FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
49. Status Ayah


__ADS_3

Flo terkejut mendapati sosok wanita yang dia ketahui sebagai ibu dari Arthur datang ke kediamannya. Perasaannya mendadak tidak enak. Apalagi, Zach suaminya belum kembali dari pekerjaan. Flo takut salah bicara atau salah mengambil tindakan.


"Hai, Mrs. Walton?" sapa Jane ramah pada wanita yang dia ketahui sebagai adik ipar Brianna tersebut.


Flo berusaha menyunggingkan senyum, padahal dia sudah bingung harus menjamu Jane atau justru menolak kehadiran wanita itu secara terang-terangan.


"Bisakah aku bertemu dengan Zach Walton, suamimu?" tanya Jane dengan sorot intimidasinya yang kentara.


"Uhm, uhm ... Zach belum kembali." Flo berusaha tak gugup. Dia yakin ada sesuatu dengan kedatangan Jane kali ini, sebab wanita itu langsung ingin menemui Zach, bukan bertemu Chico seperti tempo hari dimana Jane memberikan miniatur helikopter untuk bocah itu lalu langsung pergi setelah melihat Chico puas dengan pemberiannya.


"Apakah aku bisa masuk?" tanya Jane sebab Flo tidak juga mempersilahkan dia untuk memasuki kediaman mereka.


"Y-yah, tentu." Flo serba salah. Disatu sisi dia tak mungkin menolak bos dari kakak iparnya, kan?


Jane memasuki tempat tinggal Flo dan Zach. Itu adalah sebuah Apartmen kecil yang juga menjadi tempat tinggal Chico, cucunya. Meski kecil tapi tempat itu nyaman dan bersih. Dia cukup bersyukur untuk ini, setidaknya cucunya tidak hidup di emperan jalan dan masih mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.


"Apa Brianna juga ikut tinggal disini bersama kalian?" tanya Jane pada Flo.


"Brianna tinggal di gedung yang sama. Tapi Apartmennya terletak di lantai 5."


Jane manggut-manggut paham.


"Kau mau minum apa, Nyonya?" tawar Flo.


"Tak usah repot-repot. Aku akan menunggu Zach saja."


"Tak apa, aku akan membuatkan mu minuman selagi menunggunya. Lagipula, jam pulang Zach tidak menentu," kata Flo yang sigap berdiri dan berjalan cepat menuju dapur.


Kesempatan itu, dimanfaatkan Flo untuk segera menghubungi Zach.


"Kau dimana, Zach?"


"Ada apa, Sayang? Kau terdengar panik?" tanya Zach diseberang panggilan.


"Jangan pulang."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, jangan dulu pulang. Kau bisa kemanapun dulu. Ada Mrs. Jane disini dan aku yakin dia mau berbicara padamu terkait Chico."


Zach terkejut mendengarnya. "Jadi kenapa aku tak boleh segera pulang? Justru aku harus cepat pulang untuk melindungi kalian. Mungkin dia sudah tau semuanya dan berniat mengambil Chico dari kita."


"Dia mau bicara padamu. Aku tidak mau kalau dia merencanakan sesuatu untukmu jika kau menolak permintaannya nanti." Flo jelas takut jika Zach kenapa-napa.


"Tenanglah. Aku tidak akan apa-apa. Justru aku mengkhawatirkan kalian. Tunggu aku, aku akan segera pulang."

__ADS_1


"Tapi, Zach, aku bisa mengalihkan perhatiannya, dia akan pergi jika kau tidak kunjung kembali."


"Tunggu aku saja. Aku akan menghadapinya. Dan jangan jawab apapun pertanyaannya jika menyangkut Chico. Biar aku yang menyelesaikannya."


Zach menutup panggilan setelah mengatakan hal itu, membuat Flo harap-harap cemas menunggu kepulangan suaminya.


Flo segera membuat minuman untuk Jane, sayang dia terlalu lama menelpon Zach hingga saat dia kembali bocah yang seharusnya tak bertemu Jane justru sudah berada disisi wanita paruh baya tersebut sembari berceloteh riang.


Flo tertegun melihat pemandangan itu, dia hampir menjatuhkan nampan berisi segelas jus jeruk yang dia buatkan untuk Jane. Dia takut Jane sudah mengatakan sesuatu hal pada Chico tapi sisi hatinya yang lain mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Aku bisa menulis namaku, Grandma."


Flo dapat mendengar ujaran Chico yang membuat Jane terlihat semringah. Wanita itu bahkan meladeni setiap kata yang keluar dari mulut sang bocah.


"Silahkan diminum, Nyonya." Flo mempersilahkan dan Jane tersenyum sebagai respon.


"Thank you, maaf merepotkan mu."


"Tak masalah."


Flo mengambil tempat duduk didepan Jane dan memberi isyarat pada Chico untuk berpindah duduk disisinya saja.


Chico menggeleng. "Aku sedang bercerita pada Grandma, Bu," tolak bocah itu.


Flo makin gelisah melihat kedekatan kedua orang itu. Dia melihat ke arah pintu masuk berulang kali, berharap Zach cepat tiba disana dan memisahkan kedekatan Jane dengan Chico.


"Ini fotoku waktu bayi, Grandma. Momma bilang waktu itu aku suka bergadang semalaman," adu Chico sembari menunjuk foto-foto masa kecilnya pada Jane.


Jane yang melihat foto Chico saat bayi, tersentuh hatinya karena menyadari telah melewatkan banyak waktu yang harusnya dia habiskan bersama sang cucu. Ingin rasanya dia memeluk Chico saat ini juga dan langsung mengatakan bahwa anak itu adalah cucunya tapi dia mencoba sekuat mungkin untuk menahannya. Jane menunggu Arthur kembali dan menjemput Chico bersama-sama.


Flo yang diam-diam juga mendengarkan cerita Chico, mengamati setiap perlakuan Jane terhadap bocah itu. Tidak salah lagi, Flo yakin jika Jane sebenarnya sudah tau jika Chico adalah cucunya.


Tak lama, suara bel Apartmen mereka terdengar dan Flo sigap membukakan pintunya. Dia melihat Zach disana dan mereka saling tatap penuh arti.


Zach memasuki kediamannya dan mendapati pemandangan yang mengharukan dimana Chico duduk di pangkuan nenek kandungnya.


"Ehem..." Zach berdehem, membuat Jane menyadari kehadiran pria itu.


"Kau sudah pulang? Aku mau bicara denganmu, Zach."


Zach mengangguk. Wajahnya tidak seramah seperti pertemuan sebelumnya dengan Jane.


Flo tau apa yang harus dia lakukan, dia mengajak Chico untuk segera memasuki kamar.


"Chico, kita ke kamar dulu ya. Ayahmu akan bicara pada Grandma Jane."

__ADS_1


Chico tak menolak, dia memang anak yang patuh dan paham dengan banyak situasi. Jika begini, tandanya adalah waktu untuk orangtua bicara dan Chico mengerti hal itu.


Flo memimpin tangan Chico dan memasuki kamar yang letaknya di ujung.


"Kita bermain saja ya disini." Flo membongkar keranjang yang berisi mainan Chico dan anak itu kesenangan karena dapat bermain lagi di jam ini.


Sementara itu, Zach duduk berhadapan dengan Jane diruang tamu. Dia menatap serius pada wanita itu.


"Apa yang ingin anda bicarakan, Nyonya?"


Jane menipiskan bibir. "Aku sudah tau jika Chico adalah cucu kandungku," katanya to the point.


Zach terdiam, dia pikir Jane akan berbasa-basi dulu. Segala alasan yang sudah dia siapkan sepanjang perjalanan menuju pulang seakan hilang begitu saja dari benaknya. Zach merasa blank saat itu juga.


"Aku tau dan sangat tau bahwa kau turut andil menjaga tumbuh kembang Chico sejak didalam kandungan Brianna. Aku juga tau kau menganggapnya selayaknya anak sendiri. Tapi, ku harap kau mau membagi peran ayah untuk putraku, Arthur. Karena walau bagaimanapun, dia adalah ayah biologis Chico yang sebenarnya," ujar Jane dengan sorot memohon.


Zach lagi-lagi hanya bisa terdiam. Dia tak bisa bersuara padahal sangat ingin mempertahankan Chico untuk dirinya, Flo dan tentu untuk Brianna.


"Zach, kami tidak akan merebut Chico dari kalian. Dia tetap akan menjadi putra kalian juga. Kita bisa mengasuhnya bersama-sama, tapi Chico layak tau siapa ayah kandungnya yang sebenarnya sebagaimana Arthur yang juga berhak menyandang status sebagai ayahnya."


"Tidak bisa!" Suara yang sejak tadi tertahan, akhirnya keluar dengan begitu tegas dari bibir Zach. "Bagaimana bisa aku memberikan hak ayah untuk seorang pria brengsek seperti putramu, Nyonya!" tukasnya menohok.


Jane paham kenapa Zach harus marah. Dia tau apa yang membuat Zach emosi. Ini pasti mengenai apa yang dialami Brianna selama berkuliah di universitas. Dia sudah mendengar hal itu dimana Arthur sering mem-bully Brianna.


"Putramu adalah pria pengecut, Nyonya. Dia menghancurkan hidup kakakku. Jadi, jangan biarkan Chico tau bahwa dia memiliki seorang ayah pecundang seperti Arthur!" tekan Zach tak tanggung-tanggung.


"Zach ..." suara Jane melirih, kentara sekali dia tak mau Zach meneruskan kalimatnya yang menusuk hati Jane sebagai seorang ibu bagi Arthur.


"Aku tau Arthur bersalah pada Brianna. Bahkan dia banyak melakukan tindakan yang menyakiti kakakmu, tapi malam dimana mereka melakukan one night stand, Arthur sedang mabuk, juga Brianna sedang terpengaruh obat. Jadi ini tidak mutlak kesalahan Arthur."


"Hey nyonya, kau masih mau membela putramu ternyata!" kata Zach tak terima.


"Itulah tugasku sebagai ibunya," jawab Jane miris atas kelakuan Arthur dimasa lalu. "Maka dari itu, sebagai ibunya pula aku datang kesini untuk memohon maaf padamu. Juga pada Brianna yang nanti akan ku lakukan dihadapannya saat dia kembali ke New York," lanjutnya sungguh-sungguh.


"Itu tak berpengaruh apapun, Nyonya. Nyatanya hidup kakakku sudah menderita bertahun-tahun akibat kelakuan putra anda."


"Aku tau. Untuk itu biarkan jika sekarang Arthur mau bertanggung jawab dengan memikul beban yang selama ini Brianna tanggung sendiri."


Jane menatap mata Zach lamat-lamat. "Chico juga mempunyai hak untuk tau jika sebenarnya dia masih memiliki ayah kandung yang tidak pernah membuangnya."


Zach terkesiap dengan ujaran Jane yang terakhir.


"Aku benar, kan? Sejak awal, Arthur tidak pernah tau Brianna hamil anaknya. Jadi bisa dikatakan bahwa dia tak pernah berniat membuang anak itu. Kalian yang menutupinya dari Arthur, tanpa memberinya kesempatan untuk melihat tindakannya, jika dia tau kalau Brianna hamil setelah kejadian malam itu," tandas Jane membuat Zach terdiam.


...To be continue......

__ADS_1


__ADS_2