
Arthur, Brianna dan Chico berjalan-jalan mengelilingi taman kota. Ketiganya benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia. Wajah yang terus tersenyum, juga tawa yang terus terdengar karena candaan yang tidak ada hentinya.
Arthur merangkul pinggang Brianna sesekali, melihat saat Chico berlarian di rumput dan mengejar burung-burung merpati yang beterbangan.
Atau sesekali berikutnya, Arthur menggendong Chico dipundaknya, dan Brianna yang tetap berjalan disisi mereka sambil sesekali melihat atraksi yang dipertontonkan disekitar tempat tersebut. Ada banyak pertunjukan disetiap akhir pekan seperti ini.
"Mom, bolehkah aku membeli itu?" tanya Chico menunjuk tempat makan yang tak terlalu jauh dari mereka. Disana menjual berbagai cemilan dengan bentuk-bentuk lucu.
"Tentu saja, Sayang. Ayo kita kesana!" Arthur yang menjawab dan segera menggandeng Chico menuju tempat yang diinginkannya.
"Woa, disini ramai sekali," kata Brianna. Ternyata tempat itu tidak bisa dikunjungi begitu saja, harus ada reservasi terlebih dahulu, ataupun jika mau menunggu, bisa masuk menggunakan nomor antrian sesuai dengan urutan.
"Kita kesini lain kali saja, Chico, Biar nanti Mom pesan tempat dulu," kata Brianna lembut, memberi pengertian pada putranya.
Chico mengangguk, dia memang tidak pernah memprotes ujaran sang ibu. Namun Arthur tidak bisa melihat wajah lesu putranya.
"Kita mengantre saja. Apa kau mau?" ujar Arthur pada Brianna.
Brianna menatap Arthur tak percaya. Apakah pria itu serius?
"Kau yakin? Ku pikir itu akan membuang-buang waktumu," kata Brianna. Sebenarnya dia tak masalah mengantre, dia sudah sering seperti itu dan Chico juga pasti tak keberatan. Hanya saja Brianna berniat menunda ketempat itu karena memikirkan bagaimana reaksi Arthur yang diminta untuk mengantre, maka dari itu Brianna memilih untuk kesana lain kali sebab dia tak mau Arthur terpaksa dengan hal ini, ternyata diluar perkiraannya justru Arthur yang tak masalah dengan hal ini.
"Tak apa. Kita akan makan disana seusai keinginan Chico saja," sahut Arthur dengan ulasan senyum tulusnya.
Brianna menilai jika Arthur sudah banyak berubah. Terlebih dengan pola pikirnya. Pria itu tidak lagi mementingkan ego yang mana dia ingin selalu menang dari Brianna, tapi kini Arthur lebih sering mengalah demi Brianna dan juga putra mereka.
Tentu saja Brianna senang dengan hal ini, apalagi perubahan sikap Arthur adalah sesuatu yang positif.
"Kau tampak berbeda sekarang," kata Brianna setelah mereka duduk ditempat yang disediakan disana untuk mengantre giliran agar bisa masuk ke tempat makan itu.
Arthur menoleh pada Brianna. "Apanya yang berbeda?" tanyanya sembari memperhatikan Chico yang bermain di arena permainan yang juga tersedia ditempat yang sama.
"Kau lebih tampak penyabar."
Arthur mengulas senyum. "Aku sudah menjadi ayah, aku harus bersikap sabar dalam menghadapi situasi apapun," jawabnya.
Sekali lagi Brianna menatap pria itu dengan sorot tak percaya. Jawaban yang Arthur berikan terdengar sangat bijak.
"Jangan menampilkan wajah seperti itu," protes Arthur pada Brianna yang terpana pada jawabannya tadi.
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
Arthur mendekat dan berbisik lirih di samping telinga Brianna. "Karena kau tampak polos sekali, membuatku ingin menghabisimu di ranjang panas kita," lanjutnya.
Tentu saja ujaran Arthur kali ini membuat wajah Brianna memerah. Dia tak lagi menyahuti apa yang Arthur bicarakan, sebab terlalu malu untuk menanggapinya ditempat umum seperti ini. Andai mereka sedang ada dirumah, pasti Brianna akan membalas ujaran Arthur dengan pernyataan pedas seperti biasanya.
"Apa kau suka aku yang sekarang?" tanya Arthur tiba-tiba, setelah mereka terdiam cukup lama.
"Humm..." Brianna mengangguk canggung. "Aku suka pria dewasa dan sekarang kau tampak seperti itu," tuturnya jujur.
Arthur tertawa pelan. "Sudah ku duga. Aku adalah tipemu," katanya bangga.
Brianna berdecih tak percaya. "Ternyata untuk hal ini kau belum berubah," katanya.
"Hal ini yang mana?"
"Mengenai kepercayaan dirimu yang tinggi."
"Hahaha..." Arthur terkekeh. "Kapan-kapan aku akan memaksamu untuk mengakui pesonaku," kelakarnya.
Brianna ikut tertawa. "Jangan harap aku mau," katanya mantap.
Arthur mengulumm senyum. "Kau tau, aku sangat bahagia hari ini," jelasnya.
"Kita akan segera menikah. Bukan hanya menikah di catatan sipil tapi menikah yang sesungguhnya," paparnya.
Tentu saja Brianna langsung terkejut. "Benarkah? Apa ini salah satu sikap percaya dirimu yang lain?" sarkasnya.
"Bukan. Tentu saja bukan karena kepercayaan dirimu, sayang," ujarnya.
"Lalu?" Brianna menyorot Arthur dengan tatapan butuh penjelasan.
"Zach sudah merestui kita. Kita bisa menikah besok atau justru hari ini juga."
Plak. Brianna memukul lengan Arthur karena pria itu bicara dengan sangat asal.
"Kenapa kau malah memukulku?"
"Kau bercanda. Apa mungkin Zach merestui begitu saja? bukankah dia mau memukulimu sampai puas dulu? Tapi lihat? Tidak ada tanda-tanda kau telah dianiaya oleh ya setelah percakapan kalian tadi," ujar Brianna.
Arthur mengendikkan bahunya. "Aku juga tidak tau, tiba-tiba dia memintaku untuk segera menikah. Jadi ku iyakan saja, sebelum dia berubah pikiran," katanya disertai kekehan diujung kalimat.
"Jangan bercanda, Arthur. Itu tidak lucu." Brianna masih mengira Arthur sedang bermain-main.
__ADS_1
"Aku serius." Arthur mengambil tangan Brianna, membawa itu ke depan bibirnya dan mengecupnya singkat. "Kita akan menikah dan mempublikasinya," lanjutnya.
Brianna semringah. Tapi kata-kata dari bibirnya selanjutnya, membuat Arthur ternganga.
"Jadi? Zach benar-benar merestui begitu saja? Dia tak jadi memukulimu?"
Arthur menggelengkan kepalanya tak percaya atas ujaran sang istri.
"Tampaknya kau yang sangat ingin melihat wajahku babak belur."
Brianna malah terkekeh. "Ya. Sudah ku bilang kau layak mendapatkannya," katanya terdengar menantang.
Arthur kembali berbisik ditelinga Brianna. "Kalau begitu, kau saja yang membuatku babak belur di ranjang," ujarnya seduktif.
Brianna mendengkus. "Kalau kau mempersilahkan, aku akan melakukannya," ujarnya mantap.
Arthur terpana. "Serius? Kau mau?" Dia tersenyum penuh arti.
"Tentu saja. Aku akan membuatmu babak belur sepenuhnya."
Arthur terkekeh. "Kau bahkan tidak bisa mengalahkan ku, Baby," jawabnya pongah.
"Kita lihat saja nanti!" jawab Brianna terdengar percaya diri.
"Momma, Daddy!" seru Chico yang kembali datang ditengah-tengah kedua orangtuanya itu.
Bersamaan dengan itu, nomor antrean mereka akhirnya dipanggil dan mereka pun masuk ke dalam tempat makan yang dipilih Chico. Ternyata tempat makan itu sedang naik daun dan hits pada masa sekarang, sehingga pengunjungnya membludak.
Chico memilih cemilan manis kesukaannya, sementara Arthur memilih menu western yang biasa dia makan.
"Kau tidak mau memilih makananmu, Sayang?" Sekarang Arthur tidak lagi ragu memanggil Brianna dengan panggilan sayangnya. Tampaknya itu akan terus berlanjut.
"Pilihkan saja yang menurutmu enak," jawab Brianna dengan senyumannya. Dia percaya dengan selera Arthur yang pasti lebih baik darinya.
"Baiklah."
Sepanjang momen makan mereka hari itu, Arthur tampak sangat gentleman. Dia seperti ayah yang semestinya. Mementingkan keinginan Chico juga memperhatikan kebutuhan putranya. Dia memakaikan serbet pada Chico, mengajari Chico menggunakan alat makan yang benar juga memotongkan daging untuk putranya.
Pemandangan itu disaksikan langsung oleh Brianna yang membuat hatinya menghangat. Ternyata perang Arthur Mattews bisa bersikap seperti ini. Sekarang Brianna yakin bahwa pria itu adalah benar-benar yang terbaik untuk menjadi ayah yang sesungguhnya buat Chico.
...To be continue ......
__ADS_1