FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
50. Pias


__ADS_3

Brianna menerima panggilan dari Chico, dia terkejut saat bocah itu mengadukan soal kedatangan Jane ke Apartmen Zach hari ini. Chico juga bilang jika Jane terlibat percakapan dengan Zach yang entah apa.


"Mom, tadi Grandma Jane memberiku hadiah lagi sebelum pulang," celotehan Chico membuat Brianna kembali menatap pada layar ponselnya yang masih tersambung dengan videocall dengan sang putra.


"Oh ya?" Brianna melengkungkan senyum agar Chico tau jika dia juga bahagia mendengar ujaran bocah itu.


"Iya, Ini ..." Chico menunjukkan alat-alat melukis disana.


"Wah, kau bisa mewarnai dengan benda itu. Kau suka, Sayang?"


"Suka, Mom." Chico menjawab lantang dan bersemangat. Senyumnya tampak menggemaskan.


Setelah puas mendengarkan penuturan polos Chico terkait keseharian bocah itu, Brianna meminta Chico menyerahkan ponselnya pada Zach. Dia ingin menanyakan apa yang Jane bicarakan dengan pria itu, meski sebenarnya Brianna sudah dapat menebak arah pembicaraan mereka.


"Mrs. Jane ngin Arthur diberi kesempatan untuk menyandang status Ayah. Dia juga mengatakan bahwa Arthur layak mendapatkan gelar itu karena Arthur tidak pernah menolak kehadiran Chico, hanya saja keadaan lah yang menyebabkan Arthur tidak mengetahui adanya Chico didunia ini. Arthur tidak pernah kita beri tahu. Dia jelas menyalahkan kita mengenai hal ini," kata Zach lesu.


Brianna tau hal itu yang juga akan Jane katakan pada keluarganya. Dia bahkan lebih dulu mendengar hal itu langsung dari bibir Arthur.


"Zach, sebenarnya ada hal yang juga ingin ku sampaikan," tutur Brianna hati-hati.


"Apa?"


"Aki dan Arthur ... sedang berada di Milan sekarang," ujarnya pelan.


"Kalian pergi berdua?"


Brianna mengangguk.


"Lalu, apa lagi yang ingin kau katakan? Katakan saja sekarang," kata Zach yang tau jika ada hal lain yang ingin kakaknya sampaikan.


"Mengenai Chico, jangan dulu katakan padanya mengenai hal ini. Dua hari lagi aku akan langsung ke New York jadi biar aku yang menjelaskan padanya secara perlahan."


"Baik," jawab Zach patuh. Tapi sekali lagi dia memicing melihat gelagat kakaknya yang tak biasa. "Apa ada lagi yang ingin kau katakan?"


Brianna mau mengatakan pada Zach terkait pernikahannya, tapi dia masih ragu mengenai hal itu.


"Tidak terjadi apapun antara kau dan Arthur kan?" tebak Zach kemudian.


Brianna menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia belum bisa jujur pada Zach saat ini, baiklah dia akan mengatakannya nanti stelah bertemu langsung dengan sang Adik.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya. Disini sudah cukup larut. Aku mau segera tidur," kata Brianna merujuk pada perbedaan waktu diantara mereka.


"Okay. Hati-hati disana, Bri. Jangan terlibat hal-hal yang rumit, terutama dengan atasanmu sendiri," sindir Zach. Brianna jelas tau kearah mana perkataan Adiknya. Zach pasti tak mau kesalahan lama terulang kembali antara Brianna dan Arthur. Dan perkiraan Zach itu tidak meleset, karena memang sekarang Brianna malah melunak pada pria yang kini justru mengikatnya dalam sebuah ikatan pernikahan.


Memikirkan tanggapan Zach, mengenai hal itu, terus saja membuat pikiran tersendiri bagi Brianna.


Brianna hampir meletakkan ponselnya diatas nakas tepat saat ponsel itu kembali bergetar menunjukkan ada panggilan lainnya.


Arthur.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Kau belum tidur?" tanya Arthur disana.


"Nyaris tidur jika kau tidak menggangguku dengan telepon mu ini," kata Brianna.


"Kau tau, aku merindukan kata-kata pedasmu. Coba umpat aku sekarang!" pinta Arthur membuat Brianna tak habis pikir.


"Dasar aneh! Bisa-bisanya kau meminta ku umpat," cibir Brianna.


"Aku suka dengan gaya marahmu."


"Kalau begitu aku akan selalu marah-marah didepanmu," jawab Brianna tak acuh.


"Tapi aku juga suka jika kau melembut padaku."


"Oh ... apa sebenarnya tujuanmu meneleponku?" tanya Brianna malas.


"Aku merindukanmu."


"Astaga, besok kita bertemu. Kita hanya pisah kamar, jangan berlebihan."


"Aku serius. Apa kau tidak merindukanku juga? Ehm, baiklah aku tidak layak dirindukan," kata Arthur terdengar lesu.


"Ya, kau benar. Aku akan tidur sekarang. Bye."


Brianna memutus panggilan sebelah pihak. Dia geleng-geleng kepala melihat tingkah Arthur yang berubah 180° kepadanya.


"Haruskah aku memberimu kesempatan? Awalnya untuk kebersamaan merawat Chico, lalu jika lambat laun aku benar-benar jatuh cinta padamu, apakah itu tindakan yang benar?" Brianna menggenggam ponselnya sembari menatap ke arah langit-langit kamar. Dia kembali memikirkan kemungkinan ini. Dia takut patah hati jadi takut untuk jatuh cinta pada pria yang dulu dibencinya.


Brianna berbelanja menggunakan kartu kredit milik Arthur. Dia tak munafik jika dia akan memanfaatkan itu, lagipula Arthur tak melarangnya dan Brianna akan memulai menerima Arthur dari uangnya saja, begitulah pemikirannya yang cuek.


Brianna ke pusat sebuah perbelanjaan dengan sebuah taksi. Dia berangkat pukul 10 pagi. Dia mau melepas penat dengan berbelanja.


Sekitar setengah jam memilih apa saja yang ingin dibelinya, Brianna tak berpikir dua kali untuk membelikan mainan untuk Chico dengan uang Arthur. Bukankah Arthur memang pantas membelikan putranya?


Brianna tidak sadar jika tindakannya itu justru sebagai bukti bahwa sebenarnya dia telah menerima Arthur sebagai ayah dari putranya.


"Ups, sorry!"


Brianna terjatuh karena ditabrak oleh seseorang dari arah berlawanan. Dia berusaha mengumpulkan belanjaannya ke dalam paperbag. Tapi saat tatapannya kembali terangkat untuk menyahuti permintaan maaf orang itu, mendadak tubuh Brianna menggigil saat melihatnya.


Brianna buru-buru menghindar. Tak disangka dia menemukan sosok itu di kota ini.


"Hey, tunggu! Aku seperti mengenalmu!" seru sosok itu.


Pundak Brianna seperti ditahan, dia memejamkan mata rapat-rapat. Dia takut jika orang ini mengenalinya dengan cepat.


"Kau ... Bri---Brianna, kan?" tebak sosok itu.


Dan Brianna menyunggingkan senyum tipis. "Kau salah orang, Nona!" Dia buru-buru menghindar dan hendak segera angkat kaki dari tempat tersebut.


"Brianna Walton!"

__ADS_1


Brianna meraup oksigen sebanyak-banyaknya saat tangannya dicekal kembali oleh perempuan itu.


"Banyak perubahan dengan dirimu ya? Lalu, bagaimana bisa kau berada di kota ini? Ini bukan tempatmu," cibir Caitlyn. Ya, dia adalah gadis yang dulu mem-bully Brianna di universitas. Entah kenapa mereka harus bertemu disini setelah sekian tahun berlalu.


"Sudah ku bilang kau salah mengenali orang!" Brianna mempertahankan ucapannya, lebih baik dia berlagak tak mengenali Caitlyn daripada harus meladeni perempuan itu.


"Jangan berlagak lupa padaku. Bahkan aku berani bertaruh jika luka yang ku berikan padamu masih berbekas hingga sekarang," ujar Caitlyn dengan senyum miringnya.


"Maaf aku harus pergi." Brianna hendak berlalu tapi sekali lagi Caitlyn menghalangi langkahnya.


"Kau tampak baik, Brianna." Caitlyn memindai belanjaan Brianna yang dibawa oleh wanita itu. "Sepertinya kau juga sudah menjadi kalangan atas. Apa dengan cara instan? Pria tua mana yang kau rayu hingga mau membelikan semuanya untukmu?" tanyanya mencibir.


Brianna hendak kabur lagi, tapi belum sempat dia melakukan itu tiba-tiba panggilan seseorang menginterupsi percakapan mereka.


"Sayang?" Brianna dan Caitlyn sama-sama menoleh, lalu sama-sama terkejut mendapati Arthur disana.


Arthur memegang tangan Brianna dan mengabaikan Caitlyn disana.


"Kau terlalu lama berbelanja. Aku jenuh menunggumu di hotel jadi aku menyusulmu kesini," ujar Arthur lagi dengan manisnya.


Caitlyn sampai melongo karena pemandangan didepannya. Dia menyaksikan seorang Arthur Mattews yang dulu disukainya berada disamping Brianna, mereka tampak mesra dan sialnya mereka juga terlihat serasi sebagai sepasang kekasih.


"Arthur? Bagaimana bisa kau tau aku disini?" tanya Brianna.


"Kau pakai kartu kreditku, jadi pesan tagihannya masuk ke nomorku. Aku langsung tau keberadaanmu."


"Ah ..." Brianna menepuk jidatnya sekilas, lalu sadar jika Caitlyn masih disana dan menonton mereka.


"Arthur apa kabar?" tanya Caitlyn ramah pada pria disamping Brianna, dia mencoba mengabaikan wanita yang dulu menjadi bahan bully-annya. Dia juga mencoba tak mengindahkan panggilan sayang yang jelas-jelas Arthur berikan pada Brianna.


"Kau siapa?" tanya Arthur berlagak tak mengenal gadis itu.


"Aku Caitlyn. Kau tak mengingatku?" Wajah pias Caitlyn membuat Arthur puas.


Caitlyn menyadari jika pesona Arthur tidak berubah, justru sekarang pria itu semakin tampan dan berkarisma saja.


"Aku tidak mengingatmu, Sorry." Arthur kembali menatap Brianna. "Apa kau mengenalnya, sayang?" tanyanya pada wanita itu.


Brianna menggeleng dan Arthur langsung abai pada Caitlyn.


"Kalian boleh saja berlagak tak mengenalku, tapi apa hubungan kalian berdua, hah?" tanya Caitlyn yang sejak tadi penasaran. "Apa kalian berpacaran?" Dia berarti salah kaprah menyangka Brianna menjual diri dengan pria tua, nyatanya pasangan wanita itu justru seorang Arthur Mattews.


"Dia istriku," jawab Arthur dengan pongahnya. Dia memeluk pinggang Brianna secara posesif dan itu membuat Caitlyn menganga tak percaya.


"Tidak mungkin!" desis gadis itu.


Brianna menyunggingkan senyum, entah kenapa dia merasa dendamnya pada Caitlyn terbalas hanya dengan hal ini. Melihat wajah kalah yang dipasang gadis itu membuat dirinya serasa menang dan lebih unggul daripadanya.


"Ayo, kita harus makan karena aku tidak boleh telat makan." Arthur menarik Brianna agar segera pergi meninggalkan Caitlyn disana.


...to be continue ... ...

__ADS_1


__ADS_2