FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
58. Daddy


__ADS_3

Dengan perlahan, Arthur membawa tubuh Chico di kedua tangannya, menggendongnya sampai ke lantai dimana unit Apartmen Brianna berada.


Untuk pertama kalinya, Arthur mendatangi tempat itu. Apartemen sederhana yang tampak rapi dan nyaman. Entah kenapa Arthur justru merasa suasana ditempat yang baru didatanginya itu bisa menenangkannya. Dia melirik Brianna sekilas, juga Chico yang masih berada dalam gendongan. Yah, mungkin dengan adanya mereka berdua lah yang menyebabkan Arthur merasa lengkap saat ini.


"Kamar Chico ada disana, Arthur."


Arthur mengangguk dan membawa Chico ke kamar yang dimaksudkan oleh Brianna. Dia meletakkan tubuh Chico yang masih tertidur di atas ranjang dengan sprei bermotif kapten Amerika.


Arthur menatap pada wajah putranya, dia tersenyum tipis kemudian mengecup puncak kepala Chico berkali-kali secara lembut tanpa berniat mengganggu tidur sang anak.


Setelah memindahkan Chico ke kamar, Arthur kembali keluar dan melihat Brianna yang tengah mengaduk minuman di meja kecil yang searah dengan dapur.


"Maaf jika disini sempit dan tidak nyaman untukmu. Aku belum sempat membersihkannya karena belum masuk ke Apartmen sama sekali sejak kembali dari Milan."


Arthur mengangguk, entah Brianna melihatnya atau tidak.


Arthur memindai tempat tinggal yang dihuni oleh wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Dia berpikir akan mengajak Brianna pindah dan tinggal bersamanya saja nanti, jadi dia sedang menilai konsep rumah seperti apa yang disukai oleh Brianna, agar dia tak salah memilih desain dan warna untuk rumah masa depan mereka nanti.


"Minumlah, Arthur." Rupanya Brianna sudah meletakkan secangkir kopi yang tadi dibuatnya ke atas meja ruang tamu.


"Ah, ya." Arthur menoleh, mengenyahkan sejenak pemikirannya tentang konsep rumah. Dia duduk disamping Brianna sebab disana hanya ada sebuah sofa berukuran sedang yang dapat diduduki oleh dua orang dewasa.


Arthur mencicipi kopinya, kemudian menatap Brianna lekat.


"Apa?" tanya Brianna merasa aneh dengan tatapan Arthur.


"Disini nyaman," jawab pria itu.


Brianna mengangguk. "Nyaman bagiku dan Chico, tapi maaf jika kau tidak nyaman," pungkasnya.


"Bagiku juga begitu, makanya aku mengatakan jika disini nyaman."


"Lalu?"


"Aku menginap disini ya."


Brianna nyaris tersedak ludahnya sendiri, dia membuang tatapan. Dia tidak berani mengiyakan keinginan Arthur untuk menginap disini. Zach pasti akan mengomelinya, jika tau soal ini.


"Jangan mengada-ada, Arthur. Kau tau Zach pasti akan menyeretmu keluar dari Apartmenku."


Arthur menipiskan bibir, dia tersenyum kecil.


"Setidaknya dia sudah tau jika kita sudah menikah. Dia tidak mungkin melakukan itu."


"Kau tidak tau bagaimana Zach. Dia sulit untuk diluluhkan," kata Brianna yakin. Dia paling tau bagaimana karakter adik kandungnya tersebut.


"Tapi Zach juga seorang suami. Dia pasti mengerti posisi kita." Arthur berucap sembari memangkas jarak diantara mereka. "Aku merindukanmu," lanjutnya.

__ADS_1


Brianna tidak menghalang-halangi Arthur yang kini semakin merapat kepadanya, dia memejamkan mata rapat-rapat seolah bersiap menerima sapuan bibir pria itu diatas bibirnya sendiri. Brianna tau jika dia mulai menerima keadaan dimana Arthur sudah menjadi suaminya, dia juga menyadari jika hatinya semakin melunak pada pria itu.


Melihat kesediaan Brianna, Arthur semakin mendekat seraya menangkup sisi wajah wanita itu. Bibirnya nyaris menyentuh bibir Brianna, ketika tiba-tiba penyatuann yang hampir terjadi itu harus terhenti secara mendadak karena panggilan seseorang yang menginterupsi kegiatan mereka.


"Momma ..."


Brianna segera menarik diri, menoleh ke arah pintu kamar Chico yang terbuka, disusul oleh tubuh kecil putranya yang tampak berjalan keluar dari dalam kamar.


Arthur menggaruk kepalanya yang tak gatal. Baru saja dia akan merasakan bibir Brianna lagi, yang kali ini pasti disambut oleh wanita itu tanpa keterpaksaan, tapi sayangnya itu belum bisa kesampaian, lantaran panggilan putranya yang tidak disangka-sangka justru hadir diantara mereka.


"Sayang? Kenapa sudah bangun?" tanya Brianna pada Chico yang mendekat kearah mereka.


"Aku lapar, Mom."


"Ah ... kau mau makan apa, Sayang? Momma belum memasak," ujarnya dengan wajah bersalah.


"Kita pesan saja makanannya," timpal Arthur yang mulai menyesuaikan keadaan, padahal jika boleh mengutarakan perasaannya saat ini, dia ibarat dilambungkan tinggi-tinggi lalu dihempaskan lagi. Tapi mau bagaimana, gangguan itu berasal dari putranya sendiri yang tak tau menahu pasal kebutuhan orangtuanya. Hfffff ....


Chico menyebutkan beberapa menu kesukaannya yang semuanya dituruti Arthur untuk dipesan antar.


"Terimakasih banyak, Paman."


Arthur mengelus rambut Chico seraya menganggukkan kepala sebagai respon atas ucapan terima kasih sang putra.


"Kau tidak usah berterima kasih padaku, Nak, sebab apapun yang kau dapatkan dariku sudah sepatutnya untuk ku penuhi karena kau adalah tanggung jawabku," batin Arthur yang menatap Chico dengan sorot haru.


"Paman, aku menyukaimu. Apa kau mau menjadi pacarku juga?" celetuk Chico tiba-tiba. Hal itu lantas membuat Brianna dan Arthur saling bertatapan satu sama lain, kemudian mereka tertawa kecil.


Brianna menunggu jawaban apa yang akan Arthur berikan pada putra mereka. Sementara Arthur terlihat diam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab dengan cukup tenang.


"Kau tau arti pacar, Boy?"


"Pacar adalah orang yang kita sukai."


Arthur menggeleng sambil tertawa pelan atas jawaban polos Chico.


"Pacar adalah orang yang akan kau miliki suatu saat nanti, tapi tidak sekarang," kata Arthur berusaha menjawab sesuai pemahaman putra kecilnya.


"Itu berarti paman tidak mau menjadi pacarku?"


"Ya. Paman tidak mau. Lagipula, kau bilang paman sudah menjadi pacar Momma kan? Jadi tidak boleh berpacaran dengan yang lain lagi. Cukup 1 orang saja."


Chico menatap Arthur dengan tatapan ingin taunya, seolah tengah mencerna kalimat Arthur barusan.


Arthur terkekeh, kemudian mengusap gemas rambut Chico secara berulang-ulang.


"Begini, kalau kau besar nanti, kau baru bisa memiliki pacar, sekarang belum boleh. Dan pastikan pacarmu nanti adalah seorang perempuan. Kau mengerti?"

__ADS_1


Brianna berdehem atas pernyataan Arthur kepada putra mereka. Seketika itu juga Arthur menoleh pada istrinya.


"Aku tau hal ini belum layak dibahas bersama Chico, tapi setidaknya dia harus memiliki gambaran agar tidak salah pengertian." Arthur mencoba menjelaskan pada Brianna yang direspon wanita itu dengan memutar bola matanya.


Setelah itu Brianna berlalu menuju dapur untuk menyiapkan perlengkapan makan mereka sebelum pesanan datang.


Arthur kembali pada Chico yang masih tampak diam, bocah itu sepertinya tidak begitu paham penjelasan Arthur yang terakhir.


"Sudahlah, Boy. Jangan dipikirkan, kau belum boleh memikirkan banyak hal. Bagaimana kalau kau menjadi anak paman saja, seperti kesepakatan kita waktu di Rumah Sakit, hmm?"


Chico menatap Arthur dengan mata berbinar.


"Bolehkah? Tapi, aku sudah memiliki ayah," jawab Chico pelan.


"Tentu saja boleh. Aku akan menjadi Daddy untukmu. Kau mau?"


Chico mengangguk dengan bersemangat.


"Good boy!" Arthur dan Chico saling beradu tos.


"Sekarang, coba panggil aku ... Daddy," pinta Arthur.


"Daddy?" ulang Chico mengikuti kata-kata pria itu.


Wajah Arthur langsung berubah semakin semringah. Dia benar-benar terharu mendengar Chico memanggilnya 'Daddy'. Apa dia boleh menangis sekarang?


"Coba ulangi lagi."


"Dad Arthur?"


Arthur segera memeluk tubuh kecil Chico saat itu juga.


"Thanks, Boy. Kau adalah anak Daddy," gumamnya disela-sela pelukan itu.


Dengan wajah bingung sekaligus senang, Chico menatap Arthur kembali setelah pelukannya terlerai.


"Jadi, aku punya Daddy juga sekarang?"


"Ya, tentu saja kau punya. Aku adalah Daddy-mu," jawab Arthur tanpa keraguan.


Saat Brianna kembali ke ruang tamu, dia melihat Arthur menciumi Chico berulang kali. Brianna menatap heran dan penuh selidik, sebenarnya apa yang kini tengah mereka bahas? Saat tanpa sengaja bertatapan dengan Arthur, Brianna justru mendapati jika mata pria itu berkaca-kaca.


Belum sempat Brianna bertanya ada apa, tiba-tiba Chico menoleh padanya dan berkata riang.


"Mom. Aku sudah punya Daddy sekarang. Dad Arthur adalah Daddy ku!"


Mata Brianna membola, dia pikir Arthur sudah memberitahu Chico tentang kenyataan yang sebenarnya. Apa yang harus dia jelaskan nanti jika Chico bertanya padanya? Sebab Brianna belum menyusun kata untuk memberi bocah itu pengertian mengenai hal ini.

__ADS_1


...To be continue ......


__ADS_2