Forever Young

Forever Young
BAB VIII Telepon dari Sekolah


__ADS_3


Nuna berjalan memasuki sekolah dan melihat Rigel menghampirinya. Remaja itu memberikan tas nya ke pelukan Nuna sebelum memutar tubuhnya dan memimpin jalan ke kelas.


Nuna meletakkan tas Rigel di tempat duduknya dan dia segera memakai earphone. Rigel mengamati dari samping tanpa mengganggu. Dia masih memikirkan rencana selanjutnya untuk membuat Nuna menyesal.


"Hei, Rigel," sapa Bimo sambil menepuk bahu Rigel. "Tinggi lo berapa?"


"189 cm."


Joshua bersemangat. "Wow. Lo bisa basket?"


Rigel mengangguk. "Tapi gue enggak jago."


"Santai bro, setelah lo sembuh, kita bisa coba latihan bareng. Tim kita sekarang masih kurang orang." Bimo sebagai Kapten Tim Basket berusaha merekrut anggota.


"Ya. Dengan wajah lo, lo juga bisa meningkatkan popularitas tim basket kita," imbuh Joshua.


Bimo memukul bahu Joshua.


"Kenapa lo mukul gue sih, Bim? Gue kan ngomong fakta, anak - anak di sini hampir enggak ada yang tertarik ama ekstrakurikuler lapangan!"


"Oh?" Rigel tertarik. "Kok bisa? Bukannya harusnya mereka ngejar anak basket kayag idola ya?"


Bimo menghela nafas. "Hal kayag gitu mungkin terjadi di sekolah lain. Tapi enggak mungkin di sini."


"Kenapa?"


Bimo menghindari menjawab dan membuka file di ipad nya lalu meletakkan ipad nya di depan Rigel. "Ehem ehem. Jadi, teman sekelas. Kami akan mempresentasikan PPT kami berjudul 'Mengapa harus memilih basket sebagai ekstrakurikuler'."


Bimo menggeser layar dan menjelaskan, "Selain belajar, kehidupan sekolah kita harus seimbang. Basket merupakan olahraga yang melatih otot kita sehingga kita tetap sehat jasmani dan rohani."


Rigel mendengarkan dengan serius.


"Selain itu ekstrakurikuler yang dalam kegiatannya duduk terlalu lama memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena sindrom metabolik yang ditandai dengan kegemukan. Sedangkan ketika teman sekelas mengikuti basket, teman sekelas akan dapat membentuk enam hingga delapan kotak di perut. Berikut contohnya." Bimo mengangkat seragam Joshua ke hingga dada. Menampilkan perut Joshua yang sixpack.


Rigel mengamati perut Joshua dan mengangguk. "Ada bukti. Penjelasan sangat kredibel." Rigel tiba - tiba tersadar dan segera menoleh ke arah Nuna.


Dia melihat Nuna yang fokus membaca dengan earphone terpasang di telinganya. Bagus! Anak kecil tidak boleh melihat.


"Lanjut," ucap Rigel.


Bimo mengangguk. "Selesai. Terima kasih telah mendengarkan. Kami berharap teman sekelas bergabung."


"Eh? Itu saja?" tanya Rigel heran.


Bimo tersenyum, "Ya. Selamat datang di tim basket kami."


"Gue belum mutusin buat join."


"Sayang sekali." Bimo menghela nafas kecewa.


"Ekstrakurikuler apa yang paling diminati di sini?"


"Tiga teratas ada IT, Digital Marketing dan Jurnalis yang ngurusin majalah sekolah."


"Oke, gue gabung basket." Rigel memutuskan. Tidak ada yang dia minati dari tiga ekskul itu.


"Waa selamat bergabung, bro!" Joshua memeluk leher Rigel. "Lo adalah anggota ke sepuluh. Tapi tenang, kita bersaing secara adil dalam pembagian tim inti dan cadangan."

__ADS_1


"Kalian bertiga." Elang memecah atmosfer bahagia mereka. Dia mengulurkan tangan. "Mana tugas Bahasa Inggris kalian? Dikumpul sekarang."


Bimo, Joshua, Rigel, "!!!"


Joshua mengusap hidungnya, "Setengah jam lagi ya, bro." Dia segera berlari dan mengerjakan tugas diikuti dengan Bimo.


Rigel juga menulis di bukunya dengan sangat lambat. Dia tidak puas dengan tulisan jeleknya! Rigel lalu melirik ke Nuna dan menangkap Nuna tengah mengerjakan tugas menggunakan tangan kirinya. Beraninya dia menipunya, hmph!


"Lo bisa nulis pakai tangan kiri!" Rigel menunjuk tangan kiri Nuna yang menggenggam pulpen.


"Ya."


"Lo bohongin gue kemarin, hah?"


"Saya tidak."


"Itu buktinya lo nulis pakai tangan kiri lo dan tulisan lo masih bagus!"


Nuna membela dirinya, "Saya tidak mengatakan kalau saya tidak bisa menggunakan tangan kiri saya, tidak seperti kamu."


"Lo ngejek gue?!"


"Saya hanya berbicara fakta."


"Gue enggak mau tahu, sekarang lo harus bantu gue selesain tugas!"


"Saya akan membagikan jawaban, tapi tidak akan membantu kamu menulisnya." Nuna segera membuka bukunya di depan Rigel.


"Lo mau lari dari tanggung jawab, hah?"


"Bim, kayagnya gue beneran halusinasi pendengaran, deh."


Rigel menatap benci pada buku Nuna dan berniat merobeknya, biarkan dia dihukum bersamanya karena tidak mengerjakan tugas. Oh! Ide yang bagus!


Nuna menangkap niat Rigel dan segera mengambil bukunya, menyebabkan Rigel yang tidak siap, mengalami nyeri di tangan kanannya yang di gips. Rigel reflek berteriak kesakitan membuat teman satu kelas menjadi panik.


◾◾◾


Suherman bersenandung menyirami tanaman di kebun. Seorang pelayan tiba - tiba berlari ke arahnya dengan panik.


"Tuan, tuan. Ada panggilan telepon dari sekolah Nona."


Suherman menatap tak percaya. Dengan gemetar dia meraih telepon itu. Setelah berbincang sedikit, telepon dimatikan. Dia masih merasa takjub dan bersemangat. Cucu perempuannya akhirnya sedikit berperilaku seperti teman seusianya! Apakah perlu mengundang Tanio untuk makan malam nanti?


Sejak dua tahun lalu ketika dia sedang bosan, Tanio merekomendasikan film thriller yang bercerita tentang pria jenius yang berkepribadian anti sosial sebagai tersangka tunggal pembunuhan berantai. Ketika dia melihat pria itu, dia teringat cucu perempuannya tersayang. Mereka berdua memiliki temperamen yang sangat mirip sehingga Suherman takut Nuna akan tumbuh seperti tokoh utama dalam film itu.


Dia juga akhirnya mengerti bahwa anak zaman sekarang berbeda dengan zamannya dulu, Nuna memerlukan pendidikan di sekolah biasa untuk membantunya bersosialisasi mengembangkan EQ nya. Sehingga dia memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah.


Saat duduk di ruang konseling, Suherman memandang Nuna yang berdiri dengan tenang di sampingnya. Mereka sedang menunggu orangtua murid yang terlibat dengan Nuna.


Kemudian sosok Jasmine muncul yang membuat kaget Suherman.


"Nyonya Anderson?"


"Selamat siang, Tuan Pangestu." Jasmine menyapa dan duduk di samping Suherman.


Guru BK akhirnya menceritakan konflik di kelas XI MIA I yang terjadi diantara Nuna dan Rigel.


"Jadi begitu." Suherman memandang cucunya khawatir. "Apakah kamu terluka, sayang?"

__ADS_1


Jasmine yang mendengarnya hanya berkata dalam hati, Permisi, lengan anak saya patah lagi.


Nuna menggeleng. "Maaf, kakek. Saya berperilaku tidak baik dan menyebabkan kakek malu."


Suherman berdiri dan mengusap rambut Nuna, "Tidak apa, kali ini salah remaja bau itu. Beraninya dia menganggu cucu kesayangan kakek, huh."


Jasmine menatap keduanya dan berkata, "Putra tercinta saya di rumah sakit sekarang. Apa yang akan anda lakukan?"


"Putra anda yang memulai terlebih dulu. Anda juga mendengar dari guru, bahwa dia menganggu cucu saya."


"Tapi cucu anda mematahkan lengan putra saya, lagi. Bagaimana kalau putra saya cacat? Apakah anda mampu bertanggung jawab?"


Keduanya berdebat dan tidak ada yang mau mengalah.


"Cucu anda harus pindah sekolah sehingga anak saya akan terjamin keselamatannya." Jasmine bersikukuh.


Suherman menolak dengan tegas. "Saya katakan, yang seharusnya pindah adalah putra anda. Di hari pertama membolos, di hari kedua menganggu cucu saya. Jelas putra anda yang bermasalah."


"Apa-"


Ding. Ding. Rigel menelepon..


"Ma.."


"Ya, sayang. Mama di sini."


"Biarkan Nuna merawat Rigel di sini."


Jasmine tertegun. Pandangnya beralih pada Nuna. Gadis ini memang cantik walaupun wajahnya tanpa ekspresi. Apakah putranya jatuh cinta pada gadis ini??


"Ma.. " Rigel mendesak.


"Oke, oke. Mama pastikan dia ada di sana sepulang sekolah."


"Bagus."


Telepon ditutup.


Jasmine menatap pasangan kakek dan cucu dengan linglung.


Suherman yang mendengar percakapan mereka, diam - diam menyimpulkan dalam hati, hmm remaja bau ini ingin merampok cucunya!


Sebelum Suherman bisa menolak, Nuna menggenggam lengannya dengan lembut. Dia menatap Jasmine dan menyetujui permintaan Rigel. "Baik, saya akan ke rumah sakit setelah pulang sekolah."


Jasmine menghela nafas lega, "Bagus, bagus."



◾◾◾


Cerita sampingan


Haykal : (menatap putranya yang makan dengan lahap menggunakan tangan kanannya) Apakah menyenangkan berbohong dan membuat kehebohan seperti ini?


Rigel : Lumayan (memutar tangannya yang di gips dengan nyaman)


Haykal : (menghela nafas tak berdaya) Jangan membuat mama mu khawatir


Rigel : Ya, saya tahu..

__ADS_1


__ADS_2