
Arthur tak mau memaksa Brianna, dia tau hidup Brianna selama 4 tahun ke belakang tidak begitu baik karena ulahnya.
Arthur akhirnya berbalik pergi, tapi dia berucap dingin sebelum benar-benar meninggalkan Brianna dikediamannya.
"Aku akan kembali ke kantor, mungkin akan pulang agak larut."
Brianna mengernyit, tak seharusnya Arthur mengatakan apa dan kemanapun tujuannya, lagipula Brianna tak peduli.
Akan tetapi, sebuah cincin yang melingkari jari Brianna sekarang justru seperti menjadi jawaban untuk keheranannya mengenai sikap Arthur barusan. Ya, walau bagaimanapun kini mereka memang sudah menikah. Mau bagaimana lagi? Mungkin karena hal ini yang membuat Arthur tiba-tiba bersikap berbeda lalu berpamitan padanya? Entahlah.
Haha. Tak dipungkiri, jika ini terasa aneh bagi Brianna.
Brianna jadi mengingat kejadian tadi, saat di catatan sipil. Arthur menyematkan cincin itu padanya. Brianna tak tau kapan pria itu membelinya. Setahunya, Arthur terus bersamanya sejak kemarin di Apartmen. Tapi, kenapa juga harus repot-repot menyediakan cincin? Bahkan pernikahan ini hanya diatas kertas, bukan sebuah keseriusan?!
Brianna mengendikkan bahu tak acuh, kemudian berlalu menuju letak kamarnya sendiri. Dia tak mungkin sekamar dengan Arthur. Yang benar saja. Dia bisa terkena serangan jantung mendadak jika dia terbangun pagi-pagi lalu ada pria itu disampingnya. Oh my ....
Brianna menghempaskan tubuhnya diatas ranjang kamar. Dia menatap langit-langit demi memikirkan apa yang sudah terlanjur terjadi padanya dan Arthur hari ini.
"Jadi sekarang, statusku sudah berganti menjadi seorang istri?" gumam Brianna.
Dia mengangkat tangannya, meluruskan lengan dan menatap lagi pada jari manis yang kini terdapat cincin pemberian dari Arthur.
"Ini gila. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang paling ku benci!" omel Brianna sambil mengesah frustrasi.
...****...
Semilir angin yang berhembus seakan meniup-niup rambut panjang Brianna yang tengah berdiri di balkon kamar. Dia menatap pemandangan malam lewat tempat itu. Tak dipungkiri jika disini sejuk tapi juga menenangkan.
Brianna memejamkan matanya sambil memeluk dirinya sendiri. Arthur belum terlihat kembali, sepertinya pria itu benar-benar akan pulang larut. Tapi, Brianna tak mau memikirkannya, apa untungnya? Arthur tetaplah pria asing baginya. Meski tak dipungkiri jika pria itu jugalah yang menikahinya hari ini di catatan sipil.
Brianna terkesiap saat merasakan ada sepasang tangan yang melingkari tubuhnya dari belakang. Dia membuka matanya dan menyadari jika pelukan itu semakin mengerat.
"Arthur?" Brianna bertanya tanpa menoleh, dia bisa tau jika itu adalah sang pria dari aroma aftershave milik Arthur yang familiar di indera penciumannya. Tapi, bagaimana bisa Arthur masuk ke kamarnya? Ah, Brianna hampir lupa jika pria ini adalah pemilik rumah pasti akan mudah baginya mengakses semua ruangan sebab semua berada dibawah kendalinya.
"Ku pikir kau sudah tidur. Kau menungguku, ya?"
"Ti--tidak." Brianna menjawab gugup. Ah, kenapa dia jadi seperti ini? Harusnya dia melerai pelukan Arthur ditubuhnya.
__ADS_1
"Kalau iya juga tak apa. Aku senang kau menungguku pulang," kata Arthur sembari tersenyum lembut, dia menyandarkan kepalanya di bahu Brianna, membuat tubuh wanita itu seketika menegangg.
"Ck. Jangan seperti ini, kau kan baru pulang. Mandilah."
Arthur melerai pelukannya di pinggang Brianna lalu membalik tubuh wanita itu, Arthur menatap Brianna dengan senyuman paling manis.
"Baiklah, aku mandi dulu, Mrs. Mattews," ujar Arthur sembari mengedipkan sebelah matanya. Yang membuat wajah Brianna panas adalah panggilan baru Arthur kepadanya. Jadi, sekarang dia telah resmi menyandang nama belakang suaminya ya? Ah, suami? Tidak-tidak, mereka tak boleh seperti ini.
Brianna menatap punggung Arthur yang perlahan menjauh dan hilang dibalik pintu kamar mandi.
Brianna sadar bahwa seharusnya ada tembok yang dia pasang tinggi-tinggi diantara hubungannya dengan Arthur. Meski Arthur mulai melembut padanya, bukan berarti Brianna akan luluh begitu saja. Segala sikap buruk Arthur yang mengejeknya, mencemoohnya, juga merendahkannya, masih terus menari-nari di ingatan Brianna.
Memikirkan hal itu, Brianna mendoktrin dirinya untuk terus membenci Arthur selama-lamanya. Apapun dan bagaimanapun sikap pria itu Brianna tetap tak boleh melemah pada Arthur.
Lamunan Brianna terhenti saat Arthur tampak berjalan mendekat padanya. Tubuh Brianna membeku menyaksikan pria itu yang menghampirinya hanya dengan secarik handuk yang menutupi bagian bawahnya.
"A--apa yang kau lakukan?" Brianna membuang muka, dia malu melihat penampilan Arthur padahal bukan kali ini saja dia melihat dada te-lan-jang milik pria itu.
Arthur tersenyum tipis, tiba-tiba tangannya terulur mengelus pipi Brianna.
"Kita sudah menikah sekarang, apa kau lupa?"
"Aku tidak membuat perjanjian apa-apa denganmu. Kita menikah tanpa perjanjian apapun kecuali komitmen untuk membesarkan Chico bersama-sama," kata Arthur meyakinkan Brianna lewat sorot mata teduhnya.
Brianna tak menampik jika tutur dan perlakuan Arthur malam ini sangat berbeda. Dia seakan melihat sisi Arthur yang lain dan sekarang Arthur malah menariknya mendekat. Pria itu mengungkungnya diantara tembok, membuat Brianna tak bisa kemanapun lagi.
Cup. Arthur mengecup bibir Brianna singkat.
"Arthur, kita tak boleh begini." Brianna mendorong dada Arthur."
"Dua kali kita melakukannya tanpa ikatan yang sah, jadi izinkan aku untuk melakukannya denganmu malam ini setelah kita resmi menjadi suami istri."
"Tapi, Arthur. Kita---" Ucapan Brianna terhenti karena Arthur langsung membungkamnya dengan ciuman. Awalnya ingin menolak, tapi lama-lama Brianna pasrah juga akan kendali pria itu.
Arthur mengangkat tubuh Brianna lalu mendudukkannya di meja, pria itu melebarkan kaki Brianna dan menyelipkan diri disana hingga kini Arthur-lah yang berada diantara kedua kaki wanita itu.
Dengan tidak sabar, Arthur melepaskan baju Brianna dan melemparnya asal.
__ADS_1
Brianna terkesiap saat tangan Arthur menyentuh dadanya, sembari menciumnya lagi dan lagi.
Suara desaahan dan erangann pun lolos dari bibir Brianna, dia tak mampu menolak perbuatan Arthur padahal sejak tadi dia sendiri yang ingin kembali memasang tembok diantara mereka.
"Arthur ..." Brianna menyebut nama pria itu seiring dengan Arthur yang semakin berani berbuat lebih.
Brianna hampir sampai pada puncaknya hanya karena permainan jari Arthur, tapi belum sempat dia merasakan kenikmatann itu, suara ponsel berdering keras mengganggu konsentrasi.
Brianna terkesiap dan sadar bahwa dia baru saja bermimpi di kamarnya. Sialan. Brianna melihat ponsel yang meraung-raung diatas nakas.
"Jadi, itu tadi hanya mimpi?" Brianna bergumam, kemudian mendengkus keras karena menyadari apa yang dimimpikannya. Tidak terbayang jika itu tadi benar-benar kenyataan.
Brianna menghela nafasnya sesaat, sebelum akhirnya menerima panggilan dari Chico.
"Momma, aku mendapat miniatur helikopter dari Grandma Jane," adu Chico dengan suara cadelnya.
Ah, ternyata bocah itu kembali bertemu Jane. Pasti Jane sudah tau segalanya sekarang, pikir Brianna. Tapi mendadak dia teringat sesuatu.
"Chico, kenapa belum tidur? Ini kan sudah malam."
"Belum, Mom. Ini baru jam 7. Aku baru selesai makan malam."
Brianna melihat jam di nakas dan benar ini baru pukul 7 malam. Ternyata dia yang ketiduran sejak sore lalu bermimpi aneh. Ya. Mimpi tadi aneh bagi Brianna, karena biasanya yang dia mimpikan tentang Arthur hanyalah mimpi buruknya bersama pria itu 4 tahun yang lalu.
Brianna mendengarkan semua celotehan Chico sampai akhirnya menyudahi semua percakapan itu karena dia sadar bahwa dia belum mandi. Saat telepon itu terputus, Brianna beranjak ingin ke kamar mandi tapi suara ketukan pintu membuatnya menunda niat itu.
Brianna membuka pintu lebih dulu, mungkin itu pelayan dirumah yang memintanya untuk makan malam tapi ternyata dugaan Brianna salah sebab itu adalah Arthur yang menyeringai. Brianna jadi teringat mimpinya tadi, tapi buru-buru dia mengenyahkan pemikiran itu.
"Apa?" tanya Brianna ketus.
Arthur melihat Brianna yang berantakan, dia menebak wanita itu baru bangun tidur.
"Kau sudah mandi?"
"Belum. Aku akan mandi dan makan malam jika kau mau memintaku untuk makan," jawab Brianna datar.
"Kalau aku mengajakmu mandi bersama, bagaimana?"
__ADS_1
...To be continue ......