
Keesokan paginya, Brianna terbangun disamping Arthur lagi. Dia takut menjadi terbiasa dengan sosok itu. Alhasil, dia memikirkan ulang bagaimana hubungan ini kedepannya? Apa benar dia akan membuka hati untuk pria ini?
Brianna seolah bertanya pada dirinya sendiri mengenai apa rencananya berikutnya, terutama bersama Arthur.
"Haruskah aku memberimu kesempatan?" batin Brianna menatap pada Arthur yang masih terlelap disisinya.
"Jujur, aku takut dan tidak siap jika harus patah hati. Aku selalu menghindari hubungan yang melibatkan hatiku, jadi maafkan aku jika tidak bisa langsung menerimamu begitu saja."
Brianna tau, semakin sering dia bersama Arthur, juga semakin intens keseharian mereka, maka kemungkinan untuk memiliki perasaan lebih terhadap pria itu menjadi lebih besar.
Tentu Brianna menyadari hal itu. Maka sebisa mungkin dia tidak ingin memakai hati dalam kebersamaan mereka. Dia harus lebih menguatkan perasaan agar tidak goyah. Meski kini dia tak sebenci dulu pada Arthur, tapi untuk langsung menyukai pria itu pun tidak dapat dia lakukan, terlebih ada luka yang cukup besar yang pernah dibuat Arthur dalam kehidupannya.
"Bri ..." sapa Arthur dengan suara khas bangun tidurnya, pria itu terlihat menggeliat sesaat, sebelum akhirnya menatap Brianna dengan sorot lembut.
"Ya?" sahut Brianna yang menyudahi sesi berpikirnya mengenai hubungan mereka.
"Hari ini aku libur untuk mengurus pekerjaan."
"Kenapa?" tanya Brianna.
"Apa kau lupa jika aku sakit?" ujar Arthur balik bertanya.
Brianna menggeleng. "Aku ingat. Kau mau sarapan? Biar aku pesan layanan kamar untukmu agar kau tidak terlambat makan," tuturnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Brianna, Arthur justru mengalihkan pembicaraan mereka dengan perkataan lain.
"Kau mau kemana hari ini? Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?"
Brianna menatap Arthur tak percaya. "Bukannya kau bilang jika kau sedang sakit dan tidak mengurus pekerjaan karena alasan itu? Lalu kenapa sekarang justru mengajakku jalan-jalan?"
"Ya, mungkin dengan begitu penyakitku akan sembuh. Pengobatanku agar sembuh bukan hanya diam didalam kamar, atau tetap ditempat tidur, aku butuh hiburan dan mungkin dengan jalan-jalan aku bisa segera pulih seperti sedia kala."
"Uhm, yah ..." Brianna menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu," ujarnya pasrah.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap. Mandi, sarapan, lalu kita keliling kota Milan. Kau mau?" Arthur tampak bersemangat sekali. Brianna seperti menemukan sosok yang berbeda dari seorang Arthur Mattews.
"Okay. Aku mandi sekarang," kata Brianna menurut.
Arthur senang Brianna tak menaruh protes, bersamaan dengan wanita itu yang menghilang di balik pintu kamar mandi, dia menyunginggkan senyum semringah sembari meraih tablephone untuk menghubungi layanan kamar yang bisa mengantarkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
Saat Brianna mengeringkan rambutnya, Arthur juga sudah selesai dengan kegiatan mandinya.
__ADS_1
"Mari ku bantu, agar kita lebih cepat selesai."
Arthur terang-terangan memperhatikan Brianna dan menunjukkan kepeduliannya tanpa menutupi sikap itu.
"Aku bisa sendiri," jawab Brianna yang masih menutup diri. Dia tak mungkin menerima segala kebaikan Arthur begitu saja, itu tetap terasa janggal baginya.
Arthur mengambil hairdryer dari tangan Brianna, membuat wanita itu tak bisa berkata-kata. Secara perlahan Arthur mengelus rambut Brianna dan mengarahkan pengering rambut itu ke setiap bagian-bagiannya.
Brianna tampak terpana beberapa saat, dia sulit menolak sikap Arthur lagi kali ini hingga akhirnya dia pasrah ketika lagi-lagi pria itu berlaku manis padanya.
"Beri aku kesempatan, jika kau terus membentengi dirimu bagaimana aku bisa memasuki hatimu, Bri ..." bisik Arthur dibelakang Brianna, membuat tubuh wanita itu menegangg karenanya.
Selesai dengan kegiatan itu, Arthur melanjutkan dengan menyisir rambut Brianna dan sekali lagi Brianna tak mampu menolaknya.
Arthur tau jelas bahwa sekat yang dipasang Brianna masih terpasang diantara mereka. Untuk itulah dia akan berusaha merobohkannya, kalau perlu melompatinya agar bisa melewati tembok tersebut.
"Setinggi apapun kau membangun pembatas untuk kita berdua, maka setinggi itu juga usahaku untuk menembusnya, kalau perlu aku akan memakai pesawat untuk melewati perbatasan yang kau buat," kelakar Arthur didepan wajah Brianna yang langsung bersemu.
Arthur mengajak Brianna sarapan, kemudian menikmati makanan itu bersama-sama.
"Kau dengar kata dokter semalam kan?"
"Yang mana?" tanya Brianna.
Brianna mengangguk. "Lalu?" tanyanya.
"Mulai sekarang bisakah kau memperhatikan pola makanku? Mengingatkanku untuk makan tepat waktu?" Arthur menggunakan alasan ini agar Brianna selalu menanyakan kabarnya.
"Baiklah. Aku akan melakukannya." Brianna pikir tak ada salahnya dengan permintaan Arthur, lagipula itu bisa dia lakukan sebagai tugas seorang asisten pribadi dari pria itu.
"Thank." Arthur menatap Brianna dengan tatapan bahagia.
Brianna menerima panggilan telepon dari Flo beberapa saat kemudian.
Saat dia menyahut ponselnya, ternyata itu bukanlah Flo melainkan Zach.
"Ada apa, Flo?"
"Aku mendengar jika kemarin Arthur yang menerima panggilan dari Chico."
Brianna tau Zach khawatir mengenai hal ini.
__ADS_1
"Uhm, yah. Aku sedang di toilet," jawab Brianna jujur.
"Kau tidak sedang menjalin hubungan yang lebih dari atasan dan bawahan dengannya, kan?" tebak Zach disebarang sana.
"Apa-apaan. Tentu saja tidak."
"Syukurlah. Dengar, Bri ... aku tau apapun yang kau jalani bukanlah urusanku. Tapi kau harus ingat, apapun yang menyangkut soal Chico, aku akan turut ikut campur karena dia juga putraku," tegas Zach.
Brianna terdiam. Dia tidak tau harus berkata apa. Belum lagi soal pernikahan dadakannya dengan Arthur. Bagaimana caranya dia menceritakan pada adiknya mengenai hal itu?
"Uhm, Zach ... aku ada pekerjaan," hindar Brianna.
"Baiklah. Lain kali kita akan bicara lagi. Aku tau kau menghindar dariku!"
Brianna mengesah panjang. Dia tak begitu heran dengan tebakan Zach yang tepat sasaran sebab pria itu bukan mengenalnya setahun-dua tahun.
"Siapa?" tanya Arthur ketika panggilan itu terhenti. Dia menatap Brianna dengan sorot ingin tau sebab dia mendengar jika percakapan tadi begitu serius, itu terlihat dari jawaban Brianna yang kaku.
"Zach." Brianna menjawab lirih. Matanya tampak berkaca-kaca, jelas dia bingung harus bagaimana sekarang. Zach benar apapun urusannya dengan Arthur itu adalah masalah pribadinya, tapi mengenai Chico, jelas Zach akan ikut campur sebab adiknya telah ikut merawat Chico sejak Chico didalam kandungan. Dalam arti lain, Zach yang berperan menggantikan sosok siaga untuk semua keinginan Brianna yang waktu itu masih mengandung sampai melahirkan, bahkan sampai saat ini.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tebak Arthur melihat dari air wajah Brianna yang tampak sendu.
"Dia pasti akan marah, Arthur. Aku bingung harus menjelaskan padanya darimana. Terutama soal hubungan kita."
"Jangan terlalu memikirkannya, biar aku yang menjelaskan pada Zach."
Brianna langsung panik. "Tidak." dia menggelengkan kepalanya. "Zach akan menghajarmu."
"Aku akan menerimanya," jawab Arthur gentle dan lapang dada. "Aku memang layak mendapatkan semua kemarahannya, bahkan sejak dulu seharusnya dia sudah menghajarku," sambungnya pasrah.
"Jangan, Arthur. Jangan dulu bicara apapun pada Zach, setidaknya sampai aku siap mengakui semuanya."
"Maka dari itu, buka hatimu untukku... aku yakin jika kau mencintaiku maka Zach akan melepaskanku."
Brianna tertawa hambar namun dengan wajah yang masih sama sendunya seperti tadi. "Benarkah? Itu mustahil."
"Ya, dia pasti memikirkan kebahagiaanmu juga. Jika kau mencintaiku, dia takkan memiliki pilihan lain selain membiarkanmu bersama pria yang kau cintai."
Brianna menatap Arthur lama. Dia bingung harus bagaimana sekarang. Satu sisi dia takut menjatuhkan hati pada pria itu. Dia belum dapat mempercayai Arthur sepenuhnya . Bagaimana jika semua ini hanyalah akal-akalan Arthur saja untuk kembali mengerjainya?
Tapi disisi lain, Brianna juga memikirkan saran Arthur yang masuk akal. Zach tak mungkin menghalangi jika Arthur adalah pria pilihan Brianna.
__ADS_1
...To be continue ......