FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
47. Mengakui perasaan


__ADS_3

Jane yang sedang di New York, sangat terkejut mendengar kabar jika Arthur sudah menikahi Brianna 3 hari yang lalu. Bukan dia tak menyukai Brianna menjadi menantunya, tapi ini sangat diluar prediksinya. Sangat mendadak dan kenapa? Apa alasan Arthur melakukan hal ini dengan begitu cepat?


Dengan inisiatifnya, Jane meminta Cleo sang asisten untuk mengusut hal ini sampai ke akar-akarnya. Meski dia juga akan menuntut penjelasan Arthur jika mereka bertemu secara langsung nanti, tapi dia juga ingin tau awal mula Arthur berhubungan dengan Brianna.


"Aku tidak yakin jika Brianna yang menggoda Arthur. Pasti Arthur lah yang gila karena gadis itu," batin Jane yang mengira jika Brianna masihlah seorang gadis. Dia bisa menebak hal ini sebab dia sangat tau kepribadian Brianna yang pasif. Brianna dimata Jane adalah seorang gadis yang dingin, cuek dan sulit didekati.


"Tapi, bagaimana akhirnya Brianna setuju untuk dinikahi oleh Arthur? Atau ini hanyalah percandaan Arthur saja demi menghindari Serena?" Lagi-lagi Jane masih memikirkan kemungkinan jika ini semua tidak benar.


Satu jam kemudian, Cleo memasuki ruangan Jane dan sudah mengantongi semua hal yang ingin diusut oleh atasannya tersebut.


Jane sangat terkejut mendapati jika Brianna pernah melahirkan. Dia bukan gadis? Dan bagaimana jika Arthur mengetahui hal ini? Brianna memiliki anak diluar pernikahan, apakah Arthur mampu menerima semua itu?


Awalnya Jane ingin marah dengan hal ini. Bukan dia tak terima jika Arthur mendapatkan seorang single mom seperti Brianna tapi dia merasa wanita itu telah menipu mereka semua.


"Anak yang dilahirkan Brianna beberapa tahun lalu kemungkinan adalah anak dari Mr. Mattews," kata Cleo yang mematahkan pemikiran Jane mengenai hidup Brianna.


"Maksudmu?"Jane sontak berdiri dari duduknya, dia ingin mendengar penjelasan Cleo dengan lebih detail lagi.


"Mereka pernah terjebak disebuah hubungan one night stand seusai acara prom night di kampus mereka."


Tunggu, Jane jadi mengingat wajah Chico. Anak yang Brianna katakan sebagai keponakannya. Jadi, benar jika Chico itu adalah cucunya? Begitulah pemikiran Jane. Tanpa perlu melakukan tes DNA atau tes apapun, wajah bocah itu sudah merupakan bukti akurat jika dia salah keturunan keluarga Mattews.


"Chico juga memiliki penyakit jantung turunan seperti yang diderita Wilson," batin Jane merujuk pada Ayah kandung Arthur.


Tidak salah lagi, bocah itu sudah jelas bukan anak Zach. Chico adalah darah daging Arthur.


"Pantas saja wajah Zach tidak mirip dengan anak yang dia akui sebagai putranya." Jane bergumam.


"Ada lagi yang perlu ku cari tau, Mrs?" tanya Cleo kemudian.


"Selidiki apakah Arthur dan Brianna benar-benar sudah menikah 3 hari yang lalu?"


"Yes, Mrs."


"Thank, Cleo."


...****...


Brianna tidak bisa tertidur lagi setelah Arthur menerima telepon dari Jane beberapa saat lalu. Dia sudah beberapa kali memejamkan matanya namun tidak dapat terlelap. Dia memikirkan ucapan Arthur mengenai perasaan pria itu terhadapnya. Apa benar Arthur mencintainya?


"Apa yang kau pikirkan, hmm?" tanya Arthur yang ternyata diam-diam memperhatikan jika wanita itu tidak melanjutkan tidurnya.


"Nothing," jawab Brianna pelan.


"Aku berharap kau terbuka padaku, mengenai apa yang menjadi beban pikiranmu, tapi jika kau belum bisa melakukannya maka aku tidak akan memaksamu," tutur Arthur sembari mengelus rambut Brianna dengan lembut.

__ADS_1


"Uhm, Arthur?" Brianna mendongak agar pandangannya dapat mengarah langsung pada mata kecokelatan milik pria itu.


"Ada apa? Kau sudah mau cerita?" Arthur sudah akan tersenyum semringah namun urung sebab Brianna segera menggeleng.


"Aku tidur di sofa saja, ya." Brianna hendak beringsut, tapi Arthur mencegahnya dengan memeluk pinggang wanita itu.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin pindah ke sofa? Kau tidak nyaman tidur disini?" tanya Arthur merujuk pada ranjang yang mereka tempati.


Brianna ingin mengatakan bahwa dia ingin sendiri dulu demi memikirkan semua ini, tapi bibirnya seolah terkunci tidak sanggup mengatakan hal itu.


Arthur menyelipkan kepalanya di ceruk leher Brianna, lalu dia berbisik lirih.


"Jangan tinggalkan aku, hmm?"


"Arthur, aku hanya akan pindah ke sofa." Brianna mencoba melerai pelukan Arthur, dia juga hendak menjaga jarak dari pria itu tapi tentu itu tidak mudah sebab Arthur tampak bersikeras untuk tetap mempertahankan Brianna disisinya.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Cobalah memberitahuku." Arthur menatap kedua bola mata Brianna bergantian, tatapannya sarat dengan keingintahuan.


"A-aku ... hanya mendengar pernyataanmu pada ibumu, tadi."


"Yang mana? Soal pengakuanku mengenai pernikahan kita?"


Brianna mengangguk.


"Mommy berhak tau, kan? Dia juga akan tau soal Chico."


"Belum. Mom baru tau tadi dan mengenai Chico pasti dia akan mencaritahunya setelah ini," jawab Arthur yakin. Dan itu memang benar diselidiki oleh Jane yang kini telah mengetahui jika Chico adalah cucunya.


"Tapi aku tetap mau tidur di sofa."


"Apa lagi yang ingin kau klarifikasi dariku? Apa soal perasaanku padamu?" tebak Arthur tepat sasaran.


Brianna memang sangat terkejut soal pernyataan rasa pria itu tadi. Apalagi Arthur mengatakan itu pada ibunya. Itu membuat Brianna penasaran tentang keseriusan dari kalimat pria itu.


"Kau hanya tidak mau ibumu banyak bertanya, kan? Maka dari itu kau mengatakan jika---"


"Aku memang mencintaimu, Bri!" potong Arthur jelas, bahkan sangat menekankan kalimat tersebut.


"Itu tidak mungkin," jawab Brianna yang ingin tertawa sumbang saat itu juga, namun belum sempat dia melakukannya Arthur sudah membungkam bibirnya dengan bibir pria itu.


"I love you," ucap Arthur didepan wajah Brianna yang lagi-lagi terkejut karena aksi pria itu.


Brianna seperti membeku ditempat, dia mengerjap-ngerjapkan mata saat Arthur meniup-niup wajahnya.


"Kau terkejut? Seharusnya kau tidak terkejut lagi setelah semua yang terjadi diantara kita," kata Arthur kemudian.

__ADS_1


Brianna masih sulit menyuarakan isi kepalanya terkait pengakuan Arthur barusan.


Akan tetapi, Arthur seakan tau isi kepala wanita itu. Dia menangkup kedua pipi Brianna dengan jari jemarinya.


"Ada banyak cara untuk menunjukkan rasa cinta, Bri. Dan aku adalah pria pengecut yang menggunakan cara menyakitimu, untuk mengikatmu padaku."


Brianna makin sulit berkata-kata sekarang. Apa sebenarnya yang ada dipikiran pria yang selalu dirutuk dan diumpatnya ini?


"Dan sekarang aku menyadari bahwa caraku dulu salah dan terlalu kekanak-kanakan. Maka dari itu, izinkan bila sekarang aku mau menebus semua salahku padamu dengan memberimu kebahagiaan. Aku tidak keberatan jika kau menuntutku untuk terus mengucap kata maaf padamu, setiap hari."


Arthur menyorot Brianna dengan tatapan teduh, membuat sesuatu didalam hati Brianna serasa tersentuh oleh sorot mata pria itu.


"Aku memang menginginkan Chico, tapi aku juga menginginkan ibunya jauh sebelum dia ada. Dan sekarang kalian adalah sebuah paket hadiah yang lengkap dalam hidupku. Jangan menghindariku lagi, Brianna. Kata-kataku malam ini, bisa ku pertanggungjawabkan dengan memuliakanmu setiap harinya."


Brianna merasa matanya memanas, entah kenapa dia ingin menangis sekarang. Apa ujaran Arthur benar-benar sudah menyentuh lubuk hatinya yang terdalam? Belum lagi saat melihat kesungguhan dimata pria itu. Brianna yakin Arthur tidak berbohong dan keyakinan itu turut menyusup masuk kedalam perasaannya.


Arthur menciumi bibir Brianna lagi. Dia tidak akan pernah bosan untuk melakukannya. Dia akan terus berlaku demikian meski Brianna memberontaknya. Tapi sekarang Arthur menyadari jika Brianna telah melunak padanya. Arthur yakin sedikit lagi usahanya akan membuahkan hasil. Brianna akan turut memiliki perasaan yang sama dengannya.


Arthur ingin merubah kebencian Brianna terhadapnya menjadi rasa cinta yang begitu besar. Bukankah salah satu hal paling beruntung adalah turut dicintai oleh orang yang juga kita cintai?


Arthur mengelap lembut bibir Brianna yang basah karena ulahnya. Dia tetap menatap mata Brianna dengan sorot yang sama dalamnya.


"Katakan sesuatu, jangan diam, hmm?" Arthur bicara sambil mengecup punggung tangan Brianna yang digenggamnya.


"Ini ... mengejutkan untukku," akui Brianna akhirnya.


"Yah. Kau tidak menyangka jika seorang sepertiku jatuh cinta padamu, kan? Awalnya aku juga seperti itu, tapi kenyataannya memang begitu."


"Kau yakin mau meminta maaf padaku setiap hari?"


Arthur mengangguk. "Jika itu bisa membuatmu memaafkan segala kesalahanku padamu, aku akan ikhlas melakukannya, Honey," ujar Arthur mengelus pipi Brianna singkat.


Brianna terkekeh sekilas. "Aku akan mempertimbangkannya," candanya.


Tidak mungkin Brianna akan tega melihat Arthur terus meminta maaf padanya setiap hari, sebab dia masih memiliki nurani untuk tidak membuat pria itu seperti pengemis didepannya. Lagipula, Brianna bisa muak mendengar maaf Arthur yang dilakukan berulang-ulang secara terus menerus.


"Atau kau juga mau aku mengatakan 'i love you' setiap hari?" tawar Arthur dengan seringaian liciknya.


Wajah Brianna memerah. "Kau mau juga?" tantangnya.


"Ya, tapi aku akan melakukannya sambil membuatmu mendesahh." Kerlingan mata Arthur membuat Brianna berdecak. Dia segera berbalik badan untuk berbaring menyamping sambil memunggungi posisi Arthur.


Arthur terkekeh. Dia memeluk tubuh Brianna dari belakang dan berbisik lirih.


"I love you, my wife ... aku akan mengatakannya setiap malam sebelum kau tertidur disisiku."

__ADS_1


...To be continue ......


__ADS_2