
Berkat koneksi dan uang yang dimiliki seorang Arthur Mattews, hari itu juga Chico dipindahkan ke ruangan yang lebih baik dan nyaman untuk putranya. Dia benar-benar menunjukkan bahwa dia bisa memberikan yang terbaik untuk sang putra. Dia mau menebus semua waktu yang selama ini tak dapat dia habiskan bersama dengan Chico.
Zach juga tak mampu menghalangi Arthur yang mau melihat Chico. Selain Arthur adalah ayah kandung Chico yang sebenarnya, berkat pria itu juga Chico mendapat perawatan yang lebih baik.
Malam itu juga, Chico tersadar dari tidurnya yang cukup lama karena obat-obatan yang dikonsumsinya. Dia menanyakan keberadaan Brianna pada dokter yang merawatnya.
"Nyonya, putra anda sudah sadar dan ingin menemui anda."
Brianna bersyukur dan segera memasuki ruang dimana putranya dirawat.
"Hai, Sayang. Momma merindukanmu."
"Mom, maafkan aku yang kembali sakit."
Brianna hampir menangis karena perkataan polos putranya. Bagaimana bisa Chico seperti menyalahkan diri sendiri terkait keadaan ini?
"Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu sayang." Brianna mengelus pipi gembul Chico.
"Mom, kemarin aku tidak sengaja mendengar percakapan Ibu Flo dan Ayah Zach." Wajah polos itu tampak ragu mengatakannya, tapi suaranya yang cadel dan lesu tetap dapat dimengerti oleh Brianna.
"A--apa? Kau mendengar apa, Nak?" tanya Brianna.
"Mereka membicarakan tentang Ayahku yang sebenarnya. Apa maksudnya, Mom? Apa aku punya ayah lain?" tanya Chico yang membuat Brianna menganga tak percaya.
Brianna menyimpulkan jika inilah sumber pikiran Chico yang sebenarnya. Ini yang membuat Chico lelah. Dia lelah berpikir mengenai kemungkinan-kemungkinan yang mungkin belum mampu diserap dan dicerna oleh otak kecilnya.
"Jangan memikirkan itu dulu ya, Sayang. Kita fokus pada kesehatan Chico saja. Bagaimana?"
"Mom, apakah aku memang punya ayah lain?"
Brianna tertawa kecil. "Setelah kau sembuh, Mom janji akan menceritakannya padamu, tapi berjanjilah untuk tidak terus memikirkan hal ini. Okey?"
Chico menganggukkan kepalanya dengan patuh. Dia memang tak boleh banyak berpikir.
Brianna keluar dari ruang perawatan Chico dan mengatakan pada Zach bahwa putranya tak sengaja mendengar percakapan antara Zach dengan Flo.
"Astaga, kenapa aku bisa seceroboh itu," kata Zach menyesali apa yang didengar oleh sang anak.
__ADS_1
"Tak apa, Zach. Cepat atau lambat Chico akan mengetahuinya juga," kata Brianna bijak.
Zach menatap Brianna dengan sorot tak setuju. "Jangan bilang jika kau juga berniat mengatakan padanya dalam waktu dekat, Bri? Lihat ... dia belum siap untuk hal ini. Jangan mengatakan apapun padanya," mohon Zach.
Brianna menatap Arthur sekilas, seolah meminta persetujuan pria itu dan syukurnya Arthur paham bahwa dia memang tak harus memaksakan segalanya dengan cepat. Apalagi ini menyangkut kesehatan putranya sendiri.
...***...
"Mom, aku mau ke kamar mandi." Chico memanggil Brianna yang tertidur disisinya. Wanita itu hendak bangkit meraih Chico, tapi dengan Arthur sigap menghampiri sebab dia juga menginap di ruang perawatan putranya malam itu.
"Mau kemana?" tanya Arthur.
"Chico mau ke kamar mandi," jawab Brianna.
"Lanjutkan tidurmu, biar aku yang membantunya," kata Arthur lembut.
"Kau yakin? Aku saja, aku sudah biasa."
"Izinkan dia terbiasa bersamaku juga," bisik Arthur dan segera membawa Chico di punggungnya. Bocah itu tampak senang, karena dengan bantuan Arthur dia tak perlu menginjakkan kakinya ke lantai.
Arthur mendudukkan Chico di kloset dan menunggu bocah itu buang air kecil.
"Paman, apa kau pacar Momma-ku?"
Arthur menahan gelak karena pertanyaan polos putranya. "Kenapa kau menanyakan hal itu, Boy?" tanyanya.
"Karena kau membantu Momma mengurusku."
"Kalau iya, apa boleh?" tanya Arthur yang kini membantu memakaikan celana Chico dengan telaten.
"Boleh saja, tapi kau harus juga harus menerimaku sebagai putramu, apa kau mau?"
"Tentu saja, Boy." Arthur kembali menggendong Chico dipunggungnya dan berjalan menuju hospital bed disana.
"Aku memang sudah punya ayah, tapi aku menginginkan seorang Daddy lagi untuk menemani Momma," kata Chico membuat Arthur terkekeh. Dia menyelimuti tubuh bocah itu dengan selimut sembari melirik Brianna yang meringkuk didekat kepala tempat tidur.
"Kau beruntung karena aku dengan senang hati bersedia menjadi Daddy mu," jawab Arthur percaya diri.
"Tos?" Chico mengulurkan tinjunya ke arah Arthur dan Arthur menyambutnya, hingga mereka ber-high-five ria dengan akrabnya.
"Stttsss ... Mom sedang tidur, jangan mengganggunya atau dia akan marah," kelakar Arthur dan Chico terkikik mendengarnya.
"Mom tidak pernah marah padaku," ujar Chico terus terang.
"Benarkah? Tapi dia selalu marah padaku." Arthur berlagak mengeluh.
Chico membekap mulutnya sendiri yang mengeluarkan suara tawa akibat pernyataan Arthur. "Itu berarti kau pernah berbuat salah padanya, Paman," tuturnya.
"Ya, kau benar. Aku banyak salah pada Momma mu. Dia galak seperti singa, tapi jika dia tidak marah aku merindukannya," ujar Arthur selayaknya curhat pada orang dewasa.
Chico kembali cekikikan. Kehadiran Arthur langsung bisa membuatnya senang. padahal dia jarang bisa cepat dekat dengan orang baru.
"Terima kasih Paman, karena kau sudah mau membantu menjagaku."
"Itu sudah tugasku, Boy!" Arthur mengusap lembut puncak kepala Chico yang dibalut rambut seperti mangkuk. "Jadilah anak yang baik agar ibumu selalu bahagia," paparnya.
"Tentu saja. Aku juga akan berusaha untuk tidak sakit lagi agar ibuku tidak repot ke Rumah Sakit untuk menjagaku," paparnya.
"Ternyata kau sangat pintar. Aku sangat bangga padamu, Nak." Arthur membatin didalam dirinya. Dia merasa kepintaran Chico berasal dari Brianna, tapi ketampanan anak itu jelas mengikuti jejaknya. Dia bangga dan amat bangga pada putranya sendiri.
"Apa Paman mempunyai anak juga?" tanya Chico mengangetkan Arthur yang masih larut dengan pemikirannya yang bangga akan tingkah sang anak.
"Ya. Punya. Dia sama sepertimu. Dia pintar dan tampak sepertimu."
"Lalu dimana dia sekarang?"
Arthur ingin mengatakan pada Chico bahwa anaknya ada dihadapannya saat ini, tapi dia menahan keinginan itu.
"Ada, dia ada. Kami hanya belum bisa bersama sebagai ayah dan anak saat ini," jawabnya ambigu yang jelas saja membuat Chico bingung dengan pemikirannya yang masih belum bisa mencerna hal itu.
"Jangan dipikirkan ya. Sekarang lanjutkan tidurmu. Ini sudah malam." Arthur mengecup puncak kepala Chico dengan sangat dalam seolah ingin menyalurkan kasih sayangnya lewat kecupan itu. "Good night, boy!" lirihnya kemudian.
...To be continue .......
__ADS_1