FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
39. Kembali dingin


__ADS_3

Perdebatan mereka harus terhenti kala suara dering ponsel Arthur terdengar. Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian meletakkan benda pipih itu di telinga.


Brianna tak tau siapa yang menelepon Arthur, tapi dia mengambil kesempatan itu untuk berderap pergi. Sayang, Arthur memegang lengannya, membuat Brianna mau tak mau berhenti disampingnya.


Arthur berbicara lewat sambungan seluler, namun jemarinya masih mencengkram lengan bagian atas milik Brianna, untuk membuat wanita itu tetap disana dan tidak kemanapun.


"Oke, baik. Jalankan semua sesuai aturan." Itulah kalimat terakhir yang Arthur katakan pada lawan bicaranya diseberang panggilan.


Pria itu kembali meletakkan ponsel ke dalam saku setelah selesai dengan benda itu.


"Jangan berniat kabur, Brianna. Orang-orangku sudah memantau keberadaan Chico."


Mata Brianna terbelalak. "Kau mau mengambilnya?" pekiknya histeris.


"Tentu, jika kau tidak menurut padaku."


"Jangan menjadi penculik putraku, Arthur!" desis Brianna mengadah pada pria tinggi itu.


Arthur tersenyum miring. "Mereka hanya akan mengawasinya, dan jika kau berniat macam-macam seperti kabur dariku ... maka Chico akan ku miliki sendirian, karena dia juga putraku," ujarnya tenang.


"Kau selalu mengancamku," kata Brianna jengah.


"Karena aku hanya bisa memilikimu dengan cara itu," batin Arthur.


Padahal, Arthur sudah bertekad takkan menyakiti wanita yang sudah melahirkan anak untuknya itu, tapi sikap keras kepala Brianna, juga sikap yang selalu menutup diri darinya, cukup membuat Arthur kesal. Dia tak punya cara lain, hanya ini, satu-satunya jalan untuk menahan Brianna agar tetap disampingnya.


"Lepaskan aku!" Brianna menyentak tangan Arthur yang sejak tadi masih terus memegang lengan atasnya. Dia sampai tak bebas bergerak karena ulah pria itu. "... suruh orang-orangmu pergi, Arthur! Mereka akan membuat Chico takut," sambungnya dengan suara tegas.


Arthur menaikkan sebelah alisnya. "Mereka takkan menunjukkan diri didepan Chico, hanya mengawasinya dari jauh, termasuk menjaga Chico dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi," jelasnya.


Brianna mendengkus, tanpa kata dia berderap pergi dari hadapan Arthur.

__ADS_1


"Anggaplah ini sebagai bentuk penjagaan dariku untuk Chico," gumam Arthur yang kemudian membiarkan Brianna pergi tanpa mencegahnya. Dia tau Brianna membutuhkan waktu untuk menerima semua ini.


Sementara itu, Brianna menuju halaman belakang. Duduk disebuah kursi kayu yang ada disana. Dia juga tak tau kenapa harus kesini, dia hanya berusaha untuk menghindar dari Arthur.


Brianna tak mau menjalani aktivitas suami-istri dengan pria itu. Biarlah yang pernah terjadi dengan mereka akan tetap menjadi kesalahan, begitupun mengenai pernikahan mereka yang sudah terlanjur terjadi sekarang.


...***...


Pagi ini, Brianna melihat Arthur yang sudah siap dan seperti tengah menunggunya di meja makan. Dia hampir mengurungkan niatnya untuk sarapan hanya karena kehadiran pria itu, tapi jika diingat-ingat lagi ini memang rumah Arthur, kan? Jadi, seberapapun Brianna hendak menghindar, itu hanya akan sia-sia. Apalagi pekerjaannya sekarang adalah asisten pribadi pria itu.


"Kau tau, mungkin hanya kau asisten pribadi yang membuat atasanmu menunggu."


Brianna tak jadi menyuap makanannya hanya karena kalimat Arthur yang terang-terangan menyindirnya.


"Seharusnya kau menyiapkan pakaianku, menungguku bersiap, lalu membacakan jadwalku setelah aku turun dari tangga itu," sambung Arthur menunjuk tangga disisi kirinya.


Mulut Brianna sudah terbuka dan siap untuk menjawab segala protes yang Arthur ucapkan, tapi lagi-lagi pria itu kembali bersuara seolah-olah ujarannya tadi belum cukup untuk diterima Brianna.


"... syukurnya kau adalah istriku, jadi aku tidak mau menyalahkan mu." Arthur menyeringai, sementara Brianna mengesah panjang untuk kembali menahan kesabarannya.


"Aku tau. Aku tau dengan jelas tujuanmu kesini, Brianna." Pria itu mengangguk-anggukan kepalanya. "... maka dari itu, buktikan jika kau benar-benar bekerja dengan baik sebagai asistenku. Cobalah untuk disiplin. Jangan biarkan aku yang menunggumu. Siapkan semua keperluanku. Bahkan jika perlu, bangunkan aku agar tidak terlambat. Kau bisa melakukan itu sebagai asistenku, bukan sebagai istriku seperti yang selalu kau tepis meski pada kenyatannya kita memang sudah menikah," lanjutnya panjang lebar.


Brianna hanya menundukkan pandangan, sambil mencibir Arthur dalam hati. Dia memang terlambat bangun hari ini dan ternyata Arthur sudah lebih dulu menempati meja makan, hingga membuatnya tampak tak disiplin dimata pria itu.


Setelah mengelap bibirnya dengan serbet putih, Arthur bangkit dari duduk dan berjalan ke luar rumah.


Brianna melihat pria itu berubah dingin kembali. Namun inilah Arthur yang dia kenal, dia lebih suka Arthur yang seperti ini ketimbang Arthur yang selalu mengingatkannya mengenai status pernikahan mereka, juga Arthur yang berlagak manis padanya.


Brianna selesai dengan sarapannya yang terburu-buru, hanya karena dia tau jika Arthur sudah menunggu. Dia sedikit berlari untuk menaiki mobil, duduk disamping sopir yang hari ini akan mengemudikan mobil dan mengantarkan kemanapun tujuan sang Tuan.


Brianna tau Arthur terus memandanginya dari posisi duduk pria itu yang berada di kabin belakang, tapi apa pedulinya? Brianna takkan menggubris Arthur selain tentang pekerjaan.

__ADS_1


Mobil itu mulai meluncur dan membelah jalanan. Brianna menikmati pemandangan kota dari kaca jendela, sementara Arthur larut dengan tab yang dipegangnya.


"Kita sudah sampai, Tuan." Sopir tersebut bersuara, menyadarkan Brianna dari lamunannya. Ya, ternyata dia tak benar-benar menikmati pemandangan jalan menuju kantor, karena sejatinya dia hanya melamun sejak tadi. Dia memikirkan nasibnya yang malang karena terjebak hubungan rumit dengan Arthur.


Brianna baru sadar jika mereka tidak berhenti di pekarangan perusahaan Arthur, melainkan disebuah kawasan Bandar Udara.


Tunggu, apa ini? Kenapa sekarang mereka disini?


Brianna menoleh ke belakang untuk menanyai Arthur, tapi pria itu buru-buru membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Kenapa ke Bandara? Kau mau keluar negara? Tapi itu tidak ada dijadwal kegiatanmu hari ini," ujar Brianna merujuk pada list schedule Arthur.


"Iya, aku akan keluar negeri, tapi denganmu juga," jawab Arthur tenang dan dingin seperti sebelumnya.


"Aku? Aku tidak membawa perlengkapan ku, dan pasporku ..." Brianna tak melanjutkan kalimat sebab dia tau jika paspor nya memang berada di tangan Arthur, jadi wajar saja jika pria itu sudah mengurus semuanya.


"Kita bisa membeli keperluanmu nanti. Ayo!" ajak Arthur yang berjalan lebih dulu.


Brianna menyusul Arthur dengan langkah yang cepat. "Kita mau kemana? Jangan katakan ini ada kaitannya dengan pernikahan kita?" bisiknya sambil melihat kiri-kanan, dia tak mau orang-orang tau jika dia dan pria dihadapannya adalah suami-istri, padahal tidak ada seorang pun yang mengenal Brianna disana.


Arthur tertawa sekilas. "Jangan terlalu percaya diri. Ini tentu karena tuntutan pekerjaan. Kita pergi untuk mengurus pekerjaan, jadi tidak usah berpikir macam-macam," jawabnya santai.


Mata Brianna memicing, mau melihat kebohongan Arthur lewat sorot matanya, tapi pria itu sudah buru-buru sibuk menatap kesana-kemari.


"Awas jika kau menipuku!" desis Brianna.


Arthur mengendikkan bahu cuek. "Sudah ku bilang jangan berpikir aneh, lagipula kalau aku menginginkan wanita, aku bisa memesannya seperti yang sudah-sudah," katanya enteng.


Mata Brianna membola, ujaran Arthur barusan seperti tengah mengoloknya lagi dan lagi. Bagaimanapun, tempo hari dia pernah menjadi salah satu wanita pesanan pria itu.


Hhhh ... Brianna menghela nafas kasar jika mengingat lagi momen tersebut.

__ADS_1


"Kita berangkat," ujar Arthur membuat Brianna terkesiap dan buru-buru mengejar langkah pria itu--yang berjalan santai--namun cepat sekali menjauh hanya karena langkahnya yang jenjang.


...To be continue ......


__ADS_2