FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
36. Mengiba


__ADS_3

Brianna tak habis pikir pada Arthur yang benar-benar menghentikan mobil di pelataran gedung catatan sipil. Apa pria ini sudah gila? Dia sudah mengatakan tak mau menikah dengan Arthur dan meminta Arthur untuk tidak memaksanya, tapi kenapa sekarang Arthur bersikap seperti ini?


"Ayo, turun!" titah Arthur datar.


"Tidak!" Bahkan Brianna tak melepaskan seatbelt-nya.


"Ku bilang, kita menikah sekarang!" Kali ini suara Arthur naik se-oktaf, dari dulu dia sangat tidak menyukai penolakan Brianna terhadapnya.


"Ku bilang tidak, ya, tidak. Sudah ku katakan bahwa pernikahan itu bukan permainan. Jangan memaksaku!" tekan Brianna.


"Turun atau aku akan benar-benar membuktikan ucapanku untuk memisahkanmu dengan Chico?" Arthur dapat melihat wajah Brianna yang mendadak pucat. "Lagipula, aku juga tau jika pernikahan bukanlah permainan. Aku mengajakmu menikah, bukan mengajakmu bermain dan ini perintah, Brianna Walton!" sambungnya menegaskan.


Brianna mendengkus kasar, sikap bossy yang dimiliki Arthur mulai menyeruak ke permukaan, membuatnya muak, sekaligus ingin mengeluarkan taring didepan pria itu, jika saja bisa.


Arthur keluar dari mobil dan menutup pintu. Dia menunggu di luar sambil bersedekap dada, namun Brianna tetap tidak keluar juga dari mobilnya.


Kesabaran Arthur nyaris habis, dia mengintip dari kaca jendela dan melihat Brianna diam saja disana.


Oh my ... Arthur merasa kesal sendiri dengan wanita itu.


Geram, akhirnya Arthur mengitari mobil dan membuka pintu mobil yang ada disisi Brianna.


"Keluar dan menikah denganku, atau kau akan merasakan kehilangan Chico, Brianna Walton. Kau tau kan, jika ucapanku tidak pernah main-main!"


Brianna menatap Arthur nyalang. Rasanya, dia ingin sekali menerkam pria itu dan menghabisinya hidup-hidup.


"Kita menikah dulu di pencatatan sipil. Jika ada waktu yang memungkinkan kita bisa lanjut mengesahkan pernikahan di gereja." Setenang itu Arthur mengucapkannya.


Gampang sekali dia bicara, begitulah pemikiran Brianna.


"Semua berkasnya sudah ku bawa, jadi tak perlu ada yang kau khawatirkan."


Brianna berdecih, ternyata Arthur sudah menyiapkan semuanya? Apakah ini jawaban atas sikap diamnya pagi tadi? Brianna pikir, pria itu sudah menyerah saat dia menolaknya mentah-mentah tadi.


Arthur sudah sampai diambang kesabaran yang sejak tadi memang sudah menipis. Melihat Brianna tak bergeming, pria itupun bergerak, lalu langsung membawa tubuh Brianna dalam gendongannya.


"Apa yang kau lakukan, breng sek!" Brianna memekik, namun ujaran Arthur selanjutnya membuatnya terdiam seketika.


"Teruslah menjerit, dan aku akan membungkam bibirmu dengan bibirku!"

__ADS_1


Brianna malu dalam posisi seperti ini, karena banyak orang yang melihatnya dalam gendongan Arthur sementara pria itu justru cuek saja saat menggendongnya, meski ada banyak mata yang menyaksikan mereka.


"Wuhu ... carilah kamar secepatnya, Dude!" Seseorang menyapa Arthur di dekat teras gedung.


"So sweet sekali mereka!" bisik-bisik yang lainnya. Ada suara siulan bahkan kekehan yang seakan mendukung mereka berdua. Orang-orang itu tidak tau, jika Brianna sebenarnya terpaksa berada dalam posisi ini.


Atau, ada lagi celetukan lain yang menggoda mereka sepanjang Arthur menggendong Brianna ke dalam gedung catatan sipil.


"Seharusnya kau juga menggendongku saat menuju kesini seperti yang mereka lakukan," ucap seorang wanita pada pria yang mungkin baru menikahinya, karena mereka terlihat baru keluar dari gedung yang sama.


"Kekasihmu manis sekali, Nona," sambung wanita itu memuji sikap Arthur. Brianna hanya menyengir sebagai respon.


"Ini bukan manis, tapi ini pemaksaan," batin Brianna.


Brianna tak habis pikir kenapa orang-orang malah terlihat iri saat melihatnya? Padahal jika bisa, Brianna ingin sekali kabur dari jeratan Arthur.


Brianna memilih diam karena dia tak mau perhatian orang-orang itu semakin mengarah padanya, jika dia terus menjerit hingga membuat Arthur benar-benar merealisasikan ucapannya dengan menciumnya.


Untuk itu, akhirnya Brianna tetap bungkam. Dia bahkan menyurukkan wajah di dada Arthur, karena merasa amat malu dengan tindakan pria ini.


Begitu tiba di ruang yang harus dimasuki untuk mengurus catatan pernikahan, Brianna langsung berbisik pelan.


"Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri," katanya pada Arthur.


"Jangan coba-coba kabur, atau kau akan ku buat menyesal."


Brianna merinding mendengar penekanan setiap kata yang Arthur lontarkan, itu terasa sangat mengintimidasi sekali, hingga dia harus pasrah untuk tetap diam disisi pria itu.


...***...


Brianna memejamkan matanya rapat-rapat ketika mobil yang Arthur kendarai mulai berjalan kembali. Dia melakukan itu, karena tidak mau terus melihat sudut bibir Arthur yang sejak tadi terus melengkungkan senyuman.


"Kau tidur?" tanya Arthur yang melirik sikap Brianna.


"Hmmm," sahut Brianna masih dengan mata yang memejam. Dia terlalu malas meladeni pria itu.


"Baguslah. Istirahat yang banyak. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah dan lanjutkan tidurmu disana."


Brianna belum merespon ujaran pria itu sampai akhirnya Arthur kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"... siapkan dirimu untuk malam pertama kita sebagai suami istri."


Seketika itu juga mata Brianna terbelalak. Dia menelengkan kepala untuk menatap Arthur lamat-lamat.


"Jangan mimpi, Arthur. Kita tidak akan melakukan apapun, apalagi aktivitas suami istri."


Arthur tersenyum miring, tanpa menatap Brianna dia berujar tenang. "Why not? Kita sudah menikah jika kau lupa," ujarnya.


"Itu hanya diatas kertas!" tekan Brianna.


"Jangan menyangkal sesuatu yang sudah terjadi. Kita bahkan sudah menghasilkan Chico sebelum kita menikah hari ini."


Brianna kesal sekali, rasanya kepalanya sangat panas atas ucapan Arthur.


"Malam bersamamu adalah kesalahan," desis Brianna.


"Yah, tapi itu tak terjadi sekali." Tenang sekali Arthur menjawabnya.


"Yang kedua juga kesalahan. Aku terpaksa menjual diriku padamu demi pengobatan Chico!" Brianna berujar tinggi, ia tidak akan lupa bagaimana pria itu mengatakannya sebagai ja lang pada malam itu.


Jujur saja, Arthur terkejut mendengar pengakuan Brianna kali ini. Jadi Brianna melakukan itu untuk pengobatan putranya sendiri? Mendadak Arthur memutar lagi memori di kepalanya, ya jelas dia tau jika waktu itu Brianna sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan anak yang dia katakan sebagai keponakannya. Masalahnya saat itu, Arthur belum mengetahui jika anak itu justru darah dagingnya sendiri.


Dan yang membuat Arthur mencengkram kemudinya erat-erat saat ini adalah dia membayangkan andai saja malam itu Brianna justru jatuh pada pria lain dan bukan dirinya, bagaimana? Brianna rela melakukan itu demi pengobatan anak yang seharusnya adalah tanggungan Arthur. Untuk hal ini, Arthur merasa amat bersalah pada Brianna.


Tak ada kalimat lagi yang mampu dikeluarkan dari mulut Arthur. Dia menahan diri untuk tidak membawa Brianna ke dalam pelukannya. Betapa banyak kesalahannya pada satu wanita ini. Apa yang harus dia lakukan untuk menebus dosanya pada Brianna, sebab menikahinya saja tak akan cukup.


Arthur membawa Brianna kembali ke rumah bukan ke apartemen. Dia memastikan Brianna masuk ke kamarnya.


"Beristirahat lah, ini kamarmu juga sekarang," kata Arthur pelan. Ya, dia mengantar Brianna ke kamar pribadinya, bukan kamar yang kemarin ditempati Brianna dalam rumah pria itu.


"Aku tidak mau, aku akan kembali ke kamarku sendiri."


Arthur menatap Brianna dengan sorot yang sulit untuk Brianna artikan, tapi mata itu memancarkan kepedihan yang jelas. Ada apa dengan Arthur? Brianna bertanya-tanya kenapa Arthur bisa seperti ini? Biasanya pria itu tak mau mengalah, egois dan melontarkan kata-kata yang seolah tidak boleh dilawan.


Brianna hendak berlalu dan memasuki kamarnya sendiri, tapi suara Arthur berhasil membuatnya berhenti melangkah.


"Bisakah kau menurut padaku, Bri?" Suara itu terdengar mengiba, membuat Brianna tak yakin jika yang baru saja bicara benar-benar seorang Arthur Mattews.


"Aku tidak bisa!" ujar Brianna bersikukuh.

__ADS_1


...To be continue......


Tolong letakkan kopi di meja othor yah guys 🙏🙏🙏❤️🙏🙏❤️🙏


__ADS_2