
Brianna sudah mendengar apa keputusan Zach mengenai rencana pernikahannya dengan Arthur. Untuk itu, dia berusaha mencegah Zach agar tidak benar-benar memukuli Arthur seperti yang dia dengar.
Brianna tidak benar-benar tega untuk melihat Arthur merasakan penyiksaan dari adiknya. Meski dia tau Arthur sudah rela untuk diperlakukan oleh Zach seperti itu demi restu yang diinginkan, tapi tentu saja Brianna tidak sekejam itu untuk membiarkannya begitu saja.
Jika mengikuti egonya, maka Brianna merasa Arthur pantas mendapat pembalasan dari Zach terkait perbuatannya pada Brianna selama ini. Tapi, entah kenapa jika itu dibahas sekarang Brianna benar-benar tidak kuat hati untuk merelakan Arthur dipukuli.
Untuk itulah, dia menunggu Zach pulang demi dapat berbicara pada adik lelakinya tersebut agar dapat memikirkan lagi syarat lain yang dapat dilakukan Arthur demi restunya. Paling tidak, Brianna hendak meredam kemarahan Zach untuk hal ini.
"Zach ..." Akhirnya Zach pulang setelah Brianna menunggunya cukup lama.
Zach terkejut sebab yang menyambutnya pulang ke Apartmen bukanlah Flo, melainkan sang kakak. Dia bisa menebak kenapa Brianna hendak menemuinya.
"Kau mau bernegosiasi denganku?" tanya Zach to the point.
Brianna tampak menundukkan kepalanya, dia menimbang-nimbang hal apa yang patut dia sampaikan pada Zach.
"Duduklah dulu, aku mau bicara denganmu dengan hati yang dingin."
"Bahkan untuk memulainya saja hatiku sudah terbakar," sarkas Zach.
Brianna tersenyum kecut. "Zach, demi apapun ... aku tidak menyalahkanmu jika kau sampai begitu membenci Arthur," mulainya.
Zach duduk didepan Brianna, menunggu kalimat apa lagi yang akan kakaknya sampaikan.
"Lalu?" tanya Zach.
"Aku sadar, kau begitu membenci Arthur juga karena aku. Andai dulu aku tertutup padamu, tidak mengatakan siapa yang menghancurkanku, mungkin kau akan mudah menerima Arthur tanpa perlu memandangnya sebelah mata."
Zach terkekeh miris. "Jadi kau menyesal karena sudah menceritakan kebusukan pria itu padaku?" ujarnya tak habis pikir.
Brianna mendekat pada Zach, menggenggam jemari adik lelakinya tersebut. "Bagaimanapun, ini tentangku, Zach. Aku sudah bisa memaafkannya jadi ku harap kau juga mau menerimanya," paparnya.
Zach mendengkus. "Tidak, sebelum aku memukulinya sampai puas," katanya tetap bersikukuh.
__ADS_1
"Zach ... selesaikan ini sebagai pria dewasa. Kau bukan lagi seorang remaja labil yang menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan."
"Aku tidak peduli." Zach membuang muka, tak ingin melihat wajah kakaknya yang tampak memohon didepannya.
"Zach ... bagaimanapun ini adalah pilihanku. Aku sudah memilihnya."
Sekarang Zach tertawa sumbang. "Kau jatuh cinta padanya? Apa tidak ada pria lain didunia ini? Kau sampai seperti ini didepanku, Bri. Aku tidak habis pikir dengan sikapmu ini, hanya demi dia yang sudah menghancurkanmu, kau rela jadi begini,... ah! Seharusnya kau sadar, sebelum kau menyesalinya!" Zach berlalu dari hadapan Brianna setelah mengucapkan kalimat yang menunjukkan rasa kecewanya.
Brianna tercenung melihat kepergian Zach. Dia tau ini semua berawal darinya yang turut menanamkan dendam dihati Zach terhadap sesosok pria bernama Arthur Mattews.
"Bri, ayo minum dulu," kata Flo yang tiba-tiba muncul sembari membawakan segelas jus jeruk untuk Brianna.
"Kau dengar semuanya?" tebak Brianna menatap Flo.
Flo mengangguk, tak mau menampik. Meski dia tidak berniat mendengar pembicaraan antara suami dan kakak iparnya, tapi Apartmen mereka terlalu kecil untuk tidak mendengar perdebatan keras yang baru saja terjadi diantara mereka. Mungkin pula percakapan Zach dan Brianna tadi sampai ke Apartmen tetangga.
"Aku tidak bermaksud mencampurinya," kata Flo menatap prihatin pada Brianna.
"Jika kau tidak keberatan, aku akan bicara padanya nanti. Bolehkah aku membujuknya? Meski ini terlihat mencampuri urusan kalian?" tanya Flo hati-hati.
Brianna mengadah pada wanita cantik itu. "Kau serius mau membujuknya? Ku pikir dia akan mendengar pendapatmu sebagai istrinya, jadi tak masalah bagiku. Kau bukan mencampuri urusan kami, karena kau juga bagian dari keluarga kami, Flo," kata Brianna.
Flo mengelus pundak Brianna. "Aku akan mengusahakannya. Ku pikir Zach tidak mungkin melakukan tindak keji pada Arthur, karena jika dia mau, dia pasti sudah melakukannya sejak Arthur mengaku telah menikahimu di catatan sipil waktu itu.
...****************...
"Zach ..." Flo menghampiri suaminya yang tampak merokok di balkon apartemen. Zach sebenarnya bukan perokok aktif, tapi dia akan melakukan kegiatan itu sesekali disaat pikiran dan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Zach tak menyahuti panggilan Flo, dia hanya melirik wanita itu sekilas.
"Maaf jika aku ikut campur masalahmu dan Brianna. Aku hanya ingin menjadi penengah diantara kalian," mulai Flo.
Zach mengembuskan asap rokoknya ke depan, tanpa menatap pada istrinya.
__ADS_1
"Apakah kau pernah berpikir bahwa permasalahan ini mirip dengan masalah rumah tangga kita?"
Zach berdecih pelan. Tentu dia tau apa yang akan dimaksudkan Flo disini.
"Apa begitu sulit kau merestui mereka, Zach? Mereka hanya ingin menikah. Bukankah itu sesuatu yang baik?"
Zach tetap diam. Namun dia mendengarkan segala ucapan Flo dengan seksama.
"Kau tau pasti bagaimana rasanya menjalani pernikahan tanpa restu, jadi---"
"Jangan mengait-ngaitkan soal Arthur dengan pernikahan kita, Flo!" sela Zach tak terima.
"Aku bukan mengaitkan, tapi aku hanya ingin kau menilai dari hal yang sudah kau jalani." Flo memeluk lengan Zach dari samping. Mereka sama-sama menatap lurus ke depan. "Pernikahan tanpa restu itu tidak mudah, dan kau tau pasti mengenai hal itu. Bercermin darimu, Brianna tidak mau pernikahannya nanti juga seperti kita," lanjutnya.
"Aku tidak merestui pernikahan mereka karena Arthur pernah berlaku kejam dengan menghancurkan hidup Brianna, Flo. Berbeda denganku yang tidak mendapat restu dari keluargamu karena aku hanya pria miskin."
"Ya, kau benar," jawab Flo mantap. "Maka dari itu, belajarlah dari hal itu, Sayang. Tidak seharusnya kita mempersulit niat baik orang lain. Brianna sudah memaafkan Arthur, kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama? Mungkin setelah kau bisa mengikhlaskan keadaan ini, segala urusan kita juga akan dipermudah," sambungnya.
Zach terdiam. Dia sangat tau bagaimana pernikahannya dan Flo yang belum direstui hingga saat ini. Kesalahannya adalah mencintai anak orang kaya dan nekat menikahinya, tidak peduli jika pada saat itu dirinya baru saja lulus sekolah. Cinta membuatkan segalanya, membuatnya menentang rintangan yang dirasa menghalanginya.
Ucapan Flo benar, seharusnya dia berkaca dari pengalamannya sendiri bahwa pernikahan tanpa restu itu tidaklah mudah. Salah satu ujian mereka setelah nekat menikah adalah belum mendapat kepercayaan dari Yang Kuasa untuk mendapatkan keturunan, meski mereka sudah melakukan banyak cara selama 3 tahun pernikahan.
Terkadang Zach berpikir, mungkin ini semua ada kaitannya dengan tindakannya dimasa lalu yang, sehingga tidak seharusnya dia mempersulit niat baik Brianna dan Arthur seperti yang dikatakan oleh istrinya.
"Mungkin saja saat kau mengikhlaskan sesuatu, segala hal baik akan mulai melingkupimu."
Zach menoleh pada Flo yang kini menyandarkan kepala di pundaknya. Dia tau jika didalam dirinya ada banyak dendam yang terpendam. Mungkin benar yang Flo katakan, sudah selayaknya dia mengikhlaskan semua, melepas dendam yang selama ini dia pupuk dihatinya dan justru menjadikan itu beban tersendiri untuknya.
"Pernikahan kita memang tidak mudah, Zach. Maka dari itu, jangan membuat pernikahan orang lain menjadi sama tak mudahnya dengan yang kita jalani, apalagi ini adalah pernikahan kakakmu sendiri."
Inilah hal yang membuat Zach amat mencintai Flo, setiap kata yang diucapkan oleh wanita itu seakan mampu membuka mata hatinya yang tertutup, juga menyadarkannya atas segala kekeliruan yang nyaris dia lakukan.
...To be continue ......
__ADS_1