FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
41. Membuka diri


__ADS_3

Brianna menghirup nafas panjang, sampai akhirnya dia mendekat pada Arthur dan menempati sisi kosong disebelah pria itu ditempat tidur.


Arthur menyunggingkan senyumnya, dia senang karena kali ini Brianna menurut dan tidak terus bersikeras seperti biasanya.


"Tidurlah," kata Arthur sembari mengacak rambut Brianna sekilas, Brianna justru terdiam karena sikap yang ditunjukkan pria itu.


Brianna pikir Arthur benar-benar akan mengambil kesempatan dalam keadaannya yang terpojok seperti saat ini, nyatanya pria itu malah memintanya tidur.


Brianna merasa lega, dia membaringkan tubuh sekaligus menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Dia tak ingin mengomentari sikap Arthur kali ini, meski ada perasaan aneh yang menelusup dihatinya, tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk menepisnya.


Apa iya dia harus berusaha menerima hubungan mereka?


Brianna berbaring menyamping dan memunggungi Arthur.


"Good night," ujar Arthur dibelakang Brianna.


Wanita itu tak menjawabnya, dia berusaha memejamkan mata sambil memegang selimutnya erat-erat.


Arthur kembali tersenyum diposisinya. Dia tak langsung tidur, sebab harus menyelesaikan pekerjaannya lewat email yang masuk.


Sampai waktu semakin larut, Arthur mulai merasa mengantuk, dia pikir Brianna pasti sudah tertidur nyenyak sekarang, dilihat dari ritme dan suara nafasnya yang teratur. Dia tak dapat melihat wajah Brianna sebab wanita itu berbaring menyamping dan membelakanginya.


Arthur meletakkan tab-nya, kemudian ikut membaringkan diri. Dia memakai selimut yang sama dengan yang Brianna gunakan. Meski mengantuk, tapi dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ada Arthur melingkari pinggang Brianna dengan sebelah lengannya. Dia memeluk wanita itu sebagai ritual mengantarkannya menuju alam mimpi.


...***...


Brianna terbangun karena merasai cahaya mentari yang menerpa masuk lewat celah jendela. Disaat yang sama dia sadar bahwa seseorang tengah memeluk pinggangnya.


Brianna memejam sesaat, sadar jika yang tengah disisinya saat ini adalah seorang Arthur Mattews.


Brianna hendak melerai pelukan Arthur, karena meski itu terasa menghangatkan tapi dia sadar bahwa tak seharusnya dia melakukan adegan manis ini dengan pria itu.


Brianna hanya mencoba membentengi dirinya sendiri agar tak terjebak dengan segala kebaikan Arthur yang mungkin hanya semu.


Akan tetapi, pergerakan Brianna yang hendak beranjak, justru membangunkan pemilik tubuh atletis itu.


"Mornin'," sapa Arthur yang tiba-tiba mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Brianna.


Tentu saja Brianna terkejut, dia refleks memegang bibirnya sendiri karena apa yang Arthur lakukan. Tapi mulut wanita itu terkunci, dia seolah tak bisa menyuarakan protes. Padahal biasanya, dia pasti akan marah dengan kelakuan Arthur yang dinilainya kurang ajar tersebut.


"Bangunlah, kita kesini untuk bekerja bukan?" ujar Brianna yang dibalas Arthur hanya dengan senyumannya yang tipis.

__ADS_1


Brianna hendak bangkit dan pergi, tapi Arthur menarik lengannya hingga dia terduduk di pangkuan pria itu.


"Arthur ..." Brianna ingin mencoba menghindari Arthur, tapi suaranya kali ini tak setegas biasanya. Dia justru melembut pada pria itu, entah kenapa.


"Aku senang akhirnya kau mau menurut padaku," tutur Arthur sambil menatap ke dalam manik mata Brianna dengan lekat.


Brianna salah tingkah karena tatapan Arthur, dia memandang ke sembarang arah karena dia tak mau bertatapan dengan pria itu.


"A-aku mau mandi dulu."


"Aku ikut, hmm?" Suara Arthur sangat lembut, seolah membujuk Brianna. Brianna menemukan sosok yang berbeda pada Arthur pagi ini. Dia seperti bocah, mirip Chico yang sedang manja pada Brianna. Apalagi rambut pria itu yang berantakan khas bangun tidur, justru itu menambah ketampanan Arthur berkali-kali lipat dari biasanya. Apa Brianna beruntung bisa melihat wajah pria ini dalam kondisi begini? Sedang diluar sana ada banyak wanita yang tidak dapat menyaksikannya.


"Aku ikut kau mandi, oke?" bisik Arthur ditelinga Brianna, membuat wanita itu merinding, apalagi sekarang Arthur memeluknya sebab posisinya masih berada dipangkuan pria itu.


Tubuh Brianna meremang, Arthur jelas-jelas tengah merayu dan menggodanya.


Cup!


Satu kecupan lagi Arthur berikan di leher jenjang Brianna, membuat wanita itu berjengit saat merasakannya.


"Kau tau, kita sudah dewasa dan tidak salah jika kita saling menyalurkannya."


Arthur menyusupkan wajahnya di leher Brianna, menghirup wangi wanita itu dalam-dalam. Hasrattnya memuncak seketika. Dia tak dapat menahannya lagi.


"Kau terus diam, jadi ku anggap diammu adalah persetujuan."


Arthur menggendong Brianna dalam sekali pergerakan, membawa tubuh itu ke kamar mandi.


"Katakan kau sudah menerima pernikahan kita," ujar Arthur yang menurunkan Brianna di wastafel. Dia menatap lamat-lamat pada netra bening sang wanita.


"Aku ... aku ..."


Arthur mendekatkan wajah, dia mengangkat dagu Brianna agar wanita itu membalas tatapannya.


"Kita jalani semuanya dari awal. Maafkan kesalahanku dulu, hmm?" Arthur menatap kedua mata Brianna bergantian.


"Tapi, aku---"


Arthur mencium bibir Brianna tanpa meminta persetujuan wanita itu. Awalnya Brianna pasif, Arthur tau dia harus bekerja keras meruntuhkan pertahanan Brianna kali ini, hingga lama kelamaan ciumannya berbalas. Brianna membalas dengan ikut memasukkan lidahnya ke dalam mulut Arthur. Mereka saling bertukar saliva hingga keduanya nyaris kehabisan nafas.


Arthur menatap Brianna yang wajahnya memerah, sedang Brianna sadar bahwa kini mereka berdua sudah diliputi gairahh.

__ADS_1


"Katakan kau menginginkanku, Bri."


Brianna menggeleng. Arthur menghela nafas panjang. Baiklah, dia akan berusaha lagi.


Dalam sekali pergerakan, dia mengangkat naik kaos miliknya yang dikenakan Brianna. Menyisakan wanita itu hanya dengan underwear nya saja.


"Dapatkah aku menyentuhnya?" tanya Arthur lembut, padahal biasanya dia tak pernah meminta izin begini. Ini justru membuat Brianna malu.


"Jawablah," pinta Arthur dengan wajah serius.


Brianna mengangguk kemudian membuang wajahnya kesamping. Arthur tersenyum melihatnya, dia bahagia. Dia bahagia. Ini semua karena Brianna mau membuka diri untuknya. Arthur tak mau Brianna terus membencinya. Dia akan meluluhkan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Arthur membuka kaitan yang ada dibelakang tubuh Brianna. Sembari melakukan itu, dia terus menghujani Brianna dengan ciuman basahnya.


Nafas keduanya sudah terengah-engah, sampai akhirnya ciuman Arthur turun dan mengisi mulutnya dengan dada milik wanita itu.


"Kenapa warnanya begini?" tanya Arthur merujuk pada put*ng Brianna.


Brianna mengernyit. Apa ada yang salah? Begitulah isi pemikirannya.


"Ini menggemaskan. Kenapa warnanya tidak hijau atau biru."


Ucapan Arthur membuat Brianna nyaris tergelak. Bisa-bisanya pria itu bercanda ditengah kegiatan mereka pagi ini.


"Apakah kita tak akan terlambat?"


Arthur menggeleng. "Tidak. Masih ada banyak waktu," katanya sembari membawa tangan Brianna ke inti tubuhnya.


Brianna terkesiap, merasakan benda yang mengeras tersebut. Matanya membola, tapi dia juga malu luar biasa.


"Ini bukan yang pertama untuk kita. Tapi ini adalah pertama kita melakukannya sebagai pasangan suami istri. Jadi, kau tak dak perlu malu pada suamimu sendiri," kata Arthur menangkup kedua pipi Brianna.


Brianna tersipu, entah kenapa ujaran Arthur membuat hatinya menghangat.


"Akhhh ..." Brianna mengerangg saat Arthur menurunkan lagi ciumannya sampai ke perutnya. Pria itu bahkan meninggalkan banyak tanda merah disana.


Sampai beberapa saat menikmati proses itu, Arthur berkata lirih di depan wajah Brianna.


"Aku akan memasukimu, Sayang. Bersiaplah," ujarnya seraya mengecup kedua mata Brianna bergantian.


...To be continue......

__ADS_1


__ADS_2