
Jane mendengar penjelasan Arthur yang kebingungan untuk memberi pengertian pada Chico. Arthur menyadari jika ada kalanya bocah itu menangkap maksud dengan sangat cepat, tapi terkadang Chico juga sangat polos untuk diberi pengertian yang kompleks, salah satunya seperti mengenai sosok ayah bagi Chico.
"Chico sudah terlanjur menganggap Zach adalah ayahnya, jadi sebenarnya selama ini dia tidak pernah berpikir bahwa dia tidak memiliki ayah." Arthur mengemukakan kesimpulan yang dia ambil dari jawaban polos Chico.
Brianna terlihat memijat pelipisnya. Sementara Jane yang juga mendengar keluhan Arthur turut memikirkan bagaimana cara yang tepat agar bocah itu memahami situasinya.
"Mom rasa, sebenarnya ini bagus. Chico tidak pernah berpikir jika dia ditinggalkan oleh Ayah kandungnya. Dia selalu merasa bahwa dia memiliki Ayah yaitu Zach. Ini semua tidak sulit, artinya Chico tidak pernah membenci siapa ayah kandungnya. Bahkan mungkin dia juga tak paham apa itu ayah kandung atau bukan," kata Jane memaparkan.
"Jadi menurut mom bagaimana?" Tanya Arthur lagi.
"Tidak ada halangan lagi untuk kalian menikah⦠Chico akan menerimamu seiring waktu, kelak saat dia besar dia takkan berpikir bahwa dia pernah kehilangan sosok ayah sebab kau sudah masuk di waktu yang tepat dan tidak terlalu terlambat, akan berbeda jika kau datang ke hidupnya disaat dia sudah bisa membaca situasi dan keadaan. Mungkin dia akan membencimu karena menganggapmu pernah menelantarkannya," jelas Jane kemudian.
"Bagaimana menurutmu, Sayang?" Arthur melempar tatapan pada Brianna yang diam sejak tadi. Tampaknya wanita itu sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Kalau menurut Mom begitu, aku menurut saja," jawab Brianna dengan tutur lembutnya.
Arthur semringah mendengar jawaban istrinya, dengan begini berarti mereka dapat menikah secara agama dan mempublikasikannya. Rasa-rasanya Arthur sudah tidak sabar dengan hal ini.
"Tapi β¦" Tiba-tiba Brianna berudara kembali, wajahnya tampak sungkan untuk mengutarakan hal apa lagi yang dia pikirkan
"Kenapa?" Kali ini Arthur menghampiri posisi Brianna dan duduk disisinya. "Kau masih memikirkan Zach?" tebaknya.
Dan Brianna mengangguk. "Bagaimanapun dia belum merestui kita," ujarnya.
Arthur menarik nafas dalam, tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata mantap.
"Aku tau apa yang harus ku lakukan untuk meyakinkannya, aku akan menemuinya lagi secepatnya."
"Bagaimana caramu meyakinkannya?" Brianna menatap Arthur lekat, dia tak mau pria itu mengambil langkah yang salah sebab dia tau Zach sangat sulit memaafkan kesalahan yang sudah Arthur perbuat.
__ADS_1
"Kau tenang saja, tidak usah terlalu dipikirkan. Biar ini menjadi urusanku dengan Zach."
"Kau selalu begitu," sungut Brianna.
"Arthur benar, Bri. Biarkan dia menyelesaikannya dengan Zach sebagai sesama pria dewasa," tanggap Jane menimpali.
"Berikan aku nomor ponsel Zach, aku akan membuat janji temu dengannya lagi agar masalah ini bisa selesai dengan cepat." Arthur menyerahkan ponselnya pada Brianna yang diterima Brianna dengan wajah melongo sebab pria itu menjadikan fotonya dan Chico menjadi wallpaper ponsel.
"Ayo!" kata Arthur menyadarkan Brianna dari rasa terpana akibat hal kecil yang manis tersebut.
"Yah." Brianna mengetik nomor Zach di ponsel Arthur lalu menyerahkan kembali benda pipih itu kepada pemiliknya.
"Doakan semuanya akan baik-baik saja," ujar Arthur kemudian sambil menyengir.
Brianna menggeleng samar. "Aku tidak yakin," ujarnya jujur.
Keadaan ini yang membuat Arthur sulit untuk melakukan sesuatu pada Zach, padahal jika dilihat dari kacamata liciknya, Zach mungkin bukanlah tandingannya. Tapi kembali lagi pada keadaan, Arthur tak mungkin berbuat sesuatu hal diluar nalar pada pria yang adalah adik dari istrinya.
...***...
Membuat janji pada Zach, tidak semudah yang Arthur bayangkan. Padahal, Arthur merasa waktunya lah yang amat berharga untuk dihabiskan bersama Zach, tapi Zach seolah mempermainkannya dan membuat semuanya menjadi tidak gampang. Zach mengulur-ulur waktu, mengatakan belum ada jadwal kosong untuk bertemu. Zach juga mengatakan dia sangat sibuk.
Hal itu tentu saja membuat Arthur kesal. Tapi dia tau jika Zach tengah mengerjainya. Mungkin ini konsekuensinya atas segala perbuatannya terhadap Brianna.
"Astaga, apa dia sesibuk itu? Bukankah seharusnya aku lebih sibuk darinya?" Arthur merutuk Zach yang lagi-lagi menolak pertemuan dengannya.
Meski kini Arthur tau jika Brianna telah menjadi miliknya, tapi dia juga menginginkan wanita itu sepenuhnya. Jadi, dia akan berusaha memaklumi, Zach berbuat begini padanya untuk menyadarkannya bahwa mendapatkan Brianna tidaklah semudah itu.
"Jika Zach terus mengulur waktu, maka pernikahanku dengan Brianna selamanya tidak akan tercatat di gereja. Dia ini benar-benar β¦" Arthur mendengkus. Menghembuskan nafas dengan kasar kemudian.
__ADS_1
Tidak tahukah Zach bahwa dia sudah sangat ingin tinggal bersama anak dan istrinya? Semakin lama Zach menunda pertemuan mereka, juga menggantung masalah ini, maka selama itu pula Arthur harus rela hidup terpisah dengan Brianna dan Chico, sebab Brianna tak mau tinggal seatap selama pernikahan mereka belum diresmikan dengan sakramen keagamaan.
"Aku pikir masalah terberat adalah menaklukan Brianna, kemudian memberi pengertian pada Chico. Ternyata meyakinkan Zach jauh lebih sulit daripada mendapatkan hati anak dan istriku," gumam Arthur.
Tampaknya Arthur sudah tak bisa menunggu lagi, sampai akhirnya dia tiba pada sebuah keputusan. Mendatangi Zach tanpa meminta persetujuannya.
Pukul 4 sore waktu setempat, Arthur tiba di gedung perkantoran tempat Zach bekerja. Adik iparnya itu ternyata bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan alat-alat berat, seperti mesin katrol, tower dan sebagainya.
Arthur langsung meminta seseorang memanggilkan Zach, namun karena jam kerja mereka belum berakhir membuat Zach tidak langsung bisa menemuinya. Atau ini hanya akal-akalan Zach lagi untuk menghindari pertemuan dengannya?
Arthur akhirnya memiliki ide untuk menemui Zach. Tentu saja lewat jalur orang dalam.
"Jika ingin menemuimu aku harus keluar modal, maka akan mu lakukan," batin Arthur.
Karena keinginan Arthur untuk bertemu Zach tak direspon, akhirnya dia ingin menemui petinggi perusahaan itu mengatasnamakan perusahaannya.
Didunia ini, apa yang tidak bisa dilakukan dengan uang dan kekuasaan? Bahkan Arthur bisa menanam saham disini beberapa persen untuk mengikat Zach padanya, hanya karena tempat ini adalah tempat Zach mencari uang. Dengan begitu, Zach akan menghargainya sebagai salah satu bagian dari investor dan tidak memandangnya sebelah mata lagi, karena tuntutan di tempat kerjanya pasti harus menghargai jajaran para penanam saham. Begitu, kan?
Hari itu, akhirnya Arthur kembali tidak dapat menemui Zach, yang ada dia malah melakukan pertemuan dengan direksi perusahaan tempat Zach bekerja, lalu menandatangani perjanjian laba.
Arthur tak merasa rugi sama sekali. Ini juga akan menguntungkannya jika usaha di perusahaan tersebut terus berkembang. Terutama tujuan utamanya untuk menemui Zach akan segera terealisasikan.
Sebenarnya Arthur bisa saja mendatangi tempat tinggal Zach untuk menemuinya, tapi Arthur pikir cara itu akan kembali dibuat tak mudah oleh adik iparnya tersebut. Jika sudah menyangkut tempat mata pencariannya, pasti Zach takkan bisa mengelak dan berkelit lagi dari pertemuan yang sudah Arthur rencanakan.
"Setelah ini, kita lihat sampai dimana kau bisa menghindariku, Zach. Kau tidak mungkin keluar dari pekerjaanmu hanya karena aku menjadi salah satu investor disana sekarang!" kata Arthur pada dirinya sendiri.
...To be continue β¦...
Kenapa ya dukungan utk novel ini makin berkurang? Padahal othor up setiap hari tapi vote dan hadiahnya gak nambah2. segitu terus. ππππ
__ADS_1