FOREVER HATE YOU

FOREVER HATE YOU
51. Serius?


__ADS_3

Brianna masih tak habis pikir tentang pertemuannya dengan Caitlyn tadi. Dia jadi memikirkan hal itu sembari mengaduk-aduk makanannya diatas piring.


"Kau tidak makan? Habiskan makananmu agar tidak ikut sakit sepertiku," kata Arthur yang menyadari jika Brianna tengah melamun.


"Y-yah," jawab Brianna singkat.


"Apa kau masih memikirkan soal Caitlyn?" tanya Arthur kemudian.


Brianna mengangkat pandangannya pada pria itu. "Kau mengingatnya? Kenapa tadi kau mengatakan tidak ingat siapa dia?" ujarnya balik bertanya.


Arthur mengendikkan bahu. "Aku hanya tidak mau jika dia mengingatkanku akan masa lalu sebab hal itu akan membuatku amat marah padanya nanti," tukasnya.


"Kenapa?"


"Dia sosok yang selalu membully-mu," jawab Arthur terus terang.


Tapi ujaran Brianna juga membuat Arthur terkesiap. "Bukankah kau sama saja dengannya?"


Arthur terdiam. Dia tau jika dia dan Caitlyn sebelas duabelas dalam hal menyiksa Brianna. Tapi Arthur melakukan itu sebagai bentuk protes akan kebodohan Brianna yang dulu tak mampu melawan Caitlyn and the genk. Sedangkan Caitlyn, melakukan pembullyan pada Brianna murni karena dia membenci wanita itu.


"Aku tau dulu aku sangat keterlaluan. Aku bahkan membenci diriku sendiri." Arthur meraih jemari Brianna yang diletakkan diatas meja. Dia menggenggam itu dan menatap Brianna lekat. "Maka dari itu izinkan aku menebus kesalahanku dulu dengan melindungimu mulai dari sekarang," sambungnya.


Ada hal yang Arthur sesali dalam hidupnya yaitu, tidak seharusnya dulu dia ikut mem-bully Brianna. Semestinya dialah yang melindungi wanita itu sejak lama tapi sayangnya dulu Arthur belum menyadari perasaannya terhadap sang wanita. Dia mampu mengartikan rasa dihatinya setelah kebersamaan mereka malam itu, 4 tahun yang lalu.


"Kau tau, aku juga tersiksa sejak malam itu. Aku merasa berdosa padamu. Aku takut untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Aku menutup diri dari semua godaan wanita dan aku tidak pernah tidur dengan wanita lain selain dirimu."


Perkataan Arthur membuat Brianna terperangah, tapi dia tak langsung percaya begitu saja.


"Benarkah? Kenapa aku menyangsikan kebenaran ucapanmu," kata Brianna.


"Aku bersumpah."


"Tapi kau sering memanggil wanita panggilan," olok Brianna dengan senyum miris.


"Ya, hanya sebatas menyervisku dengan ..." Arthur tak melanjutkan kalimatnya dengan gamblang. "Kau pasti tau maksudku," sambungnya kemudian.


Ya, sedikit banyak Brianna tentu tau aturan main Arthur yang memanggil wanita panggilan sebab dia pernah menjadi salah satu penyedia jasa itu untuk Arthur tapi siapa yang bisa menjamin jika sebelumnya Arthur memang pernah meniduri banyak wanita. Entahlah, whatever. Brianna mencoba cuek dengan hal itu meski dia juga penasaran dengan kebenaran ucapan Arthur mengenai hanya melakukan hubungan itu dengannya saja.


"Aku tidak bisa melupakanmu sejak malam itu," akui Arthur lagi.


Brianna hanya merespon dengan sunggingan tipis.


"Semalam ibumu mendatangi Apartmen Zach," kata Brianna memilih topik yang lain.


"Aku tau." Arthur juga sudah mendapat laporan dari orang-orang yang dia minta untuk mengawasi putranya dari kejauhan.


"Kau yang menyuruhnya?" tebak Brianna.

__ADS_1


"No. Dia datang atas kemauannya sendiri."


Brianna menganggukkan kepalanya. "Dia meminta Zach lapang dada jika nanti kau datang dan mengatakan pada Chico bahwa kau adalah ayah kandungnya."


"Ibuku bertindak cepat, kadang aku bangga padanya," ujar Arthur santai.


"Arthur ..."


"Hmm? Aku berkata benar, Bri. Apa aku harus berterima kasih pada Mom? Dia mewakili untuk meminta maaf pada Zach, meski aku bisa melakukan hal itu nanti."


"Sampai sekarang aku bingung harus memulai dengan Chico darimana."


Arthur menepuk-nepuk punggung tangan Brianna.


"Dia putraku, dia pasti akan mengerti dengan cepat," ujar pria itu terdengar jumawa.


"Tapi, Arthur... Aku memikirkan jika dia tidak menerimamu."


Arthur terdiam, dia tidak kepikiran sampai kesana. Sikap percaya dirinya yang tinggi selalu mengatakan bahwa Chico bisa menerimanya kelak.


"Bagaimana? Bagaimana jika dia tidak menerimamu? Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan berusaha untuk membujuknya. Aku yakin Chico akan mengerti." Arthur berkata dengan suara bergetar, dia juga tak siap jika menerima penolakan dari sang anak. Dia belum mendapat penerimaan dari Brianna, bagaimana mungkin dia juga akan ditolak oleh putranya sendiri?


"Aku tidak menjaminnya."


"Maka dari itu, katakan padanya yang baik-baik tentang diriku, Brianna. Aku sangat bersungguh-sungguh untuk membina keluarga kecil kita. Sekalipun dimatamu aku adalah pria brengsek, maka jangan biarkan putraku tau tentang betapa baji-ngannya ayahnya ini." Ada yang serasa mematahkan hati Arthur didalam sana. Dia mengingat masa mudanya yang dihabiskan dengan banyak kesalahan, dia tidak mau Chico tumbuh menjadi sepertinya, dia ingin Chico memiliki keluarga yang lengkap.


"Kau baik-baik saja?" Brianna mencoba membalas sikap perhatian Arthur padanya dengan cara yang sama.


"Yes. i'm okey," jawab Arthur menyunggingkan senyum terpaksanya.


"Kau yakin? apa kita pulang ke hotel saja agar kau bisa beristirahat?"


Arthur mengangguk tanpa berkata apapun lagi.


Di lobby hotel, Brianna memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu.


"Kemarin kau memintaku untuk terbuka padamu, kau ingin aku bisa menceritakan apa yang ku rasakan. Kau sering bisa menebak isi kepalaku, tapi jujur aku sulit menyelami apa yang kau pikirkan. Arthur, aku sadar bahwa kau terlalu banyak tau tentangku, tapi aku tidak mengetahui sedikit saja tentangmu, jadi ... maukah kau berbagi padaku mengenai apa yang kau rasakan ketika membahas soal Chico?" Brianna menatap Arthur dengan ragu-ragu, takut menyinggung privasi pria itu sebab yang Brianna tanyakan saat ini bisa saja membuat sisi lain dalam diri Arthur menolak permintaannya.


"Kita ke kamarku saja, aku akan menceritakan padamu semuanya."


Brianna tertegun, dia hanya ingin tau sedikit tapi Arthur menawarkan semua privasi pria itu untuk dia ketahui?


Baiklah, Brianna menurut untuk memasuki kamar Arthur lagi. Dia duduk di sofa, tepat disebelah pria itu.


"Kau tau, aku selalu berpikir mengenai masa depan Chico setelah aku tau jika aku adalah ayahnya."

__ADS_1


"Ya, itu wajar. Lalu salahnya dimana? Kenapa kau mendadak terlihat sedih?" tanggap Brianna.


"Kau boleh meragukan kata-kataku ini, tapi aku mendekatimu untuk merebut hatimu bukan semata-mata untuk diriku sendiri tapi juga demi masa depan Chico. Aku tidak mau hubungan kita berantakan dikedepan hari hingga menyebabkan Chico tumbuh menjadi sosok pemuda sepertiku dulu. Aku adalah anak broken home yang tumbuh diantara hingar-bingar pertengkaran orangtuaku," jelas Arthur.


Brianna sekarang paham. Arthur tidak mau Chico menjadi anak seperti sosok Arthur dulu dimana dia kekurangan kasih sayang orangtuanya.


"Maka dari itu, Bri. Sejak awal aku memilih meluluhkanmu dulu, baru aku akan menemui Chico jika kau sudah siap dengan hubungan kita. Karena jujur saja, aku menginginkan pernikahan kita tidak pernah berakhir. Aku begitu serius dengan hal itu."


Brianna hanya mampu diam. Dalam diamnya dia memikirkan apa yang Arthur katakan itu adalah kebenaran. Dia juga tak rela jika nantinya Chico tumbuh menjadi sosok anak broken home seperti yang dulu Arthur alami.


"Aku tidak mau ada Arthur lain atau Brianna lain yang menjadi korban seorang pemuda sepertiku. Pemuda yang hidup sebagai pecundang bahkan melakukan cara yang salah untuk mengambil perhatian gadis yang disukainya."


"Baiklah, Arthur. Aku akan menjelaskan pada Chico mengenai dirimu meski aku masih bingung bagaimana cara memulainya. Kita akan pulang ke new York lusa, dan bersiaplah untuk menerima apapun keputusan Chico terhadap kehadiranmu yang tiba-tiba ada dihidupnya."


"Aku yakin dia akan mau menerimaku ... jika kau juga sudah menerimaku, Brianna." Arthur menangkup pipi Brianna dan mengelusnya lembut.


"Aku akan menerimamu."


Arthur terpana dengan jawaban Brianna. "Benarkah? Kau serius?" tanyanya.


"Yah, kau yang bilang kita berpacaran, bukan?"


"Tapi aku tidak ingin putus dan berpisah, demi Chico, hum?" Arthur mengacungkan jari kelingkingnya, berharap Brianna menyambut itu dan berjanji takkan meninggalkannya.


"Apa harus?" tanya Brianna.


"Ya. Kau harus."


"Baiklah." Brianna menyatukan kedua jari kelingking mereka menjadi bertautt satu sama lain.


Arthur tersenyum puas. Dia lega luar biasa karena akhirnya Brianna memahami keinginannya. Mulai sekarang dia berjanji akan menjadikan Brianna istrinya yang paling bahagia. Dia akan menebus segala kesalahannya pada wanita itu dengan menjadi sosok suami yang siaga dan tentu paling mengerti apa yang diinginkan sang istri.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"


Brianna berdecak. "Belum apa-apa sudah banyak permintaan," keluhnya.


"Satu saja. Sebagai tanda jika kau sudah benar-benar menerimaku."


"Apa?" tanya Brianna.


"Jika Chico sudah setuju dan menganggapku sebagai Daddy-nya. Aku mau pernikahan kita diresmikan di altar."


Brianna menatap Arthur tak percaya. "Kau yakin? Seserius itu?" tanyanya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak mau berpisah denganmu? pernikahan di gereja akan mengikatmu selamanya bersamaku dan aku ingin mengucapkan ikrar pernikahan untukmu."


Brianna mengangguk dan Arthur segera merengkuh tubuh wanitanya kedalam pelukan.

__ADS_1


...To be continue......


Mana dukungannya, guys? Kirim kopi ke tempat othor yaaa... abis ini up 1 bab lagi buat hari ini. Makasih banyak guys ❤️💚


__ADS_2