Forever Young

Forever Young
BAB XXV Explore Bali


__ADS_3


Di restauran hotel tempat para siswa kelas XI MIA I menginap.


Nuna memakan roti selai cokelatnya dengan tenang sebelum roti yang masih setengah direbut oleh Rigel dari tangannya.


Rigel menatap Nuna sambil memakan roti itu dalam dua gigitan. Alisnya terangkat untuk memprovokasi Nuna.


Sayangnya Nuna mengabaikannya seperti biasa, dan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil sarapan lagi.


"Pagi, Nuna, Rigel," sapa Elang yang baru masuk ke restauran bersama Joshua dan Bimo.


"Pagi," sapa Nuna.


"Pagi, bro." Rigel pun ikut mengambil sarapan dan duduk di depan Nuna.


Elang, Bimo dan Joshua duduk di meja lain yang masih dekat dengan mereka.


"Nuna.." panggil Rigel.


Nuna mengunyah rotinya dan menatap Rigel sebagai respon panggilannya.


Rigel melanjutkan sarapannya tanpa berbicara lebih lanjut, dia hanya beradu tatapan dengan Nuna. Rigel akhirnya menyelesaikan sarapannya dan meraih gelas Nuna untuk minum.


Tidak ada respon dari gadis itu, Rigel tidak menyerah dan merebut segelas air putih yang baru diambil Nuna dan meminumnya lagi. Hal ini terulang hingga tiga kali.


Nuna akhirnya membuka suaranya, "Saya ingin minum."


Bibir Rigel melengkung ke atas dan dia mengulurkan gelasnya, "Nih." Rigel mengelak saat Nuna akan mengambilnya, dia justru mengarahkan gelas ke bibir Nuna, "Minum."


Nuna tahu bahwa remaja ini akan terus mengganggunya jika dia melawan, jadi dia menyesap air putih kemudian duduk di tempatnya dengan tenang menunggu instruksi dari Ketua Kelas.


Elang melihat teman - temannya sudah menyelesaikan sarapan, jadi dia mengumumkan rencana perjalanan hari ini.


"Pagi semua, udah pada kenyang dan dandan cakep - cakep nih. Udah siap semua dong? Oke mobil udah di depan, kita berangkat sekarang ke tujuan pertama, yaitu Green Bowl Beach. Buat lo yang masih mau ambil barang, buruan ya, kita tunggu di depan," ucap Elang.


Pantai Green bowl memiliki pasir putih dan permukaan laut berwarna hijau yang terletak di ujung selatan Pulau Bali, tepatnya di Ungasan. Pantai ini masih tersembunyi dan jarang orang yang tahu. Untuk mencapainya, wisatawan harus menuruni sekitar tigaratus lebih anak tangga yang membutuhkan tenaga ekstra. Namun hal itu tidak menyurutkan minat para wisatawan untuk dapat menikmati keindahan pantai tersebut.


Setelah semua orang siap, Elang menginstruksikan untuk masuk ke dalam mobil dan berangkat.


Sesampainya di sana, mereka melihat laut yang ada di bawah lalu menatap tangga yang ada di dekat mereka.


"Ini kita turun tangga, Lang?"

__ADS_1


"Yoi. Hati - hati ya gaes. Kadang ada monyetnya," jawab Elang.


Para siswa menuruni tangga dengan hati - hati, termasuk Nuna. Beruntung dia memakai celana jeans panjang yang memudahkannya untuk bergerak.


Beberapa kali mereka berpapasan dengan wisatawan lain, baik wisatawan lokal maupun asing. Beberapa waktu kemudian, mereka akhirnya sampai di anak tangga terakhir.


Nuna memandang hamparan laut yang luas dan mencium aroma yang menenangkan. Nuna mengingat, dia pernah membaca tentang darimana aroma laut berasal. Menurut penelitian, aroma laut yang khas ini berasal dari senyawa unik Dimetil Sulfida (DMS) yang dikeluarkan oleh jutaan alga yang ada di laut. DMS sangat penting dalam memandu hewan laut mencari makanan dan juga membantu proses pembentukan awan yang berfungsi meningkatkan curah hujan.


Nuna menikmati aroma laut yang dia rindukan sejenak, sebelum melepas sepatunya dan bermain dengan ombak.


Rigel melihat teman - temannya berganti baju dan terjun ke laut, tetapi dia tidak berniat berenang bersama mereka dan hanya berdiri di bawah pohon menatap ombak yang bergulung. Tidak, lebih tepatnya menatap Nuna yang rambut panjangnya berkibar tertiup angin, yang berdiri di bibir pantai dan bermain dengan deburan ombak.


Setelah puas menghabiskan waktu di pantai, Elang memimpin mereka untuk menaiki tangga. Matahari sudah di atas dan sudah waktunya untuk makan siang.


Nafas para siswa menjadi tidak teratur karena lelah bermain dan menaiki banyak anak tangga. Tetapi mereka merasa senang bisa menikmati pantai yang berwarna biru kehijauan, hal ini sulit mereka temukan di tempat tinggal mereka.


Nuna menggulung rambutnya ke atas dan dia menarik nafas lega saat lehernya yang gerah diterpa oleh angin. Dia tidak melihat teman di depannya yang berhenti mendadak, menyebabkannya mundur dan jatuh ke pelukan seseorang.


Rigel menangkap tubuh Nuna dan mendorongnya untuk berdiri lagi. "Lo hati - hati dong, gue hampir mundur dan kepleset nih!"


"Maaf," ucap Nuna.


Gadis di depan Nuna juga menoleh dan meminta maaf pada keduanya. Dia menjelaskan bahwa dia berhenti karena kaget melihat monyet yang lewat.


"Tidak apa - apa," ucap Nuna.


Gadis itu lega dan mereka melangkah kembali.


◼️◼️◼️


Setelah makan siang dan beristirahat, rombongan siswa XI MIA I melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot.


Tanah Lot berasal dari kata tanah atau daratan dan lot memiliki arti laut sehingga Tanah Lot diartikan sebagai daratan yang ada di tengah laut. Tanah Lot berada di Kabupaten Tabanan yang membutuhkan waktu dua jam perjalanan dari restauran tempat mereka makan siang.


Sesampainya di sana, Elang membebaskan teman - temannya untuk berpencar dan meminta mereka untuk berkumpul lagi di malam hari di tempat yang disetujui.


Rigel memisahkan diri dari teman sekelasnya dan berjalan bersama Nuna memasuki gerbang masuk. Keduanya lalu melakukan pengecekan tiket. Setelah itu mereka memasuki Pasar Seni yang merupakan tempat untuk berbelanja para wisatawan.


Rigel mampir ke salah satu kios dan melihat - lihat souvernir yang dijual. Dia mengingat para anggota Eternal Squad dan membelikan mereka gantungan kunci dengan berbagai bentuk.


Nuna di sampingnya juga memegang kaos bermotif warna - warni dan merasakan bahannya yang dingin. Dia membeli dua untuknya dan Nino.


Rigel lalu bergantian melihat topi yang ada di kios dan langit biru yang cerah. Dia memutuskan membeli topi untuk melindungi kepalanya dari sengatan panas.

__ADS_1


Selesai membayar mereka keluar dari kios itu.


"Pakai," ucap Rigel lalu memasangkan topi di kepala Nuna dan menekannya.


Nuna membenarkan letak topi yang menutupi matanya, lalu mendongak menatap Rigel, "Terima kasih."


Rigel tidak membalas dan mulai melangkah pergi hingga keduanya sampai di taman yang luas. Rigel berkeliling taman diikuti Nuna dan mengambil beberapa foto pemandangan.


Rigel yang puas dengan foto - foto yang dia dapat, melanjutkan perjalanan ke objek utama yaitu Tanah Lot. Dia melihat banyak wisatawan tersebar di lingkungan sekitarnya.


Jam menunjukkan pukul 17.40 WITA, Rigel membawa Nuna untuk mencari lokasi yang strategis. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan Rigel tidak sabar berburu foto lagi.


Rigel menatap puas pada layar ponselnya, lalu melirik ke arah Nuna dan melihat Nuna tengah memandang sunset yang indah dengan langit berwarna oranye, rambutnya yang tergerai tertiup angin, menambah estetika pada profil samping wajahnya yang cantik.


Rigel mengambil gambar Nuna diam - diam. Namun dia ingin mengambil gambar wajahnya secara keseluruhan sehingga dia memanggil namanya.


"Nuna."


Nuna menoleh dan melihat Rigel memfotonya.


Rigel memasukkan ponselnya ke saku seolah tidak terjadi apa - apa, "Ayo kita ke tempat anak - anak kumpul."


Nuna mengangguk dan tidak mempersalahkan tindakan Rigel. Keduanya lalu berkumpul bersama teman - teman sekelasnya.


Pada pukul 18.30 WITA, rombongan kelas XI MIA I bersama wisatawan lainnya menonton pertunjukan Tari Kecak yang ada di tempat wisata Tanah Lot itu.


Setelah pertunjukan selesai, Elang memimpin mereka untuk kembali ke mobil dan pergi makan malam.



◼️◼️◼️


Cerita sampingan


Bimo : Mau kemana lo, Rigel? Kita udah mau berangkat nih.


Rigel : Tunggu bentar, gue ke toilet. (Bergegas lari ke kamar mandi)


Joshua : Hahahaa, minum tiga gelas gede air putih sih lo.


Elang : Hahahahaa..


Rigel : (mendengar dari kejauhan mereka yang tertawa) ...

__ADS_1


__ADS_2