
Suasana Apartmen Brianna hari itu terasa berbeda dari biasanya hanya karena Arthur yang masih berada disana. Pria itu seakan mau menyelidik lebih dalam keseharian Brianna dan Chico di sore hari seperti ini, disaat wanita itu tidak bekerja.
Setelah memastikan Chico makan dengan baik, Brianna memandikan bocah itu. Arthur ingin turut andil, tapi Brianna mencegahnya karena tidak mau Arthur kebasahan. Padahal, Arthur tak masalah dengan hal itu, tapi Brianna tetap menolak bantuan dari sang pria. Hingga akhirnya, Arthur hanya bisa memperhatikan Brianna yang tengah memandikan Chico dari ambang pintu kamar mandi kecil yang terdapat di tempat itu.
Chico bermain air, terlihat amat kesenangan dan sesekali menyirami Brianna dengan percikan air yang diambilnya dari kran yang menyala.
"Hahaha!" Chico tertawa melihat Brianna yang berlagak merengut dan terlihat basah karena ulahnya.
Brianna ikut-ikutan menyirami bocah itu, membalas serangan yang Chico berikan. Arthur melihat interaksi itu dengan wajah semringah. Dia juga ingin ikut bermain air dengan mereka.
"Come on, Dad! Kita serang Momma!" ajak Chico dan Arthur ikut nimbrung di kegiatan un-faedah yang menyerukan itu.
"Arthur, nanti kau basah!" Brianna mencoba mengingatkan tapi Arthur tak peduli, dia tak mau kehilangan momen manis dimana dia bisa merasakan kebersamaan dengan anak dan istrinya seperti saat ini.
"Oke, Chico, sekarang giliran Daddy!" Arthur menyiram Brianna dengan percikan air juga membuat wanita itu tertawa seraya membalas perbuatan Arthur. Brianna sudah tak peduli lagi jika Arthur benar-benar basah karena hal ini, sebab Arthur sendiri yang memulai.
Lima belas menit bermain air akhirnya mereka bertiga benar-benar kebasahan.
"Seharusnya Chico yang mandi, kalau begini Momma juga harus mandi nanti!" protes Brianna yang kini serius menggosok tubuh kecil Chico dengan spons mandi.
"Tak apa, Mom. Lagipula ini sudah sore. Kau memang harus mandi," balas Chico disertai cekikikan nya.
"Ya, dia benar. Setelah Chico mandi, kita harus mandi agar tidak masuk angin."
Arthur mengedipkan sebelah matanya, dan Brianna mendengkus melihatnya.
Brianna tidak langsung mandi. Dia akan memakaikan putranya pakaian dulu.
"Aku akan menyiapkan Chico, kau mandilah dulu. Aku akan meminta Flo membawakan baju Zach untuk mengganti bajumu yang basah," ujar Brianna sebelum meninggalkan kamar mandi.
"Aku menunggumu saja."
Brianna berdecak. "Cepatlah, Arthur. Jangan banyak bercanda."
"Aku serius, akan menghemat waktu jika kita mandi bersama." Arthur tersenyum penuh arti.
"Kau ini." Brianna geleng-geleng kepala. "Jangan bersikap begini didepan Chico. Masih ada banyak waktu," ujarnya kemudian.
Mendengar itu, wajah Arthur justru memerah. Bahkan telinganya ikut berwarna serupa. Dia merasa tersipu, entah kenapa. Niatnya mau menggoda Brianna justru dia yang merasa tergoda karena pernyataan wanita itu.
Akhirnya Arthur mandi disana. Saat dia selesai dengan kegiatan itu, Brianna menyerahkan sebuah kaos dan celana panjang milik Zach untuk dipinjamkan kepadanya.
"Kalau Zach tau, dia pasti akan marah."
__ADS_1
"Dia memang membencimu, tapi bukan berarti dia akan tega melihatmu pulang dengan baju basah."
Arthur menipiskan bibir. "Ku pikir bukan begitu, dia pasti akan lebih memilih meminjamkan bajunya padaku, daripada melihatku tidak memakai apapun didepanmu."
Brianna menahan gelak, ujaran Arthur ada benarnya. Zach pasti akan lebih ikhlas meminjamkan baju itu ketimbang Arthur berkeliaran di Apartmen Brianna dengan ber-te-lan-jang.
"Daddy!"
Arthur melihat Chico sudah tampan dengan pakaian rumahannya.
"Yah, Boy?" tanggap Arthur.
"Ayo bermain. Aku mau menunjukkan mainanku pada Daddy."
"Oke, tapi Daddy pakai baju dulu. Oke!" Arthur segera menutup pintu kamar mandi kembali, sebab sejak tadi dia hanya memakai secarik handuk disana.
Brianna membiarkan Chico membongkar mainannya disudut ruangan, sementara dia keluar menuju balkon.
Di balkon itu Brianna menanam banyak tanaman. Ada buah-buahan, kaktus dan bunga-bunga hias. Tidak banyak, hanya beberapa untuk membuat suasana balkonnya lebih indah.
Brianna memulai kegiatannya menyirami tanaman-tanaman tersebut, sebelum nanti dia memutuskan untuk mandi.
"Kau disini?"
Brianna menoleh dan mendapati Arthur yang sudah memakai baju Zach. Itu terlihat cocok untuknya meski Brianna jarang sekali melihat Arthur hanya mengenakan kaos rumahan.
"Mandilah dulu, kau basah, aku tak mau kau masuk angin."
"Iya, sedikit lagi, Arthur." Brianna tersenyum lembut namun tetap melanjutkan kegiatannya itu.
Arthur merasa sangat bahagia melihat Brianna bisa menyunggingkan senyuman seperti itu padanya. Dia menggosok tengkuknya sendiri karena mendadak grogi. Arthur menyadari sikapnya ini seperti anak remaja yang dilanda cinta. Namun dia tidak malu akan hal itu, dia merasa ini adalah pubernya yang tertunda.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Brianna yang tak sengaja melihat wajah malu-malu di raut pria itu. Biasanya Arthur selalu memasang wajah kaku, atau menyebalkan, tapi akhir-akhir ini Brianna sadar jika sang pria lebih banyak tersenyum.
"Aku senang menyaksikan kegiatanmu. Aku ingin melihatmu setiap hari sebagai vitamin hidupku, aku yakin itu akan mempengaruhi daya tahan tubuhku setiap harinya."
"Dasar perayu!" olok Brianna sambil mengulumm senyum, dia sudah selesai dengan kegiatan menyiram tanaman, hendak masuk ke dalam ruangan namun terhalang karena tubuh tegap Arthur berada di ambang pintu.
"Menyingkir lah, aku mau lewat!" kata Brianna sok ketus, padahal dia tidak serius mengusir Arthur dengan cara seperti itu.
"Bahan kalimat ketusmu itu membuatku merindukan," tutur Arthur jujur.
Brianna terkekeh, dia memberi isyarat agar Arthur sedikit memberinya ruang agar bisa masuk, dan pria itu menurut hingga Brianna melewati tubuhnya begitu saja.
__ADS_1
"Tiba-tiba aku merasa kepanasan," gumam Arthur yang melihat Brianna berlalu masuk ke dalam bilik kamar mandi.
Arthur menggeleng samar, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran kotor yang berkecamuk didalam otaknya saat melihat Brianna. Dia melenggang santai menuju Chico yang bermain sendirian disudut ruangan.
"Come on! Ayo kita bermain!" ajak Arthur dan Chico menyambutnya dengan antusias.
...****...
Brianna belum kembali bekerja, baik dengan Jane maupun melanjutkan tugasnya sebagai asisten Arthur. Dia berharap setelah ini dia bisa bekerja tapi tetap dapat membagi waktunya dengan Chico. Tapi mengingat hubungannya yang semakin membaik dengan Arthur, Brianna ragu jika pria itu akan tetap memberinya izin untuk bekerja.
Izin? Ah, Brianna tidak menyangka jika sekarang dia memikirkan izin dari pria itu untuk melakukan sesuatu. Apa Arthur sudah cukup mempengaruhi cara pikirnya?
Malam tadi Arthur tidak jadi menginap di Apartmennya. Brianna tidak mau membuat Chico bingung dengan kehadiran Arthur yang tiba-tiba bermalam ditempat mereka. Meski putranya sudah mengatakan bahwa Arthur adalah Daddy-nya, tapi bagi Brianna dia tetap harus menjelaskan secara baik-baik pada bocah itu mengenai keadaan yang sebenarnya.
Dalam hal ini, Brianna tak mau Chico kebingungan. Dia ingin Chico tau yang sebenarnya dengan perlahan, termasuk soal statusnya dan Arthur yang sudah menikah. Brianna akan memberikan pengertian secara perlahan. Tentu dengan alasan yang mudah diterima Chico nantinya.
Saat ini, Brianna memanfaatkan waktu libur kerjanya dengan berusaha menjaga kebersamaan dengan Chico sebaik mungkin. Dia juga ingin menjaga sang putra yang baru saja keluar dari Rumah Sakit. Lagipula, Arthur membiarkannya, tanpa pernah membahas soal pekerjaan didepannya.
Suara bel Apartmen menyadarkan Brianna yang tengah asyik memperhatikan Chico bermain lego. Wanita itu keluar dan mendapati seorang pengantar paket.
"Ms. Walton, ada paket untukmu."
Brianna menerimanya, dia melihat nama pengirim paket itu yang rupanya dari Arthur. Kening Brianna mengernyit, tidak biasanya pria itu mengiriminya paket seperti ini. Bukankah Arthur pasti lebih senang jika datang sendiri menemuinya? Yah, setidaknya begitulah yang Brianna tau akhir-akhir ini.
Brianna melihat isi paketnya. Ternyata itu adalah sebuah tanaman bunga baby breath berwarna putih. Bunga itu ditanam dalam sebuah pot kecil.
Brianna tersenyum melihatnya. Apalagi saat dia membaca kartu ucapan.
"Rawatlah tanaman ini sama seperti kau merawat tanamanmu yang lain. Jangan biarkan dia mati karena ini adalah pemberian dariku."
Brianna segera meraih ponselnya untuk menghubungi nomor Arthur, tapi sebelum dia melakukan itu rupanya pria itu lebih dulu meneleponnya.
"Kau menerima paketnya?"
"Aku sudah membuangnya," jawab Brianna tak acuh. Dia mengulumm senyum dalam posisinya.
"Ah, come on! Jangan membalas perlakuanku dimasa lalu. Dulu aku membuang semua paket yang kau berikan karena aku tau itu bukan darimu."
Sekarang Brianna tak bisa lagi menahan tawanya. Dia tertawa, namun kemudian dia menyahut ujaran Arthur kembali.
"Aku menginjaknya, Arthur. Kau dengar? Aku menginjaknya," ujarnya lagi dengan menekankan kata-katanya.
__ADS_1
"Sayang, jangan hukum aku dengan cara seperti ini." Arthur benar-benar tidak menduga jika Brianna akan membalas semua perbuatannya dulu dengan cara yang sama dimasa sekarang.
...To be continue......