
"Apa ini?"
Dugaan Arthur tidak salah, bahkan bukan Arthur yang mencarinya sekarang, melainkan Zach yang mendatanginya sendiri untuk mengklarifikasi tindakan yang Arthur lakukan ditempat kerja adik iparnya tersebut.
"Akhirnya kau mau menemuiku," kata Arthur dengan seringai khas-nya.
Zach mendengkus, kemudian menyorot Arthur dengan tatapan tak bersahabat. "Aku tau kau punya banyak uang, tapi apa yang kau lakukan ini tidak seharusnya!" hardiknya.
"Aku hanya menjadi investor disini, jadi tak salah jika sesekali aku berada ditempat ini untuk memantau proses kerja disini," jawab Arthur apa adanya.
"Tapi kau punya maksud tersendiri! Ini bukan karena kau benar-benar ingin berinvestasi, melainkan kau memiliki niat pribadi yang berurusan denganku!" Lagi, Zach menuding Arthur habis-habisan, tidak peduli jika sekarang mereka ada di kantin perusahaan tempatnya bekerja, sekaligus tempat Arthur menjadi investor baru.
"Baiklah, Zach. Kau tau pasti tujuanku. Mari kita membahasnya sekarang disini, atau nanti ditempat yang memiliki privasi."
Zach kembali mendengkus, dia tak suka perbuatan Arthur yang terkesan mengandalkan kekuasaannya hanya untuk menemui dirinya. Padahal dia sudah berusaha menghindar untuk bertemu dengan pria itu karena dia tau apa yang ingin dibahas Arthur dengannya. Zach terlalu malas meladeninya, juga sengaja untuk membuat semuanya tidak mudah.
"Kita bertemu secara pribadi di luar jam kerja!" kata Zach akhirnya.
Arthur bernafas lega karena akhirnya Zach menyerah dan mau bicara empat mata dengannya.
Tidak ada yang sia-sia, termasuk modal yang sudah dia keluarkan untuk hal ini, pikir Arthur. Tapi, siapa yang tau keputusan Zach nanti? Atau justru pria itu akan semakin geram dengan Arthur karena apa yang dia lakukan ditempat kerja Zach? Entahlah.
"Oke. Temui aku disini," kata Arthur menyerahkan sebuah alamat untuk tempatnya bicara bersama Zach.
Zach mengangguk samar. Dia masih belum berniat bicara dengan Arthur sebenarnya, hanya saja sekarang keadaannya berbeda. Dia tak mau pria itu semakin berbuat sesuka hati ditempatnya mencari nafkah. Zach juga tak mau membuat keributan disana yang akan memancing perhatian banyak orang, apalagi sekarang dia tau jika Arthur adalah salah satu investor di kantornya. Maka mau tak mau dia memilih opsi yang Arthur berikan untuk menemui pria itu.
...***...
"Aku akan menemuinya sore ini," kata Arthur lewat saluran seluler pada Brianna. Dia sadar, jika waktunya banyak terbuang percuma hanya untuk bicara dan meyakinkan Zach, tapi tak mengapa yang penting dia ingin mewujudkan keinginan Brianna yakni menikah dengan restu sang adik. Zach adalah satu-satunya keluarga yang tersisa untuk Brianna, maka dari itu restunya amat berarti untuk wanita itu dan Arthur memahaminya.
"Akhirnya dia mau menemuimu?" tanya Brianna dari seberang sana.
"Yah. Dengan sedikit usaha," jawab Arthur tak mengatakan apa usaha yang dilakukannya untuk pertemuan ini.
"Aku berterimakasih padamu karena mau berusaha."
"Humm, aku pasti melakukannya untukmu, Baby," jawab Arthur tulus.
"Beritahu aku apa jawaban Zach nantinya," kata Brianna lagi.
__ADS_1
"Dia akan merestui kita. Aku yakin akan hal itu."
"Jika ternyata dia tetap pada keputusannya, bagaimana?"
Arthur terdiam cukup lama atas pertanyaan yang Brianna lontarkan, sebenarnya dia juga tak tau harus bagaimana jika ternyata Zach tetap tidak merestui pernikahan mereka, karena bagi Brianna restu pria itu begitu penting. Apakah Arthur akan tetap memaksa Brianna untuk melakukan sakramen pernikahan tanpa restunya?
"Aku tidak tau. Tergantung kau saja. Apa kau mau menikah tanpa restunya?"
"Aku tidak bisa, Arthur." Brianna menyahut dengan suara lesu.
"Maksudmu, jika Zach tidak merestui maka---"
"Kita berpisah saja. Jangan memaksakan sesuatu karena hasilnya akan tidak baik."
Mendengar itu dari bibir Brianna, rasa-rasanya Arthur hendak menangis. Dia tidak siap untuk berpisah. Bagaimana mungkin Brianna mengucapkan hal seperti itu dengan mudahnya?
"No!" jawab Arthur dengan suara tercekat. Sekuat mungkin dia menutupi kehancuran hatinya untuk hal ini. "Kita akan tetap menikah karena Zach akan merestui kita, aku akan berusaha untuk hal itu," katanya mencoba meyakinkan, meski dirinya sendiri tak yakin apa jawaban Zach nanti sebab menilik dari perbuatan Zach yang selalu menghindar darinya dan mengulur-ulur waktu, sepertinya pria itu memang tak berniat untuk merestui pernikahan mereka.
"Kalau begitu, kita tunggu saja keputusan Zach. Jika memang dia tetap tidak luluh padamu, kau bisa segera kembali ke Canada dan melupakan kami, Arthur."
"Bri, bagaimana bisa kau mengatakan ini? Aku bahkan sangat tidak sabar untuk meresmikan pernikahan kita, juga tinggal bersama dengan Chico nantinya."
"Ya, aku tau. Sejujurnya aku juga begitu," akui Brianna apa adanya.
"Aku tidak bisa. Jika aku diharuskan memilih antara kau atau Zach, aku tetap akan memilih adikku," kata Brianna dengan berat hati. "Dia adalah sosok yang sudah ada dalam hidupku sejak aku kecil, dia tau kesulitan ku dan dia yang membantuku kala aku susah. Jadi maafkan aku untuk hal ini," paparnya dengan suara serak.
Arthur tak menyalahkan Brianna akan pilihannya, dia sadar diri bahwa untuk menjadi lebih baik dari Zach dimata Brianna, itu tidaklah mungkin sebab dia memang belum sampai ditahap itu. Belum banyak waktu, momen bahagia, maupun pengorbanan yang sudah dia berikan untuk sang wanita, sebab yang dia ciptakan selama ini dalam hidup Brianna hanyalah luka. Wajar jika Brianna enggan memilihnya, meski kini Arthur yakin jika dihati Brianna mulai tumbuh benih-benih cinta untuknya.
...***...
Arthur menunggu Zach disebuah ruangan privat yang dia pesan khusus untuk pertemuan ini. Ruangan itu ada disebuah restoran keluarga, tapi karena yang Arthur pilih adalah ruang khusus maka percakapan mereka takkan didengar oleh siapapun.
Zach tidak kunjung datang hingga setengah jam Arthur menunggu. Sebenarnya Arthur sudah mulai kesal, tapi dia harus kembali bersabar.
Tak lama dari itu, Arthur mendengar langkah kaki mendekat. Dia berharap ini benar-benar Zach yang akan menemuinya dan syukurnya dugaannya tidak salah. Adik dari Brianna itu muncul di ruang pribadi yang dipesannya.
"Aku tidak akan meminta maaf atas keterlambatanku, seorang pekerja kasar sepertiku, terkadang dituntut untuk loyal waktu dalam bekerja," ujar Zach begitu memasuki ruangan tersebut.
Yang akhirnya Arthur mengerti bahwa kedatangan Zach yang terlambat bukanlah karena faktor kesengajaan. Itu karena Zach harus bekerja lebih lama dari waktu yang biasanya.
__ADS_1
"Tak masalah." Arthur menjawab singkat kemudian meminta Zach menyantap menu makanan yang sudah tersedia, sebab dia tau Zach pasti lapar karena baru saja pulang bekerja dan langsung menemuinya.
"Makanlah," ujar Arthur dengan nada sopan, tapi Zach menggeleng dengan tegas sebagai bentuk penolakan.
"Kau boleh membenciku, Zach, tapi makanan ini sudah terlanjur dipesan dan jangan kau jadikan pelampiasan kemarahanmu padaku."
Zach diam sesaat, kemudian menyuarakan pendapatnya. "Apa kau pikir aku akan luluh dengan sogokan makanan?" sinisnya.
Arthur terkekeh pelan. "Aku tau kau tidak akan mempermudah semuanya, meski aku memenuhi kebutuhan makananmu setiap hari, tapi diluar dari itu makanan ini sudah terlanjur ada dan kau harus memakannya," ujarnya.
Zach menggelengkan kepalanya dengan samar. Dia tidak berniat menyentuh makanan itu, tapi apa yang Arthur katakan ada benarnya bahwa makanannya terlanjur ada untuk dimakan. Bukankah begitu?
Arthur tampak cuek menyuap makanannya, dia berharap dengan tindakannya itu Zach juga mau menyentuh menu yang sudah dipesan tersebut meski dia tak yakin.
Syukurnya Zach mengikuti pergerakannya untuk makan.
Zach hanya terlalu menghargai makanan sebab dia tau bahwa membuang-buang makanan adalah hal yang tidak baik. Betapa hidupnya pernah susah, bahkan untuk mendapat sesuap nasi saja. Untuk itu, dia pun memilih untuk memakannya. Itu dia lakukan lebih kepada menghargai makanan itu, bukan karena menganggap seseorang yang telah memesankannya.
Arthur tersenyum kecil melihat Zach mau ikut makan bersamanya. Dia optimis Zach akan merestui pernikahannya dengan Brianna.
"Kau tentu tau maksudku yang bersikeras untuk menemuimu, Zach," mulai Arthur.
Zach diam saja. Dia tau niat Arthur pasti ada kaitannya dengan kakaknya.
"Aku dan Brianna sepakat untuk melakukan sakramen pernikahan di gereja, meresmikannya, kemudian mempublikasikannya."
Wajah Zach tampak biasa saja, sepertinya dia tak terkejut lagi dengan hal yang ingin Arthur sampaikan.
"Brianna terlalu menghargaimu sebagai keluarganya. Begitu pula aku, yang akan turut menganggapmu adik, sebagaimana status istriku yang adalah kakakmu ... jadi---"
"Ku pikir kau sudah tau syarat yang harus kau lakukan untuk menerima restuku," sela Zach sambil menyeruput minumannya.
Arthur langsung mengingat momen percakapannya dengan Zach tempo hari, dimana Zach mengatakan akan merestui pernikahan mereka asal Arthur bersedia untuk Zach pukuli sampai dia merasa puas. Apa syarat itu yang dimaksudkan Zach disini?
"Jadi, kau mau menghajarku sampai puas?" tanya Arthur akhirnya.
"Ya. Aku adalah orang yang selalu berkomitmen dan memegang kata-kata ku, maka dari itu ku rasa kau harus memahaminya."
Glek ... Arthur menelan ludahnya dengan sulit, ini berarti dia harus rela menjadi samsak untuk Zach pukuli sesuka hati, sampai pria itu puas? Dan Zach sedang menuntut jawaban Arthur agar dia dapat merealisasikan ucapannya yang dia katakan sebagai komitmen.
__ADS_1
"Jika hal itu bisa membuatmu merestuiku dan Brianna, aku akan melakukannya," putus Arthur akhirnya. Dia pikir-pikir akan jauh lebih baik jika fisiknya terluka karena pukulan Zach, daripada hatinya yang hancur dan tidak akan sembuh karena ditinggalkan Brianna dan juga Chico.
...To be continue ......