
Brianna menggeleng pada Arthur sebagai isyarat menolak tawaran pria itu. Dia tak mau terlalu sering kontak fisik dengan Arthur, dia takut sikap Arthur sekarang hanyalah kamuflase untuk menaklukkannya lalu menyakitinya dikemudian hari.
Sedikit banyak, Brianna tak mau berharap pada pria itu. Dia takut merasakan sakit yang mendalam. Dia sudah merasakan kemiskinan, hidup dimasa sulit, di bully, dihancurkan tapi dia tidak siap untuk patah hati. Ya, Brianna takut kebenciannya yang mendalam pada Arthur justru berubah cinta.
Brianna pernah mendengar kalimat yang mengatakan bahwa benci dan cinta itu hanya setipis kulit ari. Dia tak mau itu terjadi padanya dimana dulu dia sangat membenci Arthur.
Tunggu. Dulu? Ya, dulu dia membenci Arthur. Lalu bagaimana dengan sekarang? Brianna tak menemukan jawabannya, meski dia kadang kesal pada pria itu tapi dia tak mampu mengakui jika dia masih membenci pria itu sekarang.
"Kau tak mau mendengar ceritaku tentang panggilan video bersama Chico tadi?" Suara Arthur menyadarkan Brianna dari lamunannya.
"Hah?" Brianna mengerjap. "Ng---itu, tidak!" jawabnya asal. Padahal dia sangat penasaran apa yang dibicarakan Arthur dengan putranya tapi dia mencoba menahan rasa ingin tau tersebut hanya karena mau menghindar dari Arthur yang memintanya bergabung di ranjang yang sama.
"Aku tidur di sofa saja malam ini," tunjuk Brianna pada arah sofa di sudut ruang kamar.
"Apa?" Arthur terkejut, dia pikir Brianna akan bersedia berbagi tempat tidur dengannya lagi malam ini. Dan jika bisa, dimalam-malam berikutnya juga.
"Ku pikir kau sedang sakit jadi ada baiknya aku tidak tidur didekatmu."
Kelopak mata Arthur terbuka lebar, matanya mendelik seketika. "Penyakitku tidak menular!" bantahnya.
Brianna mengulumm senyum saat mendengarnya. "Aku tidak bilang penyakitmu menular, Arthur!" ujarnya.
"Jadi?"
"Aku hanya tak mau mengganggu kenyamanan tidurmu."
Arthur berdecak. Dia harus punya alasan logis untuk membuat Brianna tidur disisinya. Tapi dia tak mau terlihat memohon untuk hal itu. Dia bisa saja mengatakan pada Brianna jika dia akan jauh lebih nyaman jika tidur sembari memeluk tubuh ramping wanita itu, juga seraya menggulung-gulung rambut pirang Brianna dengan jarinya, sampai dia mengantuk, tapi dia tidak mau terang-terangan seperti itu.
"Justru karena aku sakit, seharusnya kau berada di sampingku, Bri. Kalau kau jauh disana itu akan menyusahkan ku untuk memanggilmu." Arthur mulai memberikan alasan yang mungkin terdengar masuk akal.
"Kau hanya perlu memanggil dan aku akan membantumu," jawab Brianna yakin.
"Kalau kau terlalu nyenyak kau tidak akan bisa mendengarku, Brianna. Ayolah, tidur disini saja. Jangan di sofa. Kalau aku butuh apa-apa aku hanya tinggal menepuk-nepuk lenganmu."
Brianna memutar bola matanya. Tapi jika dipikir-pikir ujaran Arthur benar juga. Lagipula, Arthur sakit dan tak mungkin berbuat lebih padanya. Pria itu tidak akan macam-macam, pikirnya.
"Baiklah..." Brianna mendekat, dia memilih mengalah karena Arthur sakit atau karena dia juga ingin di posisi ini? Entahlah ...
Brianna menempati sisi kosong disebelah Arthur dan duduk bersandar di headbord seperti yang Arthur lakukan.
__ADS_1
"Jadi ... apa?" tanya Brianna.
"Apa?" Arthur balik bertanya.
Brianna tertawa, dan hal itu menular pada Arthur yang ikut terkekeh. Dia senang Brianna bisa bersikap seperti ini dihadapannya, sebab Arthur jarang sekali melihat Brianna tersenyum apalagi tertawa. Sejak dulu, Brianna selalu memasang wajah ketat didepannya.
"Kau cantik kalau tertawa. Kenapa kau jarang melakukannya?" puji Arthur terang-terangan.
Wajah Brianna memerah seketika, dia tak pernah mendengar Arthur memujinya dan kali ini pujian itu terdengar sungguh-sungguh.
"Karena kau selalu menyebalkan, aku tidak mau menunjukkan senyumku padamu," kata Brianna jujur.
"Kalau aku bersikap menyenangkan, apa kau mau tertawa bersamaku?" Kali ini Arthur menatap Brianna dengan serius.
Brianna membuang tatap, dia merasa atmosfer kamar itu berubah panas hanya karena tatapan Arthur yang terasa menghujamnya.
"Apa yang tadi Chico katakan padamu?" Brianna mengalihkan topik pembicaraan.
Arthur akhirnya berdehem singkat, kemudian menjelaskan pada sang wanita mengenai percakapan pertamanya dengan bocah itu.
"Jadi, tadi Chico terkejut melihat aku yang menerima video call-nya. Dia tanya siapa aku dan aku bilang jika namaku Arthur Mattews."
"Lalu, apa tanggapan Chico?"
"Dia tidak menanggapi perkenalanku, dia hanya fokus mencarimu."
Brianna tersenyum. "Dan kau bilang aku di kamar mandi?" tebaknya.
Arthur mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu, apa lagi yang kalian bicarakan?"
"Aku tanya padanya, apa aku tampan."
Brianna tak bisa menahan tawanya kali ini, dia benar-benar tertawa mendengar kepercayaan diri Arthur.
"Dan Chico menjawab bahwa dialah yang lebih tampan darimu," terkanya kemudian.
"Iya." Arthur ikut terkekeh. "Tapi aku mengakuinya, dia memang lebih tampan dariku. Kelak, aku akan menyombongkan diri didepannya bahwa ketampanannya itu berasal dariku," ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Aku belum tau kapan bisa memberitahunya, Arthur." Brianna berujar lembut. Dia seperti memiliki beban untuk hal yang satu ini.
Arthur mendekat pada Brianna, dia merangkul bahu wanita itu. "It's oke, it's oke ... kau bisa memulainya secara perlahan. Aku tidak akan memaksakanmu meski sebenarnya aku sudah tidak sabar untuk memperkenalkan diri sebagai Ayahnya," tuturnya pengertian.
Brianna mendongak, merasakan pergerakan tangan Arthur yang mengelus punggungnya dengan ritme teratur. Dia menatap netra kecokelatan milik pria itu. "Jangan terlalu baik padaku, Arthur," lirihnya.
"Why? Apa aku salah jika baik padamu? Apa kau mau mengenalku sebagai orang jahat sepanjang perkenalan kita?"
Brianna menggeleng. "Aku hanya tidak mau terjerumus pada kebaikanmu," akuinya blak-blakan.
Arthur tersenyum miring, jelas dia tau kemana pikiran Brianna sekarang.
"Kau mengira kebaikanku padamu hanya pura-pura? Begitu?"
Brianna mengendikkan bahunya.
"Jika aku boleh jujur, sebenarnya sudah lama aku ingin bersikap baik padamu, Bri."
Tentu saja Brianna terkejut mendengarnya.
"... jauh sebelum aku tau kau telah melahirkan putraku, aku sudah lebih dulu ingin bersikap baik padamu."
"Lalu?"
"Aku hanya takut kau tidak menerima kebaikanku. Dan setiap mengingat sikap bodohmu di universitas, selalu membuatku marah. Aku tidak suka kau dimanfaatkan orang lain, untuk itu aku memilih melampiaskan kekecewaanku atas sikapmu dengan mengerjaimu."
Brianna menatap Arthur tidak berkedip. Dia speechless dengan kejujuran Arthur kali ini. Dia tidak bisa berkata apapun seolah penuturan Arthur barusan sebenarnya adalah kunci perdamaian untuk mereka berdua.
"Maukah kau memaafkanku, Brianna?"
Brianna terdiam, dia beringsut menjauh dari rangkulan Arthur. Dia membaringkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Arthur paham bahwa Brianna tak mungkin memaafkannya begitu saja. Dia tau kesalahannya pada wanita itu sangat fatal dan tak mudah dimaafkan hanya dengan permohonan.
Arthur ikut membaringkan tubuh, kemudian memeluk Brianna dari belakang. Tentu saja Brianna terjingkat kaget karena ulahnya. Arthur juga mendekatkan bibirnya ke telinga Brianna seakan siap memulai kata-katanya.
"Aku serius saat aku mengatakan ingin memulai semuanya dari awal denganmu, mari kita jalani rumah tangga kita dengan perasaan yang baru. Tidak ada lagi benci dan dendam. Aku paham dan sangat tau akan kesalahanku padamu, jadi aku tidak memaksamu untuk memaafkanku dengan mudah. Untuk itu, izinkan aku membuktikan padamu bahwa aku bisa mempersembahkan kebahagiaan untuk keluarga kecil kita."
...To be continue ......
__ADS_1