FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
40. Cobalah menerima


__ADS_3

Milan, Italia.


Brianna tak menyangka jika sekarang dia tengah berada di negara Mediterania tersebut, tepatnya di Milan.


Kota Milan terkenal akan perusahaan adibusana dan toko-tokonya (via Montenapoleone) dan Galleria Vittorio Emanuele di Piazza Duomo, yang adalah salah satu pusat belanja tertua di dunia. Milan adalah salah satu dari empat kota mode dunia, setelah London, New York, dan Paris.


Brianna tak pernah menyangka jika dia bisa berada di kota itu setelah menghabiskan waktu perjalanan selama lebih dari 8 jam melalui jalur penerbangan.


Mungkin sekarang Brianna terlihat kampungan, tapi dia berusaha bersikap biasa saja, terlebih Arthur juga banyak diam diperjalanan mereka.


Mobil yang tadi menjemput mereka di bandara, kini berhenti disebuah hotel mewah yang membuat Brianna ternganga karena desain arsitekturnya.


"Ayo," ajak Arthur dengan suara yang samar.


Brianna mengikuti saja kemanapun pria itu, selain takut tersesat Brianna juga tau bahwa disini hidupnya benar-benar akan tergantung pada Arthur.


Sementara Arthur, menahan senyumnya sejak mereka terbang menuju ke negara ini. Dia langsung mengajak Brianna pergi karena dia memiliki firasat jika wanita itu akan menghubungi Gerard untuk meminta bantuan pria itu. Untuk itulah, Arthur cepat-cepat mengambil tindakan, dia tak mau ada pertemuan lagi antara Brianna dan Gerard. Setidaknya, Arthur hanya berusaha menjaga sesuatu yang dia rasa sebagai miliknya.


Seorang petugas hotel mengantar mereka ke sebuah suite room yang terletak di lantai paling atas.


"Thank," kata Arthur pada petugas itu, dia memberikan tip yang membuat wajah pemuda itu semringah.


"Kamarku dimana, Arthur?" tanya Brianna.


"Disini. Bersamaku." Arthur berucap pelan, dia takkan memaksa Brianna jika wanita itu keberatan.


"Pesankan 1 kamar lagi untukku, aku tidak bisa---"


"Shut up!" sela Arthur. "Aku tidak akan memaksamu jika kau mau tidur dikamar yang lain, tapi pesan sendiri dengan uangmu," lanjutnya tenang sembari melangkah masuk ke dalam ruang kamar.


Brianna terdiam, dia memang memiliki uang untuk memesan kamar, tapi masalahnya adalah uangnya masih dalam bentuk dollar Canada dan belum ditukarkan ke dalam mata uang Italia, belum lagi hotel yang dipilih Arthur kali ini terbilang mahal untuknya. Kenapa Arthur tega sekali memberikannya pilihan seperti ini? Kepergian mereka yang mendadak juga tak menyempatkan Brianna untuk bisa menyiapkan segala keperluannya di negara asing tersebut.


Brianna tau sikap Arthur tidak terlihat memaksanya, tapi keadaan ini lah yang seolah memaksa Brianna agar terus mengikuti perintah pria itu.


"Arthur ..." Mata Brianna mengiba pada pria itu, dia takkan siap jika harus sekamar dengan Arthur dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi diantara mereka.


Arthur sangat tau kelemahan Brianna, wanita itu akan melemah jika berada di negara yang asing untuknya, hanya karena Brianna seakan buta untuk melakukan banyak hal disana. Itu sebabnya Arthur memang sudah merencanakan semua ini demi menaklukkan Brianna. Dia sebenarnya bisa melakukannya saat di Canada, tapi dia tau jika disana ada Gerard yang bisa merusak segala rencananya.


"Kalau kau tidak mau masuk, aku akan menutup pintunya," kata Arthur tenang, merujuk pada pintu kamarnya.

__ADS_1


Brianna menggeleng, wajahnya tampak ingin menangis. Sebenarnya Arthur tak tega untuk melakukan hal ini tapi terkadang sikap keras kepala Brianna juga harus dibalas dengan ketegasan.


"Aku menyesal terlibat urusan dengan orang sepertimu, Arthur!" gumam Brianna yang akhirnya ikut masuk ke kamar itu.


"Bagus. Aku lelah dan butuh istirahat, jika kau terus memilih berada didepan pintu kamar maka aku bisa apa selain menutup pintunya?" ujar pria itu acuh tak acuh.


Brianna menghentakkan kakinya, dia kesal karena Arthur selalu punya cara untuk membuatnya terjebak bersama.


Brianna mengabaikan Arthur, dia duduk di sofa dan mengaktifkan ponselnya, ternyata banyak panggilan dari Cecilia. Brianna baru ingat jika kemarin malam dia mencoba menghubungi wanita itu namun tak dijawab. Apa Cecilia mau menanyakan keperluannya, hingga menelepon berkali-kali seperti ini?


Brianna akhirnya mencoba menghubungi wanita itu lagi, dan ternyata panggilannya langsung diterima oleh Cecilia.


"Ada apa kau meneleponku kemarin, Bri? Apa ada masalah?" tanya Cecilia disebarang telepon.


Brianna bimbang, haruskah dia menceritakan pada Cecilia yang sebenarnya. Terkait pernikahannya dengan Arthur, juga pelanggan yang waktu itu dia temui ternyata adalah ayah kandung Chico. Ya, Brianna memang belum sempat menceritakan hal itu pada Cecilia karena mereka tak bertemu lagi setelah Brianna menerima job darinya, tempo hari.


Arthur tampak memasuki kamar mandi yang terletak disudut kamar, Brianna yakin pria itu takkan mendengar percakapannya dengan Cecilia, lagipula kamar ini sangat luas, pikirnya.


Akhirnya Brianna menceritakan pada Cecilia terkait apa yang sudah menimpanya, termasuk pernikahannya dengan Arthur yang tidak pernah dia sangka.


Cecilia mendengarkan keluh-kesah Brianna dengan seksama. Sampai akhirnya Brianna meminta saran pada wanita itu terkait hal apa yang harus dia lakukan.


"Aku tidak bisa, Cecil. Aku sangat membenci Arthur. Dia yang menghancurkan hidupku!" keluh Brianna.


"Tapi berkatnya, kau memiliki Chico didunia ini. Chico yang manis dan selalu menyayangimu. Ku pikir tidak akan ada pria yang benar-benar bisa menerima kehadirannya jika itu bukan ayah biologisnya sendiri."


"Jadi menurutmu aku harus pasrah menjalaninya meski tanpa ada rasa cinta? Aku mau pernikahanku berlandaskan perasaan itu, Cecil."


"Maka dari itu, mulailah mencintainya," saran Cecil.


"Tidak semudah itu. Arthur bukan orang yang gampang untuk dicintai. Kami punya pemisah yang bernama kebencian. Aku membencinya, begitupun dia yang juga membenciku."


Cecilia merasa ujaran Brianna tidak tepat, karena disini yang dia tangkap adalah Brianna yang terus menutup diri sementara Arthur sudah berusaha menerima Brianna dan Chico, buktinya pria itu mau menikahi Brianna meski sebelumnya Arthur tak pernah memiliki niat untuk menikah sama sekali.


"Bri, sebagaimana Arthur yang sudah mencoba menerimamu dengan menikahimu, maka kau pun harus mencoba menerima pernikahan kalian."


"Aku tidak bisa. Aku tidak akan bisa. Aku hanya menginginkan untuk mencari kelemahan Arthur, dan pergi darinya setelah tau kelemahannya itu."


"Percaya padaku, kau bisa menjalaninya dan kelemahan Arthur justru dirimu sendiri. Jadi, jalani semuanya dengan ikhlas sebagaimana kau sudah melewati banyak hari dengan perasaan yang tabah, Brianna."

__ADS_1


Brianna buru-buru memutus panggilan teleponnya sebab menyadari Arthur yang sudah keluar dari kamar mandi. Dia sadar jika dia terlalu lama terlibat percakapan dengan Cecilia, hingga tak menyadari kapan pria itu selesai dengan urusan mandinya. Apa Arthur sempat mendengar obrolannya dengan Cecilia tadi?


Ah, masa bodoh. Brianna tak mau memikirkan hal itu. Dia bangkit, melewati tubuh Arthur yang terbalut bathrobe mandi. Kemudian dia menggantikan Arthur di kamar mandi sebab dia juga harus membersihkan diri.


Brianna keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian, melihat Arthur yang bersandar di headbord ranjang.


Ada rasa gugup dihatinya, entah kenapa. Tapi Brianna kembali memikirkan ujaran Cecilia tadi yang memintanya untuk mencoba. Brianna pesimis dengan hal itu. Dia takkan bisa memasukkan Arthur ke dalam hidupnya.


"A-apa aku mempunyai pakaian ganti untuk tidur malam ini?" tanya Brianna ragu.


Pria yang sejak tadi menekuri tablet ditangannya itu mengadah, menatap Brianna yang berdiri tidak nyaman dengan bathrobe mandinya disana.


Tatapan mereka bertemu, dan entah kenapa darah Arthur terasa berdesir disaat seperti ini.


"Kau bisa memakai bajuku," ujar pria itu dengan suara bergetar. Setelahnya, Arthur berdehem-dehem singkat, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.


Arthur meletakkan tablet diatas nakas, berjalan pelan ke arah koper yang belum sempat dibongkar untuk mencarikan Brianna baju miliknya.


"Untuk malam ini kau bisa menggunakannya. Besok akan ada yang mengantar semua kebutuhanmu kesini," ujar Arthur sembari menyerahkan sebuah kaos pada Brianna.


Dengan ragu, Brianna menerima itu. Dia tau ini terlihat mustahil baginya, memakai baju Arthur, tapi ini lebih baik ketimbang dia harus memakai bajunya yang sudah kotor karena perjalanan panjang mereka. Brianna juga tak mungkin tidur dengan bathrobe yang kini dikenakannya. Jadi, menerima baju Arthur adalah pilihan satu-satunya.


Brianna beranjak ke ruang ganti dan mengenakan kaos pria itu yang justru terlihat seperti oversize saat dikenakannya.


Brianna menggerai rambutnya yang tadi ia keramas saat mandi. Setelah siap dia kembali menuju ruang utama kamar mereka.


Entah kenapa Brianna menjadi gugup, lebih gugup lagi saat Arthur kembali menatapnya yabg berdiri diambang pintu pembatas antara kamar dan ruang ganti.


Arthur tidak bisa kembali fokus pada tabletnya, sebab kini dia terfokus hanya pada Brianna yang mengenakan kaos miliknya yang tampak kebesaran saat dikenakan wanita itu.


"Kemarilah ..." Arthur menepuk sisi tempat tidur disampingnya, membuat mata Brianna membola.


Arthur terkekeh sekilas. "Kita sudah sama-sama dewasa, Brianna. Mustahil tak terjadi apapun diantara kita sekarang. Bukan hanya karena status kita yang sudah berubah menjadi suami istri, juga bukan karena kita pernah melewati beberapa malam bersama. Ini lebih kepada kebutuhan kita, kau paham maksudku, bukan? Kita sama-sama membutuhkannya," ujarnya penuh makna.


Brianna tentu tau kemana arah pembicaraan Arthur. Tapi dia memang tidak siap untuk hal itu.


"Kalau kau terlalu membenciku untuk melakukannya bersamaku, kau bisa menganggapku orang lain."


Sebenarnya, Arthur tak benar-benar ikhlas jika Brianna akan menganggapnya sebagai orang lain dalam keseharian dan segala aktivitas mereka, tapi jika dengan begitu Brianna akan merasa nyaman, sepertinya dia harus berusaha untuk menerimanya.

__ADS_1


...To be continue......


__ADS_2