
Pagi-pagi sekali, Brianna terbangun dan mendapati pemandangan yang tak biasa. Dia melihat Arthur tertidur di ranjang yang sama dengan Chico. Ruangan Chico yang dipesankan khusus oleh Arthur di Rumah Sakit itu memang memiliki tempat tidur yang cukup besar.
Saat melihat itu, Brianna tak dapat memungkiri jika ayah dan anak itu tampak sangat mirip. Bahkan dari gaya tidurnya saja sudah membuktikan jika mereka adalah sepasang ayah dan anak yang sesungguhnya.
Akan tetapi, bukan itu yang menjadi fokus Brianna sekarang, wanita itu hanya tak menyangka jika Arthur mau meringkuk disana demi menjaga Chico yang sedang sakit. Dia juga mengingat bagaimana malam tadi Arthur menggantikan tugasnya untuk membantu Chico ke kamar mandi serta memintanya melanjutkan tidur.
Brianna bangkit dari posisinya, dia mendekat pada sang putra dan mencium pelipis Chico sekilas.
"Aku juga mau diberikan ciuman di pagi hari."
Brianna terkejut mendengar suara Arthur yang menanggapi tindakannya. Dia menoleh pada pria itu dan mengisyaratkan untuk jangan berisik karena itu bisa mengganggu Chico yang masih terlelap.
Arthur tersenyum, dia mengerti apa yang Brianna maksudkan. Dia pun beranjak dari ranjang dengan sangat perlahan demi tak mengganggu kenyamanan Chico. Kemudian menarik lengan Brianna pelan ke arah sofa di sudut ruangan.
"Kenapa?" tanya Brianna berbisik, dia takut Chico terbangun, ini masih terlalu pagi, jadi baginya tak masalah jika Chico tertidur sedikit lebih lama lagi.
Arthur malah menunjuk pipinya sendiri, membuat Brianna mengernyit tak mengerti.
"Apa?" tanya Brianna lagi.
"Morning kiss."
Brianna memutar bola matanya. "No, no. Bagaimana jika Chico melihatnya?"
"Dia masih tidur."
"Kalau dia bangun?" Brianna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tak masalah, dia pikir aku adalah pacarmu."
Mata Brianna membola. "Jangan mengajarinya hal yang tidak-tidak, Arthur!" tudingnya.
Arthur mengendikkan bahu. "Justru dia yang bilang padaku begitu, aku tidak mengajarinya sama sekali," sangkalnya.
"Oh my goodness!" Brianna menarik nafas sepenuh dada. Dia bergerak menjauh tapi Arthur menarik lengannya lagi.
"Mau kemana?" tanya Arthur lagi.
"Aku mau mandi."
"Aku ikut."
Brianna melotot dan Arthur memasang senyum tengilnya. "Aku hanya bercanda. Aku akan tetap disini menjaga Chico," paparnya.
"Bagus. Aku titip dia padamu sebentar," kata Brianna lembut.
__ADS_1
Arthur menyunggingkan senyum, dia senang dengan ujaran wanita itu sebab mengartikan bahwa Brianna sudah mempercayainya.
...****...
Jane mendengar kabar bahwa Chico masuk Rumah Sakit. Dia juga mendengar bahwa Arthur dan Brianna sudah tiba di New York, kemarin. Arthur memang belum sempat menemuinya, jadi Jane beritikad untuk menjenguk Chico, sekaligus menjumpai Arthur yang kabarnya ikut menjaga Chico yang sedang dirawat.
Siang ini, Jane datang dengan membawa beberapa barang bawaan. Beberapa mainan dan makanan untuk Chico.
Kedatangannya ke ruang perawatan itu menciptakan suasana menjadi dingin. Padahal sebelumnya, Brianna mengajak Chico bermain puzzle diatas tempat tidurnya, sedangkan Arthur diam-diam memotret kebersamaan istri dan anaknya tersebut. Juga ada Flo yang baru saja datang untuk membawakan pakaian ganti untuk Brianna dan Chico.
"Selamat siang. Chico ... Grandma datang," sapa Jane yang membuat Brianna langsung terdiam, begitupun dengan Arthur yang segera menyimpan ponsel ke saku celananya.
"Grandma ... kau disini?" Chico membalas sapaan Jane dengan riang dan antusias.
Brianna dan Arthur saling menatap dalam diam. Flo yang juga ada disana bergerak mencari celah untuk segera keluar dari ruangan tersebut sebab dia tau jika dia tak seharusnya ada disana.
Jane menyerahkan buket bunga pada Brianna yang diterima wanita itu dengan kaku. Jane tak menyapa Brianna maupun Arthur disana, dia hanya fokus pada Chico.
"Lihat, Grandma membelikanmu apa!" Jane menyerahkan satu paperbag pada sang cucu.
"Wah, Kapten Amerika!" seru Chico kegirangan mendapat salah satu karakter kebanggaannya. "Thank you, Grandma," ujarnya kemudian tanpa diminta. Dia memang anak yang pandai menyuarakan kesenangannya.
Brianna sedikit beringsut untuk memberikan Jane ruang agar lebih dekat pada Chico. Dia tau jika dia tak bisa melarang kedekatan antara nenek dan cucu itu, terlebih Chico juga sudah menerima kehadiran Jane dihidupnya, meski Chico belum tau jika Jane memanglah nenek kandungnya.
Jadi, mustahil rasanya jika Brianna terang-terangan membatasi interaksi mereka seperti melarang atau mengusir kedatangan Jane kesana.
"Grandma sudah mengenal paman itu, belum?" Chico menunjuk Arthur yang duduk di sofa. "Namanya paman Arthur, dia juga baik padaku seperti Grandma."
Jane hendak tertawa sebenarnya, kepolosan Chico sungguh membuatnya gemas.
"Ya, Grandma sudah mengenalnya, Sayang," jawab Jane menanggapi celotehan Chico. Dia mengelus rambut tebal Chico dengan penuh kasih sayang.
"Paman Arthur bilang, dia akan menjagaku dan Momma. Tapi aku bilang, dia cukup menjagaku saja, dan biarkan aku saja yang menjaga Momma."
Jane tampak mengulas senyum. "Maka dari itu, Chico harus segera sembuh. Agar bisa menjaga Momma, okey."
"Okey, Grandma." Chico dan Jane tampak beradu tos.
"Mom, aku mau bicara." Arthur berujar singkat, lalu keluar dari ruang perawatan itu begitu saja. Isyarat itu ia berikan agar bisa bicara dengan Jane empat mata tanpa didengar Brianna maupun Chico disana.
Jane mendengar permintaan Arthur, dan dia berpamitan pada Chico sejenak.
"Sayang, Grandma ke toilet dulu ya. Nanti Grandma akan kembali lagi kesini."
"Baiklah, Grandma." Chico tersenyum lucu yang dihadiahi Jane dengan kecupan di pipi gembulnya.
__ADS_1
Jane menatap Brianna sekilas, sorot mata wanita itu menyimpan arti yang dapat Brianna tafsirkan jika Jane juga ingin bicara padanya nanti. Brianna hanya bisa menunduk sungkan pada wanita yang sudah menjadi atasannya selama 2 tahun belakangan ini.
Jane keluar dari kamar rawat Chico dan mendapati Arthur yang sudah menunggunya disana.
"Kita bicara di cafetaria saja, Mom." Arthur berjalan lebih dulu dan Jane mengikuti dibelakang putranya.
Jane yakin Arthur akan membicarakan soal pernikahannya dengan Brianna, yang setelah Jane selidiki mereka memang sudah menikah di catatan sipil Canada.
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Jane begitu duduk berhadap-hadapan dengan Arthur.
"Mengenai aku dan Brianna---"
"Mom sudah mengkroscek hal itu dan kalian benar-benar sudah menikah," sela Jane dengan senyum mirisnya.
Arthur sudah membuka mulut untuk bicara, tapi lagi-lagi Jane menyerobotnya dengan kata-kata.
"... bagaimana bisa kalian menikah begitu saja, Arthur? Kau seharusnya mengatakan dulu pada Mom mengenai hal ini. Pernikahan bukan suatu hal yang patut kau permainkan."
"Aku tidak pernah mempermainkan pernikahanku dengannya, Mom."
"Lalu? Kenapa kau mengambil keputusan dengan tergesa-gesa!" sergah Jane lagi.
"Aku hanya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Selagi Brianna berada disisiku, maka aku memanfaatkan situasi itu untuk mengikatnya dengan pernikahan."
"Jadi ini tujuanmu meminta dia untuk menggantikan Alister menjadi asisten pribadimu? Kau sudah merencanakan semua ini?" Jane tak percaya dengan keputusan Arthur yang terkesan gegabah.
"Tidak juga, Mom. Ini juga diluar kendaliku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membawanya ke dalam ikatan pernikahan. Selain ada Chico diantara kami, ini juga terjadi karena perasaanku, aku mencintainya, Mom."
"Lalu, bagaimana dengan perasannya, Arthur? Apa kau memikirkan perasaan Brianna? Kau tau dia membencimu, pernikahan ini seperti memaksanya. Kau menyiksanya secara tidak langsung."
Arthur terdiam, tudingan Jane memang benar, pernikahan ini Arthur lakukan dengan memaksa Brianna, tapi dia sudah membuktikan jika kini Brianna mulai menerima.
"Awalnya dia memang terpaksa, Mom. Tapi sekarang dia sudah melunak padaku."
Jane terdiam, dia tak yakin Brianna akan luluh dengan mudah. Apalagi kebencian wanita itu pada Arthur sudah terbentuk sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Kau yakin? Kau yakin dia sudah melunak padamu?"
"Maksud Mommy?"
"Mom takut jika Brianna hanya mencari kelemahan mu. dan saat dia tau kelemahan mu adalah dirinya sendiri, disaat itulah dia bisa menghancurkan mu, Arthur."
"Tidak, Mom." Arthur menggelengkan kepalanya tak percaya. "Brianna tidak mungkin berniat begitu," paparnya.
"Siapa yang tau? Dia memiliki dendam padamu atau tidak, yang jelas dia sudah terlanjur membencimu dengan begitu dalam selama bertahun-tahun, kau yang telah menghancurkan hidupnya. Dia tidak hidup dengan baik setelah dia menerima pembully-an darimu. Mom hanya mau kau bisa menebak tindak-tanduknya, sebab yang Mom tau Brianna adalah wanita yang dingin dan sulit didekati."
__ADS_1
...To be continue......