
Brianna terbangun menjelang sore. Hal pertama yang dia rasakan ketika bangun dari tidurnya adalah merasa aneh dengan keberadaannya sekarang. Ah, setelah mencoba mengingat beberapa saat, barulah Brianna yakin bahwa saat ini dia masih berada di Apartmen milik Arthur.
Akan tetapi, kenapa tiba-tiba Brianna berada di kamar? Seingatnya, dia hanya meringkuk di koridor dekat pintu keluar.
Arthur. Apa pria itu yang memindahkannya?
Brianna mencoba bangkit, kemudian berjalan pelan ke pintu kamar, dia menekan handle pintu dan keluar dari sana.
Brianna terdiam ditempat saat menyaksikan Arthur yang juga tertidur di sofa tanpa mengenakan bajunya, pria itu tampak hanya mengenakan celana pendeknya saja. Brianna membuang muka, mencoba mengabaikan Arthur, dia berjalan ke arah dapur.
Brianna merasa perutnya perlu diisi, meski tadinya mencoba protes pada keadaan dengan cara mogok makan, juga mencoba untuk tidak menggubris pasta yang sempat Arthur suguhkan, tapi sekarang dia tak bisa memungkiri jika dia merasa sangat lapar.
Brianna melihat pasta-nya sudah berpindah ke meja bar yang menghubungkan ke arah dapur. Dia lalu memutuskan untuk menghangatkan pasta itu di microwave, setelah beberapa saat, Brianna akhirnya duduk di stool bar demi memakan pastanya.
Ternyata masakan Arthur boleh juga, entah karena pengaruh perut yang sudah sangat menuntut untuk diisi, tapi yang jelas Brianna menikmati makanan tersebut.
"Akhirnya kau makan?"
Brianna terkesiap mendengar suara itu, dia menoleh dan mendapati Arthur sudah berdiri dibelakangnya. Brianna tidak tau kapan tepatnya pria itu terbangun, hanya saja dia memang tak menyadarinya.
Brianna tak menjawab pertanyaan Arthur, dia merasa itu tak perlu dijawab. Dia melanjutkan makan sampai piringnya kosong, lalu dia melanjutkan untuk langsung mencuci piringnya di sink.
Arthur berdecak sebab merasa diabaikan. Dia akhirnya bergerak menuju kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari dalamnya.
Arthur duduk di stool bar, mengambil gelas lalu meminum airnya sembari memperhatikan Brianna yang sedang mencuci piring.
"Kapan aku bisa menghubungi Chico?"
Brianna hanya diam, dia terlalu lelah untuk berdebat, menyangkal, atau menjawab pertanyaan Arthur. Brianna hanya bisa mengacuhkannya.
"Atau aku ke New York saja untuk menemuinya secara langsung?"
Gerakan tangan Brianna yang sedang menggosok piring terhenti, dia memejam seraya menelan saliva yang terasa pahit.
"Tak apa jika kau mau mendiamkan aku. Tapi kau harus ingat jika aku hanya memberimu waktu sehari untuk opsi yang ku berikan. Jadi, ku harap kau akan mengeluarkan suaramu untuk menjawabku besok."
Arthur pergi dari sana setelah meletakkan gelasnya dengan keras di meja bar. Brianna sampai tersentak karena ulah pria itu.
...***...
__ADS_1
Sepanjang malam, Brianna memikirkan bagaimana caranya dia menghindar dari Arthur. Tapi, dia tak menemukan jawabannya.
Berulang kali wanita itu mencoba untuk tertidur tapi sulit. Memang Arthur tidak mengganggunya sejak pertemuan terakhir mereka di dapur sore tadi. Tapi Brianna benar-benar takut jika Arthur nekat menemui Chico tanpa sepengetahuannya.
Minimal, Brianna harus menjelaskan dulu sedikit banyak pada putranya, tidak dengan Arthur yang mendadak muncul dan itu akan membuat Chico bingung.
Brianna menelpon Chico malam itu, berharap mendapat ketenangan saat melihat mata putranya, mungkin dia juga bisa mendapatkan jawaban atas opsi yang Arthur berikan setelah berbicara dengan Chico, meski Brianna tak mungkin menanyakan pendapat bocah itu secara langsung terkait hal ini.
"Momma, i really miss you, so much," celoteh Chico dengan bibirnya yang mungil.
"Ya, sayang. Momma juga merindukan Chico. Bagaimana harimu, Boy? Semua baik-baik saja, bukan?"
"Yes, Mom. Semuanya baik, hanya saja ..."
"Kenapa?" Dahi Brianna mengernyit melihat raut sedih yang ditampilkan putranya.
"Hanya saja aku sangat merindukanmu, Momma."
Hati Brianna teriris melihat sang anak yang menatapnya sendu. Ingin rasanya Brianna menyentuh wajah itu, namun dia tidak bisa melakukannya. Chico sangat membutuhkannya, ingin dia ada disampingnya, tapi dia tak bisa, pekerjaan menuntutnya untuk meninggalkan Chico.
Brianna tak mau menjadi pengangguran. Dia tak mau suatu saat nanti Chico menjadi seperti dirinya dulu yang selalu diremehkan. Brianna ingin Chico mendapatkan semuanya tanpa harus meminta bantuan orang lain. Biar dia bekerja bagai kuda, yang jelas hidup Chico tak boleh kekurangan.
"Momma akan segera pulang, Sayang."
"Humm..." Brianna mengangguk. "Tapi syaratnya, Chico harus menjadi anak yang baik," kata Brianna menghibur bocah itu.
Perlahan-lahan wajah Chico yang senantiasa murung itu mulai semringah. "Baiklah, Mom. Aku akan menjadi anak baik setiap harinya. Aku akan menunggu Mom pulang. Cepatlah pulang, Mom."
Setelah percakapan yang diselingi dengan tawa mereka berdua, barulah Brianna merasa cukup tenang. Dia sempat terpikir untuk membuat rencana agar Chico dapat terhindar dari Arthur. Membawa Chico pergi jauh, seperti yang pernah dia rencanakan dengan Zach waktu itu.
Akan tetapi, Brianna merasa semuanya tidak ada gunanya lagi karena sekarang Arthur sudah tahu mengenai Chico dan pasti pria itu akan melakukan apa saja demi mencari putranya. Brianna dilema dengan hal ini, dia bukan takut akan kemurkaan Arthur, tapi dia khawatir Chico akan kecewa padanya, apabila semuanya terbongkar juga dihadapan sang anak.
"Apa Chico akan marah padaku, jika aku sengaja menyembunyikan mengenai siapa ayahnya yang sebenarnya?"
Sebab selama ini, yang Chico ketahui sebagai ayahnya hanyalah Zach. Entahlah, Brianna pusing memikirkannya.
...****...
Arthur menunggu kehadiran Brianna di ruang makan. Dia mengetuk jarinya di meja seolah-olah tidak sabar dengan apa jawaban yang akan Brianna berikan padanya hari ini.
__ADS_1
Tetapi, sampai pukul 8 pagi, wanita itu tidak kunjung keluar dari kamar yang ditempatinya di Apartmen Arthur.
Arthur hampir menyusul untuk menggedor pintu kamar Brianna jika wanita itu tidak kunjung datang dalam 2 menit berikutnya, untungnya saat Arthur ingin berdiri, Brianna tampak berjalan ke arahnya.
Arthur menyeringai. Dia mau Brianna menjawab tawarannya semalam.
Sementara itu, Brianna sendiri sebenarnya ingin sekali menghindar dari Arthur. Andai dia bisa kabur dari pria itu mungkin dia sudah melarikan diri. Sayangnya, Arthur pandai sekali. Pria itu bahkan membawa Brianna ke Apartmennya yang berada di lantai teratas gedung, mungkin supaya Brianna tidak coba-coba kabur lewat jendela kamar. Ah, sial. Benar-benar sial.
"Good mornin'," kata Arthur menyapa Brianna dengan senyum smirk-nya.
Brianna langsung pusing melihatnya. "Kalau kau mau menuntut jawabanku untuk pilihan yang kau berikan, maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang!" tegasnya.
Dan mata Arthur langsung membola, dia menunggu Brianna sejak tadi bukan untuk mendengar kalimat semacam ini.
"Kau tidak berhak mengatur apapun atas aku, karena disini aku yang menentukan," ujar Arthur dingin.
Brianna melipat bibirnya menjadi sebuah garis lurus, dia kembali bimbang.
"Kau boleh menemui Chico, Arthur." Brianna mengesah panjang setelah mengatakan kalimat itu.
"Ya. Itu memang hak-ku!" jawab Arthur acuh tak acuh.
"Tapi hanya menemuinya, itupun setelah aku memberikan pengertian padanya mengenai siapa dirimu untuknya," lanjut Brianna.
"Apa maksudmu dengan 'hanya menemuinya', huh?"
"Kau tidak bisa membawanya bersamamu. Kau tidak berhak menuntut hak asuh atasnya karena selama ini aku yang bersusah payah melahirkan, menjaga, merawat serta membesarkannya," tekan Brianna.
Arthur mengangguk. "Ya, tentu saja. Aku tidak akan melakukan itu dengan syarat kau menerima opsi kedua yaitu menikah denganku. Jadi, apa maksud dari ucapanmu ini mengartikan bahwa kau menerima untuk menikah denganku?" Senyum dibibir Arthur kembali melengkung.
Namun Brianna mengartikan senyuman itu seperti tengah mencemoohnya. Ya, Arthur kan memang selalu begitu.
"Tidak juga," jawab Brianna tenang. "Sudah ku bilang kau hanya boleh menemuinya, tidak perlu membawanya, dan kita juga tidak perlu menikah," lanjutnya.
Arthur tertawa sumbang. "Kau mencoba bermain-main denganku?" Dia berdiri, kemudian menuju pada Brianna. Sepersekian detik berikutnya, dia mencengkram dagu Brianna agar wajah wanita itu tertadah dan menatap pada matanya.
"Kita tidak bisa menikah, Arthur!" tegas Brianna menatap kedalam manik mata Arthur.
"Kenapa tak bisa?" tuntut Arthur dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, aku membencimu. Kau juga tidak mencintaiku. Kita tak bisa menikah, aku hanya ingin menikah dengan pria yang menginginkanku karena memiliki perasaan itu."
...To be continue ......