FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
54. To the point


__ADS_3

Arthur dan Jane kembali ke ruang perawatan dimana Chico berada.


Saat mereka masuk, bocah itu sedang makan dan disuapi oleh Brianna.


Brianna menunduk hormat pada Jane, tapi tak dipungkiri jika suasana disana terasa canggung hanya karena status wanita itu yang dulu adalah atasannya, kini harus tiba-tiba berubah menjadi mertuanya hanya dalam waktu singkat.


Sebenarnya Brianna juga sungkan, dalam artian lain yaitu dia tak pernah meminta restu pada Jane secara langsung. Tapi, bagaimana dia hendak meminta restu lebih dulu pada ibu dari Arthur itu, jika dia saja tidak pernah diberi kesempatan untuk menolak pernikahannya. Brianna juga tidak menyangka kalau Arthur benar-benar akan menikahinya dengan nekat seperti yang sudah terlanjur terjadi.


"Grandma, apa kau sudah makan?" cicit Chico pada Jane. Setidaknya, suara bocah itu mampu mencairkan suasana yang terasa membeku diantara mereka semua.


"Grandma akan makan setelah pulang dari menjengukmu, Sayang." Jane melempar senyuman pada Chico yang menikmati makanannya.


"Kata Momma, aku tidak boleh telat makan. Grandma juga ya."


"Pasti. Grandma akan selalu mengingat pesanmu, Sayang."


Chico mengacungkan jempol pada Jane yang masih mengulas senyum hangat kepadanya.


"Sudah, Mom. Aku sudah sangat kenyang," tolak Chico pada Brianna yang kembali ingin menyuapinya makanan.


"Sedikit lagi, ayo habiskan," kata Brianna.


Chico menutup mulutnya rapat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudahlah, jangan memaksanya. Yang terpenting dia sudah makan cukup banyak," celetuk Arthur tiba-tiba.


Brianna lantas menoleh pada pria itu disana. Dia merasa raut wajah Arthur tampak berbeda sejak kembali masuk ke ruang perawatan sang anak. Tadinya Brianna ingin menepis hal itu, tapi sekarang dia mendengar ujaran Arthur yang terkesan kaku padanya.


Bukankah selama beberapa hari ini pria itu tampak manis? Kenapa sekarang dia kembali berubah dingin? Apa yang terjadi?


Jane pamit pada Chico dan Brianna setelah menceritakan satu kisah lucu pada bocah itu. Brianna berniat mengantarkan Jane sampai ke depan ruangan, tapi Jane menolaknya dengan halus.

__ADS_1


"Tidak usah mengantarku, Chico lebih membutuhkanmu disini. Aku sangat berharap agar dia cepat sembuh dan suatu saat bisa menghabiskan waktu yang lama bersamaku."


Brianna menipiskan bibir saat Jane mengelus pundaknya pelan.


Setelah Jane benar-benar pergi, otomatis disana tinggal Brianna dan Arthur yang kembali menjaga Chico sebab Flo juga sudah pulang setelah mengantarkan segala keperluan mereka di Rumah Sakit.


"Aku ingin bicara padamu, tapi tidak disini."


Brianna menatap Arthur, dia pikir dia juga perlu bicara dengan pria itu.


"Ya, tunggulah sampai Chico tertidur. Kita bicara diluar ruangannya," jawab Brianna.


Arthur mengangguk. Dia menatap Chico lamat-lamat. Bocah itu seperti memberi energi tersendiri baginya untuk tetap mempertahankan keutuhan keluarga mereka yang sebenarnya baru saja ingin dibina.


"Paman, bisa bacakan cerita juga untukku?" pinta Chico.


Arthur mengangguk menyanggupi. Meski dia tak pandai bercerita apalagi mendongeng, tapi dia berusaha menjadi ayah yang baik untuk Chico walaupun anak itu juga belum mengetahui bahwa dia adalah ayahnya. Setidaknya, Arthur harus mulai mendekatkan diri dengan Chico agar Chico memiliki ikatan batin yang kuat dengannya.


Brianna tau ada yang menelusup dihatinya melihat kebersamaan Arthur dan Chico. Dia merasa bahwa pria itu memang sosok yang paling tepat untuk menempati posisi sebagai Ayah dari Chico. Terlepas dari problem pribadi diantara mereka, tapi Brianna mengakui jika Arthur menjalankan perannya dengan baik dengan meladeni setiap permintaan Chico dengan sabar.


Chico tertidur 20 menit kemudian, disanalah Arthur memberi kode pada Brianna untuk segera pergi keluar dari ruangan. Mereka menitipkan Chico dibawah pengawasan perawat yang bisa menjaga sang putra didalam ruangan tersebut.


Arthur membiarkan Brianna berjalan lebih dulu didepannya. Dia pikir dia akan kembali ke cafetaria untuk membahas tentang mereka berdua, nyatanya Brianna membawanya duduk di sebuah taman Rumah Sakit.


"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Brianna to the point. Hati kecilnya mengatakan ada yang tidak baik, tapi entah apa.


"Mari kita saling jujur, aku mau mendengar pengakuanmu setelah kebersamaan kita yang singkat di Milan."


"Maksudmu?" Brianna tak mengerti ke arah mana pembicaraan ini.


"Dengar, Brianna. Aku tidak suka berbasa-basi. Daripada aku lelah mencari dan menyelidiki tindak-tandukmu, ada baiknya kau langsung jujur saja padaku, mengenai apa yang kau rasakan terhadapku."

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak paham apa yang kau maksud, Arthur." Brianna menyorot Arthur dengan tatapan bingung.


Arthur menarik nafas dalam. "Kau tau aku menginginkan pernikahan yang serius denganmu. Aku berharap kita bisa membina rumah tangga dengan baik. Membangun chemistry diantara kita, agar Chico tidak tumbuh didalam keluarga toxic yang membuatnya tumbuh menjadi anak broken home."


Ya, tentu Brianna tau dengan niat Arthur itu. Arthur baru mengatakannya padanya kemarin.


"... Aku tau kau tidak bisa mencintaiku dengan cepat, maka dari itu aku tidak mau kau memiliki niat untuk menghancurkan ku dengan cara meninggalkanku, jadi---"


"Tunggu!" sergah Brianna memotong ujaran Arthur. "Jadi kau berpikir aku akan meninggalkanmu, begitu?" tanyanya.


"Siapa yang tau? Kau mungkin ingin membalasku dengan cara seperti itu hanya karena sekarang kau tau mengenai perasaanku padamu yang kini menjadi kelemahanku."


Brianna tersenyum kecut. "Kenapa tiba-tiba kau berpikir seperti ini?" tanyanya.


"Aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Semuanya mungkin terjadi disaat kau kembali mengingat segala perlakuan jahat yang pernah ku lakukan padamu dulu."


Wajah Arthur tampak sangat frustrasi, baru membayangkan pembalasan Brianna padanya saja, sudah membuatnya menjadi lemah.


Sedangkan, Brianna juga mengakui dalam dirinya jika dia memang ingin mencari tau tentang kelemahan Arthur, kan? Dan sekarang dia sudah tau jika kelemahan Arthur adalah dirinya. Lalu, apa dia akan menggunakan kesempatan ini untuk benar-benar menghancurkan pria itu? Sebenarnya Brianna sendiri belum sempat memikirkan hal itu, tapi ternyata Arthur lebih dulu membahas mengenai kemungkinan ini yang justru mengingatkan Brianna akan dendamnya sendiri.


"Ya kau benar." Brianna menganggukkan kepalanya. "Aku pernah berniat menghancurkan mu, juga membalas dendam padamu," tukasnya menohok hati Arthur.


Mendengar itu, Arthur sigap menangkap punggung tangan Brianna dan menggenggamnya.


"Kau boleh melakukan apapun padaku, tapi tidak dengan meninggalkanku, Bri."


Brianna hanya bisa menipiskan bibir atas ujaran Arthur. Dia seakan sadar bahwa Arthur sudah benar-benar bergantung padanya, bukan hanya karena ada Chico diantara mereka. Jadi, perasaan pria itu terhadapnya tidak main-main ya? Tapi Kenapa Brianna masih meragukannya.


...To be continue ......


Mana dukungannya utk novel ini ya? Komen, vote, like? Kok sepi yaa. lanjut atau enggak sih?

__ADS_1


__ADS_2