
Semilir angin meniup rambut merah Rigel yang tengah berdiri di bawah pohon. Di antara celah bibirnya terdapat rokok yang menyala.
"Argh." Dia berteriak kesal dan membanting putung rokok lalu menginjaknya untuk mematikan apinya.
Rigel mengingat mata jernih gadis itu yang dengan berani menatap tegas matanya. Sayang sekali hatinya tidak semurni matanya! Bagaimana bisa dia sama sekali tidak menyesal telah membuat seseorang terluka hingga harus menginap di rumah sakit? Tidak menyesal, hah? Maka gue akan membuat lo akhirnya menyesal, hmph!
Rigel meninggalkan sekolah dan pergi ke perusahaan menemui ayahnya.
◾◾◾
Haykal akan memimpin rapat bulanan ketika dicegat oleh putranya yang tiba - tiba masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia mengerutkan kening, "Kenapa kamu di sini? Membolos di hari pertama masuk sekolah, hah?"
Rigel mengabaikan sindiran papanya, "Papa membatalkan perjanjian bisnis dengan perusahaan Keluarga Pangestu, kan?"
"Ya, mereka harus membayar harga yang mahal karena telah berani menyentuh Keluarga Anderson."
Alis Rigel terangkat, "Apakah harga saya hanya sebesar 45 miliar yang dibayar Keluarga Pangestu?"
Haykal mencibir, "Lalu kamu ingin Papa menerima sertifikat tanah senilai 13 miliar sebagai kompensasi?"
Rigel merasa papanya menangkap poin yang salah. Yang dia maksud adalah dirinya tidak bisa dinilai dengan uang, oke! Rigel memiliki ilusi papanya memandangnya sebagai komoditas yang siap diperjual belikan.
"Mengapa Papa tidak bertanya pendapat saya? Saya yang terluka di sini."
Haykal memandang aneh putranya. "Kamu putra Papa. Papa berhak memutuskan bagaimana menyelesaikan masalah ini."
"Papa, kali ini saya ingin menyelesaikannya sendiri," ucap Rigel dengan tegas.
"Oh?" Haykal tertarik. "Katakan pada Papa, apa yang akan kamu lakukan?"
Rigel menyeringai. "Saya akan membuat Nuna Callista membayar perbuatannya."
Haykal memandang putra semata wayangnya dengan rumit. Dia berpikir IQ putranya semakin menurun. "Apakah itu lebih bernilai dari 45 miliar?"
"Ya!" Rigel mengangguk pasti. "Saya akan memberinya pelajaran moral yang tidak akan dia lupakan seumur hidup."
Haykal menyerah. "Baik. Terserah kamu. Papa akan menghubungi sekretaris untuk memperbaiki kontrak kerjasama dengan mereka."
"Terima kasih, Papa."
◾◾◾
Nuna dalam suasana hati yang baik, setelah percakapan di belakang gedung kelas kemarin, dia tidak melihat Rigel di kelas dan harinya menjadi tenang kembali.
Suasana hati Nuna dengan cepat terbalik saat masuk ke dalam kelas.
"Pagi, Nuna," sapa Rigel dengan senyuman lebar.
"Pagi." Nuna meletakkan tasnya dan mengeluarkan buku pelajarannya. Suasana menjadi halus. Remaja di sampingnya menjadi pendiam seolah - seolah dirinya yang berapi - api kemarin hanya ilusi Nuna.
Bel berbunyi dan Guru Ekonomi masuk ke dalam kelas dan mengajar. Nuna dengan serius mencatat penjelasan yang Guru tuliskan di papan tulis hingga sebuah buku tulis kosong tiba - tiba di dekatkan ke arahnya.
__ADS_1
Nuna menoleh menatap Rigel bingung.
"Teman sekelas, tolong bantu saya mencatat," ucap Rigel dengan sopan.
"Kamu bisa menggunakan tangan kiri," tolak Nuna tanpa berpikir.
Rigel menggertakan giginya, "Gue enggak bisa nulis pakai tangan kiri."
"Maka kamu bisa berlatih dari sekarang."
"Minggu depan ujian, gue butuh catatan yang rapi buat dibaca!"
"Saya akan memberikan salinan catatan saya nanti."
Rigel mendengus, tangan kirinya meraih tangan kanan Nuna yang masih menggenggam pulpen. Rigel membuka lebar mulutnya dan menggigit telapak tangan Nuna dengan keras.
"Apakah kamu anjing?" Nuna reflek berteriak saat gigi tajam itu menembus kulit tipisnya hingga berdarah.
Di bawah penjagaan ketat kakeknya dan kemampuan bela dirinya, Nuna tidak pernah terluka. Terakhir kalinya dia berdarah adalah saat berumur lima tahun. Dia terpeleset di tangga rumah, membuatnya memiliki jahitan di kepala dan sejak itu Kakek mengambilnya dan mengasuhnya secara pribadi.
"Nuna! Apakah kamu memarahi Guru?" Guru Ekonomi menghentikan menulis dan menatap Nuna.
Nuna menata emosinya dan menjawab dengan tenang, "Tidak, Guru. Maaf, Siswa Rigel tiba - tiba menggigit tangan saya." Tidak lupa dia menunjukkan punggung tangan kanannya yang masih meneteskan darah.
Guru Ekonomi menatap tajam Rigel, "Siswa ini, apakah kamu anjing?"
Rigel yang dipanggil anjing dua kali, "..."
"Maaf, Guru," ucap Rigel tanpa bermaksud menjelaskan.
"Baik, Guru. Terima kasih." Nuna bergegas keluar kelas menuju UKS.
"Kamu perlu mengganti perbannya dua kali sehari," ucap Dokter yang telah selesai membalut luka Nuna.
"Baik, Dokter. Apakah perlu disuntik obat rabies juga?"
Dokter tertawa menatap wajah serius Nuna. "Tidak. Kamu hanya perlu menerapkan obat ini dan mengganti perban dua kali sehari."
"Baik. Saya mengerti. Terima kasih, Dokter."
"Oke, kamu bisa kembali ke kelas."
Rigel menatap Nuna yang tangannya telah di perban. Dia mengangkat sudut mulutnya dan mengejek, "Lo bisa berlatih nulis dengan tangan kiri lo sekarang."
Nuna mengabaikan Rigel yang membalik perkataannya. "Guru, saya izin masuk ke kelas."
"Ya, masuk."
Nuna pun melanjutkan menulis catatan menggunakan tangan kirinya. Dia sudah terbiasa menggunakan kedua tangannya bergantian sehingga tulisannya tetap rapi seperti biasanya.
Jam istirahat berbunyi, Rigel melihat Nuna keluar kelas berjalan menuju halaman belakang sekolah. Dia memutuskan mengikutinya.
Nuna berhenti saat melihat sekelilingnya sepi. Dia memutar badannya dan menatap Rigel. "Katakan, kenapa kamu tiba - tiba menggigit saya?"
__ADS_1
Rigel mendengus, "Karena lo enggak mau bantuin gue nulis catatan."
"Saya tidak mempunyai kewajiban untuk membantu kamu menulis catatan. Kamu bisa mengopi catatan siswa lain atau secara langsung mengambil foto papan tulis."
"Gue pengen lo yang nulis. Lo masih belum tanggung jawab!"
Nuna menatap tajam Rigel. "Saya sudah mengatakan dengan jelas kemarin bahwa-"
"Papa telah memperbarui kontrak kerja dengan perusahaan Keluarga Pangestu jadi masalah ini belum selesai dan lo harus bertanggung jawab dengan benar!" Rigel memotong.
Nuna tertegun. "Kontrak kerja tidak jadi dibatalkan?"
Rigel mengangguk. "Jadi sekarang lo harus bantu gue nulis catatan pelajaran di kelas!"
Nuna menggeleng. "Saya bersedia bertanggung jawab, bukan berarti kamu bisa meminta saya melakukan sesuatu secara membabi buta." Dia lalu mengangkat tangan kanannya yang diperban, "Dan karena kamu, tangan kanan saya terluka. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab?"
Alis Rigel mengerut, "Kenapa lo gantian yang minta tanggung jawab? Itu kan karena lo yang enggak mau bertanggung jawab?"
Nuna tidak setuju. "Saya jelas menawarkan mengganti biaya rumah sakit waktu itu, tapi kamu menolak."
"Itu dulu. Sekarang gue minta lo buat tanggung jawab!"
"Tapi tangan kanan saya juga terluka, saya tidak bisa menuliskan catatan untuk kamu."
"Kalau begitu.. bawain tas gue pulang sekolah nanti."
"Saya menolak." Nuna menatap tangan kiri Rigel yang sehat. "Tangan kiri kamu berfungsi dengan normal, kamu bisa membawa tas secara mandiri."
Rigel bersikukuh, "Ngapa lo banyak alasan sih? Jangan bilang lo enggak mau tanggung jawab?"
Nuna terdiam sejenak sebelum memutuskan, "Oke. Saya akan lakukan."
Rigel tersenyum puas. "Gitu dong dari tadi."
Tanpa mereka sadari, beberapa siswa di lantai dua mengamati drama bertema 'Tanggung Jawab' mereka.
Salah seorang dari mereka menyeletuk, "Gue mulai berhalusinasi pendengaran, tanggung jawab.. tanggung jawab..."
Bimo memukul Joshua, "Serem woy."
Elang hanya menggelengkan kepala. Sepertinya tugas menjadi Ketua Kelas akan sangat sulit di semester ini.
◾◾◾
Cerita Sampingan
Tanio : (ketakutan melihat Nonanya hampir setiap hari melakukan teknik pernafasan sitali) Nona, apakah anda benar - benar baik saja?
Nuna : Ya. Mengapa kamu menanyakan hal ini terus - menerus?
Tanio : Anda.. (ragu - ragu) Saya hanya merasa anda sering kesal dalam minggu ini
__ADS_1
Nuna : Oh? Saya tidak kesal. (melakukan pernafasan teknik sitali, lagi)
Tanio : (Nona, anda tidak bisa berbohong!!!)