FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
61. Mengelabui


__ADS_3

"Masuklah!" ajak Brianna pada Arthur.


Wanita itu lantas langsung berjalan menjauh, rupanya dia menuju balkon yang diikuti Arthur dengan kebingungan.


"Ini. Aku tidak membuangnya," kata Brianna menunjukkan satu pot bunga baby breath pemberian Arthur.


Melihat itu tentu saja Arthur semringah. "Jadi kau hanya mengelabui ku?" tanyanya sambil terkekeh pelan.


"Uhm-huum..." Brianna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Arthur mendekat dan memegang sisi wajah wanita itu. "Thank you, kau sudah mau menerima pemberianku," ujarnya.


"Yah, tapi aku tidak tau bisa merawatnya atau tidak. Aku belum pernah menanam tanaman sejenis ini sebelumnya."


"Rawat saja seperti kau merawat tanamanmu yang lain." Arthur menipiskan bibirnya. Padahal hanya hal sekecil ini tapi dia merasa amat bahagia sebab Brianna mau menghargai pemberiannya, dia sudah mengira tanaman itu benar-benar dibuang dan diinjak-injak oleh Brianna.


"Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan selain ini?"


"Memangnya kenapa?" tanya Brianna bingung.


"Ada yang ingin ku tanyakan jika kau sudah selesai bicara."


"Apa?" sergah Brianna.


"Pria tadi ... siapa?"


"Pria yang mana?" Brianna membuang tatapan, dia duduk di kursi rotan yang terletak di balkon.


"Kalau aku tidak salah mengingat, namanya David," ujar Arthur, sebenarnya dia malas sekali menyebutkan nama pria lain ditengah-tengah percakapannya dengan Brianna tapi dia cukup penasaran siapa David dimata istrinya.


"Dia hanya tetangga Apartmenku," jawab Brianna enteng.


"Hanya itu? Kenapa aku merasa--"


"Jangan menyimpulkan hal-hal dari sesuatu yang kau rasakan," sela Brianna pelan.


"Aku hanya tidak menyukai cara dia menatapmu," akui Arthur terus terang.


Brianna mengendikkan bahu. "Aku tidak bisa mengatur cara orang lain untuk melihatku," jawabnya tak acuh.


"Oke. Kita tutup pembahasan ini. Tapi aku yakin apapun yang kau sembunyikan pasti aku akan mengetahuinya nanti."


Mendengar itu, Brianna langsung melotot ke arah Arthur yang direspon pria itu dengan kekehan pelan.


"Baik. Aku akan jujur."


Arthur tersenyum miring, dia sudah menduga jika ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh Brianna.


"Dia nyaris menikahiku 4 tahun yang lalu."

__ADS_1


Sekarang giliran mata Arthur yang melotot dan mendelik mendengar pengakuan Brianna.


Brianna tertawa. "Sudah kan? Maka dari itu aku tidak mau mengatakannya padamu," ujarnya.


"No. No. bagaimana bisa sepeti itu?" Arthur malah ingin tahu lebih jauh. Bagaimana bisa pria bernama David itu hampir menikahi Brianna.


"Waktu itu aku hamil, tidak ada yang bisa menanggung hidupku dan Zach sebab kami belum bekerja. Kau tau kita baru lulus kuliah saat itu, sementara Zach masih di Senior High School. David mau bertanggung jawab atas janin yang ku kandung meski itu bukan karena perbuatannya," jelas Brianna.


Arthur memijat pelipisnya sekarang. "Dia lajang?" tanyanya.


"Dia pernah gagal berumah tangga."


"Kau tertarik dengannya?"


Brianna tersenyum keki. "Bisa ya bisa tidak."


"Kenapa ambigu sekali." Arthur berdecih tak suka. "Tapi aku rasa kau tak mungkin menyukainya, jika memang begitu pasti kalian sudah menikah," sarkasnya kemudian.


Brianna tertawa."Kau cemburu?" tanyanya.


"Tentu saja," jawab Arthur tanpa basa-basi.


"Tidak perlu mencemburuinya, kau benar, jika aku menyukainya aku tidak akan menolak pernikahan kami, dulu."


"Lalu aku?" tanya Arthur. "Apa kau menyukaiku?" lanjutnya.


"Entahlah," kata Brianna sambil terkekeh.


Wajah Brianna berubah merona dan Arthur tersenyum melihatnya.


"See? Kau mulai menyukaiku," ujar pria itu dengan pongahnya.


Brianna merasa malu, dia menundukkan wajah dan sesekali berikutnya membuang pandangan kesamping. Dia tak berani membalas sorot mata Arthur yang serasa mengintimidasinya.


"Kita makan malam kerumah mommy nanti malam?" ajak Arthur.


Brianna tampak bimbang, dia bingung harus mengiyakan atau tidak. Dia merasa belum siap untuk bertemu Jane lagi apalagi jika menemuinya sebagai seorang menantu.


"Apa menurutmu sudah tepat untuk menemui ibumu disaat seperti sekarang?"


"Kenapa? Kau sungkan? Sudah ku bilang dia akan merestui kita."


"Jika menurutmu begitu, baiklah kita akan menemuinya."


Arthur tersenyum lalu menggenggam tangan Brianna erat. Dia seolah ingin menyalurkan kekuatan untuk wanita itu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


...***...


Malam itu akhirnya Brianna datang ke kediaman Jane bersama Arthur dan Chico.

__ADS_1


Brianna pikir, Jane akan menyambutnya dengan kaku, nyatanya wanita baya itu menerima kedatangan mereka dengan sangat ramah. Dia tampak berbeda 180° dari sikapnya di kantor dan itu membuat Brianna semakin kagum dengan wanita yang sudah menjadi mertuanya.


"Ayo, dimakan, Bri. Mom senang sekali kalian mau meluangkan waktu untuk datang kesini."


Brianna tersenyum keki, dia mulai melahap makanannya dalam diam. Chico sesekali menerima suapan yang diberikan Jane padanya dan sesekali tertawa cekikikan.


Seusai makan malam itu, Brianna diajak oleh Jane untuk bicara berdua, sementara Arthur mengambil kesempatan itu untuk mendekatkan diri lagi dengan Chico.


"Bri, aku sudah menerima pernikahan kalian. Jika Arthur memang mencintaimu, aku hanya bisa merestuinya."


"Terimakasih, Nyonya."


Jane tersenyum tipis. "Berusahalah untuk memanggilku Mom, seperti yang Arthur lakukan. Sejak kau menikah dengan putraku maka kau sudah menjadi putriku," paparnya.


Brianna sangat terharu, ternyata Jane memiliki sikap keibuan yang hangat.


"Terimakasih, Mom."


Jane tersenyum karena Brianna mau mendengarkan keinginannya.


"Maafkan jika aku lancang, bolehkah aku memelukmu?" tanya Brianna kemudian.


"Tentu saja, Sayang." Jane menyambut pelukan Brianna yang ternyata merasa terharu sekali karena keadaan ini. Bagaimana tidak, Brianna sudah lama ingin memeluk ibunya sendiri tapi tidak pernah bisa, mungkin Jane bisa dia anggap sebagai ibunya mulai sekarang.


"Ibuku sudah meninggal sejak aku kecil jadi---"


"Aku paham, mulai sekarang kau juga bisa menganggapku sebagai ibumu sendiri."


"Terima kasih. Terima kasih," kata Brianna dengan tetes airmata yang tiba-tiba jatuh.


Arthur dan Chico tiba beberapa saat kemudian dan mendapati kedua wanita berbeda generasi itu saling memeluk. Arthur membiarkan saja sampai akhirnya pelukan itu terlerai barulah dia menghampiri keduanya.


"Apa yang aku lewatkan?" gurau Arthur menatap pada kedua orang itu.


Jane tertawa. "Ini hanya urusan para wanita yang tidak boleh diketahui lelaki," kelakarnya.


Arthur mendengkus tapi dia tidak benar-benar marah. "Berusahalah untuk saling dekat, bukankah mom sangat ingin punya anak perempuan dan istriku mungkin adalah jawaban untuk keinginamu itu Mom," ujarnya.


Jane mengangguk. "Tentu saja. Mom akan menganggap Brianna sebagai putri mom sendiri. Kalian jalinlah hubungan yang lebih baik, Mom akan lebih senang jika pernikahan kalian segera dipublikasikan dan diresmikan di gereja," pintanya.


Arthur dan Brianna saling menatap kemudian tersenyum satu sama lain.


Sementara Arthur merasa ujung kemejanya ditarik diwaktu yang sama. Dia melihat ke arah bawah dan ternyata Chico yang melakukan hal itu kepadanya.


"Dad, menikah itu apa?" tanyanya polos.


...To be continue......


Lagi diluar jadi cuma bisa up sedikit. Maaf ya, mohon dukungannya terus untuk novel ini. Makasih all ,🙏🙏🙏

__ADS_1


"


__ADS_2