
Brianna sedikit beringsut ketika Arthur kembali ke kamar tamu untuk ikut tidur bersama dengannya dan Chico. Pria itu berbaring dan menempati posisi tepat disebelah Brianna, membuat Brianna menahan nafasnya saat itu juga.
"Ini pakaian gantinya, kau bisa menggantinya sekarang," bisik Arthur di telinga Brianna, tubuh Brianna langsung meremang seketika.
"Hmm." Hanya gumaman itu yang bisa Brianna berikan sebagai respon untuk ucapan Arthur.
Tak lama, Brianna segera bangkit dari posisinya yang berbaring menyamping, untuk mengambil pakaian yang diberikan Arthur. Dia sempat melihat jika Arthur juga sudah mengenakan setelan untuk tidur.
Brianna pun menuju kamar mandi disudut kamar untuk mengganti pakaiannya. Setelah siap, dia kembali keluar dengan setelan milik Arthur yang kini melekat ditubuhnya.
Brianna mendekat ke ranjang, ingin tidur disisi Chico tapi karena posisi Chico sudah menempati sudut tempat tidur, mau tak mau dia harus tidur disamping Arthur yang kini berada di tengah-tengah pembaringan tersebut.
Kini posisi mereka adalah Chico dan Brianna berada di kiri-kanan Arthur yang menempati posisi tengah. Syukurnya tempat tidur itu cukup untuk mereka tempati bertiga.
Arthur membalik badan ketika Brianna mulai membaringkan tubuhnya disisi pria itu, padahal tadinya Arthur menghadap pada posisi Chico. Kini wajah mereka berdua berhadap-hadapan dan Arthur dapat menebak jika Brianna merasakan kecanggungan dalam situasi seperti ini, terbukti dengan wajah wanita itu yang merona seketika saat beradu mata dengannya.
"Kau canggung karena ada aku diantara kau dan Chico?" tanya Arthur dengan suara pelan.
"Huum, ya-yah." Brianna membuang tatapannya agar tidak jatuh tepat Dimata Arthur.
Arthur mengulas senyuman. Sebelah tangannya terulur mengelus sisi wajah Brianna. "Jujur, sudah lama aku memimpikan saat-saat seperti ini, bersamamu," paparnya.
Yang lantas membuat kelopak mata Brianna melebar saat mendengarnya.
Arthur berhenti mengelus, namun tetap menyimpan telapak tangannya di pipi Brianna yang terasa hangat saat disentuhnya.
"Kau cantik, Bri ..."
Brianna terkekeh pelan. "Jangan merayuku," katanya malas.
"Aku sedang tidak merayu tapi aku berkata yang sejujurnya. Kau selalu cantik dimataku," ungkapnya.
"Meski aku selalu terlihat bodoh bagimu?" sahut Brianna dengan kulumann senyum.
"Tidak," sangkal Arthur. "Bagiku kau adalah wanita yang hebat, yang sudah berjuang untuk melahirkan dan membesarkan putraku," jabarnya.
"Hmm, begitu kah?"
"Ya." Kini Arthur mengelus bibir Brianna, yang langsung ditepis pelan oleh wanita itu.
"Jangan. Disini ada Chico," tolak Brianna pelan.
__ADS_1
Arthur menyeringai. "Jika tidak ada Chico, artinya boleh?" tanyanya penuh maksud.
Brianna langsung menghindari untuk bersitatap dengan Arthur lagi, kali ini dia menjatuhkan tatapan pada langit-langit kamar.
Arthur langsung terkekeh, yang direspon Brianna dengan decakan lidah.
"Kita pindah ke kamarku saja, hmm?"
"Aku tidak bisa meninggalkan Chico disini," jawab Brianna.
"Dia akan baik-baik saja. Aku akan meminta pelayan mengawasinya sementara."
"Tapi, Arthur ..."
Arthur memangkas jarak diantara mereka dan mengulumm bibir Brianna saat itu juga, Brianna dapat merasakan hawa panas disekujur tubuhnya ketika Arthur mulai memberikan sentuhan-sentuhan di titik-titik kelemahannya.
"Sebentar saja, aku sangat menginginkannya," kata Arthur kembali membujuk. Nafas pria itu terasa hangat menerpa kulit wajah Brianna, karena dia mengucapkannya tepat didepan Brianna yang juga bernafas dengan tersengal-sengal karena tangan Arthur terus menjelajahi area sensitifnyaa.
"Ah, Arthur!" Brianna mengerangg ketika Arthur terus menggodanya dengan gerakan tangan pria itu.
"Kau selalu berisik saat bercintaa, nanti Chico akan terbangun jika mendengar suaramu disini," bisik Arthur yang membuat Brianna semakin frustrasi.
Brianna yang sudah merasa terbuai, hanya bisa pasrah saat Arthur memboyong tubuhnya untuk memasuki kamar pria itu yang berada disisi lain.
"Sudah?" tanya Brianna yang sejak tadi mendengarkan Arthur memberi titah pada pelayan dirumah itu.
Arthur mengangguk, kemudian langsung mengambil posisi untuk mengungkung tubuh Brianna agar berada dibawahnya.
"Ini bukan yang pertama bagi kita, tapi aku tau ini pertama kalinya kita akan melakukannya dengan perasaan," ujar Arthur sebelum memulai. Dia memberikan kecupan dalam di bahu Brianna yang terbuka karena sebelumnya Arthur menelpon sembari melepaskan kaos yang Brianna kenakan.
"Aku belum pernah bilang kalau aku memiliki perasaan padamu," sangkal Brianna yang justru membuat Arthur tersenyum disela-sela ciuman mereka.
"Yah, kau tidak bilang, tapi aku bisa merasakannya," tutur Arthur yang mulai membuka kaosnya sendiri. Diambilnya kedua tangan Brianna lalu dia arahkan untuk menyentuh dada bidangnya.
Bagai percikan api, tubuh Arthur langsung merasa panas ketika Brianna menyentuhnya dengan sepenuh hati. Pergerakan yang tadinya lembut, berubah menjadi kasar dan menuntut.
...****...
Brianna bangun kesiangan, dia melihat kiri dan kanan tapi tidak mendapati Arthur disisinya pagi ini.
Gegas dia menuju kamar mandi yang ada di kamar Arthur kemudian mencuci wajahnya di wastafel. Awalnya Brianna hendak keluar kamar setelah melakukan kegiatan itu, tapi begitu dia bercermin disana, dia menyadari jika dilehernya terdapat banyak kissmark, Brianna langsung gelagapan dan tentu saja panik. Bagaimanapun, sekarang dia berada dikediaman Jane dan ini akan membuatnya malu luar biasa jika mertuanya melihat tanda itu.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin keluar kamar dengan keadaan seperti ini," gumam Brianna gamang.
Brianna hendak meminta bantuan Arthur, dengan mencarikan baju untuknya, tapi pria itu entah berada dimana sekarang.
Brianna sempat mau menelepon Arthur saja dan meminta pria itu kembali ke kamar untuk mendengar keluhannya, tapi Brianna ingat bahwa dia tidak membawa ponselnya, benda pipih itu tertinggal di tas yang dia letak di nakas kamar tamu, tempat Chico tertidur semalam.
Ah, sial. Bagaimana caranya dia keluar dari situasi ini? Hendak keluar begitu saja dengan sikap masa bodoh tapi terasa amat malu jika Jane benar-benar mendapatinya dengan banyak kissmark.
"Ah, aku akan mencari baju Arthur di lemari," gumam Brianna yang kemudian melangkah menuju lemari besar disisi kamar. Dia membukanya dan mencari pakaian yang bisa dia kenakan sekaligus menutupi tanda-tanda merah yang ditinggalkan Arthur di lehernya. Terlihat lancang sebab ini pertama kalinya dia memasuki kamar itu, tapi dia mencoba melupakan hal itu, lagipula dia adalah istri Arthur sekarang. Jadi wajar saja, pikirnya.
Brianna menarik sebuah turtleneck hitam dan baru bisa bernafas lega kemudian.
Saat dia berbalik badan, Brianna menjerit tertahan sebab terkejut karena ternyata Arthur sudah berdiri dibelakangnya. Sangking fokus mencari pakaian untuk menutupi lehernya, Brianna tidak menyadari kapan Arthur datang dan memasuki kamar.
"Kau sedang apa?" tanya Arthur lembut. Dia tak terlihat marah, padahal Brianna takut pria itu menganggapnya kurang ajar sebab membuka lemari pribadinya.
Meski Arthur lembut, tapi Brianna tetap saja merasa gugup jika Arthur sudah bersikap seperti ini didepannya. Padahal mereka sudah menghabiskan malam bersama semalam dan itu bukan untuk pertama kalinya.
"Kau meninggalkan banyak tanda di leherku jadi ..." Brianna tak melanjutkan kata sebab matanya justru tertuju ke leher Arthur yang juga tampak banyak tanda merah kebiruan.
Apa itu karena perbuatannya? Begitulah batin Brianna. Tapi sepertinya memang begitu, sebab tak mungkin Arthur membuat tanda merah dilehernya sendiri.
Brianna membungkam bibirnya, dia tak menyangka jika itu hasil perbuatannya, dia pasti salah lihat.
"Kenapa?" tanya Arthur.
"No. Tidak apa."
"Kau mau menutupi tanda percintaan kita?" Arthur terkikik. "Aku justru mau memamerkannya," lanjutnya pongah.
Brianna mendesis tak suka. Apa-apaan?
"Jangan mengada-ada, tutupi itu. Pakailah turtleneck ini," kata Brianna menyerahkan pakaian yang tadinya hendak dia pakai untuk dirinya sendiri.
Arthur kembali terkekeh. "Tidak. Aku bahkan sudah memperlihatkannya pada Mommy, tadi," bisiknya didepan wajah Brianna.
Tentu saja mata Brianna langsung melotot mendengarnya.
"Arthur! Apa kau tidak malu melakukan hal itu!"
"Tidak!" jawab Arthur mantap. "Bukankah Mommy yang menginginkan aku untuk menikah? Jadi ini sebagai bukti untuknya bahwa aku sudah benar-benar memiliki istri sekarang."
__ADS_1
...To be continue......