FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
71. Wedding


__ADS_3

Prosesi pernikahan Brianna dan Arthur benar-benar sudah didepan mata. Ballroom hotel tempat pesta sudah siap, juga tempat pemberkatan mereka di gereja.


Semua rangkaian acara benar-benar dipersiapkan secara kilat, sebab Arthur tidak ingin gagal hanya karena Zach yang mungkin bisa berubah pikiran. Entahlah, dia hanya berjaga-jaga saja. Mencari aman sebab hati seseorang bisa saja berubah-ubah.


Arthur bahkan tidak sempat untuk melihat bagaimana Brianna melakukan fitting baju pengantin yang juga dipesan express.


Hingga hari ini, hari dimana pernikahan mereka akan berlangsung sebentar lagi, barulah dia bisa untuk melihat Brianna yang mengenakan gaun pengantinnya.


Wanita yang menjadi pilihannya itu tampak sangat cantik dengan balutan gaun putih dengan model A line yang membuatnya tampak sangat anggun.


Arthur terpana melihat penampilan calon pengantinnya. Dengan riasan flawless yang sederhana, Brianna justru tampak sangat mempesona.


Celetukan-celetukan orang disekitar tempat Arthur berdiri pun terdengar memuji kecantikan Brianna disana. Ingin rasanya Arthur menyongsong wanita itu lalu membawanya segera pergi ikut bersamanya. Namun sayang, dia harus mengikuti prosesi yang sudah diatur lebih dulu untuk menjemput pengantinnya.


"Ehem, aku tidak menyangka akhirnya kau akan menikahinya."


Arthur menoleh dan melihat Harry yang datang ke pestanya. Tidak sendiri, disana juga ada Mathius dan juga Leon. Ini justru mengingatkannya pada momen masa lampau dimana dia dan ketiga temannya ini sudah membuat rencana untuk mem-bully Brianna selepas acara pesta mereka di villa keluarga Leon. Yang pada akhirnya rencana itu hanya tinggal rencana karena tidak pernah terjadi sebab di keesokan harinya mereka justru menemukan Arthur berada di ranjang yang sama dengan Brianna.


Yang lebih parahnya, waktu itu justru Arthur tidak membiarkan teman-temannya untuk mengusir Brianna begitu saja. Sebab sejak mengetahui apa yang terjadi, ada sebuah rasa pertanggungjawaban yang muncul dalam diri Arthur untuk gadis itu.


"Ya, aku akan menikah dengannya," jawab Arthur mantap.


Leon menepuk pundak Arthur dengan akrab. "I'm proud of you, tapi seharusnya kau menikahinya 4 tahun yang lalu, Brotha," ujarnya.


Arthur tersenyum masam. "Aku tau letak kesalahanku. Apakah aku terlihat seperti pria yang tidak bertanggung jawab?" tanyanya dengan raut bersalah.


"Kau sudah melakukan yang terbaik," timpal Mathius.

__ADS_1


"Thank you, Men." Arthur dan Mathius saling terkekeh kemudian.


"Baiklah. Sekarang kami bertiga ingin mendengar ikrar pernikahanmu. Ayo buktikan jika kau yang terbaik," kata Harry yang turut bersuara.


Arthur mengangguk dan menuju altar untuk menunggu Brianna yang sebentar lagi akan menuju ke tempatnya dengan diantarkan oleh Zach yang menggandengnya sebagai wali.


Musik mulai terdengar mengalun dengan lembut. Arthur melihat Brianna dan Zach mulai berjalan ke arahnya, diiringi oleh seorang anak perempuan kecil yang setelah Arthur sadari itu adalah salah seorang teman bermain Chico yang bernama Nathalie. Ternyata dia menjadi pembaca cincin untuk acara sakral ini.


Arthur masih terpana pada Brianna, padahal wajah wanita itu masih tertutupi oleh wedding veil tipis, namun mata Arthur seolah dapat menembusnya dan melihatnya secara langsung. Dia tidak sadar jika mereka sudah berhenti tepat dihadapannya.


"Ehem ..."


Suara deheman Zach menyadarkan Arthur yang justru dibalas adik iparnya itu dengan seringai seperti tengah meledeknya yang terpana.


Brianna menahan gelak saat melihat eskpresi Arthur yang salah tingkah. Tapi dia memaklumi hal itu. Sebab, sama halnya dengan Arthur dia juga dilanda rasa nervous luar biasa untuk acara pemberkatan ini.


"Aku titipkan kakakku kepadamu, Arthur Mattews. Semoga kau bisa menjaganya lebih baik dari penjagaan ku selama ini," ujar Zach sembari menyerahkan tangan kanan Brianna kepada Arthur.


Lantas, mereka mulai menghadap seorang pendeta yang sudah sedia untuk melakukan pemberkatan dalam acara sakramen pernikahan tersebut. Beliau memberi isyarat agar Arthur memulai sumpahnya.


Lalu, mulailah Arthur untuk mengucapkan ikrar pernikahannya yang sebagian kalimatnya juga sudah dia rangkai sendiri.


Pria itu menarik nafas dalam sembari menatap ke arah Brianna yang juga tengah melihat kepadanya.


"Aku bersumpah pada diri sendiri, padamu, juga kepada Tuhan, bahwa aku akan menjadi pria yang bisa kau andalkan, baik sebagai suami, sebagai ayah, juga sebagai sahabat."


Arthur menarik nafasnya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"... Aku, Arthur Maverick Mattews, berdiri dihadapan engkau Brianna Clark Walton, sebagai pria beruntung yang dapat mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling menjaga dan memiliki untuk sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, Pada waktu sakit maupun sehat, juga pada waktu kekurangan serta kelimpahan." Alih-alih menyematkan kalimat 'sampai maut memisahkan', Arthur justru merangkai kalimat lain. "... jika ada kehidupan selanjutnya, maka ... mari kita tetap bersama sebagai pasangan yang saling mencintai. Sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus."


Brianna merasa haru saat mendengar sumpah pernikahan yang dituturkan Arthur dihadapannya, juga dihadapan semua orang yang hadir ditengah-tengah pernikahan mereka.


"... inilah sumpah dan janji setiaku yang tulus," tutup Arthur kemudian tampak mengusap ujung matanya yang berair.


Tak jauh berbeda dengan Arthur, Brianna turut menyoroti pria itu dengan mata yang berkaca-kaca disertai senyumnya yang melengkung sempurna. Dia tidak menyangka sumpah pernikahan yang Arthur ucapkan terdengar begitu tulus dan manis.


Kini giliran Brianna yang diminta untuk mengucapkan janji pernikahannya.


"Aku bersumpah bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan dari dicintai olehmu. Sama seperti janjimu, aku bersumpah pada diri sendiri, padamu, juga kepada Tuhan bahwa aku akan menjadi istri, ibu, juga sahabat yang selalu dapat diandalkan. Aku Brianna Clark Walton merasa bahagia karena akan diambil olehmu, Arthur Maverick Mattews sebagai istrimu dan menjadikanmu sebagai suamiku. Untuk saling menjaga, menghormati dan mencintai."


Brianna menarik nafas dalam-dalam, sampai akhirnya dia kembali bersuara,


"... mulai dari saat ini hingga selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, waktu sakit maupun sehat, juga pada waktu kekurangan dan kelimpahan. Mari kita kembali bersama dikehidupan selanjutnya, sesuai hukum Tuhan yang kudus. Inilah sumpah dan janji setiaku yang tulus."


Mendengar itu, Arthur justru tak bisa membendung airmatanya diatas altar. Dia menangis karena bahagia.


Sampai akhirnya, senggolan kecil menyadarkan mereka berdua yang tadinya larut karena saling bersitatap satu sama lain begitu pendeta mengesahkan pernikahan mereka. Senggolan itu berasal dari Nathalie yang bertugas menyerahkan cincin pernikahan mereka. Chico juga ada disana, memberikan satu kotak lainnya kepada Brianna. Yang ternyata berisi cincin yang harus dia sematkan dijari Arthur.


Arthur menerima kotak dari Nathalie dan memakaikan cincin di jari manis istrinya. Diiringi dengan suara tepukan tangan dari para tamu yang hadir disana.


Disusul oleh Brianna yang ikut memakaikan Arthur cincin dari kotak yang diberikan Chico.


Tibalah saat Arthur membuka wedding veil yang menutupi wajah Brianna. Sampai akhirnya dia dapat melihat jelas wajah wanita itu sekarang. Momen berciuman yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba tapi harus terkesan karena mendadak Harry berseru untuk memotret mereka berdua. Harry memang sengaja. Dia menatap Arthur dengan kulumann senyum sementara Arthur membalas menyorot Harry dengan tatapan mematikan.


Harry terkekeh. "Kau bisa melakukannya sepuasnya setelah ini. Mari kita berfoto sebelum kau merusak lipstik istrimu," kelakarnya.

__ADS_1


Sebisa mungkin Arthur menahan diri untuk tidak mengumpat Harry.


...To be continue......


__ADS_2