
Brianna melihat pada Chico yang terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum menatap sang putra, kemudian menanyakan apa yang dibutuhkan bocah itu.
"Kau lapar, Sayang? Atau ada menginginkan sesuatu?"
Chico menggeleng. Matanya tampak menelisik ke seluruh ruangan seolah mencari-cari sesuatu.
"Jika kau mencari ayah dan ibumu, mereka sudah pulang ke Apartmen satu jam yang lalu," ujar Brianna merujuk pada Zach dan Flo yang mungkin dicari oleh putranya.
"No, Momma. Aku mencari Paman Arthur," cicit Chico dengan suaranya yang lucu, dia tidak bisa mengucap nama Arthur dengan benar dan tepat, tapi itu justru terdengar khas sekali.
Brianna cukup terkejut karena yang ditanyakan putranya adalah Arthur. Padahal biasanya Chico selalu cuek dengan orang baru. Apa mungkin karena hubungan darah yang membuatnya langsung terikat dengan Arthur? Sebelumnya Chico juga langsung akrab dengan Jane, kan? Jadi seharusnya Brianna sudah dapat menebak hal ini. Dia tak perlu heran lagi karena patut memaklumi mengingat status mereka yang sebenarnya adalah ayah dan anak.
"Uhm, paman Arthur sedang ada urusan, Sayang." Brianna memberi alasan, dia tak mungkin mengatakan kondisi Arthur sekarang pada sang putra.
"Kapan Paman Arthur akan datang lagi, Mom?"
Brianna memegang tangan mungil Chico dan menggenggamnya.
"Kau menyukai paman Arthur?" tanyanya.
Chico tersenyum dan mengangguk. "Dia baik padaku, tidak ada alasan untuk tidak menyukainya," jawabnya dengan cerdas.
Brianna menipiskan bibir. "Apa yang dia lakukan sehingga kau langsung bisa menyukainya? Dia itu---"
"Pacar Momma, kan?" serobot Chico menyela ujaran Brianna.
Brianna terkekeh pelan. "Sayang, kau tau apa itu pacar? Jangan berbicara seperti orang dewasa," ujarnya seraya mengulumm senyum.
"Tau. Kata David, pacar itu adalah orang yang menyukai kita. Paman Arthur menyukai Momma, aku tau. Ah, dia juga akan menjadi pacarku karena aku juga menyukainya. Yeay." Chico tampak girang sekali, meski dia agak keliru mendeskripsikan arti seorang pacar, bahkan hendak menjadikan Arthur pacarnya juga hanya karena merasa menyukai pria itu.
"Haha! Jangan banyak mendengar apa kata David, Chico," ujar Brianna. David adalah salah satu tetangga di gedung Apartmen mereka, seorang duda yang juga sering bermain dengan Chico layaknya keluarga sendiri.
"Tapi David adalah temanku, Mom."
"Baiklah, dia temanmu tapi tidak usah terlalu mencerna setiap apa yang diucapkannya."
Chico tertawa cekikikan mendengar sang ibu yang mengoceh, dia merindukan sikap khas Brianna yang sudah cukup lama tidak berada didekatnya karena tuntutan pekerjaan wanita itu.
"Mom, thank you karena sudah kembali didekatku. Apa Momma akan pergi lagi?"
Raut wajah Brianna mendadak sendu, sebenarnya dia juga tidak tega jika harus meninggalkan Chico terlalu lama. Apalagi mengingat saat dia pulang kemarin, dia langsung mendapat kabar jika Chico masuk Rumah Sakit. Ini membuatnya khawatir untuk bepergian lagi.
"Bolehkah aku ikut kemanapun Momma pergi nanti? Aku tidak mau terlalu lama jauh darimu, Mom."
Brianna membawa Chico ke dalam pelukannya. "Maafkan Momma, Sayang. Momma tidak akan meninggalkanmu lagi. Mom akan memikirkan bagaimana caranya nanti," ujarnya lembut sembari mengelus punggung kecil Chico yang turut membalas pelukannya.
__ADS_1
...****...
Hujan cukup deras saat Arthur memutuskan untuk keluar dari Hotel tempatnya tinggal sejak dia kembali ke New York.
Pria itu memasuki mobil, mengemudikannya menuju ke Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan dia menyungging senyum, tidak sabar untuk kembali melihat putranya yang tampan dan cerdas. Arthur sadar bahwa haluan hidupnya sudah berubah sejak mengetahui jika dia memiliki seorang putra. Apalagi setelah benar-benar bertemu langsung dengan anak tampan itu. Entah kenapa Arthur langsung bisa menyayanginya dan menginginkan untuk terus didekatnya.
Mungkin inilah yang dinamakan hubungan Ayah dan Anak, Arthur bahkan bisa merasakan merindukan putra tampannya dan ingin segera bertemu sesuka hatinya.
Arthur tiba di Rumah Sakit dan melambai ke arah dalam lobby dari jendela mobil yang kacanya diturunkan.
"Tunggu disana." Arthur memberi ucapan tanpa suara, hanya mulutnya yang bergerak memberi kode agar Brianna yang berada di lobby tidak kemanapun sebab dia yang akan menghampiri mereka disana.
Membuka seatbelt, Arthur langsung menuruni mobil dan mendekat pada Brianna yang menunggunya di lobby bersama dengan Chico yang duduk di kursi tunggu.
"Ayo, ku antar pulang ke Apartmenmu," ucap Arthur disertai senyum manisnya pada sang wanita.
Brianna mengangguk, hendak mengajak Chico naik ke mobil Arthur yang sengaja menjemput kepulangan mereka dari Rumah Sakit, sayangnya dia telat sebab Chico sudah lebih dulu dibawa Arthur ke dalam gendongan pria itu.
"Chico, kau sudah besar. Jangan berada dalam gendongan Paman Arthur, Sayang."
Chico menggeleng, dia justru menyandarkan kepalanya pada bahu Arthur, serta mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu selayaknya tengah memeluk Arthur yang menggendongnya. Brianna sampai geleng-geleng melihatnya. Chico tak biasanya seperti ini. Biasanya Chico tampak lebih dewasa dari umurnya, tidak menunjukkan sikap manja tapi sekarang anak itu bisa langsung bersikap demikian pada pria yang belum dia ketahui sebagai ayah kandungnya.
Brianna menghela nafas sejenak, kemudian mengangguk tanpa berujar lagi. Dia bergerak untuk membawa tas berisi pakaian dan barang-barangnya yang dibawa sejak Chico dirawat kemarin, tapi Arthur mencegahnya.
"Kau masuklah ke mobil lebih dulu. Biar tas ini aku yang membawanya," ujar Arthur lembut.
"Tapi kau juga sudah menggendong Chico," kata Brianna.
"Tak apa. Satu tanganku yang lain masih bisa membawa tas ini."
Brianna tak mau berdebat, hingga akhirnya dia bergerak untuk keluar dari lobby Rumah Sakit dan menuju mobil Arthur yang sudah menunggu didepan sana.
Brianna masuk ke mobil, disusul oleh Arthur yang mendudukkan Chico di jok belakang dengan sangat hati-hati. Barulah pria itu memasukkan tas besar yang berisi perlengkapan tadi ke dalam bagasi.
Arthur mengitari mobil, kemudian duduk dibalik kemudi.
"Thank you," tutur Brianna lembut.
Arthur tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Let's go! Back to home, yuhuu!" ujar Arthur dengan semangat, hal itu membuat Brianna terkekeh, disusul suara tawa Chico yang juga turut antusias karena Arthur seperti mempengaruhinya untuk terus merasa bahagia.
Sepanjang perjalanan, Arthur melirik Brianna yang banyak diam. Wanita itu tampak memperhatikan hujan yang masih deras lewat kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Kau mau mampir dulu? Membeli sesuatu mungkin?" tawar Arthur.
Brianna lantas menoleh pada pria itu. Alih-alih menjawab pertanyaan Arthur, Brianna justru menanyakan hal lain.
"Kau terlihat jauh lebih baik. Kau juga tampak bahagia sekali."
"Aku senang akhirnya Chico sudah keluar dari Rumah Sakit."
Brianna menipiskan bibir. "Bagaimana dengan ibumu?" tanyanya.
"Kau merisaukan hal itu?"
Brianna mengangguk sebagai pengakuannya. Dia memang masih memikirkan restu Jane terkait pernikahan mereka.
"Mommy tentu merestui kita, Sayang. Jangan khawatir."
"Kau yakin?"
"Humm... sangat yakin. Selama kau bekerja dengannya, dia tidak pernah menyebalkan, bukan? Jika menjadi pekerjanya saja kau tidak pernah direpotkan, maka menjadi menantunya akan jauh lebih menyenangkan."
"Arthur ...."
"Aku serius. Beberapa hari setelah hari ini, aku ingin kita datang kerumah Mommy. Dia pasti senang jika kita bertiga mengunjunginya, lalu makan malam dirumahnya. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku menyetujuinya."
Tangan Arthur terulur dan mengacak rambut Brianna singkat. Brianna melirik Chico di jok belakang dan ternyata bocah itu tertidur.
"Chico mencarimu kemarin."
"Benarkah?" Arthur tentu senang mendengar hal ini.
"Ya. Sepertinya dia menyukaimu, kau berbakat mengambil hatinya."
Arthur tersenyum, setiap usaha tak akan mengkhianati hasilnya, begitulah pemikirannya.
"Bagaimana lukamu? Apa sudah diobati?" tanya Brianna lagi, merujuk pada bekas pukulan diwajah Arthur yang diakibatkan oleh Zach.
"Kemarin aku mengompresnya. Hanya sebatas itu. Apa masih kelihatan?"
"Tidak terlalu terlihat, tapi sepertinya masih sakit, ya?"
Arthur mengendikkan bahu. "Jauh lebih sakit jika kau sampai meninggalkan aku," tuturnya sembari menarik tangan Brianna, lalu membawa itu kedepan bibirnya untuk dikecup singkat.
...To be continue......
__ADS_1