FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
48. Pisah Kamar


__ADS_3

Sebenarnya pekerjaan Arthur di Milan akan beres hari ini. Tapi dia masih mau memanfaatkan kebersamaannya dengan Brianna selama berada di kota tersebut.


Arthur sudah menyusun rencana untuk kedepannya, dia akan menjelaskan pada Jane terkait hubungannya dan Brianna lebih dulu, meski dia juga yakin Jane sudah menyelidiki ini sejak dia memberitahukan soal pernikahannya dengan Brianna.


Setelah urusannya dengan Jane selesai, barulah dia akan menemui Chico. Jadi, Arthur juga memberi Brianna waktu untuk menjelaskan pada Chico mengenai sekilas tentang dirinya agar nanti Chico siap untuk bertemu dengannya.


"Jika ternyata ibumu tidak menerima pernikahan kita, ada baiknya kita berpisah saja, Arthur." Itulah kalimat Brianna yang membuat Arthur urung-uringan seharian ini. Ternyata segala pernyataannya, juga kejujurannya terkait perasaannya terhadap wanita itu, tidak mampu membuat Brianna mau mempertahankan pernikahan mereka.


Jujur, Arthur cukup sakit dengan hal ini tapi sebisa mungkin dia berusaha memaklumi penolakan Brianna terhadapnya. Bagaimanapun, Brianna melakukan ini karena masih memasang pembatas diantara mereka. Brianna belum mau membuka hati untuknya, itulah kenyataannya.


"Jika ibuku tidak menyukai pernikahan kita maka aku tetap akan meneruskan semua yang sudah ku pilih," kata Arthur tetap pada pendiriannya.


...****...


Saat ini, Brianna sedang pergi keluar dari kamar hotel mereka. Wanita itu mengatakan ada yang ingin dibelinya di supermarket. Awalnya, Arthur ingin ikut tapi Brianna melarangnya. Arthur juga bertanya apa yang ingin Brianna beli dan menawarkan untuk meminta bantuan orangnya saja untuk membeli kebutuhan Brianna, tapi wanita itu tetap menolak.


"Kenapa lama sekali?" sambut Arthur ketika Brianna baru memasuki kamar hotel kembali.


Brianna terkejut mendapati Arthur yang tampak gelisah menunggunya. "Aku hanya pergi 20 menit. Kenapa kau berlebihan sekali?" tanyanya heran.


"Aku takut kau tidak kembali. Aku tidak mau kau meninggalkanku."


Brianna memutar bola matanya, meski dia tau Arthur serius saat mengatakan kalimat itu, tapi ujaran Arthur terdengar berlebihan bagi seorang Brianna yang terbiasa melihat pria itu bersikap cuek dan acuh tak acuh terhadapnya. Brianna tau keadaan dan segalanya telah berubah sekarang, termasuk status mereka sehingga dia mencoba memaklumi segala sikap Arthur sekarang.


"Memangnya apa yang kau beli?" tanya Arthur yang kini malah mengikuti


Brianna ke arah yang wanita itu tuju. Brianna berhenti tepat didepan kabinet dimana barang-barangnya berada. "Aku beli pem-balut!" ketusnya.


Sekarang Arthur tau kenapa Brianna tak mau diwakilkan untuk membeli benda itu, juga tak mau Arthur mengikutinya hanya untuk membeli keperluannya tersebut.


"Kau sedang datang bulan?" tanya Arthur dengan raut aneh.


"Memangnya kenapa?" Brianna balik bertanya.


"Tak apa, padahal aku mau meminta hak-ku lagi hari ini." Arthur cengengesan, membuat Brianna bersungut-sungut.


"Hak? Hak apa?" Brianna yang tau kemana arah perkataan Arthur, berlagak tak memahami ujaran pria itu.


"Hak suami terhadap istrinya." Arthur memeluk pinggang Brianna dari belakang lalu menciumi tengkuk wanita itu.


Brianna berjengit kaget. "Apa-apaan," ujarnya menjauhkan wajah Arthur darinya. "Jangan lakukan itu. Aku sedang kedatangan bulan," sambungnya tak acuh.


Arthur menyeringai. "Kalau begitu, selepas periode itu. Boleh ya?" tanyanya dengan memasang puppy eyes yang tampak mengiba.


Brianna menghela nafas kasar. Kalau dipikir-pikir percakapannya dengan Arthur sekarang menunjukkan jika mereka benar-benar seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya. Padahal kan, tidak begitu kenyataannya.


"Boleh? Ya? Ya? Ya?" desak Arthur yang ingin mendengar jawaban Brianna.

__ADS_1


"Tidak, sampai aku mendengar pendapat ibumu terkait pernikahan kita."


Arthur menekuk wajah. "Ibu pasti akan merestui, apalagi ada Chico diantara kita, Sayang ..." bujuknya.


Brianna geleng-geleng kepala. "Cara bicaramu padaku sudah seperti pasangan yang sebenarnya saja," cibirnya.


Arthur terkesiap. "Kita memang pasangan yang sebenarnya, kan?" ujarnya.


Brianna mengendikkan bahu sebagai respon atas pernyataan Arthur.


"Kau akan menerimaku, teruslah bersikap seperti ini padaku, dan aku akan membuktikan jika aku mampu meluluhkanmu suatu saat nanti." Arthur menatap Brianna sembari menyelipkan anak rambut wanita itu ke belakang telinga.


"Beri aku waktu. Aku sudah mengatakannya, bukan?" Brianna menghindar dari Arthur. Dia belum bisa menerima Arthur begitu saja.


"Brianna ..."


Wanita itu menoleh. "Apa lagi?" tanyanya.


"Kau mau kemana?" Arthur panik melihat Brianna menjinjing barang-barang yang sebagian masih berada dalam paperbag.


"Aku lupa, tadi aku juga memesan kamar lain untuk ku tempati."


Arthur tertegun dengan ujaran Brianna. Apa itu artinya wanita itu akan menempati kamar yang berbeda dengannya?


"Lagipula aku sedang datang bulan, Arthur. Lebih baik kita pisah kamar saja."


"Bri!" Arthur mencekal pergelangan tangan wanita itu. "Kenapa kau mengatakan itu? Aku ingin kau disini bukan semata-mata sebagai partner s-e-k-s. Aku mau kau tetap bersamaku dalam keadaan apapun," tekan pria itu.


"Anggap ini sebagai latihan. Jika saja nanti aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu. Lagipula, aku butuh waktu sendiri untuk mempertimbangkan perasaanku terhadapmu. Juga dari kemungkinan-kemungkinan lain, misalnya tidak direstui oleh ibumu."


Brianna melepas tangan Arthur yang menggenggam pergelangannya, setelah itu Brianna segera berderap keluar dari kamar yang tiga malam ini sudah dia tempati bersama dengan Arthur selama di Milan.


Arthur menatap nanar pada Brianna.


Dia tau jelas jika semuanya takkan mudah. Tapi kembali mendapat penolakan oleh wanita itu membuatnya amat frustrasi.


"Tenang, Arthur ... dia memang butuh waktu sendiri untuk merenungkan semuanya, terutama mengenai hubungan kalian." Begitulah pemikiran Arthur yang berusaha tenang melihat kepergian Brianna ke kamar yang lain.


Arthur baru sadar bahwa dia tak sempat menanyakan di kamar mana wanita itu akan menginap. Seharusnya dia tau, jadi dia bisa melihat keadaan Brianna sesekali.


Arthur bergerak beberapa saat kemudian, namun sayang Brianna sudah tak terlihat di koridor kamar yang ditempatinya, wanita itu telah pergi entah menuju kamar yang mana.


Arthur kembali masuk ke kamarnya. Dia menelpon resepsionis hotel dan menanyakan kamar atas nama Brianna Walton. Namun sayang pihak hotel malah tidak mendapat pesanan atas nama itu.


Arthur kesal sekali. Dia pikir Brianna pasti memesan kamar di hotel lain. Dia segera menghubungi nomor pribadi wanita itu.


"Kau dimana, Bri?" tanya Arthur datar, dia berusaha menahan amarahnya sekarang mengingat tindakan yang Brianna lakukan dengan coba-coba memesan kamar di hotel yang berbeda darinya.

__ADS_1


"Aku baru memasuki kamarku."


"Kau memesan di hotel yang berbeda?"


Brianna tak langsung menjawab, sampai kesabaran Arthur seakan terkikis karena sikap wanita itu.


"Aku memesan kamar di hotel yang sama."


"Bohong!"


"Sudahlah. Apa itu penting?"


"Tentu saja. Kau istriku dan layak bagiku untuk tau keberadaanmu. Aku selalu khawatir jika kau jauh dariku, Brianna." Arthur ingin Brianna memahami perasaannya saat ini, dimana Brianna lebih memilih menjauhi Arthur setelah semua ungkapan yang Arthur utarakan pada wanita itu. Dia seperti pria yang amat menyedihkan.


"Sudah ku katakan aku memesan kamar di hotel yang sama denganmu, Arthur. Sudahlah, jangan membahasnya lagi." Brianna hampir menutup panggilan itu saat Arthur justru berkata hal yang diluar prediksinya.


"Aku sudah menanyakan kamar yang dipesan atas namamu tapi tidak ada data hotel yang mengatakan bahwa kau menginap di hotel yang sama denganku. Jangan membohongi, Brianna. Jangan menghindar terlalu jauh dariku. Setidaknya, biarkan aku tetap melihatmu dalam masa-masa kau berpikir untuk hubungan kita kedepannya," mohon Arthur.


"Sorry, aku memakai kartu kreditmu untuk memesan kamar, jadi ... mereka menggunakan nama Mrs. Mattews sebagai identitasku sebagai pemesan kamar," akui Brianna diseberang sana.


Mendengar itu, kemarahan Arthur mendadak meluap. Dia melupakan bahwa nama belakang Brianna memang harus berganti setelah menikah dengannya. Pantas saja tidak ada nama lahir Brianna di data hotel.


Arthur menarik nafasnya dalam-dalam untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak berdetak cepat bahkan seperti meloncat-loncat didalam rongga tubuhnya. Dia senang Brianna mau menggunakan nama belakangnya sekarang.


"Baiklah. Daripada aku menanyakan pada pihak hotel lagi, bagaimana jika kau saja yang mengatakan nomor hotelmu."


"Dan kau akan datang menggangguku?" tebak Brianna. "Jika begitu, sia-sia aku memesan kamar lain untuk memikirkan tentang kita," ungkapnya.


Arthur melengkungkan kedua sudut bibirnya ketika mendengar Brianna menyebut pasal 'tentang kita', hatinya mendadak menghangat.


"Aku hanya ingin tau. Tidak akan mengunjungimu, tapi jika kau tidak keberatan aku akan senang kalau kau benar-benar memberitahuku."


"Jangan mencoba menggangguku, ini bahkan belum sehari setelah kepergianku dari kamarmu," ujar Brianna malas.


"Bagaimana kalau kita menjalani hubungan selayaknya orang pacaran? Jadi kau tidak akan merasa terganggu dengan kedatanganku." Tiba-tiba Arthur mendapatkan ide mendadak.


"Maksudmu?"


"Aku akan menjemputmu saat aku merindukanmu. Kita pergi bersama. Berkencan dan bersenang-senang. Jangan bebankan dirimu dengan status kita yang sudah menikah. Anggap ini penjajakan untuk kita berdua. Bagaimana?"


"Dan kalau aku tidak cocok denganmu maka kita bisa putus?" kelakar Brianna dari panggilan itu.


"Come on, Bri. Jangan menyiksaku."


Brianna tertawa lepas disana dan Arthur mendengarkannya dengan senang hati.


"Baiklah. Kita bisa melakukannya. Tapi, jika kita tidak cocok kita bisa memutuskan hubungan itu, kan? Namanya juga pacaran," cibir Brianna.

__ADS_1


"Ya, hubungan pacarannya bisa putus, tapi pernikahan kita tetap akan berlanjut." Arthur dengan kekeras-kepalaan-nya.


...To be continue ......


__ADS_2