FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
68. Tak usah berterima kasih


__ADS_3

Hari ini Arthur kembali mengunjungi Apartmen Brianna, dia berniat mengajak Chico jalan-jalan di akhir pekan sekaligus menghabiskan waktu bersama putranya sebelum dia kembali ke Canada.


Ya, mau tak mau Arthur harus kembali ke Canada sebab pekerjaannya disana sudah terlalu lama dia tinggalkan. Tadinya Arthur ingin mengajak Brianna dan Chico ikut serta, tapi itu tidak dapat terwujud sebab problem pernikahannya dengan Brianna belum selesai sehingga dia tak bisa mengajak mereka bersamanya.


"Hai, Boy!" Arthur langsung membawa Chico dalam gendongannya ketika bocah itu terlihat membukakan pintu untuknya.


"Momma masih bersiap, Dad. Apa kau mau menunggunya?" cicit Chico dengan bijaknya.


"Tentu saja!" sahut Arthur sembari melambungkan tubuh Chico hingga bocah kecil itu tertawa kesenangan.


Arthur dan Chico pun masuk ke Apartmen tanpa menyadari jika David juga ada disana dan melihat interaksi mereka dalam diamnya.


Arthur menutup pintu Apartmen, duduk di karpet yang sejurus dengan sofa di ruang tamu. Ayah dan anak itu akan menunggu Brianna sembari bercengkrama bersama. Sesekali tawa mereka terdengar bersahut-sahutan, menciptakan suasana ramai dalam rumah.


Brianna sedang memakai lipstik saat mendengar gelak tawa yang terdengar sangat nyaring. Dia menebak jika Arthur sudah datang untuk menjemputnya dan Chico, hingga dia bergerak lebih cepat untuk segera siap dengan penampilannya.


Saat Brianna keluar dari kamarnya, dia menyaksikan pemandangan yang sangat jarang bahkan tidak pernah dia temukan selama ini. Chico sedang bersenda-gurau dengan Arthur dan itu membuat kedua sudut bibir Brianna melengkung sempurna.


Tampak disana Arthur dan Chico sedang berguling-guling di karpet dengan saling menggelitik. Tentu saja Arthur yang menguasai permainan itu, sebab tangan Chico terlalu kecil untuk menjangkau tubuh sang ayah, pun membalas Arthur dengan perbuatan yang sama. Alhasil, suara gelak tawa Chico yang paling terdengar jelas.


"Hahaha! Sudah, Dad. Ampun ..." pinta Chico kewalahan akibat digelitik oleh Arthur.


"Belum, Dad akan terus melakukannya!" jawab Arthur sambil ikut terkekeh.


Brianna amat senang melihat interaksi keduanya yang kini semakin dekat, padahal dulu dia amat takut jika Arthur bisa mengusik kehidupan Chico.


"Ehem ..." Brianna berdehem dan kedua lelaki berbeda generasi itu sama-sama menoleh ke arah Brianna dengan wajah memerah.


"Mom?" Chico bangkit dari posisinya yang tadi berbaring karena digelitik oleh Arthur tanpa henti.


Arthur juga turut membenarkan duduknya, dia memasang wajah cool-nya didepan Brianna, tak mau tampak konyol dihadapan wanita itu.


"Kita jadi pergi, kan?" tanya Arthur dengan salah tingkah. Dia malu ketika Brianna mendapati sikapnya yang absurd bersama Chico, padahal tanpa dia tau Brianna justru senang dengan sikap pria itu yang hangat pada putra mereka.


"Tentu saja." Brianna mengulas senyum yang justru seperti menular pada Arthur juga Chico yang tampak diam-diam mengulumm tawanya.


"Oke." Arthur manggut-manggut. "Kita berangkat sekarang," ujarnya berusaha sedatar mungkin, padahal dia sudah amat malu, mungkin Brianna akan menganggapnya kekanak-kanakan setelah ini, entahlah.

__ADS_1


"Yeay! Kita jadi pergi." Chico antusias, dia mengepalkan kedua tangannya ke udara sambil bersorak gembira.


Arthur memberi isyarat agar Brianna lebih dulu keluar dari apartemen, barulah dia mengikut di belakang tubuh wanita itu.


Saat mereka keluar dari kediaman itu, mereka justru melihat Zach yang datang dari arah lift. Sepertinya pria itu sengaja mendatangi kediaman Brianna. Sepertinya mereka harus menunda kepergian sebab Zach memberi kode bahwa dia hendak bicara.


"Kita bicara sebentar," kata Zach menatap Arthur dengan tampang dinginnya yang sudah biasa dilihat Arthur.


Arthur menatap Brianna seolah meminta persetujuan, dan wanita itu mengangguk sebagai jawabannya.


Mau tak mau, mereka semua kembali masuk ke dalam Apartmen, tak terkecuali Chico.


"Jadi kita gagal pergi, Mom?" tanya bocah itu pada Brianna dengan tampang kecewa.


"Bukan, Ayah Zach ingin bicara pada Daddy-mu, sebentar saja. Nanti kita akan segera pergi setelah itu. Okey?"


Brianna sebenarnya tak yakin jika mereka akan bisa tetap pergi, sebab dia tak tau apa yang ingin Zach sampaikan pada Arthur.


Bagaimana jika pembicaraan Zach kali adalah untuk menyepakati waktu demi memberi hukuman pada Arthur sesuai kesepakatan mereka yang sudah disetujui Arthur waktu itu. Bukankah Arthur sudah rela untuk dipukuli oleh sang adik demi restunya?


Jika memang begitu, maka Brianna harus merelakan kegagalan rencana perginya bersama Arthur dan Chico, juga mengikhlaskan jika memang Arthur harus menerima penghukuman itu.


"Baiklah, Dad." Chico tidak membantah, dia masuk ke kamar diikuti oleh Brianna yang memasang raut tak rela meninggalkan kedua pria itu hanya bicara berdua saja. Dia takut Zach akan benar-benar memukuli Arthur nantinya.


"Masuklah, Bri." Kali ini Zach yang angkat suara. Dia menatap sang kakak, meyakinkan lewat sorot matanya bahwa dia akan bicraa pada Arthur tanpa Brianna.


"Okey," jawab Brianna dengan berat hati.


Arthur mengangguk pada Brianna, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja secara tidak langsung.


Sepertinya Brianna, Zach menatap Arthur serius. Dia menarik nafas dalam sebelum memulai kata-katanya.


"Aku sudah tiba pada keputusanku."


Yang justru ucapannya itu membuat Arthur mengernyit. Bukankah Zach sudah mengatakan akan memukulnya sampai puas, lalu kali ini keputusan apa yang Zach maksud?


"... menikahlah, aku sudah merestui kalian," sambung Zach membuat mata Arthur membola.

__ADS_1


"Benarkah?" Arthur ingin memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.


"Ya, menikahlah secepatnya sebelum aku berubah pikiran," kata Zach kemudian.


Arthur berdiri dari duduknya, dia memeluk Zach ala lelaki gentleman. Menepuk-nepuk pundak adik iparnya itu yang direspon Zach dengan memutar bola mata malas.


"Thank you. Thank you, Zach!"


"Tidak usah berterima kasih!"


Bugh! Zach meninju perut Arthur saat itu juga yang langsung membuat Arthur terhenyak sebab terkejut, namun bukannya menunjukkan rasa kesakitan, Arthur malah tertawa setelahnya, sebab tinjuan Zach itu bukanlah tindakan yang serius.


Zach berlalu menuju pintu setelah selesai dengan perkataan yang hendak dia bicarakan.


"Pastikan kau akan menjaga kakakku dengan baik, juga Chico. Jika tidak, aku akan mengejarmu meski kau bersembunyi di lubang semut sekalipun!" ancamnya sebelum benar-benar keluar dari kediaman sang kakak.


"Aku berjanji akan menjaga mereka!" jawab Arthur mantap.


Dilain sisi, Brianna menunggu dengan harap-harap cemas. Apa kiranya yang Zach bicarakan dengan Arthur. Sampai akhirnya Brianna terkejut saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Arthur?" Brianna menyapa pria yang berdiri diambang pintu kamarnya itu. Wajah Arthur tampak lesu, menunjukkan sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi. Mendadak Brianna khawatir, tapi sepersekian detik berikutnya Arthur justru memasang wajah semringah. Lalu, pria itu mengangkat tubuh Brianna ke dalam gendongannya, membuat Brianna menjerit tertahan.


"Haha. Haha. Dad menggendong Momma!" seru Chico kesenangan.


"Arthur? Apa-apaan!" protes Brianna. Dia terlalu malu jika interaksi ini ditonton dan disaksikan langsung oleh putranya. "Ada Chico disini, jangan begini!" lanjut wanita itu.


"Tak masalah. Lihat! Chico justru senang melihat kita seperti ini!" jawab Arthur, lalu melirik Chico yang bertepuk tangan dengan antusias.


"Kau mau digendong juga, Boy?" tawar Arthur pada Chico.


Chico mengangguk.


"Baiklah, Daddy akan menggendongku sepanjang kepergian kita hari ini. Ayo kita berangkat!"


"Let's go, Dad!" sahut Chico bersemangat.


Sementara kedua lelaki itu mengusung wajah senang, Brianna justru bingung apa yang sebenarnya terjadi, terlebih Arthur belum memberitahukan padanya apa yang tadi Zach bicarakan dengan Arthur dikediamannya.

__ADS_1


...To be continue ......


Tolong vote Senin dikirim kesini yah guys 🙏


__ADS_2