
Pagi itu, Brianna kembali duduk satu meja dengan Jane dan Arthur untuk sarapan pagi bersama. Ada Chico juga yang tampak sangat menikmati roti cokelatnya.
Mengenai tanda merah di leher Brianna, akhirnya dia bisa mengatasi itu dengan mengoleskan concealer, sebab Arthur benar-benar tak mengizinkannya mengenakan turtleneck seolah memang berniat merealisasikan ucapannya untuk memamerkan hasil karyanya tersebut.
Meski awalnya Brianna kesal karena keinginan pria yang sudah menjadi suaminya itu, tapi akhirnya Brianna bisa mengakalinya dengan caranya sendiri.
"Mom merasa meja makan pagi ini sangat lengkap. Biasanya Mommy hanya akan sarapan sendirian," ujar Jane menatap Arthur dan Brianna bergantian.
"Haruskah kami tinggal disini, Mom?" kelakar Arthur yang membuat Jane terkekeh.
"Lalu bagaimana dengan tanggung jawabmu di Canada? Sebenarnya Mom akan sangat senang jika kalian benar-benar ada di New York, meski tak tinggal dirumah ini, setidaknya akan lebih dekat dengan Mom."
"Kita akan tetap baik-baik saja meski berjauhan, Mom," ujar Arthur dengan santainya.
Sementara Brianna yang turut mendengar itu jadi mengernyitkan keningnya. Apakah Arthur ada niat untuk kembali ke Canada? sebenarnya tanpa Brianna tanyakan pun, seharusnya dia sudah mengetahui jawabannya. Mengingat kediaman Arthur ada di negara tersebut, juga pekerjaan yang dikatakan Jane sebagai tanggung jawab Arthur. Tapi, entah kenapa hati kecil Brianna merasa berat jika kini dia harus berjauhan dengan pria itu. Mungkinkah Brianna benar-benar telah jatuh cinta pada pria yang dulu dibencinya?
"Kau kenapa?" Tiba-tiba Arthur menoleh pada Brianna yang diam tanpa respon, digenggamnya jemari wanita itu lalu menunggu Brianna menjawab pertanyaannya.
"Uhm, tak ada. Aku hanya merasa terlalu kenyang," jawab Brianna beralasan.
"Kau yakin? Ku pikir kau baru makan sedikit," kata Arthur.
"Hmm ..." Brianna mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi, kapan, Arthur?" tanya Jane mengalihkan perhatian kedua orang itu lagi. Arthur dan Brianna kompak menatap pada sang ibu.
"Kapan kalian akan meresmikan pernikahan, sekaligus mempublikasikannya?" tanya Jane memperjelas pertanyannya.
Arthur dan Brianna saling bertatapan satu sama lain.
"Uhm, aku belum siap untuk itu, Mom," jawab Brianna pelan.
"Why?" Bukan Jane yang menanyakan, tetapi Arthur.
Dengan tampang ragu-ragu, Brianna memberanikan diri untuk membalas tatapan Arthur. Sorot mata wanita itu memancarkan keraguan yang dapat dibaca jelas oleh sang pria.
"Baiklah, kita akan kembali bicara dan membahasnya berdua, setelah ini," ujar Arthur memutuskan.
"Mom harap kalian bisa memberi kabar baik pada Mom secepatnya, Bri, Arthur." Jane menatap mereka bergantian dengan tatap penuh harap.
...****...
"Aku ingin menjelaskan dulu pada Chico mengenai keadaan yang sebenarnya. Aku juga mau meyakinkan Zach dulu sebelum kita benar-benar meresmikan pernikahan ini di altar suci," kata Brianna yang benar-benar berbicara berdua saja dengan Arthur di taman bekang kediaman Jane.
Arthur memijat pelipisnya. "Kapan kau akan menjelaskan pada Chico dan meyakinkan Zach?" tanyanya tanpa menatap wanita itu.
"Entahlah," jawab Brianna ambigu.
__ADS_1
Arthur menghela nafas panjang. "Oh, come on, Bri. Jika kau tidak bisa menjelaskannya pada Chico, biar aku yang mengatakan padanya bahwa aku adalah ayah kandungnya," katanya dengan sorot meyakinkan.
"Jangan!" Brianna menggenggam tangan Arthur sembari menatap lamat-lamat pada pria itu. "Aku bisa melakukannya, tapi beri aku waktu lagi. Aku tidak mau Chico tersakiti karena semua ini," paparnya.
"Tersakiti apa, Sayang? Dia sudah menerimaku sebagai Daddy nya. Dia juga sudah mengiyakan saat aku mengatakan akan menikah denganmu."
Brianna menundukkan kepala, dia memilinn jari-jemarinya sendiri.
"Apa yang sebenarnya membuatmu ragu?" Arthur kembali bertanya setelah melihat gelagat Brianna yang tak biasa.
Brianna menghela nafas sepenuh dada. "Aku takut untuk memulainya pada Chico, takut jika dia benar-benar tau jika kau adalah ayah kandungnya. Aku tidak mau dia merasa bahwa ... selama ini kau tidak menginginkan kelahirannya. Kau baru muncul akhir-akhir ini, bukan sejak dia lahir ke dunia. Aku bingung harus menjelaskannya jika dia menanyakan kemana kau selama ini."
Arthur merangkul pundak Brianna, sekarang dia tau jika beban itu yang dipikul istrinya.
"Kalau begitu, biar aku yang menjelaskan padanya, mengenai siapa aku sebenarnya."
Brianna menggeleng, dia tak yakin Chico akan menerima penjelasan Arthur.
"Percayakan ini padaku. Aku sudah berjanji untuk meringankan bebanmu, bukan?" Arthur menyakinkan Brianna dengan sorot matanya yang penuh tekad.
"Kau yakin?" tanya Brianna lagi.
Arthur mengangguk. "Apapun resikonya, aku yang akan menanggungnya. Bukankah aku yang memang selalu alfa sejak kelahiran Chico ke dunia?" ujarnya.
"Itu karena kau tidak tau jika Chico ada."
Arthur meninggalkan Brianna disana, dia berderap menuju Chico yang bermain di ruang keluarga sebab Jane sempat membelikan beberapa mainan untuk dimainkan bocah itu dikediamannya.
"Chico ..." Dengan perasaan yang juga was-was, Arthur akan berusaha mengatakan kenyataan pada bocah itu, terkait dirinya yang adalah Ayah kandung Chico.
"Ada apa, Dad?" Chico merespon dengan suara cadelnya.
"Ada yang mau Daddy tunjukkan padamu. Apa kau mau melihatnya?"
Chico tampak memasang wajah penasaran. Rasa ingin tahu yang besar membuatnya langsung mengangguki perkataan Arthur.
"Oke, come on. Kita akan melihatnya di kamar Daddy!" ajak Arthur yang kemudian membawa Chico ke kamarnya yang berada di kediaman Jane.
"Apa ini kamar Daddy?" tanya Chico ketika memasuki ruangan itu.
"Hmm.." Arthur masuk dan langsung menuju lemari tinggi disudut ruangan.
"Woa, kamar ini besar sekali, Dad!" gumam Chico takjub. Dia pikir kamar Arthur sudah sebesar Apartmen yang dia tempati bersama Brianna.
Arthur hanya tersenyum tipis merespon ucapan putranya, dia fokus mencari sesuatu yang ingin dia tunjukkan pada sang anak.
"Ini dia," ucap Arthur mengambil benda yang dicarinya.
__ADS_1
Chico menoleh pada pria itu dan melihat jika Arthur membawa semacam buku berukuran besar dan tebal. "Apa itu, Dad?" tanggapnya.
"Ini adalah album foto masa kecil Daddy."
Binar dimata Chico tampak berpendar, kentara sekali jika bocah itu tertarik dengan yang ingin Arthur tunjukkan.
Arthur duduk disisi putranya, tepatnya di karpet lembut yang memang sudah terbentang di lantai kamarnya. Kemudian pria itu mulai membuka album fotonya dan mencoba memperlihatkan pada Chico.
"Coba lihat ini ..." Arthur menunjuk sebuah foto ketika dia seusia Chico.
"Wah, apa ini Daddy saat masih kecil?" tanggap Chico.
"Huum," jawab Arthur mengangguk.
"Kau keren, Dad!" Chico mengacungkan jempol dan antusias melihat foto yang lainnya.
"Kau menyadari sesuatu?" tanya Arthur pada bocah itu, meski dia tak yakin Chico akan menyadari apa yang dia maksudkan.
"Apa?" sahut Chico.
"Daddy ketika kecil, sangat mirip denganmu," papar Arthur kemudian.
Chico langsung tergelak, merasa tergelitik dengan ucapan Arthur, tapi otak kecilnya langsung mencerna jika yang dikatakan pria dewasa itu benar. Wajah kecil Arthur sangat mirip dengannya. Kenapa begitu?
"Kenapa wajah Daddy mirip aku?" tanya bocah itu polos.
Arthur menipiskan bibir. "Bukan wajah Daddy yang mirip denganmu, tapi wajahmu yang mirip dengan Daddy," jelasnya.
"Begitu kah?"
Arthur mengangguk. "Kau tidak mau bertanya kenapa wajah kita bisa mirip?"
Chico terdiam. Tampak berpikir keras kali ini. "Aku tidak tau, Dad, memangnya kenapa?" katanya pelan.
"Karena Daddy adalah Ayah kandungmu. Kau mengerti akan hal itu?" tanya Arthur dengan nada yang sangat hati-hati.
Chico menggeleng polos. "Maksudnya?" tanyanya bingung. Bocah itu menggaruk kepalanya sekilas.
Arthur mengacak rambut Chico dengan gemas. "Salah satu penyebab kau bisa berada di dunia ini adalah karena Daddy, dalam kata lain kau adalah keturunan Daddy. Seperti Momma yang melahirkanmu, Daddy lah yang membuat Momma bisa mengandungmu," jelasnya dengan susah payah mencari kosa-kata terbaik.
Chico tampak mengernyit, sesaat kemudian dia menatap Arthur dengan tatapan yang sulit untuk Arthur artikan. "Apa semua itu penting?" tanyanya akhirnya.
"Tentu saja, selama ini kau selalu merasa tidak punya Ayah, kan? Sekarang tidak lagi. Ada aku sebagai Daddy-mu, Sayang," kata Arthur lembut.
Chico kembali menggeleng. "Aku punya Ayah Zach," jawabnya tenang dan seperti tak ada beban.
Sekarang Arthur tau bahwa menjelaskan pada Chico bukan hanya butuh kesabaran dan kehati-hatian yang ekstra, tapi juga harus pandai memilah kata agar bocah itu dapat menangkap maksud yang ingin dia utarakan.
__ADS_1
...To be continue ......