FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
56. Pukulan


__ADS_3

Sekarang Arthur dan Zach duduk berhadap-hadapan disebuah tempat yang jauh dari keramaian. Mereka harus bicara dengan kepala dingin sebagai dua orang pria dewasa.


Sejak tadi, belum ada satu patah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Mereka saling menunggu siapa yang lebih dulu akan menanggapi tentang kenyataan yang Arthur akui beberapa saat lalu pada Zach mengenai pernikahannya dengan Brianna.


"Bagaimana bisa Brianna mau menikah denganmu? Kau pasti memaksanya, kan?" mulai Zach yang sudah tak tahan lagi ingin menyuarakan kekesalannya.


Arthur mengangguk. "Yah, aku yang memaksanya."


"Breng sek!" Zach benar-benar memukul Arthur dipertanyaan pertama yang diberikannya.


Bugh!


Arthur tau Zach akan memukulnya, tapi dia tak menyangka akan secepat ini sebab mereka baru saja mulai bicara. Kendati demikian, Arthur berusaha tak membalas perlakuan Zach kepadanya. Seperti yang pernah dia katakan pada Brianna jika dia pantas mendapatkan kemarahan dari pria yang sudah menjadi adik iparnya tersebut.


"Kenapa kau harus memaksanya?"


"Karena jika aku memintanya secara baik-baik maka dia tidak akan pernah menerimaku!" jawab Arthur sembari memegang rahangnya sendiri yang baru saja dihadiahi pukulan oleh Zach.


"Ini yang kau sebut mencintainya? Seharusnya kau lebih banyak belajar lagi mengenai perasaanmu! Jika kau tulus, kau tidak akan pernah memaksakan kehendak padanya," marah Zach.


"I'm so sorry, Zach. Aku tidak memiliki cara lain untuk menjadikannya milikku," akui Arthur terus terang.


Zach terdiam, sesaat kemudian dia mengacungkan tinjunya kembali didepan wajah Arthur dengan wajah memerah penuh amarah. Zach nyaris memukul Arthur lagi, tapi mendadak dia mengurungkan niat itu.


Zach mendengkus keras. Didetik berikutnya dia menghela nafas dalam-dalam.


"Seharusnya kau menikahinya sejak 4 tahun yang lalu. Dia dan bayinya membutuhkanmu," kata Zach dengan lesu. Sekelebat bayangan tentang masa lalu mendadak timbul dibenaknya, dimana Zach seakan dapat melihat kembali bagaimana perjuangan Brianna saat dulu harus mengandung tanpa didampingi oleh ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Maafkan aku untuk itu. Aku tidak mengetahui bahwa dia mengandung anakku."


"Berulang kali aku mengatakan untuk tidak mempertahankan bayi itu, tapi Brianna tetap bersikeras untuk melahirkannya ke dunia. Kerasnya hidupku dan Brianna membuat aku tidak tega pada bayinya yang harus terlahir diantara kehidupan kami yang serba sulit," pungkas Zach.


Arthur tak menyalahkan kejujuran Zach yang pernah menginginkan untuk melenyapkan putranya. Dia paham dan mengerti keadaan sulit lah yang memaksa Zach untuk memberi pilihan kejam seperti itu pada Brianna.


"Aku juga berulang kali meyakinkan Brianna, bahwa tidak seharusnya dia melahirkan anak dari pria yang amat dibencinya," jelas Zach kemudian.


Mengenai hal inipun, Arthur sangat memahami posisi Zach sebagai seorang adik yang turut bersedih melihat nasib malang sang kakak yang dihamili oleh pria yang selalu mem-bully-nya. Hal itu pasti membuat Zach turut membenci bayi yang berada dalam kandungan Brianna, sebab bayi itu memang tak seharusnya ada dalam list hidup mereka.


"Tapi bagaimana bisa kau terlihat begitu menyayangi Chico sekarang, padahal dulu kau tidak mengharapkan kehadirannya?"

__ADS_1


"Karena saat melihat Chico lahir, aku sadar bahwa dia tidak bersalah. Dia suci. Yang salah adalah keadaan. Yang salah adalah nasib kakakku yang selalu tidak beruntung, hingga berakhir hamil oleh pria sepertimu!" tukas Zach menohok hati terdalam Arthur.


Arthur menatap Zach dengan tatapan penuh rasa bersalah. Dia tidak tau harus berkata apa, mengenai penyesalannya yang timbul setelah tau jika Brianna hamil selepas kejadian malam itu.


Seharusnya Arthur mencari jejak Brianna setelah apa yang terjadi diantara mereka, sayangnya dia dituntut oleh keadaan dimana dia harus pergi dari New York sesegera mungkin, untuk mengelola serta mewarisi perusahaan mendiang Ayahnya di Canada.


"Atas kesungguhan ku yang paling dalam, juga rasa bersalahku yang teramat besar, aku meminta maaf padamu, Zach. Dan tolong restui pernikahanku dengan kakakmu!" pinta Arthur dengan wajah memohon yang kentara.


Zach terkekeh miris, tawa itu seakan mencemooh Arthur yang tampak mengesampingkan harga diri hanya untuk memohon maaf padanya.


"Aku akan merestui hanya jika kau mau dan sukarela untuk ku pukuli sampai aku puas."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Zach segera angkat kaki dari hadapan Arthur, sementara Arthur sendiri masih tertegun karena pernyataan terakhir Zach kepadanya. Haruskah dia benar-benar babak belur ditangan pria yang sudah menjadi adik iparnya tersebut?


...***...


Arthur menghubungi Brianna lewat panggilan seluler, dia mengatakan bahwa dirinya takkan kembali ke Rumah Sakit. Dia tak mau Chico mendapatinya dengan wajah lebam sehabis dipukul, sebab itu juga akan menciptakan pertanyaan-pertanyaan di kepala kecil putranya yang selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.


"Jadi Zach benar-benar memukulmu?" sergah Brianna yang dapat mengerti situasinya.


"Hmm ..."


"Ya. Aku tau. Aku memang layak mendapatkannya, bahkan Zach terlalu berbaik hati padaku, dia hanya memukulku sekali," tutur Arthur disertai kekehan kecil.


"Kau cuma dipukul sekali? Keterlaluan," desis Brianna.


Yang langsung ditanggapi Arthur dengan gerutuan pelan.


"Jadi kau setuju jika suamimu dipukuli habis-habisan?" tanyanya.


"Tentu saja. Sudah ku bilang kau layak mendapatkannya!"


"Yah maka dari itu aku menerima dan tidak membalasnya, hanya saja---"


"Hanya saja apa?" tanya Brianna penasaran.


"Hanya saja aku masih tak percaya dengan tanggapannya mengenai pernikahan kita."


"Memangnya dia bilang apa?"

__ADS_1


"Dia akan menghajarku sampai puas, barulah dia akan merestui pernikahan kita."


Tak disangka Brianna justru tertawa lepas disana. Arthur sampai menarik nafas dalam untuk menetralkan kekesalannya sendiri terhadap sang istri. Istri mana yang senang jika suaminya dipukul? Mungkin hanya Brianna yang merasakan hal itu.


"Kau tau, jika aku tidak bisa membalas dendam padamu, masih ada Zach yang akan melakukannya jadi terima saja dengan lapang dada."


"Yeah. Aku menerima konsekuensinya," jawab Arthur pasrah.


"Baiklah, kembali kesini jika sudah membaik."


"Berapa lama lagi kalian di Rumah Sakit?" tanya Arthur.


"Memangnya kenapa?"


"Aku mau berkunjung ke Apartmenmu, tempat kau dan Chico tinggal selama ini."


Brianna mendadak senang dengan ujaran Arthur kali ini. Entah kenapa. Mungkin dia tak menyangka Arthur mau mampir ke tempatnya yang sederhana. Entahlah, yang jelas kembali ada rasa aneh yang menelusup di relung hati Brianna. Apa dia mulai bisa menerima kehadiran pria itu dihidupnya? Mungkin saja.


"Jika kami sudah kembali ke Apartmen, aku akan memberitahumu."


"Thank you, tolong jaga Chico untukku."


Brianna tertawa. "Aku akan selalu menjaganya untuk diriku sendiri, juga karena dia adalah anakku," jawabnya pongah.


"Dia juga putraku jika kau lupa," peringat Arthur.


"Oh my ... iya iya, tapi jangan mengaku pada Chico seperti kau mengaku pada Zach siang tadi ya," kata Brianna ikut mengingatkan.


Arthur jadi mengingat bagaimana cueknya dia saat mengaku pada Zach, hingga berakhir dengan kemarahan pria itu. Seharusnya dia bisa membaca situasi dan kondisi, juga mood Zach yang mungkin sedang tak baik. Arthur yakin jika dia tak tergesa-gesa, maka Zach akan lebih meminimalisir kemarahan terhadapnya, hanya saja Arthur yang tidak sabar untuk segera memberitahu soal pernikahannya.


"Ya, aku tau. Chico tak bisa disamakan dengan Zach. Dari segi usia mereka sudah berbeda jadi aku pasti menyesuaikan keadaan," kata Arthur sok bijak.


Padahal, dia belajar dari pengalaman yang dia dapatkan hari ini. Jika Brianna mengatakan belum saatnya, maka dia akan mengikuti, dia tak mau melanggar keinginan wanita itu sebab takut berujung fatal seperti kejadian siang tadi saat dia mengaku pada Zach secara terus-terang, padahal Brianna sudah memperingatkannya.


...To be continue ......


Dukung karya ini guys. Mampir juga ke cerita ringanku yang satunya.


MENCINTAI ADIK SAMBUNG.

__ADS_1


(Buka profil dan temukan novel ini disana.) Makasih bnyk all Readers...


__ADS_2