
Arthur memang tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti yang dia tuduhkan pada Brianna. Ini semua dia utarakan karena ujaran Jane sebelumnya.
Sedikit banyak, itu jadi membuat Arthur berpikir bahwa kemungkinan Brianna akan membalas dendam padanya pasti ada, mengingat apa yang pernah dia perbuat pada Brianna di masa lalu memang sangat fatal. Daripada dia mengikuti keinginan Jane untuk menyelidiki Brianna, maka Arthur lebih memilih untuk mendiskusikannya secara langsung dengan wanita itu sekarang.
"Apabila kau memang berniat meninggalkanku, katakan itu sejak awal dan jangan memberiku harapan yang lebih jauh."
Brianna terkekeh miris. "Aku tidak yakin kau akan hancur jika aku benar-benar meninggalkanmu," sarkasnya.
"Maka lakukan saja. Jika itu bisa membuatmu puas dan itu kau anggap sebagai pembalasan akan perbuatanku padamu dimasa lalu. Kau akan segera melihat kehancuran ku."
Arthur berdiri dari duduknya. Jujur, dia benar-benar kecewa karena pengakuan Brianna yang memang ada niat untuk menghancurkannya, tapi Arthur tak bisa menyalahkan Brianna. Ini semua karena perbuatannya dimasa lalu yang tak terkendali. Jikapun sampai terjadi maka dia memang layak mendapat kehancuran itu sebagaimana Brianna yang dia hancurkan dulu.
Brianna ikut berdiri, menatap punggung bidang Arthur yang mulai menjauh. Bahu lebar itu tampak meluruh, menunjukkan kekecewaan yang amat dalam. Tanpa perlu Arthur utarakan, Brianna seakan tau bahwa pria itu terluka sekarang.
"Kau tau, ternyata membangun chemistry saja tidak cukup untuk kita. Kau juga harus belajar untuk mempercayai pasanganmu."
Arthur menghentikan langkahnya, demi mencerna ujaran Brianna barusan.
"... kau menganggapku adalah istrimu, kan? Itu artinya kita pasangan. Bukankah seharusnya kau tidak berprasangka seperti itu pada pasanganmu sendiri?"
Kini pria itu kembali menoleh pada Brianna dibelakangnya. Dia ingin mendengar penjelasan Brianna lebih jauh.
Brianna menatap lekat pada Arthur. "Aku memang sempat memiliki niat untuk menghancurkan mu, sekarang aku juga sudah tau jika kelemahanmu adalah aku. Tapi, atas dasar komitmen yang ingin kau bangun bersamaku, aku jadi melupakan niatku untuk menghancurkanmu."
Satu alis Arthur terangkat naik. Dia belum menangkap jelas maksud dari perkataan Brianna kali ini, tapi dia paham jika Brianna tidak lagi berniat membalas dendam padanya. Kenapa?
"Ku pikir kita memiliki visi dan misi yang sama untuk menjaga Chico. Jadi, aku memberimu kesempatan untuk terus bersamaku dalam ikatan pernikahan yang sudah terlanjur terjadi diantara kita."
Mata Arthur berkaca-kaca sekarang. Benarkah yang dia dengar ini? Brianna mau memberinya kesempatan?
"Tapi, daripada kau sibuk mencari tau apakah aku ingin menghancurkanmu atau tidak, lebih baik kau mulai belajar untuk mempercayaiku. Sebuah hubungan harus dilandasi dengan kepercayaan, jadi aku tidak mau kau terus berburuk sangka bahwa suatu saat aku akan meninggalkanmu dalam artian untuk membalas dendam padamu."
Arthur menunduk, dia tertawa pelan dalam posisinya. Sepersekian detik berikutnya, dia kembali berderap dan menyongsong Brianna disana, memeluknya dan mengutarakan apa yang ada dikepalanya.
"Aku tidak bermimpi, kan? Kau memberiku kesempatan dan berjanji tidak meninggalkanku?"
__ADS_1
Brianna ikut terkekeh, dia tau Arthur sedang dilingkupi rasa haru akibat kesempatan yang diberikannya.
"Yeah. Kau tidak bermimpi. Aku memang memberimu kesempatan, tapi bukan berarti aku tidak akan meninggalkanmu."
Cepat-cepat Arthur melerai pelukannya demi dapat melihat pada netra sang wanita. "Apa maksudmu? Kau mau meninggalkanku setelah kesempatan yang kau berikan hari ini?" tanyanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu demi membalas dendam, tapi jika kau macam-macam ataupun menyakitiku dan Chico maka aku berhak meninggalkanmu!" tukas Brianna.
Arthur terkekeh, tapi kedua matanya tampak berair, sekali berkedip pasti pria itu akan menumpahkan tangis, Brianna sampai tak menyangka jika seorang Arthur Mattews akan bisa bersikap seperti ini.
"Aku tidak akan macam-macam. Kau bisa memegang kata-kataku ini. Aku berjanji padamu." (Coba Readers screenshot dulu janji si Arthur ini ya, biar ada bukti aja gituš¤)
...****...
Arthur dan Brianna kembali ke ruang perawatan Chico, kali ini mereka bahkan bergandengan tangan satu sama lain layaknya anak remaja yang baru saja resmi berpacaran.
Akan tetapi, mereka langsung melerai gandengan itu begitu melihat Zach sudah berada di ruangan Chico dan tengah menatap kepada mereka berdua.
"K-kau disini? Su-sudah pulang bekerja?" tanya Brianna pada sang Adik.
"Aku pulang cepat, khawatir ada apa-apa pada Chico sebab semalam aku tidak diberi kesempatan untuk menjaganya," jawab Zach yang terang-terangan menyindir Arthur disana.
Brianna mendekat pada sang adik. "Kau sudah makan? Apa tadi Chico ada bangun dan mencariku?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah makan dan Chico belum terbangun sejak aku datang," jawab Zach.
Brianna mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia ingin jujur pada Zach soal pernikahannya dengan Arthur, tapi dia belum siap untuk itu. Tidak disangka dia terdiam cukup lama dan itu membuat Zach menyorotnya dengan tatapan ingin tau.
"Ada yang ingin kau sampaikan? Ayo katakan saja," ujar Zach sesaat kemudian.
"Tidak. Aku tidak ingin mengatakan apapun," sangkal Brianna.
Zach mengendikkan bahu cuek. Saat dia ingin kembali menatap Chico, suara Arthur terdengar memanggilnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Zach."
__ADS_1
Secara otomatis adik dari Brianna itu menoleh pada pria yang turut dibencinya karena pernah memberikan penderitaan pada sang kakak.
"Apa?" tanggap Zach tak begitu tertarik.
"Mengenai aku dan kakakmu---"
"Arthur ..." sela Brianna. Dia memberi kode lewat sorot mata agar Arthur tidak dulu membahas hal ini dengan Zach.
Akan tetapi, Arthur tak mau mengulur waktu lagi. Dia harus mengatakan pada Zach secepatnya.
"Aku harus mengatakannya pada Zach, Bri."
Brianna menggeleng keras dan Zach melihat kedua orang itu dengan tanda tanya besar dikepalanya.
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?" tanya Zach ingin tau.
"Aku dan Brianna sudah menikah," ungkap Arthur.
"Ah!" Brianna memijat pelipisnya yang mendadak nyeri, sementara Arthur terlihat tak gentar sama sekali dengan kejujuran yang sudah dia ungkapkan.
Sedangkan Zach disana, tampak terperangah tak percaya dengan semua yang baru saja dia dengar. Namun, melihat gelagat kakak perempuannya yang terlihat aneh, Zach menyimpulkan jika ini adalah hal yang sejak kemarin ingin Brianna sampaikan kepadanya namun selalu ragu.
"Pernikahan kami terjadi di catatan sipil Canada. Ku harap kau bisa menerimaku sebagai bagian dari keluargamu," ujar Arthur kemudian.
Tiba-tiba saja Zach tertawa sumbang. Dia menatap Arthur dengan nyalang.
"Kau menikahi Brianna karena Chico, begitu ya?" sarkasnya.
"Tidak juga, aku menikahinya karena mencintainya."
Tangan Zach terkepal erat dikedua sisi tubuhnya. Namun dia cukup sadar bahwa keberadaannya saat ini sangat tidak tepat untuk melakukan kekerasan fisik terhadap pria yang mengaku sudah menikahi kakaknya.
"Dengar, aku tidak peduli jika kau adalah seorang Arthur Mattews yang kaya raya. Aku juga tidak peduli jika kau dapat mempengaruhi banyak hal di negara ini, karena siapapun dirimu aku tetap akan menghajarmu!"
...To be continue ......
__ADS_1