
Rigel memandang langit - langit ruangannya. Mendengarkan jarum jam dinding yang berbunyi dengan keras dalam suasana sepi. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya agar rencananya berhasil hari ini.
Klik.
Suherman, Nuna dan Tanio memasuki ruang rawat Rigel. Nuna berjalan di samping kakeknya sedangkan Tanio mengekor di belakang dengan membawa buah - buahan. Setelah menaruh parsel di atas meja, Tanio keluar dan berdiri di depan pintu bertugas sebagai penjaga untuk menahan kemungkinan orang - orang yang tidak relevan menganggu percakapan di dalam.
Rigel yang akan berbicara, mengurungkan niatnya saat melihat kakek Nuna menghampirinya.
"Halo, Kakek. Halo, Nuna. Maaf saya menyapa dengan posisi duduk di atas ranjang," sapa Rigel dengan sopan. Berusaha menampilkan image sebagai anak baik - baik di depan kakek Nuna.
Suherman tersenyum hangat dan menyapa, "Halo, nak Rigel. Santai saja. Bagaimana kondisi kamu?"
Rigel meringis, "Yah.. tidak apa - apa." Namun wajahnya menampilkan ekspresi sedih.
Suherman merasa tidak enak. "Maafkan cucu perempuan saya, sebenarnya dia selalu menjadi anak yang bertingkah laku lembut dan jarang membuat masalah. Saya berharap nak Rigel bersedia memaafkannya sekali lagi atas kejadian ini."
Helaan nafas terdengar dari Rigel. Sudut mulutnya naik menampilkan senyum yang terlihat manis, "Tentu saja. Saya sudah memaafkannya. Tetapi saya ingin dia memberi saya kompensasi dengan benar."
Nuna menatap Rigel waspada. Masalah apa lagi yang akan dia temui? Setelah menggigit tangannya, remaja itu tidak akan memukul kepalanya kan?
"Kompensasi apa yang dimaksud oleh nak Rigel? Apakah kamu ingin properti di daerah C? Atau tanah di wilayah O?" tanya Suherman membuka penawaran.
Rigel melebarkan senyumnya, "Maaf saya tidak tertarik."
"Lalu apa yang kamu minta sebagai kompensasi? Keluarga Pangestu pasti akan berusaha memberikannya."
"Tidak. Saya hanya ingin kompensasi langsung dari Nuna." Rigel menolak dengan tegas.
"Nuna adalah cucu perempuan saya. Dia bagian dari Keluarga Pangestu. Apa yang kamu maksud dengan kompensasi langsung dari cucu tersayang saya, hm?"
"Saya tidak bisa mengatakannya kepada Kakek. Kakek tidak akan memahami generasi muda seperti kami. Saya akan membicarakannya secara pribadi dengan Nuna."
Bocah bau ini! Suherman menahan kekesalannya dan dengan enggan berkata, "Baik. Kalau begitu saya tidak akan mengganggu kalian." Dia mengusap rambut cucunya perlahan dan berkata, "Nuna, Kakek pulang dulu, sopir Kakek sudah menunggu di bawah."
"Baik, Kakek. Hati - hati di jalan."
Suherman mengangguk dan meninggalkan ruangan sehingga hanya tersisa Rigel dan Nuna di tempat.
"Cepat katakan," ucap Nuna.
"Katakan apa?" tanya Rigel bermain - main.
Alis Nuna mengerut, "Kompensasi."
"Ah itu.. Gue cuma pengen lo ngelakuin satu hal."
"Apa itu?" Firasat Nuna mengatakan bahwa remaja ini memiliki niat buruk!
"Lo harus nurutin perintah gue selama satu bulan."
Benar saja!
Nuna memperingatkan, "Permintaan kamu mencakup banyak hal, bukan hanya satu." Dia mengatakan dengan tegas, "Saya tidak ada niat menjadi asisten kamu."
__ADS_1
"Gue enggak pengen lo jadi asisten gue. Itu kompensasi yang gue mau. Lagian gue kagak bakal ngasih perintah yang aneh - aneh."
"Kamu berlebihan."
Rigel mengangkat tangannya, "Gue enggak berlebihan. Lo yang udah keterlaluan bikin anak orang gegar otak ringan dan patah tulang dua kali."
Nuna terdiam. "Dua minggu."
"Enggak."
"Tiga minggu." Nuna menawar lagi.
"Enggak. Satu bulan ya satu bulan! Gue bisanya cuma kasih diskon 1 hari oke? 31 hari jadi 30 hari!"
Tidak ada bedanya sama sekali! Nuna segera melakukan teknik pernafasan sitali untuk menstabilkan emosinya.
Rigel memandang heran, "Ngapain lo? Pokoknya lo harus setuju, gue enggak mau tahu."
Pupil Nuna bergetar. Tangannya mengepal dikedua sisi rok nya. Setelah beberapa saat, dia melepaskan kepalan tangannya dan tubuhnya menjadi rileks kembali. "Oke. Saya akan lakukan. Tetapi dengan syarat, saya berhak menolak kalau kamu meminta hal yang tidak masuk akal."
"Tentu saja." Rigel lalu mengeluarkan sebuah map. Dia membukanya dan menyerahkannya pada Nuna. "Tanda tangan."
Nuna dengan bingung mengambil map itu. Dia lalu membacanya.
...Surat Perjanjian...
Pada hari ini kamis tanggal *****, pihak - pihak yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Rigel Andromeda Anderson
Umur : 17 tahun
Nama : Nuna Callista
Umur : 16 tahun
Dalam hal ini bertindak atas nama dan selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua
Pihak Kedua bekerja sama dengan Pihak Pertama dalam memenuhi kompensasi dimana Pihak Kedua akan mematuhi perintah Pihak Pertama selama 30 hari terhitung dari hari *** tanggal ***. Apabila Pihak Kedua melanggar, maka akan dikenakan sanksi yaitu waktu kompensasi akan diperpanjang sebanyak dua kali dari waktu kompensasi yang tersisa.
Demikian surat perjanjian ini dibuat sesuai dengan kesepakatan bersama. Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.
PIHAK PERTAMA
Rigel Andromeda Anderson
PIHAK KEDUA
Nuna Callista
SAKSI
Sebastian, S.H.
Nuna memandang rumit Rigel. "Mengapa kamu membuat hal - hal ini? Kamu tidak mempercayai saya?"
__ADS_1
Rigel memainkan jari - jarinya, "Gue cuma pengen membuat diri gue ngerasa aman. Buat jaga - jaga aja. Lagian harusnya lo enggak keberatan kan? Gue tahu Keluarga Pangestu selalu menepati janjinya."
Pada akhirnya Nuna yang tidak puas tetap menandatangani perjanjian itu.
Rigel dengan cepat menyimpan map di dalam laci dan menguncinya, lalu dia menatap Nuna dan memberikan perintah pertamanya, "Besok gue bakal masuk sekolah. Lo harus bantuin bawa tas gue."
"Di hari pertama, kamu sudah menjadikan saya asisten. Ini yang kamu sebut dengan bukan?"
"Gue cuma minta buat bantu bawa tas, kalau lo jadi asisten gue, lo akan bersama gue 24 jam dalam sehari. Jadi lo enggak bertindak sebagai asisten gue oke?"
Nuna yang mendengarnya yakin bahwa dia tidak akan bisa menang dari Rigel. Dengan enggan dia menerima, "Baik."
Keduanya saling bertatapan dalam diam.
"Ada lagi?" Nuna bertanya.
Rigel menjawab, "Enggak. Itu dulu aja, lo bisa balik sekarang."
Tanpa berpamitan, Nuna segera meninggalkan ruangan.
Tanio melihat pintu terbuka dan Nonanya berjalan dengan cepat di sepanjang lorong rumah sakit. "Nona, apakah anak itu membuat masalah lagi?" tanya Tanio sambil mengimbangi langkah Nuna.
Nuna memperlambat langkahnya dan menatap asistennya, "Tidak. Apakah Kakek tadi meninggalkan pesan sebelum pulang?"
"Ya. Tuan meminta saya menyampaikan kepada Nona untuk.. untuk.." Tanio ragu - ragu.
"Untuk?"
"Untuk mencoba berteman dengan remaja laki - laki itu," jawab Tanio dengan cepat dalam satu nafas.
Hening sejenak. Tanio melihat Nonanya tidak merespon dan justru mempercepat langkahnya kembali menuju tempat parkir.
"Nona, apakah Nona marah? Tuan mengatakan jika Nona dapat menjalin hubungan baik dengan Tuan Muda Keluarga Anderson, hal itu akan berdampak baik di masa depan saat Nona mengambil alih Perusahaan Pangestu," ungkap Tanio. Tanio memahami niat Tuannya dengan jelas. Beliau pasti berniat memanfaatkan putra Kepala Keluarga Anderson untuk meningkatkan EQ Nonanya.
Nuna berbalik dan membuat Tanio hampir jatuh karena menahan kakinya yang berhenti tiba - tiba.
Nuna mengabaikan asisten pribadinya yang hampir memukul tubuhnya.
"Tanio."
Tanio berdiri dalam posisi siap dan menjawab, "Ya, Nona."
"Berhenti bicara."
Tanio reflek merapatkan kedua bibirnya. Lalu mereka pulang tanpa ada percakapan sepatah kata pun di dalam mobil.
◾◾◾
Cerita Sampingan
Tanio : (mengetahui pertengkaran Nonanya dengan Rigel dan mengambil catatan) Terkejut! Nona berbicara lebih banyak dengan orang lain. Posisi Nino akan segera tergeser dari peringkat pertama.
Nino : (sedang menonton kartun)
__ADS_1
Tanio : Nino, kamu akan bergeser ke posisi dua dalam daftar Orang yang Paling Banyak Berkomunikasi dengan Nona. Dan saya akan turun di peringkat empat.
Nino : ???