FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
42. Thank you, Wife


__ADS_3

Tubuh Brianna terhentak setiap kali Arthur mendorong miliknya lebih dalam. Nafas keduanya terengah-engah seiring dengan peluh yang membanjiri dahi mereka.


"Uh ... faster, Arthur!"


Dan Arthur semakin mempercepat ritmenya sesuai permintaan Brianna. Sampai akhirnya, mereka berdua mencapai kepuasan bersama.


Arthur memeluk Brianna ketika melihat wanita itu lemas karena kegiatan mereka.


"Sekarang kita mandi," ujar Arthur sembari menggendong tubuh Brianna dan meletakkannya perlahan di dalam bathub.


"Arthur ..." panggil Brianna serak.


"Ya?"


"Kau mau kemana?" Brianna tak mau Arthur meninggalkannya di kamar mandi sendirian, dia sudah kehabisan energi meladeni pria itu, jadi dia tak mau Arthur mengabaikannya setelah mencapai kepuasan.


"Aku hanya mau menyalakan kran air, Baby," jawab Arthur manis.


Brianna sampai membuang tatap karena mendengar penuturan pria itu, tiba-tiba perasannya menghangat.


Setelah menyalakan kran dan menyetel suhu airnya menjadi hangat, Arthur ikut bergabung dengan Brianna di dalam bathtub, dia memeluk Brianna sambil sesekali mengelus nakal tubuh wanita yang sudah dia nyatakan sebagai miliknya tersebut.


Beberapa kali Brianna menepis tangan Arthur yang kembali memancing gairahhnya, tapi pria itu tidak menggubris tindakan Brianna, dia tetap saja melanjutkan aksinya.


"Kita akan terlambat mengurus pekerjaan, Arthur," decak Brianna pada pria itu yang terus saja mengelus bagian-bagian sen-sitifnya.


"Sudah ku bilang kita masih punya banyak waktu, bagaimana kalau kita mengulanginya sekali lagi disini?" ujar Arthur merujuk pada bathub yang saat ini mereka tempati.


Brianna tak sanggup menolak hanya karena Arthur terus menggodanya dengan tangan nakal dan ciuman pria itu yang bertubi-tubi dititik-titik kelemahan Brianna.


Mandi yang harusnya bisa diselesaikan dalam waktu 15 menit, akhirnya harus siap satu setengah jam kemudian.


Brianna menghempaskan badannya ke atas ranjang setelah urusan mandinya selesai. Dia bahkan masih memakai bathrobe seolah tak bertenaga untuk mengganti benda itu dengan pakaian yang lebih layak. Brianna bergeming disana sembari menyaksikan Arthur yang tengah mengeringkan rambut dengan secarik handuk kecil.


"Kau lelah? Jika ya, kau tidak perlu ikut denganku, kau bisa beristirahat saja disini. Sebentar lagi akan ada yang mengantar semua kebutuhanmu kesini," ujar Arthur menatap Brianna yang juga tengah melihatnya.


"Apa kau tidak lelah?" balas Brianna balik bertanya.


Arthur menyunggingkan senyum tipis. "Sedikit. Tapi dibandingkan lelah, justru sekarang aku sangat bersemangat," katanya penuh makna.

__ADS_1


Bagaimana bisa Arthur bersikap seperti ini padahal dia menghabisi Brianna habis-habisan, tapi sepertinya Arthur memang tidak nampak lelah sama sekali. Justru pria itu bersiul-siul riang sembari memakai aftershave di tubuhnya.


Tak berapa lama, pintu kamar mereka diketuk dari luar. Arthur meminta Brianna menunggu, dia yakin itu adalah orang yang mengantarkan pesanannya.


Benar saja, Arthur kembali masuk dengan banyak paperbag ditangannya.


"Ini semua pakaian dan kebutuhanmu selama disini. Pakailah yang mana kau suka," ujar Arthur menatap Brianna yang masih bergeming.


"Aku lelah." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir sang wanita.


Arthur kembali menipiskan bibir. Dia mendekat pada Brianna. Jika dulu dia akan ragu melakukannya, tapi setelah kegiatan yang tadi mereka lakukan, Arthur merasa Brianna takkan menolak perlakuannya.


"Ya sudah, setelah ini beristirahat lah, tidak usah ikut denganku." Tangan Arthur terulur dan mengelus puncak kepala Brianna.


Arthur tampak membongkar kopernya. Dia mencari setelan formal untuk kepergiannya hari ini dalam hal mengurus pekerjaannya.


"Biar aku saja," tutur Brianna yang tiba-tiba sudah berada dibelakang tubuh Arthur.


"Tidak usah, aku bisa," tolak Arthur. "Kau lelah, istirahat saja, tapi ganti bajumu agar tidak masuk angin," ujarnya penuh perhatian.


Brianna terdiam, dia tentu merasakan perubahan sikap Arthur yang melunak padanya. Biasanya pria itu selalu memerintahnya, kan? Lagipula, Brianna sadar jika ini adalah tugasnya, tidak seharusnya Arthur menyiapkan pakaiannya sendiri.


"Seharusnya aku menyiapkan pakaianmu, Arthur," kata Brianna pelan.


Brianna terpana beberapa saat, namun kemudian dia menggigitt bibirnya keras-keras untuk menyadarkan diri dari keadaan ini.


"Arkh!" Brianna meringiss kemudian.


"Ada apa?" Arthur berdiri dari posisi sebelumnya yang berjongkok didepan koper, dia sudah menemukan bajunya, tapi dia mendengar suara Brianna yang seperti kesakitan.


"Tak apa." Brianna tau jika kini dia bukan bermimpi seperti malam itu.


Arthur memakai bajunya didepan Brianna. Laku dia mendekat pada wanita itu. Tak dipungkiri jika jantung Brianna berdegup lebih cepat sekarang. Apa Arthur mau mengulangi lagi momen panas mereka?


"Ke-kenapa?" tanya Brianna gugup pada pria itu.


"Bisa kau kancingkan kemejaku? Lalu pakaikan dasiku? Lakukan ini sebagai tugas seorang istri, bukan sebagai asistenku."


Brianna mengangguk samar, dia mendekat pada Arthur yang berdiri menjulang dihadapannya. Mengancingkan satu demi satu kemeja pria itu lalu lanjut memakaikan dasinya.

__ADS_1


Arthur memperhatikan setiap pergerakan yang Brianna lakukan dari posisinya, diam-diam dia melengkungkan senyuman.


"Sudah," ujar Brianna kemudian, dia hendak mundur menjauh tapi Arthur dengan cepat menangkap tubuh Brianna.


Arthur membawa Brianna ke dalam pelukannya, lalu berbisik lirih ditelinga sang wanita. "Thank you, Wife ..."


...***...


Seharian penuh, Arthur mengurus pekerjaannya yang ada di Milan. Mulai dari menemui klien, juga memantau langsung beberapa proyek yang sedang dikerjakan disana. Dia sibuk sekali sampai tidak melewatkan jam makan siangnya.


Menjelang sore, Arthur merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Dia merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya. Arthur baru ingat jika dia tidak makan seharian. Dia terduduk lemah didekat para pekerja proyek yang sedang ditinjaunya.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?"


Arthur mengangguk, dia mau menepis rasa sakitnya tapi ternyata itu semakin perih.


Seseorang yang duduk didekat Arthur menyadari wajah pucat pria itu.


"Apakah Tuan mau saya antar pulang?"


Arthur menggeleng. "Tidak usah," tolaknya halus.


"Tuan, saya akan memberitahukan keadaan anda pada keluarga Anda. Bisakah berikan saya kontak salah satu orang yang bisa menjemput Anda disini?" Pria disebelah Arthur terlihat khawatir pada keadaan pria itu. Dia juga memberikan Arthur air mineral.


"Terima kasih. Bisakah kau tolong hubungi istriku?" pinta Arthur akhirnya. Awalnya dia pikir bisa mengatasi ini sendiri, ternyata dia menyerah juga.


Pria disamping Arthur pun mengangguk, lalu dia mencoba menghubungi nomor yang Arthur katakan sebagai istrinya.


"Hallo, Nyonya. Saya salah pernah pekerja di proyek Mr. Mattews yang ada di Milan. Bisakah Anda menjemput beliau disini, sebab Tuan Mattews sakit," ujar pria itu begitu teleponnya tersambung pada Brianna.


"Arthur sakit?" tanya Brianna terdengar kaget. "Baiklah, aku akan menjemputnya, kirimkan alamatnya padaku ya."


"Sudah, Tuan." Pria itu mengatakan pada Arthur bahwa dia sudah memberitahukan keadaan Arthur pada wanita yang Arthur bilang sebagai istrinya.


"Apa dia mau menjemputku?" tanya Arthur lemah.


"Tentu saja, dia bilang dia akan langsung kesini menjemput Anda dan saya sudah mengirimkan alamatnya."


"Terima kasih banyak."

__ADS_1


Arthur tidak tau Brianna benar-benar akan menjemputnya atau tidak. Melihat dari hubungan mereka pagi tadi yang berjalan baik sepertinya Brianna benar-benar akan datang, tapi jika Arthur boleh meminta, dia mau kedatangan Brianna bukan sebatas status diantara mereka. Yang Arthur inginkan adalah kepedulian dan rasa khawatir dari wanita itu. Apakah Brianna bisa memberikan perasaan semacam itu untuknya?


...To be continue......


__ADS_2