FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
70. Persiapan


__ADS_3

Brianna memberondong Zach dengan banyak pertanyaan. Termasuk kenapa sang adik akhirnya merestui pernikahannya dengan Arthur. Dan jawaban Zach sungging diluar prediksinya.


"Aku hanya tidak mau menghambat niat baik orang lain."


Membuat Brianna terpana atas kebijakan sang adik.


"Kau serius?"


Zach memutar bola matanya. "Kenapa? kau mau aku berubah pikiran?" sarkasnya.


Brianna menyengir, tentu dia tak ingin Zach menarik kembali restunya. Dia hanya masih ragu kenapa Zach bisa merestui pernikahannya dengan Arthur begitu saja.


"Sekarang bisakah aku bertanya padamu?" ujar Zach.


"Apa?"


"Kau mencintainya?"


Brianna menundukkan kepalanya.


"Atau kau mau memanfaatkan keseriusannya untuk menghancurkannya?" tuding Zach kemudian.


Tatapan Brianna kembali terangkat, dia menatap Zach lurus-lurus. "Kenapa kau dan Arthur sama saja? Mengira aku ingin membalas dendam," paparnya tak habis pikir.


"Ya, karena aku mengira selama ini kau mungkin menyusun rencana untuk menghancurkannya. Sebab dia adalah pria yang menghancurkanmu."


Brianna menarik nafas sepenuh dada. "Aku jatuh cinta padanya. Apa kau puas?" tanyanya.


Zach menyeringai. "Sudah ku duga. Baiklah, kalau begitu tak ada alasan bagiku untuk menghalang-halangi pernikahan kalian."


"Thank you, Zach," ujar Brianna tulus.


"Aku hanya ingin memastikan jika kau menikah dengan orang yang mencintai dan dicintai olehmu," kata Zach dengan lapang dada.


"Terima kasih." Sekali lagi Brianna mengucapkan rasa terimakasihnya pada sang adik yang mau memahami perasaan dan kondisinya.


"Ku pikir dia memang yang paling layak menjadi ayah untuk Chico. Chico juga sudah dekat dengannya."


"Kau benar. Dia yang terbaik," akui Brianna mengingat sikap hangat Arthur kepada putra mereka.


"Aku hanya mengatakan dia layak menjadi ayah Chico, bukan berarti dia yang terbaik, karena yang terbaik tetaplah aku," kelakar Zach jumawa. Dan Brianna justru menganggukinya.


"Ya, ya, kau yang terbaik Zach!"


...***...


Pesta pernikahan Brianna dan Arthur segera diurus oleh Jane begitu restu dari Zach sudah mereka dapatkan.


Brianna berpesan untuk tidak mengadakan pesta besar-besaran, sebab dia sadar bahwa dia bukanlah seorang gadis lagi untuk melakukan prosesi yang berlebihan. Akan tetapi, menurut Jane Brianna tetaplah seorang yang belum pernah menikah. Dia layak mendapatkan yang terbaik, apalagi dia sudah memberikan keturunan untuk keluarga Mattews.


Brianna sungguh tidak pernah menyangka bahwa atasannya bisa menjadi mertuanya. Kini Jane benar-benar sudah menjadi bagian dari keluarganya. Yang syukurnya, dia diterima dengan baik oleh wanita itu.

__ADS_1


Menjelang acara pemberkatan. Chico banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis seperti biasanya. Dia bertanya ini dan itu yang seringkali membuat Arthur ingin menyerah dan angkat tangan saja jika tidak menemukan jawaban atas pertanyaan polos Chico yang absurd.


"Dad, kenapa harus menikah dengan Momma ku?"


"Kenapa Momma tidak menikah dengan Ayah Zach saja? Bukankah Ayah Zach adalah Ayahku?"


"Bagaimana jika aku ikut menikah juga?"


Dan banyak pertanyaan lain yang diajukan oleh Chico dengan suara cadelnya.


Ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab dan diatasi oleh Arthur, namun ada juga yang justru membuatnya bingung untuk menjawab apa.


Sampai akhirnya persiapan pernikahan mereka bisa dikatakan selesai hingga 85%


Pada satu kesempatan, Brianna menanyakan pada Arthur terkait pekerjaan pria itu di Canada. Sesuatu yang sejak lama membuat Brianna penasaran.


"Arthur, bagaimana dengan pekerjaanmu di Canada? Bukankah kau harus kembali kesana?"


"Tentu saja, Sayang. Kau tau aku punya tanggung jawab disana."


"Lalu bagaimana dengan aku dan Chico? Jika kau kembali ke Canada maka kami akan tetap tanpamu di New York." Wajah Brianna tampak berubah sendu.


Arthur mengelus rambut pirang Brianna yang bergelombang. "Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkanmu lagi, jadi kita akan ke Canada bersama-sama," ujarnya.


"Maksudmu kita tinggal disana?"


"Humm," jawab Arthur sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak setuju untuk ikut denganku ke Canada?" tanya Arthur kemudian.


"Aku memikirkan tanggung jawabku disini," jawab Brianna jujur.


"Tanggung jawab apa? Tanggung jawabmu disini hanyalah Chico. Dan saat kau menikah denganku, kau yang akan menjadi tanggung jawabku."


"Pekerjaanku---"


Belum sempat Brianna melanjutkan kalimatnya, itu sudah disela oleh suara kekehan Arthur.


"Kenapa kau tertawa?" tanggap Brianna atas respon pria itu.


"Bukan apa-apa, aku hanya heran saat kau masih memikirkan pekerjaanmu. Haruskah aku meminta Mommy untuk memecatmu agar kau tidak memikirkan pekerjaan lagi?"


Brianna mengernyitkan dahi.


"Sayang, dengar ..." Arthur membelai wajah Brianna lembut. "Pekerjaanmu selanjutnya bukan lagi di New York, melainkan di Canada. Dan itu dibawah naunganku," lanjutnya.


"Maksudnya aku akan bekerja menjadi asisten pribadimu lagi?" tanya Brianna.


"No."


"Lalu?"

__ADS_1


"Hanya menjadi istriku dan menjadi ibu untuk anak-anak kita."


Mata Brianna tampak berkaca-kaca. "Maksudmu aku tidak bisa bekerja lagi? Begitu?"


"Yah. Semuanya menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu."


Brianna mengulas senyum penuh haru.


"Kau sudah terlalu lama menjadi tulang punggung untuk menghidupi Chico, kini biar aku mengambil alih peran itu ... menanggung hidupmu dan anak-anak kita."


Brianna membalas jawaban Arthur dengan mengelus rahang kokoh milik pria itu. "Thank you, Arthur," ujarnya penuh rasa syukur.


"Hmm, I love you." Arthur mengecup ujung bibir Brianna sekilas, yang justru membuat Brianna menundukkan kepala dengan senyum malu-malunya.


"Kau malu?" Arthur tertawa pelan. Dia mengacak rambut Brianna singkat.


"Kau tidak perlu melakukannya disini, karena disini ada banyak orang," jawab Brianna masih dengan kepala yang tertunduk.


Arthur melihat sekitar, dimana memang tengah ramai orang yang berlalu-lalang untuk menyiapkan dekorasi pernikahan mereka disebuah ballroom hotel.


"Haha, jadi kau mau melakukannya dimana? Ditempat yang hanya ada kita berdua?"


Brianna tergelak, yang sejurus kemudian menanggapi ujaran Arthur.


"Dasar mesum!" tudingnya.


Arthur mengendikkan bahu cuek, merasa ucapan Brianna bukanlah tuduhan, melainkan kenyataan. Dia tidak malu akan hal itu, sebab merasa mesum pada tempatnya. Bukankah Brianna adalah istrinya sendiri. Jadi dimana masalahnya? itu tidak salah sama sekali.


"Apa kau mau memesan kamar di hotel ini sekarang? Untuk hari ini?" tawar Arthur dengan kilatan mata yang penuh arti.


Brianna menepuk bahu Arthur kesal. "Sabarlah, kita bisa melakukannya setelah semua prosesi ini selesai," paparnya.


"Tak perlu. Kita sudah menikah sejak sebulan yang lalu jadi sekarang pun tak masalah."


"Ck!" Brianna berdecak lidah. "Kau benar-benar tidak sabaran," ujarnya.


"Ya, itulah aku. Apa kau mau?" Lagi-lagi Arthur menawarkan. Membuat Brianna geleng-geleng kepala.


"Ayolah! Mumpung Chico sedang jalan-jalan bersama Mommy."


Brianna mencubit tangan Arthur. "Jangan harap. Kita hanya bisa melakukannya setelah semua urusan pernikahan kita selesai," tandasnya sampai pada keputusan akhir.


Arthur menghembuskan nafas kasar. Dia tau keputusan Brianna sudah mutlak dan itu berarti dia harus lebih bersabar untuk menahan dorongan diri yang sudah beberapa Minggu ini tidak tersalurkan.


"Sepertinya aku harus berpuasa," kelakar Arthur yang membuat Brianna kembali terkekeh nyaring.


"Ya, kau harus belajar berpuasa," tanggap Brianna yang membuat Arthur mendengkus sebal, namun melihat Brianna tertawa lepas, justru membuat hatinya turut bahagia.


Arthur merasa hidupnya mulai lengkap sekarang. Padahal dulu dia tak pernah memikirkan soal pernikahan, tidak disangka semua haluan hidupnya harus berubah ketika dia kembali dipertemukan dengan gadis yang dulu dia hancurkan.


...To be continue......

__ADS_1


__ADS_2