
Brianna datang dengan terburu-buru. Dia sampai dan melihat Arthur disana.
"Arthur!"
Arthur menoleh pada sang wanita dan menyunggingkan senyum semringah sembari masih menahan rasa sakitnya.
"Kau datang?"
"Tentu saja. Kau sakit! Ayo kita pergi dari sini dan segera berobat," ujar Brianna panik.
Arthur mengangguk patuh, dia mencoba bangkit tapi perutnya terasa semakin nyeri karena pergerakan itu.
Brianna yang melihat jika Arthur tak dapat berdiri dengan baik, segera sigap untuk membantu pria itu, dia merangkul pinggang Arthur sembari meletakkan tangan pria itu disepanjang bahunya. Brianna membantu memapah Arthur agar sang pria dapat berdiri.
Arthur malah semakin melengkungkan senyuman.
"Kenapa?" tanya Brianna tak paham dengan gelagat pria itu, dia membawa Arthur berjalan sampai ke taksi yang tadi dia gunakan untuk menuju ke tempat ini.
"Aku senang kau peduli padaku," jawab Arthur jujur.
Brianna menipiskan bibir. "Aku tidak peduli padamu, aku hanya memedulikan diriku sendiri, karena jika kau sakit, kau pasti akan merepotkan ku lebih dari ini," ujarnya datar.
Arthur mengulumm senyum. "Terserah apa katamu, yang jelas aku tetap menganggap ini adalah bentuk kepedulianmu padaku," ujarnya.
Brianna membuka pintu taksi dengan susah payah, kemudian membantu Arthur masuk agar bisa duduk dengan nyaman disana.
Sekali lagi Arthur meringiss merasakan nyeri diperutnya karena pergerakan tersebut.
"Arkh!""
Brianna menatap Arthur dengan tatapan khawatir. "Apa sakit sekali?" tanyanya.
"Yeah, tapi aku masih bisa menahannya," jawab Arthur dengan suara pelan.
Brianna menggeleng samar sebab tak percaya dengan ujaran pria itu, wajah Arthur saja sudah nampak pucat sekali.
Dengan gerak cepat, Brianna menempati tempat duduk disebelah Arthur dalam taksi yang mereka tumpangi.
"Jalan, Pak. Tolong antarkan kami ke Rumah Sakit terdekat."
Arthur menatap Brianna heran. "Kenapa ke Rumah Sakit? Kita obati di hotel saja. Mungkin aku hanya kelelahan," jawabnya.
"Jangan protes, Arthur. Kau terlihat tidak baik-baik saja, jadi jangan meremehkan penyakit yang kau rasakan saat ini."
Arthur akhirnya menutup mulutnya, diam-diam dia memanfaatkan keadaan dengan menggenggam tangan Brianna erat-erat. Brianna membiarkannya, dia merasa jika Arthur melakukan itu karena tengah menahan kesakitan.
Karena Brianna tidak melarangnya, Arthur malah semakin berani menyandarkan kepalanya pada bahu Brianna, dia juga mengambil tangan Brianna yang satunya untuk dielus-eluskan ke perutnya yang sedang sakit.
"Jangan mengambil kesempatan, Arthur!" tuding Brianna.
__ADS_1
Arthur tak menggubris, dia tetap melakukan aksi yang ingin dia lakukan. Brianna hanya menghela nafas panjang, dia harus sabar, merasa Arthur seperti ini karena sedang sakit. Dia butuh perhatian, pikir Brianna.
Brianna mencoba memahami, sebenci apapun dia pada Arthur, dia masih memiliki nurani untuk tidak berlaku kasar pada orang yang sedang sakit. Lagipula, Brianna mengingat Chico yang juga akan bersikap seperti ini jika sedang sakit, putranya pun suka mencari perhatiannya.
Tak sampai 30 menit, taksi itu sudah mengantarkan mereka ke sebuah Rumah Sakit terdekat. Brianna segera mengatakan pada Dokter mengenai keadaan Arthur yang dia ketahui dari pria itu.
"Tolong periksa dia, Dokter, katanya perutnya sakit."
Dokter itu mengangguk dan membantu Arthur memasuki ruang pemeriksaan untuk diberi tindakan.
"Apa anda melewatkan makan anda, Tuan?" tanya dokter tersebut.
Dan Arthur mengiyakan.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menerima hasil pemeriksaan jika lambung Arthur mengalami masalah. Itu terjadi karena selama ini dia sering melewatkan jam makannya. Baik sarapan, makan siang, maupun malam malam. Dalam arti lain, Arthur makan dengan tidak teratur. Lambung Arthur dinyatakan mengalami luka karena kebiasaan buruknya itu.
"Kau dengar itu? Jangan lupa makan. Jangan mengabaikan kesehatanmu hanya karena pekerjaan. Kau bisa sakit. Apa kau mau sakit seperti ini dan tidak bisa melakukan apapun?" omel Brianna.
Bukannya marah, Arthur justru senang mendengar kemarahan Brianna padanya. Bukankah itu berarti wanita itu sedang memperhatikannya?
"Jika dengan sakit aku akan mendapatkan perhatian darimu, maka aku akan memilih sakit setiap hari," jawab Arthur yang berbaring di tempat tidur Rumah Sakit.
Brianna membuang nafas kasar. Dia sedang serius, sementara Arthur malah melontarkan percandaan.
"Aku serius. Aku senang ada kau yang peduli padaku." Arthur menatap Brianna dengan sorot dalam yang membuat Brianna salah tingkah karenanya.
Arthur memegang kedua tangan Brianna, kemudian dia menarik tubuh wanita itu agar mendekat padanya, Brianna refleks membungkuk didepan wajah Arthur yang terbaring akibat tarikan pria itu.
"Ba-baiklah, aku akan segera menebus obatnya di apotek," jawab Brianna gugup.
Arthur menggenggam kedua pergelangan tangan Brianna sembari kepalanya menggeleng pelan. "Bukan obat yang itu," tuturnya pelan.
"Jadi?" Brianna jelas bingung atas pernyataan Arthur.
"Kiss me!" Arthur kembali menarik Brianna mendekat, tak ada pemberontakan dari wanita itu hingga bibir mereka bersentuhan sekilas.
Arthur tidak rela jika Brianna beringsut menjauh, dia menahan posisi wanita itu agar tetap membungkuk ke arahnya, dia mengulumm bibir Brianna lama dan melepaskannya setelah merasa puas.
"Uhm, a-aku akan ke apotek dulu," ujar Brianna kemudian, entah kenapa dia malu karena sikap Arthur yang mendadak manis padanya. Ini pasti karena pergumulann yang mereka lakukan berulang kali pagi tadi.
"Jangan terlalu lama, Bri."
"Ya-yah, aku segera kembali." Brianna cepat-cepat pergi dari ruangan tersebut.
...***...
Brianna dan Arthur kembali ke hotel setelah memeriksakan keadaan pria itu. Brianna juga sudah mendapatkan obat untuk Arthur konsumsi selama beberapa hari kedepan.
"Kau mau kemana?" tanya Arthur yang melihat Brianna menghindar darinya.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya mau ke kamar mandi," jawab Brianna tanpa berani menatap mata Arthur.
"Cepatlah kembali."
"Hmm..." Brianna meninggalkan Arthur ditempat tidur king size yang berada ditengah-tengah kamar. Diapun memasuki kamar mandi lalu mencuci wajahnya sendiri.
Brianna keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian, namun matanya terbelalak melihat Arthur yang memegang ponsel miliknya. Pria itu bahkan terlihat bercakap-cakap seperti tengah melakukan video call.
"Siapa?" Brianna bertanya pada Arthur tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak ketika pria itu menoleh ke arahnya.
"Chico." Arthur tersenyum manis setelah mengucapkan nama putranya.
Brianna panik, dia belum siap jika Arthur bicara dengan Chico. Dia belum memberikan pengertian apapun pada putranya, bagaimana bisa Arthur menerima panggilan Chico di ponselnya begitu saja?
Brianna tak berani mendekat pada Arthur, sebab dia takut Chico melihatnya dalam panggilan video itu. Tapi dia juga tak mungkin membiarkan Chico dan Arthur terus terlibat obrolan satu sama lain. Brianna merasa serba salah sekarang.
Untung saja Arthur paham kegelisahan Brianna, dia menyudahi panggilan itu kemudian meletakkan ponsel Brianna diatas nakas.
"Kenapa kau mengangkat panggilan di ponselku, Arthur?" protes Brianna dengan wajah tak bersahabat.
"Sorry, itu terus berbunyi dan saat ku lihat itu Chico aku penasaran untuk menerima panggilannya," jawab Arthur tenang.
Brianna mendengkus keras. "Jangan lagi ulangi itu, aku belum memberi pengertian pada Chico. Aku juga tidak tau harus memberikan alasan apa pada Zach dan Flo jika mereka bertanya, kenapa kau yang mengangkat telepon dari mereka."
"Ya, tadi memang ada yang bertanya. Kenapa bisa aku yang menerima video call nya."
"Ah, pasti itu Flo." Brianna menggerutu disana.
"Tenanglah. Aku bisa menjawab pertanyaannya."
"Kau bilang apa?"
"Ku bilang kau sedang di kamar mandi."
Brianna memejamkan matanya rapat-rapat, pasti Flo akan mengira bahwa telah terjadi sesuatu diantara dirinya dan Arthur. Ya, meskipun itu benar tapi Brianna belum sanggup untuk berterus-terang pada mereka.
"Putraku sangat tampan ... dia juga cerdas. Aku tidak sabar bertemu langsung dengannya," kata Arthur lagi.
Brianna mengusap wajahnya sendiri. Dia belum tenang jika belum mendengar apa pendapat Flo maupun Zach mengenai semua yang terjadi antara dirinya dan Arthur sekarang.
"Kau dengar, kan? Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu langsung dengannya. Dia seperti penyemangat bagiku," tutur Arthur kemudian.
Brianna menghela nafas pendek. "Apa tadi kalian sempat mengobrol? Chico bilang apa?" tanyanya.
"Kemarilah. Aku akan menceritakannya padamu." Arthur menepuk sisi kosong disebelahnya, seperti kemarin dia mau tidur satu ranjang dengan Brianna.
"Oh my ..." gumam Brianna. Sikap Arthur jelas membingungkannya. Tapi seperti kemarin, apakah dia juga harus menerima Arthur lagi hari ini? Dan hari-hari berikutnya? Brianna pikir dia termakan saran Cecilia yang memintanya untuk mulai menerima keadaan dimana dia dan Arthur memanglah sudah berubah status menjadi sepasang suami istri.
...To be continue.......
__ADS_1
Tolong berikan vote dan komentar ya, guys 🙏